Pencarian

Di dunia nyata kedua orang tua si kembar tampak panik. Mereka tidak bisa menemukan kedua putri mereka di manapun. Bahkan sampai siang hari, pak Herman sudah meminta tolong kepada warga untuk mencari keberadaan mereka di sekitar desa.

Namun salah satu tetangganya mengusulkan untuk mendatangi kediaman Mbah Karto selaku kepala adat di desa tersebut. Mereka biasanya meminta bantuan beliau jika sesuatu hal tidak biasa terjadi di desa mereka.

Mbah Karto adalah kepala adat sekaligus salah satu kuncen gunung terkenal yang berada di sebelah barat desa Lembah wangi. Selain memiliki ilmu spiritual yang tinggi, ia juga merupakan orang yang bijaksana yang biasa di mintai pendapat tentang hal-hal yang menyangkut kehidupan di desa.

Pak Herman pun mengikuti saran yang di berikan oleh salah satu tetangganya tersebut. Dan seperti biasa, sebelum pak Herman sampai di kediaman Mbah Karto, beliau sudah menunggu kedatangan para tamunya di halaman rumahnya yang luas tersebut.

"Assalamualaikum Mbah." ujar pak Herman beserta para bapak-bapak tetangga sekitar rumah yang ikut serta.

"Waalaikum salam, masuklah kalian sudah saya tunggu." jawab Mbah Karto membuat pak Herman sedikit kebingungan.

Pasalnya seingat pak Herman belum ada yang datang ke sana untuk memberitahukan perihal kedatangannya. Namun Mbah Karto seperti sudah siap untuk menyambut kedatangan mereka.

Setelah itu Mbah Karto mengajak semua tamunya untuk masuk ke dalam rumahnya yang sederhana itu. Setelah itu mereka di persilahkan untuk duduk di dalam dan menikmati apa yang telah di siapkan oleh Mbah Karto.

Bahkan yang lebih membuatnya terkejut Mbah Karto sudah menyediakan gelas berisi minuman dengan jumlah pas tamu yang datang. Tapi sebelum berpikir yang tidak-tidak pak Herman mencoba kembali menepis pemikiran anehnya dan berpikir mungkin hanya sebuah kebetulan semata.

"Duduklah, dan untuk yang mengantar tolong biarkan saya berbicara dengan pak Herman terlebih dahulu berdua saja." ujar Mbah Karto setelah mempersilahkan para tamu untuk minum.

"Baik Mbah." ujar para tetangga pak Herman yang sudah mengerti dengan kebiasaan yang di lakukan Mbah Karto.

Suasana tampak hening ketika semua orang kini satu persatu telah keluar dari rumah. Hanya ada pak Herman dan Mbah Karto sendiri selaku tuan rumah di dalam ruangan. Pak Herman sedikit gugup dan bingung dengan apa yang harus ia bicarakan dengan Mbah Karto sementara ia sendiri datang atas saran para tetangganya.

"Waktu yang kamu miliki hanya sampai tengah malam hari ini. Cari jasad kedua putrimu di hutan yang ada di sebelah barat dari arah rumah mu."

"Maaf sekali Mbah, tapi bagaimana Mbah tahu maksud kedatangan saya sementara saya sendiri belum bicara apa-apa." ujar pak Herman tampak bingung.

"Jangan pikirkan hal yang tidak perlu. Selamat atau tidaknya kedua putri kamu tergantung pada malam hari ini. Jadi sebisa mungkin temukan mereka secepatnya, atau salah satu dari keduanya tidak bisa kembali." ujar Mbah Karto sembari mengepulkan asap tembakau dari mulutnya.

"Dan segera setelah jasad mereka di ketemukan bawalah mereka kemari. Ingat jangan lewat dari tengah malam ini, ajaklah anak kepala desa ini untuk ikut dia akan banyak membantu." pesan Mbah Karto lagi membuat pak Herman Sakin cemas.

"Baik Mbah, terimakasih atas bantuannya." ujar pak Herman dengan sungguh-sungguh.

"Semua pertanyaan di kepala mu akan saya jawab ketika kamu telah membawa kedua putri mu kemari." ujar Mbah Karto sesaat sebelum pak Herman pergi.

"Baiklah." jawab pak Herman bergegas pergi kembali ke rumah.

Ia bersama 5 warga lainnya sudah bersepakat untuk mencari ke hutan yang terletak di sisi barat gunung sesuai petunjuk yang di berikan Mbah Karto. Mereka akan mencari bantuan dari warga lain agar pencarian lebih mudah di lakukan jika jumlah orang yang mencari lebih banyak.

Dalam 30 menit mereka sepakat untuk berkumpul di lapangan yang berada tidak jauh dari rumah pak Herman. Meskipun dalam otaknya dipenuhi banyak sekali pertanyaan tapi pak Herman berusaha untuk mengesampingkan itu semua.

Ia cukup bahagia mendapatkan perhatian dan bantuan dari warga setempat untuk mencari keberadaan Nia dan Nisa meskipun ia adalah warga baru di desa tersebut. Bahkan sebagian warga yang membantunya tadi pun tidak ia tahu semua namanya.

Belum habis rasa penasarannya, pak Herman kembali di buat terkejut dengan kehadiran Angga yang sudah tampak duduk menunggu di kursi kayu yang ada di depan rumahnya. Begitu melihat pak Herman Angga pun segera bangkit dari duduknya bersama ibu yang sudah tidak sabar menanti kabar.

"Pak gimana hasilnya?" tanya ibu yang sudah di ambang batas rasa takut dan khawatir terhadap putri kembarnya.

"Bu tolong siapkan jaket, senter dan golok. Juga siapkan air minum di botol yang cukup besar untuk bekal perjalanan saya. Mbah Karto menyuruh saya mencari anak-anak ke hutan yang ada di sebelah barat. Mereka harus segera di ketemukan malam ini tolong ibu jangan banyak bertanya dulu ya, kita kehabisan waktu." jelas pak Herman dengan tenang walaupun terselip rasa cemas di hati kecilnya.

"Baiklah pak, tunggu sebentar." ujar ibu dengan pasrah bergegas menyiapkan peralatan yang di mintai oleh suaminya.

"Nak Angga kebetulan sekali saya memang mau minta bantuan kamu, jadi sepertinya kita tinggal bersiap." ujar pak Herman tak ingin berbasa-basi lagi.

Namun begitu ia menoleh ke arah kursi kayu yang beberapa saat lalu di duduki oleh Angga, ia pun melihat jika Angga membawa ransel dan peralatan yang dibutuhkan. Ia pun hanya bisa menghela nafas panjang mencoba menelan bulat-bulat rasa penasarannya terlebih dahulu.

"Rupanya kamu lebih dulu siap dari pada saya." ujar pak Herman sambil bergegas masuk ke dalam rumah.

Sementara Angga hanya bisa diam dan terus menatap ke arah hutan yang akan mereka susuri sebentar lagi. Hutan di sebelah barat bukanlah hutan yang sering di jamah manusia terutama warga karena terkenal keangkerannya.

Bahkan untuk sekedar mencari kayu bakar pun tidak ada warga yang berani pergi seorang diri ke sana. Dan hutan yang kali ini akan mereka injak adalah hutan yang sama dimana Nisa pernah bermimpi.

Tidak sampai 10 menit pak Herman sudah siap dengan jaket cukup tebal, dan sebuah ransel di punggungnya. Ia pun mengajak Angga untuk bergegas ke lapangan tempat dimana pak Herman dan warga janjian untuk berkumpul.

Dan begitu sampai di sana, pak Herman pun sedikit terkejut melihat sekitar 20 orang warga yang sudah terlihat siap untuk membantunya mencari keberadaan si kembar Nia dan Nisa.

Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang ketika mereka mulai berangkat ke hutan. Ada 5 orang yang bertugas membuka jalur menggunakan alat-alat seperti golok dan parang karena hutan tersebut memang jarang di injak manusia.

Karena itu, untuk memudahkan pencarian 5 orang yang bertugas membuka jalur berjalan di depan lebih dulu. Sedangkan sisanya berada di belakang. Sambil membuka jalur mereka juga harus teliti melihat tanda-tanda apakah ada yang pernah melewati jalur hutan yang akan mereka lewati kali ini.

Sebetulnya bukan tidak ada jalan untuk menuju ke dalam hutan tersebut. Namun karena saking lamanya warga tidak pergi ke sana tumbuh-tumbuhan telah menutupi jalan setapak yang memang sudah ada sebelumnya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!