Di antara 2 dunia

Siapa yang Mbah Karto maksud dengan Kanjeng Dewi? Bahwa ia telah memilih satu di antara Vania dan Vanisa sebagai pengikutnya. Semua pernyataan yang di lontarkan oleh Mbah Karto menjadi hal yang tidak Nia mengerti sama sekali.

Nia hanya bisa termenung sambil memeluk kedua lututnya sambil duduk di sebuah kursi rotan yang ada di dalam kamarnya. Semenjak sering terjadi teror terhadap keduanya mereka memutuskan untuk tinggal di kamar yang sama.

Padahal sudah 3 tahun sejak mereka bersikeras untuk tinggal di kamar terpisah. Walaupun kedua orangtuanya sempat mempertanyakan keputusan keduanya namun akhirnya mereka memilih untuk percaya saja dengan penjelasan keduanya.

Hari pun berganti malam, dan inilah waktu yang paling tidak ingin di jumpai oleh si kembar. Karena selalu ada teror yang mengintai entah secara nyata bahkan dalam mimpi sekalipun.

Malam itu seperti biasa mereka pun melakukan rutinitas makan malam sambil berbincang-bincang di sela-sela makan mereka. Nisa pun sudah kembali bergabung duduk di meja makan seperti biasa.

"Nis, besok kamu sudah bisa sekolah?" tanya pak Herman dengan lembut.

"Iya pak, besok Nisa masuk." jawab Nisa singkat sambil mengaduk-aduk nasi dan lauk di piring nya.

"Mau ibu buatkan bekal buat di sekolah buat kalian?" tanya ibu.

"Gak usah bu, kalau Nia biar jajan di kantin aja nanti. Kalau Nisa sih Nia gak tahu." jawab Nia memberikan sedikit sindiran pada kembarannya tersebut yang lebih banyak diam selama beberapa hari ini.

"Ah, Nisa juga gak usah bu." jawab Nisa sekenanya.

Setelah acara makan malam selesai mereka pun kembali ke kamar masing-masing. Nia memilih untuk mengerjakan beberapa tugas sekolah yang harus di kumpulkan 3 hari kemudian.

Untuk mengalihkan pikirannya dari permasalahan yang menimpa mereka belakangan ini. Nia berpikir mungkin ada baiknya mereka bersikap acuh dengan apapun yang terjadi selama beberapa hari ke depan.

Sejujurnya ia juga merasa lelah di hantui rasa takut dan gelisah setiap hari. Banyak teka-teki yang menjadi kepingan puzzle yang belum jelas terlihat bentuknya.

Setelah selesai makan malam, mereka pun kini tengah berbaring di kamar saling memunggungi bersiap untuk pergi tidur. Walaupun sebenarnya kantuk belum menyerang sama sekali.

Malam itu adalah malam Jum'at Kliwon, malam dimana suasana Desa akan sangat sepi tanpa aktivitas setelah Isya. Karena jika tidak ada hal yang mendesak, warga memang di larang beraktivitas di luar rumah di atas jam 7 malam setiap malam Jum'at Kliwon.

Awal mereka datang ke desa tersebut, mereka sangat menyepelekan peraturan tersebut bahkan melanggarnya. Mereka malah dengan sengaja pergi keluar secara diam-diam tanpa sepengetahuan kedua orangtuanya untuk memastikan keadaannya.

Dan saat itu, memang suasana desa sangatlah sepi. Tidak ada 1 orang pun yang berkeliaran di luar rumah atau bahkan sekedar duduk di teras rumahnya saat itu. Sampai akhirnya mereka pun di kaget kan dengan kemunculan sebuah bola api yang melayang di udara.

Bola api tersebut awalnya terlihat berputar-putar di atas langit sebelum akhirnya berakhir dengan mengejar keduanya. Mereka pun berlari dengan susah payah untuk menghindari bola api tersebut.

Setelah itu, mereka tidak pernah lagi berani keluar malam di setiap malam Jum'at. Namun sebelum datangnya bola api tersebut, si kembar merasakan seperti mencium bau busuk di sekitarnya.

Dan alangkah terkejutnya mereka melihat sosok hitam berbulu sedang berjalan di antara pepohonan yang rimbun. Sosok tersebut sangatlah besar sampai-sampai yang bisa mereka lihat hanyalah kakinya saja.

Dengan sekencang-kencangnya mereka berdua kembali ke rumah dan tak pernah mau lagi mengulanginya. Apapun yang mereka dengar atupun lihat dari balik jendela rumahnya di luar, mereka berdua sudah tak tertarik lagi.

Dan malam itu, mereka berdua tidak bisa terlelap tidur sama sekali. Walaupun mata keduanya terpejam rapat tapi mereka tidak benar-benar tidur. Suara gamelan terdengar jelas mengisi indra pendengaran mereka.

Suara warga yang sedang berpesta dan sorak Sorai orang berbincang pun begitu jelas kentara. Anehnya hanya si kembar yang mendengar semua itu sementara kedua orangtuanya sudah tertidur dengan pulas di kamarnya.

Pukul 1 malam, Nia akhirnya bangun dan mendudukkan dirinya di atas kasur. Sudah sejak 1 jam lalu ia menahan diri untuk tidak buang air kecil. Tapi nyatanya ia tidak bisa, dengan terpaksa ia pun bangun dan membuka matanya.

"Nisa, bangun lu anter gue." ujar Nia sambil menepuk punggung Nisa yang membelakangi nya.

"Gue tahu lu belum tidur gak usah pura-pura." tambahnya lagi dengan kesal.

Akhirnya Nisa pun bangun dengan malas. Keduanya berjalan ke arah belakang rumah dimana kamar mandi berada. Setelah selesai, keduanya bergegas kembali ke kamar tapi langkah mereka terhenti ketika mereka melihat ibu tengah duduk di ruang makan sendirian.

"Nia, itu ibu." ujar Nisa menunjuk ke arah ibunya.

"Ngapain ibu di situ?" tanya Nia bingung dan Nisa hanya bisa mengendikkan bahunya acuh berjalan ke arah ruang makan.

Dari jauh terlihat, ibu tengah makan dengan tenang. Dengan langkah perlahan Nia dan Nisa pun akhirnya sampai di ruang makan dan berdiri tepat di belakang ibunya. Nisa yang semula hendak duduk di samping ibunya menjadi terpaku melihat apa yang sedang ibunya makan saat itu.

Nisa pun segera menarik Nia sedikit menjauh. Ibu seperti tidak terganggu dengan kedatangan keduanya dan hanya melanjutkan makannya dalam diam. Nisa pun memberikan isyarat pada Nia untuk melihat isi piring di atas meja.

Hampir saja Nia menjerit kencang saking terkejutnya melihat cacing, belatung, dan kalajengking yang masih hidup berada di piring tersebut. Keduanya pun akhirnya mencoba untuk memberanikan diri kembali mendekat.

"Bu." panggil Nisa lirih sambil memegang bahu ibunya.

Dan keduanya pun berjingkat kaget melihat wajah ibunya ketika menoleh ke arah keduanya yang terlihat sangat menyeramkan. Wajahnya pucat, kedua bola matanya kosong dan ibunya terlihat masih mengunyah cacing belatung dan kalajengking hidup-hidup di mulutnya.

Nia pun refleks menutup mulut Nisa yang hendak menjerit dan segera menariknya berlari meninggalkan ruang makan. Dengan nafas terengah-engah mereka pun sampai di dalam kamarnya. Namun yang membuat mereka merasa aneh suasana kamar mereka kini terlihat berbeda.

Ada kabut tebal menyelimuti kamar mereka. Suhu dingin begitu menusuk kulit, dan begitu melihat ke arah tempat tidur keduanya melihat tubuh mereka masing-masing terbaring di atas ranjang.

Keduanya sangat terkejut melihat pemandangan tersebut dan mencoba berpikir setenang mungkin dengan apa yang sebenarnya terjadi. Namun tiba-tiba saja mereka kehilangan keseimbangan mereka karena tiba-tiba terperosok ke bawah lantai dimana mereka berpijak.

Keduanya berteriak kencang sembari mencoba mencari pegangan ketika terperosok ke dalam lubang hitam yang terasa begitu dalam. Tanpa keduanya sadari, jika mereka telah tertarik ke alam lain yang secara tidak sengaja mereka masuki.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!