Tragedi di hutan part 2

Nia dan Nisa segera berlari menjauh dari hutan yang berada di pinggiran sungai tersebut. Pemandangan mengerikan itu membuat mereka benar-benar ketakutan setengah mati.

Nia dan Nisa berniat memutar arah untuk kembali ke balai desa menemui ayah mereka yang sedang bertugas. Tidak sampai 10 menit mereka pun sampai akhirnya di tempat tujuan.

Keringat sudah terlihat penuh membanjiri seluruh wajah mereka yang kadung panik. Namun belum sampai memasuki klinik, keduanya di buat terkejut dengan kehadiran Angga di sana yang mengantarkan Ratih bekerja.

Wajah keduanya pucat pasi melihat Angga yang tampak sehat, segar dan bugar. Bahkan Angga juga menyapa keduanya yang terlanjur membeku saking terkejutnya.

"Selamat pagi, Nia, Nisa." ujar Angga sambil menghampiri keduanya.

Bukannya menjawab, keduanya jatuh terduduk dengan lemas. Bibir mereka seakan terkunci rapat tak mampu bersuara sekecil apapun itu. Lidah mereka terasa benar-benar kaku untuk berucap.

Baik Angga dan Ratih segera menghampiri keduanya yang terlihat seperti orang yang sedang mengalami shock berat. Bahkan Ratih bergegas memanggil pak Herman karena melihat si kembar hanya terdiam dengan tatapan kosong.

Pak Herman pun langsung meminta bantuan Ratih dan Angga untuk membawa keduanya ke dalam klinik. Pak Herman meminta keduanya untuk keluar dan berniat untuk menenangkan si kembar seorang diri.

Sebelum pergi Ratih membuatkan 2 cangkir teh hangat untuk mereka berdua. Pak Herman pun sangat berterimakasih dengan perhatian yang di berikan oleh Ratih terhadap kedua putrinya.

Beruntung pagi itu suasana di balai desa masih sepi karena memang waktu baru saja menunjukkan pukul 7 pagi. Setelah hanya mereka bertiga di ruangan pak Herman segera menghampiri keduanya yang masih terduduk lemas di sofa.

"Kalian kenapa sih sebenernya?" tanya pak Herman dengan lembut.

Nia pun langsung menatap ke arah pak Herman, ia merasa ragu untuk menceritakan apa yang sudah ia lihat di jembatan beberapa saat yang lalu.

Tapi ia juga terlanjur takut, jika ia tidak bercerita akan terjadi sesuatu yang lebih mengerikan lagi. Ia tidak tahu mana yang sebenarnya adalah kenyataan, ia takut jika apa yang mereka lihat tadi hanyalah ilusi.

"Pak, kenapa sih bapak milih pindah ke desa ini?" tanya Nisa mendahului.

"Loh kenapa emang Nis, kok itu lagi yang kamu bahas." ujar pak Herman menatap heran pada putrinya.

"Desa ini aneh pak, terlalu menakutkan. Nisa udah gak sanggup lagi kalau harus tinggal di sini. Ayo pak, kita pindah saja ya pak." Bujuk Nisa sambil menitikkan air matanya.

"Kalian ini sebenarnya kenapa? Desa ini baik-baik aja, kenapa kalian sampai takut seperti itu?" tanya pak Herman masih bersikukuh.

"Pak desa ini angker dan juga berbahaya. Aku dan Nisa benar-benar takut mendapatkan teror seperti ini setiap hari." jawab Nia membuat pak Herman sedikit terkejut.

"Teror apa maksud mu Nia?” tanya pak Herman dengan penasaran.

"Teror hantu pak, kami terus di teror dengan hal-hal gaib hal mistis yang tidak terukur logika manusia." jelas Nisa kini dengan menggebu.

"Kalian nih ngomong apa sih Nia, Nisa? Bapak gak ngerti sama apa yang kalian bicarakan. Tidak ada apa-apa di sini, kalian itu sepertinya mengalami halusinasi karena kebanyakan nonton film horor di TV." ujar bapak tidak mempercayai keduanya.

Nia dan Nisa sangat sedih mendengar apa yang bapaknya katakan. Memang sejak dulu ayah mereka adalah seseorang yang skeptis terhadap hal-hal mistis. Akan cukup sulit untuk meyakinkannya tentang hal itu.

"Udah Nis, percuma juga ngomongin sesuatu yang udah jelas gak akan di percaya sama orang lain." ujar Nisa yang kini sudah bangkit dari duduknya lalu di ikuti oleh Nisa.

Walaupun seluruh tubuhnya masih terasa lemas, tapi ia berusaha menguatkan diri. Ia begitu kecewa dengan sikap ayahnya yang seharusnya mendukung mereka namun malah tidak mempercayainya sama sekali.

Nisa menggamit tangan adiknya dan menuntunnya untuk keluar dari ruangan perawatan pak Herman. Di luar Ratih dan Angga tampak sedang menunggu langsung mendekat ketika melihat kedatangan Nia dan Nisa.

"Kalian sudah baik-baik saja?" tanya Ratih di ikuti oleh Angga.

"Sudah, mbak Ratih kita gak apa-apa kok terimakasih ya." ujar Nia berusaha tetap ramah.

"Kak Angga bisa antarkan kita pulang gak?" tanya Nia lagi membuat Angga mengangguk dengan cepat.

Akhirnya Angga pun mengantarkan keduanya pulang kembali ke rumah. Kebetulan di rumah sedang tidak ada siapapun karena ibu tengah pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan dapur untuk stok selama 1 Minggu.

"Kalian pasti terkejut dengan apa yang kalian lihat tadi." ujar Angga setelah ketiganya duduk di depan teras rumah di sebuah kursi rotan yang saling berhadapan.

"Kamu pasti sudah tahu apa yang kami lihat bukanlah hal yang main-main. Itu adalah tentang kamu sendiri kak. Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Nia yang sudah tidak bisa menunda rasa penasarannya lagi.

Bahkan Nia dan Nisa sampai di buat mual jika mengingat kejadian tadi. Mereka melihat Angga telah meninggal dengan keadaan sangat mengenaskan. Lehernya putus dan perutnya terbuka, sampai semua isi perutnya keluar dan di santap oleh sekumpulan anjing berwarna hitam.

Anehnya jika mereka ingat kembali kejadian tersebut. Tidak ada anjing yang menyadari kedatangan mereka, seolah mereka tidak ada di sana. Anjing-anjing tersebut terlihat sangat kelaparan dan terus mengaduk-aduk isi perut Angga berebut satu sama lain.

"Mereka marah karena aku memperingati kalian tentang apa yang ada di desa ini. Dan seperti yang kalian lihat jika saya ikut campur lebih banyak lagi, bisa jadi apa yang kalian lihat tadi akan menjadi kenyataan." ujar Angga sembari menatap keduanya dengan serius.

"Lalu kenapa kakak membantu kami lagi sekarang? Apa kakak tidak takut jika kakak akan celaka?" tanya Nisa setelah lama terdiam.

"Lagipula apa salah kami? kami datang ke desa ini dengan baik-baik. Kenapa kami di perlakukan seperti ini?" timpal Jia membuat Angga terdiam.

"Untuk hal itu, maaf saya tidak bisa memberitahukan apa-apa. Tapi satu hal yang pasti ke depannya, jika ada sesuatu hal besar terjadi di desa ini, tolong jangan pernah ikut campur. Seperti apa yang kalian lakukan di hari pertama kedatangan kalian di desa ini." jelas Angga panjang lebar.

Nia dan Nisa pun tertegun mereka nampak mengingat-ingat sesuatu. Dan ingatan mereka pun kini kembali pada saat mereka pertama tiba di desa.

Hari itu ada sebuah ritual tahunan yang dilakukan oleh kepala adat di Desa tersebut. Pak Herman sudah mewanti-wanti kedua putrinya agar berhati-hati jangan sampai mengganggu prosesi tersebut.

Pak Herman menganggap apa yang di lakukan warga desa saat itu semata-mata untuk melestarikan tradisi dan budaya di desa tersebut yang sudah turun temurun. Beliau hanya mencoba untuk menghormati tradisi akan tetapi tidak mempercayai segala hal tentang kebenarannya.

Tapi karena terlalu bersemangat berkeliling desa, Nia dan Nisa melupakan pesan dari pak Herman dan malah pergi berkeliling melihat suasana di desa tersebut.

Saat itu di depan sebuah pohon keramat sedang ramai oleh beberapa warga yang tengah mengikuti sebuah ritual. Nia dan Nisa melihat beberapa orang tua yang tengah menyembelih 10 ekor ayam berwarna hitam legam.

Dan menampung darah dari ayam tersebut ke dalam sebuah cawan. Kemudian seseorang kakek-kakek yang sudah terlihat sangat tua yang di panggil dengan sebutan Mbah Karto pun terlihat meminum darah tersebut dan menyemburkannya ke pohon keramat yang di balut kain berwarna merah tersebut.

Nia dan Nisa pun yang sedang mengintip ritual yang di lakukan para tetua desa pun di buat terkejut. Meskipun sudah sangat berhati-hati rupanya Ki Kanta sempat melihat keberadaan keduanya.

Karena sudah terlanjur ketahuan, Nia dan Nisa pun memilih kabur dari tempat tersebut dan kembali ke rumah. Mereka tidak melihat keseluruhan ritual karena sudah merasa ketahuan.

Padahal pak Herman sudah memberi tahukan pada mereka jika saat ritual terjadi di desa tersebut, bahkan warga pribumi di larang untuk berkeliaran sembarangan. Tapi rupanya kedua gadis kembar yang masih memiliki rasa penasaran yang tinggi terhadap tempat tinggal mereka yang baru membuat kesalahan yang cukup fatal.

Mereka bahkan tidak menghiraukan beberapa larangan yang di buat oleh kepala adat selama tinggal di desa Lembah Wangi. Mereka yang terbiasa hidup di kota dan tidak melihat hal-hal seperti yang di lakukan warga desa pun menjadi sedikit tertarik untuk mencari tahu meskipun dengan melanggar aturan desa.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!