Bab 15

Setelah berjalan sekitar 30 menit berjalan meninggalkan pemukiman warga, akhirnya mereka pun memasuki kawasan pintu masuk hutan terlarang di sebelah barat desa lembah wangi tersebut.

Setelah memasuki kawasan hutan, rombongan bapak-bapak tersebut akhirnya di pecah menjadi 2 kelompok. Dimana 1 kelompok di pimpin oleh pak Herman sendiri. Dan kelompok lainnya oleh Pak Nardi yang merupakan tetanggaa terdekatnya.

Angga pun tergabung dengan kelompok pak Nardi yang akan mengambil jalur ke kiri memutari hutan menuju ke arah puncak bukit yang ada di hutan tersebut. Sementara pak Herman mengambil jalur ke kanan dimana terlihat bekas jalan setapak yang lebih memudahkan jalan mereka.

****

Jika di dunia nyata semua orang tampak sibuk mencari Nia dan Nisa lain halnya dengan di dunia lain yang entah harus si kembar dengan apa. Di sana mereka hanya merasakan malam tanpa siang, meskipun rasanya sudah waktunya mentari untuk menyapa.

Karena tidak menemukan kedua orangtuanya di manapun akhirnya mereka pun memutuskan untuk keluar dari rumah demi mencari mereka. Namun ada hal mengganjal di hati mereka, suasana desa tampak lain dari biasanya.

Dengan langkah sembunyi-sembunyi mereka berusaha menyusuri setiap sudut desa dan rumah-rumah warga. Tapi yang terlihat dan terasa seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana.

Tepat ketika mereka sedang berusaha mencari seseorang untuk di mintai bantuan mereka mendengar samar-samar langkah kaki banyak orang yang sedang berjalan. Semakin lama langkah kaki tersebut terdengar semakin gaduh di telinga mereka.

Dari tempat persembunyiannya, bisa Nia lihat jika segerombolan orang berjubah hitam tampak menggotong sebuah keranda ke arah hutan. Karena sangat gelap baik Nia maupun Nisa tidak dapat melihat dengan jelas.

Mereka mengandalkan lentera yang sejak tadi ia bawa dari rumah mereka sebagai bekal mereka menjelajah di luar sana. Mereka pun akhirnya memutuskan untuk mengikuti orang-orang berjubah hitam tersebut.

Entah kenapa, mereka merasa perlu untuk mengikuti orang-orang tersebut. Meskipun sudah berusaha mengejar nyatanya mereka jauh tertinggal. Hingga akhirnya mereka sampai di pintu masuk hutan dimana sebuah pohon beringin kembar berdiri di sana seperti gapura.

Masing-masing pohon berada di sisi kanan dan kiri menyisakan sebuah jalan setapak di tengahnya yang cukup lebar. Mereka pun terdiam beberapa saat karena merasa baru pertama kali menginjakkan kaki di tempat tersebut.

"Nis, ini kan hutan yang ada di belakang rumah kita kan? kenapa gue baru lihat ini pohon ya?" tanya Nia memandang aneh ke arah pohon besar yang berdiri tegak di sisinya.

"Gue juga gak tahu, kita kan gak pernah ke sini mungkin kalau dari rumah kita ini dari sisi yang gak kelihatan kali." jawab Nisa asal.

"Buat apa sih kita ke sini? Gue punya firasat gak enak deh kalau kita masuk rasanya." ujar Nisa sembari melihat ke berbagai arah dengan bantuan lentera di tangannya.

"Ah, tadi orang-orang itu tuh jalan ke sini. Gue yakin pasti ada sesuatu di dalam sana. Warga desa aja lu tahu sendiri gak ada satupun yang kelihatan batang hidungnya. Desa itu udah mirip kayak desa mati." jelas Nisa sembari mengecek barang-barang yang ia bawa yang mungkin saja nanti bisa berguna.

"Ngomong-ngomong apa perasaan gue doang atau gimana ya? Malem ini berasa panjang banget gak ketemu-ketemu sama pagi." ujar Nisa tampak berpikir.

"Ah Nisa udahlah gak usah mikirin itu dulu. Kita harus bisa nemuin jejak orang-orang tadi. Kita harus tahu mereka tuh sebenernya mau kemana, siapa tahu mereka menuju tempat yang kita gak tahu tapi semua warga desa ada di sana termasuk orangtua kita." ujar Nia mencoba berpikir lebih positif.

Namun ketika mereka mulai berjalan menyusuri jalur menuju hutan tersebut suasana mendadak menjadi cukup menakutkan. Suara burung hantu terdengar begitu nyaring bersahutan menambah kesan horor di sana.

Setelah berjalan sekitar 20 menit, mereka pun berisitirahat di bawah sebuah pohon besar. Keduanya tampak duduk sambil mensejajarkan kakinya yang terasa pegal di atas tanah dan dedaunan kering.

Meskipun hawa dingin begitu menusuk kulit, mereka mencoba merapatkan kembali jaket yang mereka kenakan untuk menghangatkan tubuh. Namun alangkah terkejutnya mereka ketika tiba-tiba mereka mendengar suara geraman yang cukup menyeramkan.

"Nia, suara apaan itu?" tanya Nisa dengan tubuh sedikit bergetar menahan takut.

Nia pun hanya bisa menggeleng lemah sebagai pertanda jika ia pun tidak tahu suara apakah yang kini terdengar bergema di belakangnya.

Dengan perasaan takut mereka berdua pun akhirnya mencoba memberanikan diri menoleh ke belakang. Tidak ada apapun yang mereka lihat selain gelap dan hitam, sampai akhirnya Nisa mengangkat lentera nya ke atas.

Terlihat sepasang mata menyala dengan ukuran cukup besar dari balik pohon besar dimana mereka beristirahat. Dan setelah mereka perhatikan, suara geraman tersebut berasal dari makhluk bertubuh besar hitam berbulu seperti beruang namun berkepala manusia.

Di kepalanya terdapat 2 tanduk yang cukup besar dan juga sepasang mata menyala. Namun mulutnya berbentuk moncong seperti serigala dengan taring yang begitu panjang di kedua sisi kanan dan kirinya. Dari mulutnya bahkan berjatuhan tetesan air liur tepat mengenai kepala keduanya.

Untuk beberapa saat mereka hanya bisa terpaku karena keterkejutannya, sampai akhirnya mereka pun tersadar kembali setelah makhluk mengerikan tersebut mengaung layaknya serigala membuat mereka mengambil langkah cepat untuk melarikan diri dari sana.

Keduanya berlari sekencang-kencangnya tanpa berani menoleh ke belakang bahkan sampai menerobos pepohonan kecil yang tampak rimbun di depannya. Mereka hanya berpikir untuk kabur secepat mungkin, tanpa peduli jalur berada dimana.

Yang terpenting bagi mereka saat ini adalah bersembunyi karena dari yang mereka dengar makhluk tersebut sempat mengejar mereka terbukti dengan gaduhnya suara langkah dari makhluk besar tersebut.

Hampir 40 menit lamanya mereka berlari tanpa berhenti dan tanpa menoleh sedikitpun. Mereka tidak lagi memperhatikan keberadaan mereka saat ini tengah dimana. Begitu sadar jika suara makhluk tersebut sudah tak terdengar akhirnya mereka pun berhenti.

Mereka berada di antara pepohonan kecil yang cukup rapat jaraknya satu sama lain. Selain untuk bersembunyi, mereka juga merasa jalan yang mereka ambil adalah jalan yang paling aman dari gangguan makhluk menyeramkan tadi maupun binatang buas.

"Nis, ini jalannya kayaknya makin jauh makin nanjak. Jangan-jangan kita ke arah gunung lagi?" ujar Nia setelah meneguk air putih yang ia bawa dalam sebuah botol sambil duduk bersandar pada batang pohon di belakangnya.

"Iyah bener, yaudah lah yang penting buat sekarang kita aman dulu." ujar Nisa yang sudah berbaring di atas tanah dengan nafas terputus-putus.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!