Pagi itu cuaca di desa terlihat mendung dengan rintik-rintik gerimis kecil yang mulai turun. Udara dingin di pagi hari di tambah cuacanya yang seperti itu membuat Nia dan Nisa tampak menggigil kedinginan setelah mereka mandi dan akan bersiap pergi ke sekolah.
Saat itu sudah memasuki bulan Agustus, dimana cuaca dari kemarau mulai beralih ke musim penghujan. Bapak dan ibu tampak sedang bersantai di ruang keluarga dengan secangkir teh di tangan masing-masing.
Suasana hening dan tenang pun pecah karena dering suara telepon rumah yang berbunyi. Ya, saat itu sekitar tahun 2005 di mana orang-orang masih jarang memiliki ponsel.
Dan telepon rumah saja sudah paling keren saat itu jika di desa. Ibu segera berjalan ke arah meja kecil di dekat lemari pajangan tempat dimana telepon rumah tersebut berada.
"Halo, Assalamu'alaikum." sapa suara di seberang terlebih dahulu membuat senyuman terbit di wajah bu Nirmala saat itu.
"Waalaikumsalam, gimana kabar kamu mas?" jawab ibu yang sudah mengetahui jika yang menelpon adalah anak sulungnya.
"Alhamdulillah bu, berkat do'a dari ibu dan bapak Dika sehat bu di sini. Ibu sama semuanya bagaimana? Sehat kan?" tanya Dika balik.
"Alhamdulillah mas, di sini semuanya sehat. Gimana kerjaan kamu di sana? Lancar kan mas? "
"Alhamdulillah bu semuanya lancar dan berjalan dengan baik. Ibu gak usah khawatir sama aku."
"Gimana gak khawatir toh, wong kamu sendirian di sana." ujar ibu merungut sedih.
"Bu, Dika ini sudah dewasa ibu gak perlu khawatir seperti itu. Do'akan saja yang terbaik untuk putra kita." ujar pak Herman mulai menyela.
Sementara Dika hanya bisa tersenyum kecil mendengar perdebatan kedua orang tuanya. Belum sebulan mereka pergi, Dika sudah sangat merindukan mereka apalagi si kembar yang biasanya membuatnya kesal karena ulah mereka yang sering membuat kegaduhan di dalam rumah.
"Ibu, mas Dika telepon? Kok gak bilang-bilang." seru Nisa dengan cemberut segera menghampiri ibunya.
Dika hanya bisa terkekeh kecil di seberang sana membayangkan bagaimana muka kesal adik manjanya itu. Dari suara dan sikapnya yang manja sudah bisa ia pastikan itu pastilah Nisa.
"Kenapa Nisa? " tanya Dika sambil terkekeh pelan.
"Mas, kapan mas kesini? Jemput Nisa dong kesini, Nisa mau sama mas aja ah di kota." ujar Nisa dengan suara manjanya.
Pletak,
"Aaw!! " jerit Nisa ketika Nia mendaratkan kepalan tangannya di atas kepala Nisa.
"Nia, sakit tahu!!" seru Nisa dengan kesal.
"Mas, gak usah dengerin dia. Nanti kalau mas ada libur sempetin ya kesini." ujar Nia yang kini berdiri di samping Nisa.
Dika bisa mendengar jelas suara perdebatan kecil si kembar, ibu sengaja menekan tombol loudspeaker agar semua bisa mendengar. Sementara pak Herman hanya bisa menggelengkan kepalanya heran melihat si kembar yang masih saja senang bertengkar.
"Kalian harus belajar yang rajin, pulang sekolah sesekali bantu lah ibu. Di sana tidak ada bibi yang membantu, kalian harus jadi anak baik. Kalian mengerti?" Nasehat Dika membuat keduanya menganggukan kepala seakan Dika bisa melihat gerakan mereka.
Setelah berbincang-bincang selama beberapa menit akhirnya telepon pun terputus karena Dika harus segera berangkat ke Rumah sakit. Begitu pun si kembar yang harus segera berangkat ke sekolah.
Mereka pun berjalan beriringan menuju motor mereka yang sudah terparkir di depan rumah siap untuk berangkat. Dan tidak seperti biasanya Angga tidak terlihat dimana-mana. Mereka pun acuh tak peduli dan memilih untuk segera berangkat ke sekolah.
Setelah sekitar 1km berkendara, mereka pun melewati Balai Desa dan tepat di depannya berada Klinik Desa sebuah fasilitas kesehatan yang sangat sederhana untuk warga sekitar bisa berobat. Dan di situlah pak Herman mengabdikan dirinya setiap hari.
Sebagian besar warga Desa di sana belum terlalu tanggap dan peduli tentang pengobatan medis. Masih banyak warga yang melakukan pengobatan dengan cara tradisional ataupun dengan bantuan dukun dari pada berobat medis.
Di sana dokter adalah sesuatu yang belum mereka percayai, menjadi sesuatu yang di acuhkan di masyarakat. Meski sudah mengetahui tentang hal itu namun pak Herman tidak berkecil hati.
Setiap hari ia membuka klinik nya dengan penuh semangat. Ada seorang gadis yang bernama Ratih yang menjadi asisten nya di sana. Ratih merupakan keponakan dari kepala desa yang tak lain adalah sepupu Angga.
Dia hanya lulusan SD saja tapi pak Herman mengajarinya beberapa hal tentang ilmu Kesehatan. Seperti cara memeriksa tensi darah dan mengecek suhu tubuh sebagai permulaan.
Ratih berusia 4 tahun di atas si kembar. Di desa tersebut umum nya gadis seusia Ratih sudah menikah. Dan mungkin hanya Ratih saja gadis yang belum menikah di usia itu di desa tersebut.
Meskipun begitu Ratih mempunyai sebuah cita-cita untuk menjadi seorang perawat. Karena itu, begitu mendengar pak Herman hendak membuka klinik di balai desa. Ia dengan senang hati menawarkan diri untuk membantu.
Ratih tumbuh dan di besarkan oleh ibunya karena ayahnya telah meninggal sejak ia masih kecil. Untuk biaya hidup, ayah Angga lah yang sering membantu mereka bahkan Ratih sudah di anggap anak sendiri oleh pak kepala desa.
Di desa Lembah wangi, sebagian besar warga masih berpikir kolot. Baiknya perempuan itu tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, karena hanya akan menjadi ibu rumah tangga saja .
Mereka cukup belajar bagaimana cara mengurus rumah dan keluarga dari pada bersekolah. Karena itu Ratih berkeinginan keras jika suatu hari nanti ia bisa keluar dari desa dan pergi ke kota.
Ia ingin mengembangkan dirinya menjadi manusia yang lebih baik dan bermanfaat untuk orang lain. Karenanya, ia belum menikah juga walaupun semua keluarga sudah banyak mencemooh nya.
Tidak sedikit laki-laki yang pernah datang untuk meminang gadis berlesung pipi tersebut. Namun ia terus menolak dengan berbagai alasan.
Dan seperti biasa, ketika akan melewati perbatasan desa baik Nia dan Nisa selalu merasa was-was. Sejujurnya, itu adalah tempat menyeramkan kedua setelah pohon keramat di desa tersebut.
Entah hanya perasaan mereka saja, atau memang benar hawa di sana sangat tidak enak. Nia mencoba acuh dan fokus melajukan motornya seperti biasa. Tapi tiba-tiba saja, Nisa menyuruhnya untuk menghentikan laju motornya.
"Nia, berhenti ! berhenti dulu cepat!" teriak Nisa sambil menepuk-nepuk keras bahu Nia.
"Apaan sih Nis?" sentak Nia setelah terpaksa menghentikan laju motornya.
Nisa pun menarik tangan Nia dan menuntunnya ke arah sisi jembatan. Setelah berjalan beberapa meter ia melihat jalan setapak di ujung jembatan.
Nisa terus menuntun saudaranya untuk berjalan terus ke arah sana. Hanya ada pepohonan rimbun di samping sungai tersebut. Dan begitu sampai di tempat yang sedikit gelap karena tak tersorot matahari Nisa pun berhenti.
"Li..lihat itu." ujar Nisa dengan tangan bergetar.
Sontak teriakan keduanya menggema melihat pemandangan mengerikan di hadapannya saat ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments