Teman baru

Pagi hari pun tiba, kini semua orang tengah berkumpul menikmati sarapannya masing-masing. Hanya Nia yang tampak lesu sembari mengaduk-aduk makanan di piring nya.

"Nia, kamu kenapa? Sakit? atau makanannya kamu gak suka?" tanya ibu sambil memperhatikan.

"Enggak kok bu, makanannya enak. Cuma Nia agak kurang berselera makan, badan agak greges." jawab Nia beralasan.

Sementara Nisa pun hanya diam saja menatap aneh ke arah kakak nya itu. Tidak biasanya Nia murung seperti itu, padahal tadi malam sebelum tidur ia tampak baik-baik saja.

"Kalian sudah hafal jalan ke sekolah?" tanya pak Herman.

"Sudah pak." jawab si kembar kompak.

"Oh, ya sudah berarti gak perlu bantuan nak Angga lagi kan untuk berangkat ke sekolah hari ini?" tanya pak Herman lagi memastikan.

Nia dan Nisa kompak hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.

Setelah selesai sarapan si kembar pun langsung bersiap untuk berangkat ke sekolah. Baru saja Nia mendorong motornya keluar dari rumah, Angga sudah tampak mendekati pekarangan rumah mereka dengan motornya.

"Kalian udah siap?" tanya Angga.

"Sudah, tapi kenapa kamu kesini? Aku sama Nisa udah hafal kok jalan ke sekolah." jawab Nia membuat Angga sedikit tak enak hati mendengar ucapan Nia yang terkesan jutek.

Nisa pun yang menyadari perubahan ekspresi di wajah Angga langsung menyenggol lengan kakaknya agar tak lagi bicara.

"Maaf kak Angga, maksud Nia itu takutnya kakak jadi repot harus jemput kita dulu kesini. Iya kan Nia?" ujar Nia sambil melemparkan pertanyaan dengan mata menajam menatap saudaranya itu.

"I.. iya kak." jawab Nia paa akhirnya.

"Oh, gak apa-apa kok. Saya gak ngerasa di repotin sama kalian. Kalau kalian sudah siap, ayo kita berangkat sekarang biar gak telat." ajak Angga sembari menyalakan mesin motornya kembali.

"Nis, lu aja ya yang bawa motornya. Gue lagi males." ujar Nia sembari menyerahkan kunci motornya ke tangan Nisa.

Nisa pun menyambut kunci motor tersebut setelah mengangguk menyetujui permintaan kakaknya.

Akhirnya mereka pun berangkat ke sekolah bersama seperti kemarin. Tiba di jembatan penghubung desa, dimana tempat kemarin mereka terjatuh Nia dan Nisa tampak memperhatikan sekitarnya.

Mereka berharap tidak bertemu atau melihat nenek tua menyeramkan yang tiba-tiba saja menghilang secara misterius. Karena itulah Nia sedikit terkejut ketika seekor kucing hitam melompat ke arahnya bersamaan dengan menghilang nya nenek tua tersebut.

Bahkan yang membuat mereka terkejut adalah, Angga tidak sama sekali melihat keberadaan nenek tua yang saat itu berpapasan dengan mereka di jembatan.

Karena itulah mereka memilih untuk tidak terlalu banyak bicara dan membahas masalah tersebut. Mereka tidak ingin membuat diri mereka sendiri ketakutan dengan hal-hal yang belum pasti.

Siapa tahu saja memang Angga tidak melihat keberadaan nenek tua tersebut karena terlalu fokus pada jalanan. Mereka tetap berusaha berpikir positif dengan kejadian tersebut.

20 menit kemudian akhirnya mereka sampai di sekolah. Nia dan Nisa berada di kelas yang berbeda. Sejak dulu memang mereka terbiasa tinggal di kelas yang berbeda. Dan itu membuat mereka nyaman karena tidak perlu bersaing tentang nilai.

"Kak, kita duluan ya langsung ke kelas." ujar Nia sambil menarik Nisa yang baru saja meletakan helmnya di motor.

"Oh, iya. " jawab Angga sembari tersenyum menatap kepergian keduanya.

Nia dan Nisa pun tampak berjalan beriringan menuju kelas mereka yang letaknya bersebelahan. Walaupun di daerah pedesaan, sekolah tersebut merupakan sekolah cukup besar dan cukup bagus.

Jarak dari sekolah tersebut ke pusat kota sekitar 1 jam menggunakan motor. Karena itu dari beberapa desa terdekat banyak yang sekolah di sana karena tidak banyak sekolah apalagi sekolah menengah atas di daerah tersebut.

Setelah hampir sampai di kelas, Nia pun langsung menghentikan langkahnya.

"Nis, ada yang pengen gue ceritain. Nanti istirahat kita ketemu di kantin ya." ujar Nia yang langsung di tanggapi oleh Nisa dengan anggukan kecil .

Nisa pun tampak melangkah malas memasuki kelasnya. Ia pun langsung menuju ke arah pojok di barisan ke dua. Tampak seorang gadis tomboy duduk di sebelahnya.

"Baru dateng Nisa?" tanya Dara teman sebangku nya.

"Iya." jawab Nisa singkat membuat Dara enggan melanjutkan percakapan.

Menurutnya Nisa sangat pendiam dan sulit di dekati. Tapi walaupun begitu Dara berusaha memaklumi, mungkin saja Nisa memang orangnya pendiam dan pemalu. Apalagi dia anak pindahan di sekolah ini, mungkin masih butuh waktu untuk beradaptasi pikirnya.

Lain halnya dengan Nisa yang tertutup, Nia lebih mudah beradaptasi dan bergaul di lingkungan yang baru. Begitu masuk kelas 2 orang gadis langsung menghampirinya.

Mereka adalah teman baru Nia di kelas tersebut. Namanya adalah Putri dan Anita. Sementara yang duduk sebangku dengannya belum datang. Namanya adalah fitri.

Dan Fitri ini merupakan anak dari desa lembang wangi juga seperti nya. Rumahnya juga tidak terlalu jauh dari rumah Nia dan Nisa. Sementara Putri dan Anita merupakan anak dari desa lain yang bersebelahan dengan desa mereka.

"Baru dateng?" tanya keduanya kompak.

"Iya, lah Fitri mana? belum dateng?" tanya balik Nia pada kedua temannya.

"Belum Nia, paling sebentar lagi juga dia dateng." jawab Putri.

"Nah tuh panjang umur dia, udah dateng aja orangnya." ujar Anita di iringi tawa ketiganya.

"Kenapa kalian ketawa bareng gitu? Seneng amat kayaknya. Ngetawain aku ya? " tanya Fitri menyelidik.

"lya, kita ketawain kamu. Abis panjang umurnya banget sih kamu tuh, baru di omongin udah dateng aja. ”

"Emang kalian ngomongin apa soal aku? " tanya Fitri sembari melepaskan tas nya di meja.

"Enggak ngomongin apa-apa kok fit cuma kita tadi lagi nungguin kamu aja yang belum dateng." jawab Nia seadanya yang langsung di angguki oleh kedua temannya yang lain.

Tak lama setelah itu seorang wanita paruh baya dengan setelan batik dan celana panjang berkerudung putih pun memasuki kelas. Beliau adalah wali kelas Nia di kelas XI IPA 1 .

Jam pelajaran pun di mulai, semua murid tampak mengikuti pelajaran dengan khusyuk. Nia pun menatapi suasana sekitar nya karena melihat suasana kelas yang hening.

Teman-teman sekelasnya rupanya merupakan murid-murid yang rajin. Terbukti dengan tidak adanya satu orangpun yang mengobrol atau melakukan kegiatan lain di dalam kelas.

Pemandangan seperti itu sangat kontras berbanding terbalik dengan suasana kelasnya di sekolah yang lama. Ah, mengingatnya membuat Nia seketika merindukan teman-teman nya.

Sepulang sekolah nanti ia memutuskan akan menelpon teman-teman nya di Jakarta. Nia sangat merindukan mereka, walaupun di sini ia sudah mendapatkan teman baru tetap saja ia tidak akan melupakan teman-teman nya yang lain.

Waktu istirahat pun telah tiba, Nia pun teringat untuk bertemu Nisa di kantin sekolah. Fitri mengajaknya untuk ke kantin juga, dan Nia pun berjalan beriringan dengan Fitri di ikuti Putri dan Anita di belakangnya.

Begitu sampai di kantin, terlihat Nisa sudah menunggunya. Awalnya Nia memperkenalkan Nisa kepada teman-temannya. Mereka begitu takjub begitu melihat Nia dan Nisa yang bersisian dengan wajah serupa.

Karena di sekolah mereka jarang ada sepasang anak kembar. Sekalipun ada mereka tidak kembar identik seperti Nia dan Nisa. Hampir 95 % wajah mereka terlihat serupa.

Yang membedakan hanya penampilan keduanya yang terlihat berbeda. Dan postur tubuh Nia yang lebih tinggi 3cm di banding Nisa. Semua orang yang tidak mengenal mereka dengan baik pasti akan salah mengenali jika tidak ada name tag terpasang di seragam mereka.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!