Kini Nia dan Nisa sudah duduk di pojokan kantin berdua. Mereka memesan semangkuk mie ayam dan segelas es teh manis sebagai menu makan pagi menjelaskan siang mereka.
"Nia, ada apa sih sebenernya?" tanya Nisa sembari mulai mengaduk semangkuk mie yang baru saja di guyur saos dan sambal.
"Kita makan dulu aja deh, kalau gue omongin sekarang nanti kita gak bakal selera makan." ujar Nisa yang lebih dulu menyeruput mie di mangkuknya.
"Ih apa sih bikin penasaran aja." gerutu Nisa namun ia tetap menurut apa yang kakaknya katakan.
Setelah 10 menit akhirnya makanan dan minuman yang mereka pesan sudah habis. Kini Nia pun bersiap untuk menceritakan kejadian janggal yang semalam ia alami.
"Semalam lu ada denger suara-suara aneh gak di rumah?" tanya Nia.
"Suara aneh? apaan? semalam gue langsung tidur begitu masuk kamar." jawab Nisa jujur.
"Emang semalam. lu denger apaan?" tanya Nisa yang kini penasaran.
Nia pun menceritakan semua hal yang terjadi padanya dan yang ia dengar mulai dari ia ke kamar mandi hingga kembali ke kamar. Dan yang lebih membuat mereka takut adalah, tidak ada siapapun ketika Nia membuka pintu kamarnya.
Padahal ia sangat jelas mendengar suara pintu kamarnya yang di ketuk. Mereka pun mulai menduga-duga, mungkin rumah mereka berhantu.
"Gue gak denger apa-apa emang semalam, tapi gue mimpi sesuatu." ujar Nisa sedikit ragu.
"Mimpi apa?" tanya Nia dengan tidak sabar.
"Gue mimpi ketemu nenek tua yang waktu itu ketemu kita di jembatan."
"Terus?"
"Dalam mimpi itu, gue mimpi kita baru pulang sekolah berdua dan ngelewatin jalan yang biasa. Dan begitu sampai di jembatan, tiba-tiba motor kita mogok. Gak tahu kenapa tiba-tiba suasana di sana jadi gelap banget hampir kayak malam."
"Kita akhirnya dorong motor berdua, karena takut cuaca udah mulai gelap banget. Tapi belum ada 50 meter tiba-tiba kita ngeliat seseorang perempuan naik ke atas pagar pembatas jembatan. Dan sebelum dia terjun ke bawah dia nengok ke arah kita sambil senyum, tapi senyum nya itu sumpah serem banget."
"Lah katanya lu mimpi ketemu nenek tua itu, gimana sih?" potong Nia membuat Nisa kesal.
"Ih dengerin dulu jangan di potong, gue belum selesai."
"Ya udah, maaf."
"Reflek dong kita teriak kaget banget ngeliat orang bunuh diri di jembatan. Tapi begitu kita samperin ke pagar pembatas, nenek tua itu muncul di permukaan aer. Cuma kepalanya aja, serem banget ngelihatin kita dan gak lama si cewek yang tadi nyebur ke sungai itu beneran tenggelam di tarik si nenek ke dalam." jelas Nisa menceritakan semua mimpi buruk nya tadi malam.
"Dan tiba-tiba gue ke bangun pas gue lihat jam itu sekitar jam 2 malam." jelasnya lagi membuat keduanya terdiam.
"Kalau soal mimpi lu mungkin itu cuma bunga tidur aja. Gak usah lu pikirin lagi. Tapi yang gue bingungin itu semalam itu suara apa? Apa ada orang yang iseng ke rumah kita atau memang rumah kitanya yang berhantu?" ujar Nia menduga-duga.
"Nia sejak awal kita datang ke desa ini, lu ngerasa ada yang aneh gak sih?" tanya Nisa.
"Aneh gimana sih?"
"Ya lu juga lihat kan, pas kita dateng banyak sajen yang di taro di pohon gede yang di bungkus kain merah di gerbang desa. Belum lagi, pas kita sampai di rumah, ada kucing mati di depan pintu dengan kondisi leher di sayat dan semua isi perutnya keluar. " ujar Nisa sembari memilin jari jemarinya sambil menunduk.
"Gue gak tahu Nis, kita berdo'a aja mudah-mudahan gak akan terjadi apa-apa sama keluarga kita di sini. Niat bapak sama ibu pindah kesini itu baik kok, semoga gak ada orang yang berniat jahat sama kita." ujar Nia karena kejadian kucing mati itu seperti peringatan untuk keluarga mereka.
**
Tepat pukul 2 siang, bel pun berbunyi menandakan jam sekolah telah usai. Seperti biasa Nia dan Nisa berjalan beriringan menuju parkiran. Tidak banyak kendaraan yang terparkir di sana.
Hanya 1 buah mobil kijang futura milik pak kepala sekolah, dan tidak lebih dari 50 unit sepeda gowes dan sepeda motor milik beberapa guru dan siswa termasuk milik Nia dan Nisa. Mayoritas murid di sana pergi dan pulang ke sekolah dengan berjalan kaki.
Seperti teman-teman Nia, yaitu Putri dan Anita mereka pergi ke sekolah hanya dengan berjalan kaki. Kebetulan rumah mereka hanya berjarak 15 menit dari sekolah. Sedangkan Fitri yang jarak rumah nya hampir sama dengan Nia dan Nisa menggunakan sepeda sebagai alat transportasi.
Tepat sebelum menyalakan mesin motornya, Angga memanggil si kembar. Nia pun urung dan kembali memutar kuncinya sembari menurunkan standar motornya.
"Ada apa kak?" tanya Nia.
"Kita pulang nya bareng lagi ya." ujar Angga sembari memakai helm di kepalanya dan segera mengambil motornya yang terparkir tidak jauh dari si kembar.
Nia dan Nisa hanya saling pandang merasa aneh dengan sikap Angga yang selalu ingin berangkat dan pulang bersama-sama. Nisa sempat curiga jika Angga menyukai salah satu di antara mereka.
Tapi dengan cepat ia tepis pemikirannya karena melihat sikap Angga yang lebih cenderung pendiam dan acuh. Meski begitu, mereka tetap menunggu Angga dan akhirnya berakhir dengan pulang bersama.
Di perjalanan yang baru beberapa ratus meter Angga berhenti sebentar untuk memberitahu mereka jika mereka akan melewati jalan lain. Nia yang hendak protes mengurungkan niatnya karena Angga tidak memberinya waktu untuk mengatakan apapun.
Nia akhirnya kembali mengikuti Angga yang tampak berbelok di pertigaan yang ada di depan mereka. Akan tetapi Nia di buat lebih kesal lagi karena menyadari jalan yang mereka lewati adalah jalan memutar yang jaraknya lebih jauh untuk kembali ke rumah mereka.
"Ih kampret banget tuh orang, malah ngajakin lewat jalan muter kan jadi lebih jauh gini!" sungut Nia dengan kesal.
"Hem, sabar ah.. toh sebentar lagi juga kita sampai. Besok-besok makanya kita pulang duluan aja jangan sampe bareng dia lagi." timpal Nisa yang juga kesal karena cuaca siang hari itu sudah sangat mendung.
Ia takut akan turun hujan sebelum sempat mereka sampai di rumah. Sementara mereka tidak membawa jas hujan sama sekali. Hampir pukul 3 sore mereka sampai di rumah, karena motor mereka sempat mogok di jalan.
Beruntung memang Angga mengerti tentang motor, sehingga mereka tidak perlu bersusah-payah mendorong motor mereka sampai di rumah. Karena sangat jarang bengkel yang ada di daerah ini.
Kalau tidak salah ingat ada 1 bengkel dan itu pun berada di luar desa. Setidaknya kalau kembali dan memutar perlu waktu sekitar 20 menit sambil mendorong motor.
"Assalamu'alaikum." ujar keduanya sembari melepas sepatu mereka dan menaruhnya di rak sepatu ya berada di dekat pintu masuk.
"Waalaikumsalam, ya ampun ibu khawatir banget sama kalian dari tadi. Kalian ini abis ngapain, pasti ngeliat proses evakuasi dulu ya?" tanya ibu sembari menghampiri kedua putri kembarnya.
Si kembar pun secara bergantian mencium punggung tangan ibunya sambil berpikir tentang apa yang baru saja ibunya katakan.
Evakuasi apa? pikir mereka.
"Motor kita mogok bu, makanya kita pulang agak terlambat." jelas Nia sembari duduk di kursi kayu yang penuh dengan ukiran di ikuti oleh Nisa di samping nya.
"Oh, tak kira kalian lihat proses evakuasi dulu di jembatan." ujar ibu sembari duduk di depan mereka sambil melipat baju yang baru saja ia angkat dari jemuran.
"Evakuasi apa sih bu? Kita gak ngerti nih dari tadi." ujar Nisa mulai curiga.
"Loh emang kalian gak tahu, kan tadi kalian lewat situ masa gak lihat? Ada anak gadis dari Rt sebelah yang bunuh diri di jembatan." jelas ibu membuat keduanya terkejut hampir tersedak air ludahnya sendiri.
Nia dan Nisa hanya saling pandang dan bergegas pamit kepada ibunya untuk masuk ke kamar. Namun kali ini mereka masuk ke 1 kamar yang sama, membuat ibu sedikit keheranan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments