NIA POV
Setelah kejadian di kediaman Mbah Karto tadi, aku menjadi sangat gelisah dan gamang. Masih teringat jelas kata demi kata yang di ucapkan Mbah Karto tadi begitu mengusik pikiranku.
Flashback,
Siang tadi semua teman-temanku datang ke rumah kami untuk menjenguk Nisa. Mereka tidak lama karena tahu tujuanku selanjutnya. Akhirnya setelah mereka pulang, aku pun ikut ke rumah Fitri seperti yang sudah janjikan.
Aku pun beralasan pada Nisa jika aku akan berkunjung ke rumah Fitri sembari mengantarnya pulang menggunakan sepeda motor kami. Karena kebetulan jarak rumah Fitri dengan rumah kami cukup jauh untuk berjalan kaki.
Begitu sampai di rumah Fitri, kami langsung di sambut oleh neneknya Fitri. Beliau bersikap baik, lembut dan sangat ramah padaku. Walau sedikit ragu pada awalnya, akhirnya aku pun menceritakan semua hal yang telah kami lakukan dan yang kami alami di desa selama ini.
Nenek Fitri yang biasa di panggil dengan Mbah Mun pun hanya bisa menghela nafas dengan lemah. Ia pun akhirnya bergegas mengajak kami untuk menemui Mbah Karto yang tak lain adalah sesepuh desa ini.
Orang yang paling berpengaruh di desa ini bahkan lebih dari seorang kepala desa. Kepala desa dan semua perangkat desa hanya di anggap sebagai pelengkap saja. Bahkan dokter ataupun bidan masih sepi peminat karena sebagian besar penduduk masih memegang teguh kepercayaan mereka .
Rumah Mbah Karto berada cukup jauh dari pemukiman. Hanya ada rumahnya sendiri di sana di kelilingi pohon beringin yang menjulang tinggi. Rimbun nya pepohonan di sekitar rumah Mbah Karto membuatnya gelap tak tersentuh cahaya matahari.
Hawa dingin seketika menyeruak ketika memasuki halaman rumah Mbah Karto yang gelap. Meskipun usianya sudah hampir 1 abad tapi nyatanya beliau masih terlihat segar dan bugar untuk orang seusianya.
Menurut Mbah Mun, ia tinggal seorang diri saja di sana karena istrinya sudah lebih dulu meninggal sejak lebih dari 10 tahun lalu. Dan kebetulan Mbah Karto tidak mempunyai anak, sehingga masa tuanya ia habiskan seorang diri dalam sebuah gubuk yang terbuat dari kayu dan beratap kan jerami tersebut.
"Akhirnya kalian datang." ucap Mbah Karto membuat ku sedikit tidak mengerti.
"Hapunten Mbah, anak ini baru di sini. Dia tidak sengaja melanggar aturan di desa ini. Tolong sekali Mbah, di maafkan segala kelancangannya untuk kali ini saja." timpal Mbah Mun mencoba membela Nia.
"Masuklah." ucap Mbah Karto singkat sembari lebih dulu melangkah ke dalam rumah panggung yang beralaskan papan tersebut.
Aku dan Fitri hanya bisa saling menatap takut dan bingung tanpa berani bersuara. Sejak kami tiba di sana,kami hanya bisa berdiri di belakang Mbah Mun sambil menundukkan kepala dengan takut.
Walaupun Fitri adalah warga pribumi, yang lahir dan tumbuh di sini, tetap saja ia merasa takut. Bahkan sejak ia lahir, ini adalah pertama kalinya ia menginjakkan kaki di kediaman Mbah Karto.
Selain sesepuh desa, beliau juga adalah salah satu kuncen dari gunung X yang letaknya tidak jauh dari desa. Kebetulan desa ini terletak di kaki gunung yang terkenal dengan kesakralannya itu.
"Duduklah." ujar Mbah Karto datar.
Mereka bertiga pun akhirnya duduk di sebuah ruangan yang berukuran sekitar 5x4 meter. Rumah tersebut sangat sederhana bahkan tak menggunakan listrik sama sekali. Sebagai alat penerangan, Mbah Karto menggunakan obor di luar dan lampu minyak untuk di dalam rumah.
Setelah kami duduk, aku pun baru menyadari jika Mbah Karto sudah menyediakan tiga gelas berisi teh yang masih terlihat mengepul asapnya. Dan bisa di pastikan, jika beliau sudah mengetahui akan kedatangan kami bertiga yang bertamu ke rumahnya.
"Di minum." ujar Mbah Karto dengan suara yang terdengar berat.
Tanpa membantah aku pun mencoba mengambil minuman yang telah di sajikan. Dan anehnya, begitu hendak meminumnya, rasanya tidak panas sama sekali hanya seperti teh hangat pada umumnya.
"Terimakasih Mbah." ujar ku memberanikan diri dan ku lihat samar Mbah Karto hanya mengangguk kecil sambil terus menghisap tembakau melalui sebuah cerutu yang terbuat dari kayu.
"Mbah, maksud saya kesini karena ingin memintakan pertolongan untuk anak ini dan saudaranya." ujar Mbah Mun mencoba menjelaskan maksud dan tujuan kami.
Mbah Karto hanya diam dan terus menerus menghisap tembakau di tangannya sambil memejamkan matanya. Lama kami terdiam karena tidak ada jawaban yang keluar dari mulut orang nomor 1 di desa ini.
"Kalian tidak tahu apa yang kalian hadapi." ujar Mbah Karto setelah sekitar 10 menit tanpa suara.
"Saya tahu Mbah kesalahan kami terlalu fatal, tapi saya mohon Mbah tolong saya dan saudari saya." ujar ku dengan sungguh-sungguh.
"Kanjeng Dewi sudah memilih satu di antara kalian, dan itu tidak bisa rubah lagi oleh siapapun. Satu di antara kalian berdua adalah manusia pilihan, yang memang sudah di takdirkan." jawab Mbah Karto membuat tubuh ku melemas seketika.
"Satu di antara kalian sangat istimewa, dan Kanjeng Dewi sudah memilih di saat kalian di lahir kan ke dunia ini." sambungnya lagi membuat ku semakin tak mengerti.
"Kedatangan kalian kesini sudah di takdirkan, dan sudah di tunggu-tunggu oleh Kanjeng Dewi. Dan perbuatan kalian yang telah melanggar banyak aturan desa juga benar-benar lancang. Terlebih kalian memasuki telaga wangi yang sudah di sakral kan yang tidak berhak di masuki oleh manusia manapun. Kalian berdua bahkan berenang dan mandi di dalamnya tanpa berpikir apa akibatnya." ujar Mbah Karto lagi membuat ku semakin terkejut.
"Kalian ini pendatang, orang baru di desa kami tapi sudah berani mengacaukan banyak tempat sakral yang bahkan penduduk pribumi sendiri tidak berani melakukannya." tambahnya lagi membuatku tak bisa berkata-kata.
"Tapi Mbah tentang telaga itu, kami benar-benar tidak tahu jika kami tidak di perbolehkan untuk mandi di sana." jelas ku dengan jujur.
Karena memang tidak ada yang memberi tahu kami tentang keberadaan telaga tersebut. Ketika kami berjalan-jalan di sekitar hutan yang berada di dekat batas desa, kami menemukan jalan ke sebuah bukit yang terlihat dari rumah kami. Dan begitu sampai di sana kami pun menemukan sebuah telaga yang sangat indah berwarna biru kehijauan.
Airnya berwarna biru dan sangat jernih membuat kami saat itu begitu tergoda untuk mandi dan berenang di sana. Andai saja Mbah Karto tak menjelaskan nya hari ini maka aku pun pasti tetap tidak mengetahui tempat apa itu sebenarnya.
Bahkan dengan apa yang Mbah Karto sampaikan saat ini pun, tetap tidak membuat ku bisa mengerti. Bagaimana kami berdua bisa lepas dari teror dan ketakutan ini yang terus terjadi setiap hari.
"Mereka hanya ingin menunjukkan keberadaannya, jika saja salah satu dari kalian bukan seseorang yang terpilih sejak kalian lahir. Saya pastikan kalian tidak akan bisa bernafas sampai hari ini. Tidak ada yang perlu di khawatirkan, terima dan jalani saja apa yang di kehendaki Kanjeng Dewi. Hanya itu cara yang mungkin akan menyelamatkan kalian." jelas Mbah Karto membuat ku lagi-lagi hanya bisa terdiam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments
Yin'yang
enak'y baca siang" knren bca mlm" ehh gg bisa merem😂
2023-10-18
0