****
"Darimana saja kau Delilah? Aku menunggu mu." Tanya Shenina yang sudah sejak tadi menunggu Adel.
"Maaf Putri." Adel baru saja kembali setelah dia menyelesaikan urusannya dengan Duke Aiden. Awalnya Adel ingin sebentar saja bertemu dengan Aiden, hanya ingin memberikan sapu tangan itu, dan mendoakan keselamatan Aiden.
Hanya itu saja niatnya. Tapi tau kan Aiden bagaimana? Aiden membuat semuanya menjadi lama. Aiden melancarkan segala perkataan manis yang menahan Adel dari langkahnya.
"Duduklah Delilah. Apa kau bertemu dengan Duke?" Tebak Shenina. memang ya bukan sembarang orang bisa menjadi antagonis, hanya orang-orang tertentu yang bisa menjadi antagonis berkelas, contohnya adalah Shenina.
Adel duduk di sebelah putri Shenina, hanya ada mereka berdua di satu meja lingkar yang tidak terlalu besar, tapi sudah dipenuhi makanan itu.
Sedangkan permaisuri ada
"Iya bagaimana anda tau?" Adel tidak ingin menghindari pertanyaan itu dengan sebuah kebohongan.
"Karna sapu tangan yang dipakainya Tampaknya adalah sapu tangan yang selalu kamu sulam ketika memiliki waktu luang." Shenina ingat, Adel tampak sering menyulam di sela-sela waktunya selama ini.
"Ah, ternyata saya segiat itu ya?"
"Aku pikir untuk siapa sapu tangan yang kau sulam sepenuh hati itu. Ternyata untuk Duke. Apa ada kelanjutan hubungan kalian tanpa sepengetahuan ku?" Apalagi Shenina juga melihat, Adel yang kadang tersenyum tipis tapi tulus ketika dia menyulam sapu tangan itu. Akhirnya sang putri antagonis ini tau, untuk siapa sulaman sepenuh hati itu.
"Saya tidak menyulamnya sepenuh hati, saya hanya terpaksa. Dengan segala hormat, saya ulangi saya hanya terpaksa Putri."
"Kamu tersenyum tulus ketika menyulamnya."
"Itu senyuman terpaksa." Adel membantahnya dengan tegas.
"Itu senyuman tulus, aku bisa menjaminnya."
"Dengan segala hormat, itu senyuman palsu."
"Tidak, aku yakin kau tulus terse--"
"Permisi Putri Shenina, Apakah saya dan dayang saya boleh duduk disini?" Tanya perempuan itu yang berhasil memotong ucapan putri Shenina.
Adel melihat ke asal suara.
Benar.
Ini memang pertama kalinya Adel melihat dia langsung, tapi Adel tidak akan salah mengenalinya, karna dia adalah tokoh utama wanita dari novel 'Bahagia untuk Chairana'
Rambut pirang terang yang indah tergerai, mata biru sedalam lautan, sangat teduh dipandang. Memandang mata Chairana bisa merasakan kesejukan tersendiri, perasaan menjadi begitu tenang. Mungkin inilah pesona pandangan pertama yang mampu membuat pangeran Feron jatuh cinta terlalu dalam dengan Chairana. Hingga membuat sang pangeran rela melakukan apa saja demi kebahagiaan Chairana.
Suaranya hangat dan juga lembut, sosok dirinya yang cantik, wajahnya yang lemah lembut itu mampu menenangkan perasaan seseorang dalam sekejap.
"Duduklah, tapi tidak dengan dayang mu." Jawab Shenina tegas, acuh tak acuh.
"Kenapa datang saya tidak boleh duduk? Dayang anda saja boleh. Apa karena datang anda bangsawan dan dayang saya hanya rakyat biasa?"
Eh ...?
Adel memang menulis karakter Chairana adalah gadis ideologis yang menentang dengan keras garis pembatas antara bangsawan dan rakyat biasa. Adel memang menulis Chairana adalah orang yang akan mengemukakan pendapat bahwa semua manusia itu sama, semua manusia yang terlahir di Dunia harusnya mendapatkan hak yang sama, entah itu rakyat biasa, pedagang, bahkan bangsawan sekalipun harus diperlakukan sama rata.
Ya Adel memang menulis yang seperti itu, tapi Adel tidak tau bahwa ideologi itu akan menyulitkannya sekarang.
Seingat ku, memang ada scane dimana Chairana duduk semeja dengan putri Shenina di acara perburuan, tapi apa memang sekarang? Terus kenapa aku yang dibawa-bawa.
"Benar, dayang mu harus tetap berdiri kalau tidak mau duduk di tanah karna dia rakyat biasa, sedangkan dayang ku, adalah seorang Lady dari keluarga Count, tentu dia harus duduk di sebelah ku. Dan semua yang terjadi adalah aturan kekaisaran, kalau kau keberatan pada aturan ini, menangis dan merengeklah pada putra mahkota agar dia merubah kesenjangan sosial antara bangsawan dan rakyat biasa." Jawab Shenina santai, sembari meneguk segelas teh di kursinya.
Dia tidak ambil pusing, dia masih tetap santai, seolah tidak perduli apapun.
Adel melirik ke kanan dan kiri, syukurlah ini sepi. Bagaimana jika sekitar sini ramai? Atau ada seseorang yang mendengar apa yang Shenina katakan?
Ah atau yang terjadi malah sebaliknya? Karna tempat ini sepi dan tidak ada orang dekat yang bisa mendengar percakapan mereka, makanya Putri Shenina berkata begitu?
Eh tapi? Apa yang baru saja Adel dengar. Shenina bilang Pangeran Mahkota Feron sebagai kekasih Chairana terang-terangan, dan yang lebih penting lagi? Shenina tampak santai dan tidak marah, acuh tak acuh seolah tak peduli, padahal dia sendiri yang mengatakan bahwa dia adalah calon putri mahkota dan permaisuri masa depan?
Tapi dia tidak marah jika calon suaminya memiliki kekasih?
"I-itu ... Saya dan pangeran Feron tidak memiliki hubungan yang seperti itu." Chairana menunduk tersipu malu, tampak matanya agak bergetar, dan pipinya merona, dia langsung gugup.
Siapapun tau bahwa dia sedang salah tingkah saat ini karna membahas hubungannya dan putra mahkota. Meski bibir Chairana menyangkalnya, siapa yang akan percaya jika ekspresinya seperti pasangan muda yang sedang kasmaran.
Apa aku yang menulis karakter ini? Sungguh?
Adel memang menuliskan soal karakter Chairana yang selalu tegas jika itu soal perbedaan bangsawan dan rakyat jelata. Tapi Adel juga menuliskan cinta yang membara antara keduanya, hingga jika ada yang menyinggung hubungan mereka, mereka akan tersipu tanpa bisa menyembunyikannya.
Shenina menghela napasnya pelan.
"Kalau anda ingin duduk disini silahkan saja, tapi tidak dengan dayang anda. Kalau anda ingin duduk bersama dayang anda, pergilah merengek pada Nyonya Vivian. Soalnya sekarang anda sedang mengganggu pembicaraan penting antara aku dan dayang ku." Shenina tidak bicara formal, karna sejujurnya di dalam hatinya Shenina merasa lebih layak menjadi putri mahkota dibanding gadis naif yang hanya tau cinta saja itu.
....
Sedangkan di dalam hutan, Aiden sedang tersenyum ria, senang dan begitu bahagia, dia terkadang bersenandung santai sembari terus mencari hewan buruan yang bisa membuatnya menang.
"Apa hewan yang bisa membawa ku pada kemenangan?" Tanya Aiden pada pria berambut pirang muda ini.
"Hah? Kau? Ingin menang? Kenapa tiba-tiba kau mau menang? Biasanya juga kau selalu mengalah kan pada pangeran Feron? Pantas saja aku sudah merasa aneh sejak kau semangat ingin ikut kompetisi Berburu ini, padahal seingat ku kau orang yang paling malas menggerakkan tubuh mu."
"Calon istri ku ingin memakai sebuah mahkota soalnya." Jawab Aiden santai dan tenang.
Tapi coba lihat orang-orang yang ada di dekatnya! Mulut mereka refleks terbuka, mata mereka juga terbuka lebar.
Kata pernikahan dan Aiden itu sangat tidak cocok di kepala mereka. Membayangkan Aiden memiliki istri saja mereka tidak berani, karna yakin perempuan yang akan menjadi istrinya akan sangat menderita!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments