Rombongan pak Nardi sudah tiba di kediaman Mbah Karto tepat pukul 9 malam. Tidak lupa pak Nardi pun turut mengutus salah satu warga untuk memberitahukan mengenai kondisi Nisa kepada Bu Herman.
Sesampainya di rumah Mbah Karto Nisa langsung di baringkan di atas tempat tidur yang terbuat dari bambu. Ia di tempatkan di halaman rumah Mbah Karto. Tidak lama kemudian Bu Herman pun datang sambil menangis melihat salah satu putrinya terbaring tak sadarkan diri.
Seluruh tubuh Nisa terlihat basah karena hujan sempat mengguyur selama proses evakuasi. Wajahnya terlihat begitu tenang dengan bibir yang memucat. Bu Herman mengusap kedua sisi wajah putrinya yang nampak dingin.
Ia pun ingin memastikan kondisi putrinya tersebut. Dengan tangan bergetar ia pun mencoba mengecek nadi putrinya, selama beberapa saat ia memejamkan matanya berusaha untuk berkonsentrasi.
Tangisnya pecah membuat beberapa warga menatap iba pada Bu Herman yang menangis meraung-raung sembari memeluk tubuh putrinya. Ia benar-benar kalut dan takut, beberapa kali ia mencoba memastikan denyut nadi putrinya namun ia tidak bisa merasakannya.
Hal yang paling ia takutkan akhirnya terjadi. Tak lagi ada tanda-tanda kehidupan ada pada putrinya. Bibirnya yang pucat dengan tubuhnya yang terasa dingin, bahkan ia tidak bisa merasakan detak jantung maupun denyut nadi putrinya itu.
Bu Herman terus menangis meraung-raung tak peduli banyaknya pasang mata yang menyaksikan langsung apa yang terjadi saat ini. Hatinya begitu sakit dan sesak menyadari jika putrinya telah berpulang.
"Nisa.. Bangun nak, putri ibu yang cantik. Nisa bangun ya sayang. Kita kembali ke kota ya nak, kakak mu akan menjemput kita." lirih Bu Herman sembari menangis begitu pilu.
Bu Dewi pun yang tak lain adalah ibu dari Angga menatap iba pada Bu Herman. Ia pun menghampiri Bu Herman sembari membisikkan kata-kata penguat untuk ibu dari si kembar.
Ia juga tahu jika Angga turut serta dalam pencarian si kembar, bahkan suaminya selaku kepala desa sudah bergerak membawa beberapa warga lain untuk menyusul dan membantu melakukan pencarian bersama-sama.
Semakin banyak orang yang terlibat mungkin akan semakin mudah untuk menemukan Nia. Meskipun gerimis masih tetap mengguyur hutan dan kabut semakin tebal tidak menyurutkan niat warga untuk membantu.
Mbah Karto terlihat menghembuskan nafas panjang melihat kondisi Bu Herman yang terus menangis sembari memeluk jasad putrinya. Ia pun tiba-tiba memanggil pak Nardi dan memberikan perintah untuk membubarkan warga desa yang kini berkumpul di rumahnya.
"Maaf sebelumnya Mbah, apa kami harus membantu membawa pulang jenazah almarhumah nak Nisa?" tanya pak Nardi mewakili para warga yang sudah di mintai untuk pulang ke rumah masing-masing.
"Tidak perlu, biarkan saja dulu. Kita tunggu yang 1 lagi di temukan. Yang tidak memiliki kepentingan pulang lah kalian ke rumah masing-masing. Ingat jangan ada yang mengatakan apapun tentang ini, semuanya belum pasti." ujar Mbah Karto sembari menatap ke arah hutan di lereng gunung tempat dimana pencarian tengah di lakukan.
Tersisa Bu Herman, Bu Dewi dan pak Nardi yang masih bertahan di rumah Mbah Karto. Dan kini sejam telah berlalu, tapi masih belum nampak tanda-tanda kedatangan rombongan pencari si kembar.
Di hutan hujan semakin deras ketika mereka melakukan pencarian di sepanjang sungai. Angga merasa hampir putus asa karena sudah hampir tengah malam ia belum bisa menemukan keberadaan Nia.
Hatinya begitu takut membayangkan apa yang akan terjadi jika Nia tidak segera di temukan secepatnya. Tiba-tiba saja terdengar samar suara langkah kaki kuda di sekitar tempatnya berdiri.
Ia pun tampak mengawasi sekitar mencari sumber suara tersebut namun tidak terlihat apapun. Semua orang masih tampak menyisir aliran sungai mencoba mencari keberadaan Nia yang masih belum di temukan.
Semakin lama suara langkah kaki kuda tersebut semakin terdengar jelas. Hingga akhirnya bisa ia lihat sebuah kereta kencana terlihat melewatinya begitu saja. Kereta tersebut datang dari arah hulu, dan berhenti di sebuah tempat lapang yang berada di pinggir jurang.
Seorang wanita berpakaian kerajaan dan memiliki mahkota yang sangat indah di kepalanya tampak keluar dari dalam kereta kencana tersebut. Dalam jarak lebih dari 100 meter bau wanginya begitu tercium menguar kuat di indra penciuman.
Ia terlihat tersenyum sambil menatap ke arah sungai di hadapannya. Angga pun mengikuti arah pandangan sosok Dewi yang menjadi penguasa di sana. Tidak sembarang orang memiliki kesempatan untuk melihat penampakan sang Dewi penguasa kerajaan gaib yang ada di gunung tersebut.
Angga pun mendekat ke arah di mana sosok tersebut menunjukkan keberadaan Nia. Yang awalnya sudah ia lewati berkali-kali tak terlihat apapun. Namun kini terlihat seorang gadis tengah tertelungkup dengan separuh tubuhnya menjuntai di sungai.
"Terimakasih Kanjeng ratu." ujar Angga pelan sembari menunduk hormat.
Sosok tersebut hanya tersenyum dan menghilang begitu saja seperti asap hingga tak berbekas. Angga pun tak mau memikirkan hal lain dulu sebelum memastikan keadaan Nia dan membawanya turun.
Dengan jantung yang berdebar keras ia pun berlari menghampiri tubuh Nia yang tertelungkup di atas sebuah batu yang cukup besar. Angga pun sedikit bernafas lega, walaupun tubuhnya terasa dingin namun ia masih bisa merasakan denyut nadinya walaupun lemah.
Segera Angga menggendong tubuh Nia yang sudah terkulai lemas tak berdaya. Sontak saja semua orang yang ikut dalam pencarian akhirnya menghampiri Angga dan membantunya. Baru beberapa menit berjalan pak Herman pun terlihat menghampirinya dengan tergesa-gesa.
"Ya Allah Alhamdulillah, Nia sayang akhirnya kamu di ketemukan nak." ujar pria paruh baya bercampur tangis haru.
"Pak, biar saya bantu bawa Nia sampai ke bawah, kita harus cepat waktunya sudah hampir habis." jelas Angga yang langsung di setujui oleh pak Herman.
Mereka pun harus berhati-hati karena jalur untuk turun dari lereng gunung tersebut cukup licin. Hujan yang deras membuat perjalanan mereka sedikit terhambat. Setelah penuh perjuangan yang sulit akhirnya mereka pun sampai di kediaman Mbah Karto.
Tentunya di sambut dengan tangisan kencang Bu Herman. Ia langsung berlari menghampiri putrinya yang masih berada di gendongan Angga. Pak Herman pun nampak tersentak dan tubuhnya mendadak lemas melihat tubuh putri satunya di tutup selembar kain jarik.
"Bu, ada apa dengan Nisa Bu?" tanya pak Herman segera berlari dengan sisa tenaga nya menghampiri tubuh Nisa.
Nia pun Angga letakan di sebelah tubuh Nia yang sudah terbaring kaku. Semua orang tampak menatap iba pada sepasang suami istri yang tengah menangis sambil saling menguatkan. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya jika akhirnya mereka akan kehilangan salah satu putri kembar mereka dengan cara seperti ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tbc
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments