Setelah mendengar apa yang ibunya katakan si kembar nampak masih terkejut. Mereka berdua duduk berdampingan di atas tempat tidur berukuran single yang ada di kamar Nia.
"Apa mungkin ini cuma kebetulan?" tanya Nisa setelah lama terdiam.
"Tapi terlalu mustahil untuk di katakan kebetulan. Kalau aja lu gak cerita tentang mimpi lu tadi malam di sekolah, gue pasti bakal bilang lu halu. Korban film horor atau apapun, yang jelas gak bisa di percaya." jawab Nia membuat Nisa kembali bungkam.
"Terus apa yang harus kita lakuin sekarang?" tanya Nisa membuat Nia mengedikkan bahu acuh.
"Kalau aja tadi kita lewat jembatan kayak biasanya, pasti kita bakal ngelihat kejadian dalam mimpi lu itu Nis. Tapi sayang, gara-gara Angga."
"Apa jangan-jangan Angga udah tau ya itu bakal terjadi juga." potong Nisa membuat Nia akhirnya tersadar.
"Lu bener Nis, gak mungkin ini cuma kebetulan. Apa mungkin Angga tahu sesuatu?" tanya Nia balik.
"Jawabannya cuma Angga yang tahu, jangan tanya gue." jawab Nisa asal.
"Kita harus ke rumah Angga, kita tanya langsung ke dia. Sebenarnya apa yang terjadi sama kita ini?" tanya Nia menarik lengan Nisa.
"Eh bentar dulu, main pergi-pergi aja. Gue capek, pengen istirahat dulu, badan gue juga lengket pengen mandi dulu terus kita makan dulu baru ke rumah Angga. Lagian, jangan sampe ibu curiga, baru juga kita pulang." jelas Nisa membuat Nia menghela nafas dan mengangguk setuju.
"Udah, gue ke kamar dulu." ujar Nisa sembari berjalan keluar dari kamar saudara kembarnya.
Hampir pukul setengah 5 sore si kembar bersiap untuk pergi ke rumah Angga. Rumah Angga berjarak kurang dari 500 meter dari rumah mereka.
"Loh, loh anak gadis ibu mau pada kemana sore gini udah rapi aja?" tanya ibu membuat langkah keduanya terhenti.
"Oh ini bu, kita mau jalan-jalan aja sore pengen lihat suasana desa sini." jawab Nisa sambil bergelayut manja di lengan ibunya.
"Oh seperti itu."
"Iya, bu. Aku juga udah punya beberapa temen kok di sini. Kita mau keliling dulu ya bu, siapa tahu nanti ketemu sama mereka di jalan." jelas Nia meyakinkan.
"Ya sudah, jangan pulang terlalu sore takutnya turun hujan lagi. Sebelum bapak kalian pulang, harus sudah di rumah ya." pesan ibu, lalu keduanya pun mengangguk setuju lalu berpamitan saling bergantian mencium punggung tangan ibunya dan mengucapkan salam sembari berlalu.
Belum sampai 5 menit berjalan, rumah Angga sudah terlihat dan yang lebih anehnya lagi Angga sudah menunggu mereka di teras rumahnya untuk menyambut keduanya.
"Assalamu'alaikum." ujar si kembar kompak.
"Waalaikumsalam, mari duduk." jawab Angga lalu mempersilahkan keduanya untuk duduk di teras.
Ada 2 kursi rotan dengan meja rotan berbentuk bulat yang di letakan di tengah. 1 kursi rotan single, dan 1 kursi rotan lagi berbentuk panjang yang bisa cukup di duduki untuk 3 orang bertubuh kecil.
"Oh, kalian sudah dateng toh?" tanya ibu Dewi yang tak lain adalah ibunya Angga.
Mereka pun langsung saling pandang mendengar ucapan bu Dewi seakan ia tahu bahwa mereka akan datang. Nia dan Nisa pun kembali mengucap salam sembari mencium punggung tangan ibu kepala desa tersebut.
"Sebentar ya neng Nia dan neng Nisa ibu ambilkan minum dan camilan dulu untuk kalian." ujar bu Dewi dengan begitu ramah.
"I.. iya bu." jawab keduanya dengan canggung.
Sementara Angga hanya berdiri menatap halaman rumahnya tampak enggan terlibat percakapan ketiganya. Begitu Bu Dewi masuk, Nia langsung menghampiri Angga.
"Bisa jelaskan? Sebenarnya ini ada apa? " tanya Nia tanpa ingin berbasa-basi.
"Nia benar, sepertinya kamu juga sudah tahu jika kami akan datang dan apa tujuan kami datang kemari." timpal Nisa tak mau kalah.
"Duduk lah dulu, saya akan jelaskan." ujar Angga menatap keduanya secara bergantian.
Mereka berdua pun akhirnya memilih untuk duduk tanpa berkata apapun lagi. Angga pun kini duduk di salah satu kursi rotan single.
"Saya juga melihat dan mengetahui apa yang ada dalam mimpi kamu kemarin malam. Bahkan tidak dalam bentuk mimpi, saya memiliki kelebihan untuk melihat sesuatu."
"Oh, maksudnya kamu punya indra ke 6 toh. Kenapa gak bilang dari tadi sih." ujar Nisa dengan polosnya.
"Ih, Nis. " kesal Nia.
"Oke, oke gue serius." jawab Nisa kembali merubah mimik wajahnya.
"Tapi kenapa kakak malah cegah kita lewat sana, padahal kalau kita lewat sana bisa aja kita berhasil cegah dia buat bunuh diri kan?" tanya Nia sungguh-sungguh.
"Kalian belum saatnya tahu, tapi camkan satu hal jangan terlalu banyak ikut campur dengan urusan di desa ini. Sebisa mungkin jauhi apapun hal yang menurut kalian janggal, itu pun jika memang kalian ingin hidup tenang di sini." ujar Angga memberikan nasehat.
"Percuma lah kayaknya kita dateng kesini. Ayo nis kita pulang!" ujar Nia yang langsung beranjak dari duduknya.
Nisa pun akhirnya mengikuti saudara kembarnya yang lebih dulu melangkah meninggalkan rumah orang nomer 1 di desa itu. Namun baru beberapa langkah, Angga pun kembali berucap memperingatkan.
"Jangan pernah keluar dari rumah, apapun yang kalian dengar atau lihat nanti malam. Karena sekali kalian masuk dan ikut campur di dalamnya maka kalian tidak akan bisa mundur lagi." ujar Angga, sementara Nia enggan menoleh sedikitpun.
Akhirnya Nia pun memilih untuk meneruskan langkahnya meninggalkan rumah Angga sementara Nisa tampak mengikutinya di belakang dengan raut wajah penuh kebingungan.
"Semoga kalian mengerti, apa yang saya lakukan semata-mata untuk keselamatan kalian di sini." gumam Angga menatap kepergian si kembar yang terlihat semakin menjauh.
"Loh, kemana anaknya pak dokter? Sudah pada pulang to mas?" tanya ibu sambil membawa nampan di kedua tangannya.
"Sudah bu." jawab Angga singkat.
**
Nisa terkejut mendapati dirinya berada di tengah hutan lebat belantara. Hari sudah malam, dan tidak ada sumber pencahayaan apapun selain bulan yang bersinar penuh.
"Ini dimana? kenapa aku disini? Sendirian pula." gumam nya sambil memeluk tubuhnya sendiri menghalau dingin yang menjalar dan ketakutan yang sudah mengendap di hatinya.
Nisa pun mencoba berjalan ke satu arah di temani remang-remang cahaya bulan. Tapi semakin ia berjalan, ia semakin masuk ke dalam hutan. Ia sangat ketakutan dan kebingungan.
Sampai sebuah suara gaduh mengusik indera pendengaran nya. Rintihan kesakitan terdengar samar-samar di telinganya. Ia pun berusaha mencari ke arah sumber suara walaupun ia tidak bisa melihat dengan baik karena sangat gelap.
Pepohonan yang menjulang tinggi di sekelilingnya menghalau cahaya bulan untuk masuk, membuatnya semakin kesulitan. Dan tiba-tiba ia sampai di sumber suara, samar ia melihat seorang wanita tengah berjongkok membelakangi nya.
Di depannya tampak seseorang tergeletak dengan rintihan kesakitan. Nisa sadar jika ia mengenal betul suara tersebut. Walaupun sedikit takut Nisa pun mencoba memberanikan diri untuk mendekati 2 orang di depannya itu.
"Em, ma..maaf anda siapa?" tanya Nisa gelagapan penuh ketakutan namun tidak ada jawaban.
Tiba-tiba saja wanita di depannya itu berdiri masih dalam posisi membelakangi nya namun ia begitu terkejut melihat sosok saudara kembarnya yang sudah tergeletak di tanah dengan perut terbuka dan darah berceceran.
Sontak saja Nisa pun berteriak sekencang-kencangnya sehingga wanita yang tadi mulai berjalan menjauhinya itu menoleh.
Nisa di buat sangat terkejut dengan pemandangan mengerikan di depannya itu.
Wanita berambut panjang yang tampak kusut itu memiliki mata berwarna merah menyala, wajahnya rusak dan lidahnya menjulur panjang sampai ke dada.
Jari-jari tangannya tampak lebih panjang dari manusia pada umumnya dengan kuku yang panjang pula. Wanita tersebut melihat ke arahnya sambil menampiknya senyum mengerikan di wajahnya, darah yang memenuhi mulutnya tampak menetes.
Bisa Nisa pastikan itu adalah darah saudara kembarnya yang kini mulai kehilangan kesadarannya. Nisa pun mencoba untuk menyadarkan Nia dan mulai menangis kencang.
Demi apapun, ini adalah momen paling menakutkan dalam hidupnya. Ia takut akan kehilangan saudara kembarnya tapi ia juga takut dengan wanita tadi.
"Nia.. please bangun ni jangan bikin gue takut." ujar Nisa sambil menepuk-nepuk pipi Nia yang terasa sangat dingin.
Nafas Nia mulai semakin lemah, dan suara rintihan kesakitan pun sudah tak terdengar lagi keluar dari mulutnya. Nisa semakin takut dan kalut, ia hanya bisa menangis dengan histeris sembari mengguncangkan tubuh Nia.
.
.
.
TBC,
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments