Nia dan Nisa masih termenung di dalam kamar. Mereka masih memikirkan obrolan terakhir mereka dengan Angga. Memang ada beberapa larangan desa yang telah mereka langgar sejak pertama datang ke desa tersebut.
Tapi mereka tidak menganggap itu sebagai hal yang serius karena tidak ada kejadian berarti yang mereka alami saat itu. Di desa itu ada peraturan yang paling aneh menurut keduanya yang tentu saja tak pernah mereka hiraukan.
Yaitu setiap malam Jum'at Kliwon, dilarang ada orang yang keluar di atas jam 8 malam. Setiap malam Jum'at tersebut suasana desa, benar-benar sangat sepi, tidak ada orang yang berkeliaran di luar satu pun.
Tapi Nia dan Nisa pernah melanggar hal tersebut tanpa sepengetahuan kedua orangtuanya. Walaupun pak Herman sangat skeptis terhadap hal-hal seperti itu, ia berusaha untuk menghormati seluruh adat dan tradisi di desa tersebut.
Karenanya, apapun yang menjadi pantangan dan larangan di desa tersebut pak Herman selalu mengikutinya. Ia juga mengultimatum dengan keras pada kedua putrinya untuk sebisa mungkin menghargai adat, budaya dan tradisi di sana tanpa mempertanyakannya lagi.
Sampai saat ini pun si kembar masih belum mengetahui alasan jelas di balik kepindahan mereka ke desa tersebut. Banyak tempat dan desa yang tak terjamah oleh tenaga kesehatan di berbagai pelosok tapi kenapa harus di sana.
Pertanyaan keduanya tak pernah mendapatkan jawaban dari pak Herman. Tidak ada alasan khusus, ayahnya selalu mengatakan jika kebetulan desa tersebut lah yang ia ketahui sedang membutuhkannya.
Tapi dari mana pak Herman bisa mengetahui nya, ia tak pernah mau membicarakannya. Desa tersebut tidak terlalu jauh dari Jakarta, jika menggunakan kendaraan roda empat seperti mobil maka waktu tempuhnya sekitar 14 jam.
Hanya saja walaupun lokasi desa tersebut tidak terlalu jauh dari kota, namun sebagian besar warga setempat masih berpikiran kolot. Untuk sekolah pun jika bukan orangtuanya yang terbiasa bepergian ke kota, mereka tidak mengijinkan anak mereka untuk sekolah lebih dari SD saja.
Terutama untuk anak perempuan, gerak mereka di lingkungan desa sangatlah terbatas. Karena itu tidak ada satupun sekolah yang berdiri di dalam wilayah desa Lembah wangi. Karena memang warga sendiri yang menolak dengan pembangunan desa dalam segi pendidikan.
Lain halnya dengan beberapa desa tetangga yang sudah jauh lebih melangkah dalam mengembangkan kemajuan dalam segi pembangunan dan teknologi. Bahkan ada rumor beredar di kalangan para siswa yang pernah Nia dengar secara tidak sengaja.
Bahwa Desa lembah wangi adalah desa kutukan. Setiap tahunnya, selalu ada saja 3 orang pemuda atau pemudinya yang meninggal dengan cara tidak wajar dan tragis.
seperti kejadian seorang gadis yang bunuh diri beberapa waktu lalu di jembatan.
"Kita harus gimana sekarang Nia?" tanya Nisa dengan putus asa.
"Gue gak tahu Nis, yang jelas lebih baik kita menjauh dari Angga dan sebisa mungkin gak melibatkan dia apapun yang terjadi." ujar Nia dengan pikiran menerawang.
"Gue gak mau apa yang kita lihat tadi pagi menjadi kenyataan. Bagaimana pun juga, Angga bisa terlibat seperti ini karena kita." sambungnya lagi sambil menghela nafas kasar.
"Tapi gue juga gak mau mati konyol di sini." ujar Nisa dengan ketakutan.
"Tapi gimana caranya kita ngeyakinin bapak sama ibu buat pergi dari sini?" sambungnya lagi dengan putus asa.
Nia hanya bisa terdiam mendengar pertanyaan terakhir yang di ajukan saudari kembarnya tersebut. Mereka termenung dengan pikiran masing-masing yang entah sedang terbang kemana.
Setelah hari itu, mereka berdua sebisa mungkin berusaha untuk menjauhi Angga. Walaupun Angga tetap bersikap seperti biasa mereka mencoba mengacuhkannya. Tidak ada 1 hari pun tanpa teror setiap malamnya.
Mereka pun akhirnya memutuskan untuk tidur di satu kamar yang sama. Awalnya ibu merasa heran dan mempertanyakan alasan di baliknya, namun mereka berkilah jika sedang mengerjakan banyak tugas sekolah bersama.
Walaupun tidak seekstrim sebelumnya, tapi setidaknya setiap malam mereka selalu mendengar suara-suara aneh di luar rumah. Seperti suara kuda dan suara riuh orang berlarian seperti suatu rombongan sedang lewat.
Meskipun takut pada awalnya, mereka mulai membiasakan diri. Mereka benar-benar tidak pernah keluar dari rumah selain ke sekolah. Apalagi di malam hari, mereka hanya menghabiskan waktu di dalam kamar.
Sampai akhirnya waktu malam Jum'at Kliwon pun datang. Sejak sore hari, tiba-tiba saja tubuh Nisa mulai demam. Ia banyak tertidur karena kepalanya terlalu pusing ketika ia sedang terjaga.
Karenanya ia memilih untuk tidur, namun malam harinya ia mengalami hal yang diluar batas kewajaran manusia. Ia terbangun tepat di jam 12 malam, dan yang membuatnya begitu terkejut adalah ia melihat tubuhnya sendiri sedang terbaring dengan mata terpejam rapat.
Ia juga melihat Nia tampak tertidur di samping Nisa dengan posisi duduk karena tengah merawat Nisa. Nia tidak mengatakan tentang kondisi Nisa yang sebenarnya pada kedua orangtuanya.
Nisa pun berusaha keras untuk membangunkan Nia namun jangankan mendengar bahkan Nisa tidak bisa menyentuh Nia. Ia pun melihat sekelilingnya dimana ia melihat ruangan tersebut tampak aneh.
Wushhh,
Angin bertiup kencang dan kabut cukup tebal tampak memenuhi setiap sudut ruangan, membuat hawa di sekitarnya sangat dingin hingga terasa menusuk kulit. Nisa pun berusaha untuk membangunkan kedua orangtuanya, namun hasilnya tetap sama seperti sebelumnya ketika ia membangunkan Nia.
Semua orang nampak tak mendengar suaranya bahkan ia tak bisa menyentuh benda apapun. Nisa hanya bisa menangis menatapi tubuhnya yang sekilas hampir tak terlihat nyata. Nisa berpikir, apakah mungkin ia telah tiada atau ini hanyalah mimpi belaka.
DUNG
DUNG
DUNG,
Lalu tiba-tiba ia pun mendengar suara gong di bunyikan sangat kencang sampai ia bisa merasakan getarannya. Nisa pun terkejut dan segera ia bangkit dan menyeka air matanya. Ia pun memberanikan diri mendekati jendela yang berada di ruangan depan rumahnya.
Gong tersebut berbunyi sampai 3 kali namun tampak semua orang di rumah tersebut tertidur pulas. Tidak ada yang mendengar bunyi gong tersebut selain dirinya sendiri.
Setelah memberanikan diri mengintip suasana di luar rumahnya Nisa tampak tidak bisa melihat apapun selain kabut tebal menutupi semua tempat. Namun tiba-tiba sebuah cahaya terlihat menyorot satu sudut dimana ia melihat seorang wanita cantik mengenakan kebaya berwarna merah.
Penampilannya terlihat begitu cantik dan menawan seperti seorang putri raja. Rambutnya tergerai indah dengan panjang hampir tak terlihat. Mahkota berwarna emas menghiasi kepalanya dan selendang berwarna putih transparan berada dalam genggamannya.
Sosok itu tampak menyunggingkan senyuman pada Nisa sambil menganggukkan kepalanya kecil. Meskipun tampilan sosok tersebut begitu cantik, namun entah kenapa jantung Nisa berdebar begitu kencang saking takutnya.
Ada perasaan takut dan tertekan ketika Nisa menatap langsung pada sosok tersebut sebelum akhirnya menghilang dari pandangannya dalam sekejap. Dan tiba-tiba saja 2 orang hitam bertubuh tinggi dan besar pun datang hendak menghampiri Nisa.
Seluruh tubuhnya terbungkus oleh bulu tebal berwarna hitam pekat. Tingginya sekitar 2 kali lipat manusia normal pada umumnya. Wajahnya sangat menyeramkan dengan taring yang terlihat tajam dan runcing di kedua sisi mulutnya.
Tubuh Nisa bergetar takut melihat kedua sosok tersebut yang semakin dekat dengannya. Ia pun berlari kembali ke arah kamar hendak menghindari kedua sosok menyeramkan tersebut.
Nisa langsung melompat ke arah ranjang dimana tubuhnya berbaring. Beberapa kali ia gagal untuk masuk kembali ke tubuhnya begitu suara langkah sosok tersebut semakin dekat Nisa pun berdoa sepenuh hati berharap jika ia bisa kembali terbangun.
Entah ini mimpi atau apapun, Nisa ingin segera bangun dan berlari. Ia ingin kembali pada tubuhnya, dan kembali pada kehidupannya. Ia terlalu takut untuk menghadapi nya sendiri.
Dan ketika sosok tersebut berhasil masuk ke dalam kamarnya Nisa pun berhasil kembali ke dalam tubuhnya. Ia pun membuka kedua matanya dan berteriak sangat kencang hingga membuat Nia terlonjak kaget.
"AAaarrgggghhhh." teriak Nisa dengan kencang dengan nafas hampir putus.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments