Lagi-lagi si kembar merasa Dejavu dengan apa yang mereka alami kali ini. Meskipun entah apa mereka sendiri pun tidak tahu dan tidak mengerti. Hawa dingin yang semakin menusuk di tambah suasana yang mendadak berubah hening.
Tidak ada suara apapun yang terdengar sampai suara binatang yang biasanya ramai terdengar pada malam hari pun menjadi senyap. Keduanya hanya bisa saling menatap mencari jawaban dari masing-masing yang mungkin mengetahui sesuatu.
Dengan cepat mereka pun mengambil keputusan untuk keluar dari kamar, namun mereka begitu terkejut begitu membuka pintu kamar mereka. Suasananya memang gelap karena sudah malam hari dan lampu sudah di matikan.
Tapi untuk pertama kalinya mereka merasa rumah mereka segelap itu sampai terasa benar-benar sesak. Dengan saling berpegangan tangan keduanya melangkah dengan sangat hati-hati mencoba mencari sumber penerangan.
Awalnya mereka mencoba meraba-raba tembok guna mencari stop kontak untuk menghidupkan lampu. Namun selama beberapa menit mereka tak menemukan apapun. Sampai akhirnya Nia teringat jika ayahnya biasa menaruh pemantik di atas meja kecil yang berada di sudut ruang tamu.
Keduanya mencoba mengingat dan mencari keberadaan meja tersebut dan akhirnya menemukannya setelah beberapa saat. Dengan cekatan tangan Nisa berusaha menggapai meja dan mencari-cari keberadaan pemantik tersebut.
"Nah, ketemu." ujar Nisa dengan girang.
"Ya udah Nis, cepet nyalain." ujar Nia yang berdiri di sampingnya.
Nisa pun menurut tanpa banyak bicara dan membuka pemantik tersebut dan menyalakannya. Namun dalam beberapa kali percobaan pemantik tersebut tak kunjung menyala.
"Sini deh Nis, biar gue aja." seru Nia tidak sabar.
"Ya udah, nih." jawab Nisa sembari memberikan pemantik tersebut ke tangan saudara kembarnya.
Sama seperti Nisa, Nia pun merasa cukup kesulitan untuk menyalakan pemantik tersebut. Sampai akhirnya pada usaha ke 3 kalinya pemantik tersebut pun menyala. Si kembar pun begitu kegirangan karena akhirnya usaha mereka itu akhirnya berhasil.
Sleb
Tawa di wajah keduanya mendadak surut melihat sebuah wajah yang tampak rusak dan hangus. Bau hangus seperti terbakar begitu menusuk Indra penciuman mereka.
Sesaat mereka pun hanya bisa diam membeku sebelum akhirnya menjerit ketakutan sampai pemantik tersebut hampir terlempar Namun Nia pun mencoba mempertahankannya sebelum berlari menyusul Nisa ke arah kamar.
Mereka berdua pun langsung menutup pintu kamar mereka dan menguncinya. Nia pun teringat dengan pemantik tersebut langsung berinisiatif menyalakannya karena takut ada makhluk lain di kamar mereka yang tidak mereka ketahui keberadaannya.
Dan begitu cahaya berpendar memenuhi seluruh ruangan mereka pun meneliti ke setiap sudut kamar. Dan beruntungnya tidak ada hal menyeramkan seperti apa yang mereka lihat beberapa saat lalu di ruangan.
Lalu tiba-tiba saja Nia menghampiri meja belajar mereka dimana terdapat sebuah lentera di sana. Dengan cepat Nia menyambar lentera tersebut dan menyalakannya.
"Nia, tadi itu apa?" tanya Nisa sembari menggamit lengan saudara kembarnya dengan takut-takut sambil melihat ke sekeliling.
"Gue juga gak tahu Nis, tapi lu ngerasa gak sih kita lagi di rumah tapi kayak bukan di rumah. Suasananya terlalu senyap, dingin, gelap, sesak, dan aneh seaneh-anehnya." ujar Nia berpendapat.
"I..iya sih gue juga mikir gitu, kayak ada sesuatu yang salah deh di sini tapi gak tahu apa." timpal Nisa menjadi cemas.
"Trus kita harus gimana sekarang?" tanya Nia lagi.
"Gak tahu." jawab Nia sambil mengendikkan bahunya acuh.
Keduanya duduk di sisi ranjang yang sama, masing-masing memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada mereka kali ini. Terlihat jelas seluruh rumah mereka gelap gulita, kecuali kamar mereka yang terlihat sedikit terang oleh cahaya lentera.
"Nis, mending kita coba tidur dulu yuk. Siapa tahu kalau sudah bangun nanti langsung pagi." usul Nia yang langsung di setujui oleh Nisa.
Mereka pun akhirnya berbaring di atas ranjang mereka bersiap untuk tidur, keduanya tidur saling berhadapan sambil berpegangan tangan. Tapi belum sampai 5 menit mereka memejamkan mata, mereka kembali terbangun oleh tetesan air yang membasahi wajah mereka.
"Duh, ini air apa sih? emang hujan ya?" tanya Nia kesal sambil mengelap wajahnya yang telah basah karena tetesan air yang jatuh dari atap kamar mereka.
"Tahu nih, emang kamar kita bocor ya ? Kok sampe basah begini muka gue." timpal Nisa yang kini mendudukkan dirinya di atas ranjang masih dengan mata yang sedikit tertutup.
Namun betapa terkejutnya Nisa ketika ia membuka mata, bukannya air melainkan darah segar yang membasahi wajah mereka berdua sejak tadi. Perlahan Nisa pun mendongak menatap ke atas langit-langit kamarnya yang hanya di hiasi cahaya lampu lentera yang sedikit redup.
"Aaarrrgghh..." teriak Nisa sekencang-kencangnya sambil melompat ke sisi lain kamar membuat Nia terlonjak kaget.
"Ada apa sih Nis? Bikin gue kaget aja deh." tanya Nia yang melihat Nisa gemetar karena ketakutan.
Nisa pun perlahan mengangkat jari telunjuk nya tepat ke atas langit-langit dimana Nia masih duduk di atas ranjang. Nia pun perlahan mengikuti arah telunjuk Nisa berada.
Dan ia pun melompat dari atas ranjang sambil berteriak kencang persis seperti yang Nisa lakukan setelah melihatnya.
Terdapat sebuah tulisan besar di atas langit-langit kamar mereka yang tulis menggunakan darah segar. Mereka bisa memastikan jika itu memang benar-benar darah karena dari baunya saja tercium begitu amis.
Hanya ada 4 huruf yang tertera di sana, Yaitu kata Mati yang membuat keduanya begitu ketakutan. Dan ada ayam cemani berwarna hitam yang di gantung di sisi tulisan tersebut. Jika memang manusia, tidak mungkin ada yang bisa melakukannya sementara si kembar berada di dalam kamar.
Keduanya hanya bisa menangis sambil berpelukan karena merasa takut akan teror yang terus terjadi. Bahkan mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, jika memang semua ini akibat dari kelancangan mereka dulu mereka benar-benar sangat menyesal.
Setelah keduanya tenang mereka pun memberanikan diri untuk bangun dan keluar. Mereka tidak tahu jam berapa saat itu karena semua jam di kamar mereka mendadak mati termasuk jam tangan dan semuanya berhenti di angka jam 1.30 malam.
Dengan saling berpelukan keduanya mencoba membuka gagang kenop pintu kamar mereka dan berencana untuk pergi ke kamar bapak dan ibunya. Dengan tangan bergetar Nia mencoba memutar kenop pintu kamarnya sementara Nisa memegang lentera.
Keduanya mengintip perlahan sambil berjalan mencoba menerangi setiap sudut dan melihat ke seluruh ruangan dengan lentera yang mereka bawa. Hanya kabut cukup tebal yang terlihat menyelimuti seisi rumah. Dan begitu sampai di depan pintu kamar orangtuanya, mereka tidak mengetuk pintu melainkan mencoba membuka pintu kamar orangtuanya.
Dan begitu pintu terbuka seisi kamar tampak kosong. Tidak ada tanda-tanda kedua orangtua mereka ada di sana. Nia dan Nisa pun tampak kebingungan, mereka khawatir pada orangtuanya takut jika sesuatu telah terjadi pada mereka.
Setelah mencari ke setiap sudut kamar, mereka pun memutuskan untuk menghubungi kakak mereka yang ada di kota untuk meminta bantuan. Namun akhirnya mereka ingat jika listrik di rumah mereka telah padam dan telepon rumahnya mati.
Nia dan Nisa tampak putus asa, dan mereka tidak tahu lagi dengan apa yang harus mereka lakukan setelahnya. Keduanya sudah mencoba mencari ke seisi rumah namun kedua orangtuanya tetap tidak di temukan dan tidak ada tanda-tanda apapun mengenai keberadaan keduanya.
Tanpa mereka ketahui jika sebenarnya mereka telah tertarik ke dimensi lain. Di dunia nyata kedua orangtuanya begitu kelimpungan mencari keberadaan si kembar yang telah menghilang dari kamar mereka sejak malam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments