Teror tengah malam

Pukul 2 siang si kembar telah kembali ke rumah. Perjalanan dari sekolah ke rumahnya hanya memakan waktu sekitar 30 menit. Di desa lembah wangi tidak ada fasilitas sekolah menengah atas.

Karena itu, si kembar bersekolah di SMA Harapan yang berada di luar desa. Sama seperti kebanyakan anak-anak di desa tersebut mereka bersekolah di sana.

"Assalamualaikum." ujar si kembar kompak.

"Waalaikumsalam." jawab ibu dari dapur.

Dengan langkah pelan keduanya berjalan memasuki ruangan tengah dimana terdapat beberapa sofa yang sudah tampak usang. Setelah melepas tas di punggungnya, mereka pun duduk di sana.

"Gimana sayang hari pertamanya di sekolah? Suka sama sekolahan kalian yang baru kan?" tanya ibu sambil meletakkan 2 gelas es jeruk peras di depan keduanya.

"Aduh, ibu tahu banget kita lagi haus. Makasih bu." ujar Vania tanpa menjawab pertanyaan ibunya.

Segera ia ambil segelas es jeruk peras tersebut dan langsung meminumnya hingga tandas. Sementara Nisa memilih untuk tidak bersuara sembari mengikuti apa yang saudara kembarnya itu lakukan.

Sementara ibu hanya tersenyum melihat tingkah kedua putrinya. Ibu pun memilih mendekat dan duduk di sebelah Vania dan Vanisa.

"Loh kaki sama tangan kalian kenapa di plester begitu?" tanya ibu sedikit terkejut.

"Gak apa-apa kok bu, tadi pagi cuma jatuh aja. Tapi udah di obatin kok tadi sama Angga." jawab Nisa menjelaskan.

"Kok bisa, kalian jatuh dimana?" tanya ibu lagi penasaran.

Sementara Nia dan Nisa sempat saling pandang selama beberapa detik sebelum akhirnya menjawab pertanyaan ibunya itu.

"Di jalan bu tadi mau ke sekolah, maklum di tempat baru jadi tadi aku bawa motornya gak konsen. Banyak curi-curi pandang sepanjang jalan ke sekolah tadi." jelas Vania kemudian tersenyum menenangkan ibunya.

"Ya sudah bu, kita mau ke kamar dulu ya. Mau bersih-bersih terus istirahat sebentar." pamit Nisa sambil mengambil tas yang teronggok di meja.

"Iya bu Nia juga capek banget. Nanti kita lanjutin lagi ngobrolnya." ujar Nia menimpali saudara kembarnya.

"Ya sudah, nanti kalau mau makan lauknya sudah ada di meja makan. Nasinya kalian ambil di dapur masih ada di rice cooker ya." ucap Ibu memberitahu.

"Iya bu." jawab si kembar dengan kompak.

Perlahan mereka berjala menuju kamar masing-masing. Walaupun mereka kembar, sejak SMP mereka enggan berbagi kamar dan memilih untuk mempunyai kamar masing-masing.

Jika Nia terlihat sedikit tomboy, lain halnya dengan Nisa. Ia sangat feminim dan sangat suka berdandan. Meski sifat dan kegemaran mereka bertolak belakang, tapi mereka selalu terlihat kompak dalam segala hal.

Keduanya merupakan siswi yang cerdas dan berprestasi di sekolah lama mereka. Bahkan mereka juga aktif di beberapa organisasi kesiswaan seperti OSIS, Pecinta alam dan juga Pramuka.

~

Malam harinya semua telah berkumpul di ruang makan. Tidak ada percakapan selama mereka makan, semua tampak sibuk dengan piringnya masing-masing.

Sampai akhirnya acara makan malam hari kedua keluarga pak Herman di rumah baru tersebut selesai. Kini mereka berpindah ke ruang keluarga dimana sebuah TV tabung berukuran 42 inchi terpampang di hadapan semuanya.

Sambil menonton TV, keluarga pak Herman pun tampak berbincang-bincang. Udara malam di desa sangatlah dingin membuat mereka memilih untuk mengenakan sweater masing-masing.

"Gimana Nia, Nisa sekolah kalian yang baru? Apa kalian suka?" tanya pak Herman sambil menyesap teh hangat di tangannya.

"Sekolahnya lumayan jauh dari sini tapi udah masuk daerah perbatasan mau ke kota. Suasana di sekolah dan teman-temannya juga gak rese sih, Nia sih suka-suka aja." jawab Nia membuat Nisa sedikit menghela napas kecewa.

Ekspresi wajah kecewa Nisa tak luput dari pengamatan pak Herman dan istrinya.

"Ada apa Nisa? Sepertinya pendapat mu berbeda dengan kakakmu." tanya pak Herman lagi.

Nisa pun tampak melihat wajah kedua orang tuanya sebelum akhirnya menjawab.

"Nisa bukannya gak suka sih, cuma belum ngerasa nyaman aja. Tapi Nisa akan berusaha untuk menyesuaikan diri di sini pak, bu." jawab Nisa dengan jujur.

Sejak awal memang hanya Nisa lah yang menentang keras rencana kepindahan mereka ke desa ini. Nisa tidak mudah beradaptasi dengan suasana baru apalagi dengan orang-orang baru.

Di banding Nia yang tampak cuek dan pemberani, Nisa lebih tertutup dan pemalu. Karena itu, ia merasa enggan untuk pindah karena ia selalu kesulitan menyesuaikan diri di tempat baru.

"Ya sudah, bapak minta maaf sekali lagi jika kalian merasa terbebani dengan keputusan bapak untuk pindah ke tempat ini. Tapi bapak harap, kalian bisa merasa nyaman di sini. Bapak janji, jika kalian sudah menyelesaikan sekolah SMA di sini kalian boleh menentukan dimana pun kalian ingin berkuliah nanti."

"Beneran pak?" tanya Vania dan Vanisa dengan bersemangat.

"Iya, bapak janji." jawab pak Herman sembari tersenyum menatap kedua putrinya.

Setelah berbincang-bincang selama hampir 1 jam akhirnya mereka membubarkan diri dan pergi ke kamar masing-masing.

Jika Nia langsung bersiap untuk pergi tidur, lain halnya dengan Nisa ia memilih untuk mengambil salah satu novel kesayangannya di dalam sebuah kotak yang belum sempat ia bongkar.

Tanpa terasa kantuk mulai menyerangnya, padahal baru beberapa bab ia membaca novel tersebut. Hampir pukul 12 malam Nia memutuskan untuk pergi tidur.

Sebelum itu, ia memutuskan untuk mencuci muka dan menggosok giginya terlebih dahulu. Kamar mandi di rumah tersebut terletak di bagian paling belakang rumah sejajar dengan dapur.

Karena Nia adalah seorang gadis yang pemberani, ia tidak merasa takut sedikitpun untuk pergi ke kamar mandi sendiri. Padahal suasana rumah sudah sangat sepi, beberapa lampu di ruangan sudah di matikan.

Ketika sampai di kamar mandi, Nia segera melakukan ritual hariannya sebelum pergi ke tempat tidur. Sama-sama telinganya mendengar suara langkah kaki seperti di seret di belakang rumah mereka.

Awalnya Nia tampak Cuek dan berusaha mengacuhkannya. Namun lama kelamaan suara tersebut semakin terdengar jelas. Dengan cepat Nia menyelesaikan kegiatannya di kamar mandi.

Begitu selesai ia tampak celingukan di depan kamar mandi, matanya menerawang setiap penjuru dapurnya yang tidak terlalu besar namun cukup nyaman untuk di gunakan.

Di sebelah kanannya terdapat sebuah pintu yang terhubung ke halaman belakang rumah mereka. Di sana tidak ada apa-apa selain kebun berukuran tidak terlalu besar. Ada beberapa pohon buah dan pohon pisang di sana.

Nia menimbang-nimbang tampak berpikir, haruskah ia mengecek suara gaduh yang sejak tadi terdengar di telinganya. Tapi semenjak ia keluar dari kamar mandi, suara tersebut menghilang.

Tidak ada suara apapun selain suara binatang seperti jangkrik yang mengisi pendengaran nya. Akhirnya Nia mengurungkan niatnya untuk mengecek halaman belakang rumahnya dan memilih untuk kembali ke kamar.

Ketika ia duduk di atas ranjang dan bersiap untuk tidur. Tiba-tiba saja terdengar suara ketukan di tembok rumahnya. Bersamaan dengan bau busuk yang menyengat indra penciuman nya.

Sejujurnya Nia agak merasa takut, karena ini pertama kalinya dia merasakan hal seperti itu. Setelah berdebat dengan dirinya sendiri akhirnya Nia memutuskan untuk mengacuhkannya, dan segera memejamkan matanya.

Dug, dug, dug, dug.

Namun lagi-lagi suara ketukan di tembok kembali mengganggunya. Bahkan bau busuk yang menyengat di hidungnya semakin terasa. Akhirnya Nia memberanikan diri untuk mengeceknya.

Ia berjalan ke arah jendela kamarnya yang berada di sisi kanan tempat tidur. Dengan tangan gemetar dan keringat bercucuran ia mulai mencoba menyibak gorden yang menutupi jendela berukuran 2x1 meter tersebut.

Terlihat pemandangan kebun dan persawahan yang gelap gulita. Tidak ada cahaya sama sekali, belum sempat tangannya membuka jendela ia di kagetkan dengan ketukan di pintu kamarnya.

Tok tok tok,

" siapa? " tanya nia takut-takut.

Tidak ada jawaban selama beberapa saat. Tapi ketukan terdengar kembali membuat Nia spontan menutup gorden jendelanya kembali dan berjalan menuju pintu kamarnya yang di ketuk semakin kencang.

Ceklek, pintu perlahan terbuka.

Deg,

Deg,

Deg,

Tbc,

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!