Pak Herman dan istrinya hanya bisa menangis menatap jasad salah satu putri kembarnya itu. Sementara Mbah Karto terlihat langsung melakukan ritual di sebuah ruangan khusus yang ada di dalam rumahnya.
Bu Herman beberapa kali pingsan karena terkejut mengetahui salah satu putrinya yang tidak bisa di selamatkan lagi. Ia mulai menyesali banyak hal, tujuan mereka datang ke desa awalnya untuk menikmati masa-masa tenang di desa.
Namun bukannya ketenangan malah kematian putrinya menjadi harga yang sangat mahal atas keputusan mereka beberapa bulan silam. Angga pun yang masih berada di sana tidak bisa berbuat banyak untuk menghadapi situasi seperti itu.
"Bagaimana ini pak, kenapa harus putri kita? Kenapa harus dengan cara seperti ini?" ujar Bu Herman sembari menangis di pelukan suaminya. Sementara pak Herman hanya diam dan menangis tanpa suara menatap kain putih yang menutupi wajah cantik putrinya.
Tak lama kemudian datang seorang laki-laki berusia hampir 28 tahun. Penampilannya terlihat berantakan, wajah cemasnya begitu tercetak nyata. Dengan suara sedikit bergetar dan sisa tenaga yang ia punya Dika pun menghampiri kedua orangtuanya.
Jantungnya serasa hampir lepas melihat betapa hancurnya keadaan orangtuanya saat ini. Dan salah satu adiknya sudah terbujur kaku dengan sehelai kain menutup tubuhnya. Walaupun ia sudah berusaha untuk cepat sampai nyatanya ia tidak bisa.
Jarak yang terlalu jauh membuatnya terlambat untuk datang dan menolong kedua adik kecilnya. Perasaan bersalah, begitu menguasai hatinya karena bagaimana pun ia adalah satu-satunya kakak laki-laki dari adiknya itu. Harusnya ia bisa menjaga keduanya, tapi menyesal pun hanya terasa percuma.
"Pak , Bu." panggil Dika sembari mendekat dan akhirnya terduduk di samping kedua orangtuanya.
Ibunya spontan langsung menoleh dan memeluk tubuh putranya untuk menumpahkan semua kesedihan dan kehilangan yang kini ia rasakan. Sambil menangis Dika terus memeluk dan menguatkan ibunya.
Belum sampai 2 menit ibunya kembali terkulai lemas karena terlalu shock dan tidak kuat menerima guncangan sebesar itu. Kematian salah satu putrinya begitu saja telah meluluhlantakkan kehidupannya.
Dika pun segera merebahkan tubuh ibunya di bantu Bu Dewi yang memberikan bantal untuk Bu Herman berbaring. Bahkan Bu Dewi ikut menangis iba, ia bisa turut merasakan apa yang terjadi pada keluarga pak Herman merupakan pukulan terberat untuk mereka saat ini.
Setelah merebahkan tubuh ibunya, Dika pun mendekat ke arah tubuh Nisa yang sudah tertutup kain tersebut. Dengan tangan bergetar ia mencoba membuka dan melihat wajah adiknya berharap jika semua itu hanya sebuah kesalahan saja.
Dika harap bukan adiknya yang saat ini terbaring dengan tubuh yang kaku. Ia bahkan berharap ini hanyalah sekedar mimpi buruk yang datang dan akan terbangun kembali mendapati si kembar yang baik-baik saja.
Namun harapan tinggal harapan ketika wajah tersebut benar-benar adalah adik kesayangannya. Adik manjanya yang selalu memintanya untuk menjemputnya beberapa waktu ini. Jika saja Dika mendengarkan permintaan itu, sudah pasti keduanya akan baik-baik saja bersamanya.
Wajah Bisa terlihat begitu tenang, bibirnya sangat terlihat pucat bahkan nyaris biru begitu pun kulitnya yang sudah memucat. Tangis Dika pun pecah pada akhirnya sambil memeluk jasad adiknya itu. Sementara pak Herman hanya bisa mengelus lembut punggung anak laki-lakinya tersebut.
Setelah Dika cukup tenang ia pun mengajak kedua orangtuanya untuk pergi. Mereka akan membawa jenazah Nisa untuk dikebumikan di kampung halaman mereka. Dan ia juga mengusulkan untuk segera membawa Nia segera ke rumah sakit karena setelah ia periksa keadaan Nia pun cukup mengkhawatirkan.
Kedua orangtuanya hanya bisa mengangguk pasrah mengikuti kemauan si sulung tersebut. Karena tidak mungkin mereka memakamkan Nisa di desa tersebut. Bahkan dalam mimpi sekalipun mereka tidak ingin lagi kembali ke desa ini.
Angga dan kedua orangtuanya hanya bisa mengikuti kemauan keluarga si kembar. Mereka cukup tahu diri untuk tidak ikut campur. Meskipun merasa berat, tapi Angga masih bersyukur setidaknya ia sudah berhasil menyelamatkan salah satu dari mereka.
Dan mungkin dengan membawa Nia dan Nisa pergi adalah keputusan terbaik saat ini. Namun ketika mereka hendak bersiap untuk pergi, Mbah Karto pun akhirnya datang setelah menyelesaikan ritual untuk si kembar.
"Kalian tidak bisa membawa mereka pergi dari desa ini." ujar Mbah Karto membuat Dika mengernyit heran.
Ia tidak tahu siapa Mbah Karto karena memang ia baru saja datang dan belum mengetahui apapun tentang kejadian naas yang menimpa si kembar. Tapi iya sangat yakin jika kakek tua tersebut mungkin merupakan salah satu tetua di desa tersebut. Karena sebelumnya ia juga sudah tahu jika desa yang menjadi tempat tinggal ayahnya merupakan desa adat.
"Maaf Mbah memangnya kenapa? Kami pendatang di desa ini, dan saya pikir akan lebih baik jika kamu membawa Nisa untuk di makamkan di kampung halaman kami. Keluarga kami berencana untuk tinggal menetap lebih lama lagi di sini setelah semua yang terjadi. Dan Nia juga kondisinya sedang tidak baik, ia harus segera mendapatkan penanganan di rumah sakit besar secepatnya." jawab Dika masih mencoba berbicara dengan sopan dan setenang mungkin.
"Jika kalian keluar dari desa ini selangkah saja, maka mereka berdua akan benar-benar mati." jelas Mbah Karto membuat semua orang sedikit terkejut.
"Maksud Mbah apa sebenarnya? Tolong jelaskan sejelas-jelasnya mengapa keluarga saya harus mengalami semua ini. Dari sekian banyak orang di desa ini, mengapa harus kedua putri saya yang begini." ujar pak Herman yang sudah tidak bisa menahan dirinya lebih lama lagi.
"Percayalah, putri kalian belum meninggal. Dn yang ada di hadapan kalian ini hanya jasad saja, sementara jiwanya masih berkeliaran di alam lain yang berada di desa ini. Kanjeng Dewi Inggit sangat menyukai mereka, karena itu ia menahan sukma salah satu putri kalian. Percayalah, putri kalian yang lain sedang berusaha untuk mencarinya dan membawanya kembali. Jika kalian pergi, maka keduanya akan selesai kalian akan kehilangan mereka." jelas Mbah Karto sembari menghembuskan nafas berat.
Pak Herman nampak terdiam sementara istrinya masih terlihat belum sadarkan diri. Dan Dika yang mendengar penjelasan kakek tua di depannya merasa tidak mengerti dengan apa yang di jelaskan oleh Mbah Karto. Baginya ini hanyalah sebuah takhayul yang tidak bisa ia percayai dengan logika yang ia miliki.
"Anak muda, lihatlah baik-baik kedua adikmu. Tunggulah sampai fajar tiba, doakan mereka agar keduanya bisa kembali dengan selamat." sambungnya lagi membuat Dika akhirnya menatap ayahnya meminta pendapat.
Angga pun yang sempat di perlihatkan sosok cantik penguasa gunung di desa lembah wangi tersebut pun akhirnya maju dan mencoba ikut meyakinkan keluarga si kembar. Jika memang benar, maka ia tidak bisa membiarkan si kembar pergi. Bagaimana pun caranya mereka harus kembali.
"Maaf pak, mas kalau saya lancang. Kebetulan saya yang tadi menemukan Vania dan Vanisa. Dan sejujurnya, saya begitu kesulitan untuk mencari Nia tadi dan hampir saja putus asa. Namun ternyata saya pun akhirnya di perlihatkan sosok Dewi Inggit tersebut di tengah pencarian, beliau yang menuntun saya untuk menemukan tubuh Nia. Padahal tempat tersebut sudah ia lewati berkali-kali selama beberapa jam, tapi sebelum kemunculan sosok tersebut, saya tidak bisa melihat apalagi menemukan tubuh Nia." jelas Angga membuat pak Herman kembali merasakan dilema yang hebat. Ia sangat takut untuk mengambil keputusan yang mungkin akan berakibat fatal untuk kedua putrinya.
.
.
.
.
.
.
. tbc
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments