Nisa dan Nia sudah melakukan perjalanan selama beberapa jam namun mereka malah menemui lembah dan bukit selama beberapa kali. Tidak tahu pasti dimana sebenarnya mereka berada saat ini.
Akhirnya mereka pun sepakat untuk beristirahat di sebuah tempat yang cukup lapang yang berada di sebuah lembah, tidak jauh dari sana terdapat mata air yang mengalir sangat jernih. Keduanya memutuskan untuk minum sebanyak yang mereka bisa.
Karena selama beberapa waktu ini mereka hanya bisa minum saja tanpa makan. Mereka tidak mempunyai perbekalan makanan ataupun bisa mencari sesuatu yang bisa di makan.
Apalagi di hutan yang notabene adalah alam bebas dimana ketika menemukan sesuatu mereka juga tidak tahu hal tersebut boleh atau tidak di konsumsi. setelah puas minum dan mengisi botol mereka penuh dengan air mereka pun kembali beristirahat dengan keadaan seadanya.
Dedaunan kering yang mereka kumpulkan dengan sengaja, di jadikan alas oleh mereka. Setidaknya itu lebih menghangatkan tubuh mereka daripada mereka harus tidur di atas tanah langsung.
Mereka sudah sangat kelelahan karena merasa sudah berhari-hari berjalan tanpa tujuan yang pasti. Namun yang mereka lihat hanya malam panjang tanpa ujung, yang membuat mereka bertanya-tanya dan meragukan keberadaan mereka sebenarnya.
Dan mereka juga tidak kunjung menemukan titik terang tempat yang mungkin bisa mereka tuju saat ini. Bahkan tidak ada satu manusia pun yang pernah mereka temui selama perjalan ini.
Malah sekumpulan makhluk tidak kasat mata dan aneh yang lagi-lagi ia temui. Meskipun selama ini mereka selalu lolos dari kejaran makhluk-makhluk tersebut. Rasa putus asa sudah mulai mengisi hati dan pikiran si kembar.
Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Melihat semua hal janggal yang terjadi mereka meyakini jika mereka berada dalam dunia lain. Dunia yang mempunyai dimensi yang berbeda dengan dunia mereka.
Ingin kembali turun dan mencari jalan keluar lain tapi mereka pun tidak merasa sanggup menghadapi makhluk-makhluk menyeramkan di bawah sana yang telah mereka lewati. Terkadang mereka saling menangis karena takut tidak bisa kembali.
Tapi terkadang mereka juga sadar jika mereka harus bisa saling menguatkan satu sama lain. Keluarga mereka pasti telah menunggu kedatangan mereka kembali. Mereka tidak boleh sampai menyerah begitu saja.
***
Sementara di dunia nyata kedua tim sudah berpencar jauh ke dalam hutan. Tim yang di pimpin oleh pak Herman sudah berusaha mencari setiap sudut hutan bahkan terus meneriakkan nama Vania dan Vanisa tanpa lelah.
Waktu sudah beranjak sore dan sebentar lagi malam. Hati pak Herman semakin gundah dan resah memikirkan dimana keberadaan kedua putri kembarnya. Terbesit rasa penyesalan yang cukup besar di hatinya karena telah membawa keluarga nya ke desa ini.
Namun pak Herman pun sadar, jika ini bukan waktu yang tepat untuk menyesal dengan semua hal yang sudah terjadi. Pak Herman meneriakkan nama si kembar dengan suara tercekat.
Tubuhnya mendadak limbung dengan tangis yang pecah tak bisa ia tahan lagi. Ia begitu takut kehilangan kedua putri kembarnya. Ia takut terjadi sesuatu hal yang buruk dengan si kembar di dalam hutan ini.
Semua orang tampak terdiam dan menatap iba terhadap pak Herman yang kini sedang meratapi penyesalan. Tangisan seorang ayah yang begitu terdengar pilu begitu mengusik hati para warga di sana ya menyaksikan sendiri bagaimana pak Herman begitu terluka.
Begitu pula dengan kelompok pak Nardi yang sudah mulai kepayahan di tengah upaya pencarian yang belum menunjukkan sedikit pun tanda-tanda keberadaan Nia dan Nisa.
"Bapak-bapak sepertinya kita harus ambil jalur ke kiri." ujar Angga yang mencoba membantu semaksimal mungkin dengan kemampuannya.
Meskipun keberadaan Nia dan Nisa seperti tertutup kabut yang sama sekali dapat ia lacak keberadaannya tapi Angga berusaha mengandalkan instingnya semaksimal mungkin. Angga mendengar samar suara air sari jalur sebelah kiri.
"Nak Angga yakin? Tapi sepertinya jalur kiri sudah lama sekali tidak di lewati oleh manusia." ujar pak Nardi mengandalkan logikanya melihat situasi dan kondisi jalur tersebut.
"Pak Nardi dan bapak-bapak sekalian, saya mohon untuk kita agar mengecek terlebih dahulu. Segala kemungkinan bisa terjadi di hutan ini, tentunya bapak-bapak sekalian tidak lupa dengan kejadian 20 tahun silam kan?" ujar Angga membuat semua orang tampak saling menatap sambil berpikir.
Akhirnya setelah beberapa menit, pak Nardi pun menyetujui usulan Angga untuk mengambil jalur kiri. Setelah menerabas rerumputan dan tumbuhan liar yang menutupi jalur mereka pun akhirnya sampai ke jalan menuju sebuah lembah.
Mereka bisa mendengar dengan jelas adanya air di bawah yang membuat mereka bersemangat untuk menuju kesana. Selain ingin mengecek keberadaan si kembar di sana yang mungkin saja ada atau tidak.
Mereka juga sepakat untuk sambil mengambil air untuk bekal mereka karena persediaan air mereka yang sudah mulai menipis. Terdapat batu besar di antara 2 mata air yang saling berseberangan berbentuk seperti goa.
Ketika para warga mengambil air untuk bekal mereka, Angga lebih berfokus untuk berkeliling menyusuri lembah guna mencari keberadaan si kembar. Setitik harapan Angga pun muncul melihat sebuah tangan manusia yang tepatnya lebih terlihat seperti tangan wanita yang nampak terselip di antara bebatuan.
Angga pun langsung memanggil warga desa yang ikut bersamanya di lembah tersebut untuk turut menghampirinya. Pak Nardi dan yang lain langsung bergegas begitu Angga berteriak memanggil.
"Bapak-bapak tolong ke sini. Saya menemukan sesuatu." ujar Angga dengan perasaan penuh dengan harap.
Bebatuan yang di maksud oleh Angga berada di pinggiran tebing yang cukup tinggi. Jurang di bawahnya sangat terlihat curam dengan kondisi hari sudah mulai malam dan gerimis sudah mulai turun.
"Ada apa nak Angga?" tanya pak Nardi begitu sampai di tempat Angga berpijak.
"Itu pak, sepertinya ada seseorang yang terjebak di sana." ujar Angga menunjuk ke arah celah batu dengan senter yang ia bawa.
Pak Nardi pun mengikuti arah pandangan dimana senter tersebut terlihat bersinar. Pak Nardi pun begitu terkejut melihat seperti sebuah tangan terselip di antara bebatuan.
Ia pun segera memanggil bapak-bapak yang lain untuk mencoba mengecek kebenaran di balik batu tersebut.
"Biar saja saya pak yang mengecek ke sana karena di sini kebetulan tubuh saya yang paling kecil." ujar Angga menawarkan diri sembari menunjuk ke arah celah batu tersebut yang memiliki jalan yang curam.
"Baiklah, hati-hati nak Angga." jawab pak Nardi walaupun hatinya sedikit ragu.
Dengan langkah perlahan, Angga mencoba berjalan ke arah celah batu yang dimana terdapat sebuah tangan terselip di sana.
Angga berharap bisa menemukan kedua saudara kembar tersebut di dalam sana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments