Dengan susah payah Angga akhirnya bisa sampai di tebing berbatu tersebut. Sebenarnya butuh usaha extra untuk Angga bisa sampai di sana dengan selamat. Ia bahkan sempat tergelincir dan hampir jatuh ke jurang.
Namun tekadnya terlalu kuat untuk membuatnya menyerah begitu saja. Setelah beberapa lama akhirnya ia pun sampai di tebing tersebut dengan bekal senter yang ia bawa ia pun mencoba untuk melihat siapa sebenarnya yang berada di dalam celah tersebut.
Begitu sinar lampu mengenai bagian dalam celah tersebut terlihat seorang gadis tengah tertelungkup. Angga pun mencoba menarik tubuh gadis tersebut keluar untuk memastikan siapa sebenarnya gadis tersebut.
Beberapa kali ia berusaha menarik tubuh gadis tersebut keluar namun sedikit sulit. Ia juga harus berhati-hati karena jika ia tergelincir sedikit saja bisa di pastikan hidupnya akan segera berakhir di sana.
"Gimana nak Angga?" teriak pak Nardi dari seberang.
"Sebentar pak, saya belum bisa melihat wajahnya. Yang jelas ini perempuan, masih hidup tapi sepertinya pingsan. Kemungkinan gadis ini adalah salah satu dari si kembar." jawab Angga sembari berteriak pula agar di dengar oleh pak Nardi dan yang lainnya.
Sebelumnya Angga sudah memeriksa denyut nadi dan leher dari gadis tersebut. Walaupun kondisinya tampak penuh dengan beberapa luka tapi Angga yakin jika ia dalam kondisi yang masih cukup baik. Setelah beberapa usaha gagal akhirnya Angga meminta salah seorang warga untuk membantunya.
Dan setelah semua usaha tersebut akhirnya tubuh gadis tersebut bisa di keluarkan. Angga dan pak Bowo membopongnya dengan begitu hati-hati. Karena jalan yang mereka lewati cukup kecil dan memiliki jurang yang curam.
"Alhamdulillah, akhirnya selamat." ujar pak Nardi begitu Angga dan pak Bowo berhasil membawa tubuh gadis tersebut ke tempat yang cukup landai.
"Alhamdulillah." ujar para warga lain yang ikut dengan kompak.
"Iya pak, tapi saya tidak bisa memastikan ini siapa? Mereka kembar identik, dan dalam kondisi seperti ini sulit untuk membedakannya." jelas Angga dengan nafas terengah-engah.
"Sudahlah siapapun ini, yang penting kita sudah menemukan salah satunya. Sebaiknya kita segera turun ke bawah. Siapa tahu rombongan pak Herman juga menemukan yang lainnya." ujar pak Nardi yang kemudian di setujui oleh warga lain.
Namun Angga masih merasa berat untuk meninggalkan lokasi tersebut karena jika pun mereka terpisah. Pasti lokasi mereka tidak akan terlalu jauh. Ia pun akhirnya mengajukan diri untuk tetap mencari di sekitar situ dan menjelaskan dugaannya tersebut.
Pak Nardi pun akhirnya mengiyakan permintaan Angga dan meminta beberapa orang untuk tinggal dan kembali melakukan pencarian. sementara sebagian lainnya akan turun dan 1 orang menyusul rombongan pak Herman untuk memberitahukan temuan mereka.
Gadis yang di ketemukan tersebut di gotong dari atas bukit menggunakan tandu yang sudah di siapkan oleh warga. Dan beruntungnya begitu mereka sampai di tempat mereka berpisah rombongan terlihat pak Herman dan warga lainnya baru saja datang.
Dengan langkah sedikit berlari pak Herman mendekat ke arah tandu yang kemungkinan bisa di pastikan berisi salah satu putrinya. Dan begitu melihatnya pak Herman langsung mengenali putrinya tersebut.
"Alhamdulillah ya Allah Nisa. Ya Allah Gusti terimakasih sudah mengembalikan putri saya. Pak Nardi dan bapak-bapak semua, terimakasih banyak." ujar pak Herman dengan sungguh-sungguh.
"Tapi, bagaimana dengan Nia putri saya yang satunya pak Nardi?" tanya pak Herman dengan wajah yang kembali menegang.
"Maaf pak Herman, kami hanya menemukan nak Nisa saja. Tapi pak Herman tidak usah khawatir, Angga dan beberapa warga masih mencari di lokasi sekitar kami menemukan Nisa. Sebaiknya sebagian dari rombongan bapak menyusul rombongan saya ke atas." ujar pak Nardi mencoba menguatkan pak Herman kembali.
"Pak Nardi, biar saya yang naik ke atas. Saya sangat minta tolong kepada pak Nardi dan bapak-bapak lainnya untuk mengantarkan putri saya ke rumah Mbah Karto. Toko beritahukan juga mengenai kondisi Nisa biar ibunya yang mengurus dan merawatnya, saya ingin mencari Nia." ujar pak Herman dengan tatapan yang mengiba membuat pak Nardi pun mengangguk setuju.
Akhirnya pak Herman bersama 6 orang warga kembali naik ke atas namun ke arah berlawanan. Tidak sampai 1 jam mereka pun akhirnya bertemu dengan Angga dan yang lainnya.
Sedikit banyaknya pak Nardi sudah bercerita jika Angga banyak membantu dalam proses penemuan Nisa. Karenanya begitu mereka bertemu pak Herman langsung memeluk Angga sembari menghaturkan ucapan terimakasih dengan sungguh-sungguh.
Bahkan pak Herman tidak bisa menahan air matanya ketika mengingat wajah Vanisa tadi. Angga pun hanya bisa mengusap-usap lembut punggung laki-laki paruh baya yang berada di hadapannya saat ini.
Proses pencarian Nia semakin sulit mengingat malam semakin beranjak dan kabut juga turun cukup tebal membuat jarak pandang semakin pendek. Angga pun mencoba menggunakan kelebihan yang ia miliki untuk mencari keberadaan Nia.
Ia pun baru tahu jik gadis yang ia temukan lebih dulu adalah Nisa setelah pak Herman memberitahunya. Hatinya semakin di buat tidak tenang memikirkan kondisi Nia saat ini yang belum juga dapat di temukan.
Sayup-sayup terdengar di telinganya suara aliran sungai yang tak terlalu besar. Samar-samar ia lihat seorang gadis tengah tertelungkup di bebatuan yang berada di pinggiran sungai.
Begitu mendapatkan penglihatannya tentang Nia akhirnya Angga pun sekarang tahu harus kemana. Ia pun mengambil jalan melipir ke arah selatan dimana sore tadi ia sempat melihat sebuah jalan menuju lembah.
Dan ia pun mendengar suara deru air mengalir dari kejauhan yang ia yakini sebagai suara aliran sungai dari gunung. Pak Herman tidak banyak protes dan mencoba mengikuti apa yang Angga yakini.
Ia masih ingat betul pesan dari Mbah Karto yang mengatakan jika Angga akan sangat membantunya dalam pencarian ini. Karena hujan gerimis turun sejak beberapa jam, jalan pun menjadi sedikit licin. Bahkan Angga sempat tergelincir ketika mengambil jalan turun ke lembah yang ada hadapannya.
Beruntung ia tidak terluka patah, hanya goresan kecil memenuhi lengan dan pipi kanannya. Setelah berisitirahat beberapa saat akhirnya mereka pun kembali melanjutkan perjalanan. Waktu sudah menunjukkan lebih dari jam 9 malam membuat pak Herman semakin was-was.
Ia harus segera menemukan putrinya yang lain agar bisa menyelamatkan keduanya. Pak Herman tidak ingin kehilangan salah satu putrinya itu. Dan setelah mereka berjalan selama beberapa puluh menit akhirnya mereka sampai di depan sebuah aliran sungai.
Semua orang tampak sibuk mencari keberadaan Nia sambil meneriakkan namanya berkali-kali. Namun tidak ada sahutan sama sekali selain suara-suara binatang yang biasanya ada di hutan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments