Menuju Istana

Bruk

Adel terjatuh dari kereta kuda ketika pintunya terbuka.

"Delilah!!" Pekik Shenina kuat, saat dia melihat dayang yang sudah enam bulan bersamanya jatuh nyaris mati demi melindunginya, melindungi tuan putri yang seperti iblis.

"Delilah?" Gumam seorang pria yang sudah menangkap tubuh Adel yang terjatuh.

Helaan nafas lega langsung terdengar dari Tuan Putri Shenina.

Pemuda itu, pria berambut perak yang menunduk dengan sempurna, Shenina mengenalnya, dia adalah Duke Aiden Vyn Fletting yang licik dan pandai memanipulasi kata. Dia adalah ular yang benar-benar harus dihindari, karna suka mengeluarkan racun mematikan.

Setelah kereta kudanya berhenti, Shenina turun dari sana, dia langsung menghampiri Duke yang menggendong tubuh Adel yang sudah pingsan dengan luka di kepala.

"Tolong turunkan Dayang saya, Tuan Duke." Pinta Shenina, dia sedikit menunduk hormat.

"Kalau saya turunkan dia bisa jatuh Nona."

"Ksatria saya yang akan menggendongnya, kami akan kembali menemui dokter."

"Anda mendapat panggilan dari yang mulia permaisuri kan?"

Shenina langsung menatap wajah Aiden, matanya ia perbesar, dia menatap tajam pria ular yang tau tujuannya sekarang.

Deg!

Tapi Shenina kembali gemetar, dia diam dan kembali menunduk saat rasa takut menggerogoti tubuhnya karna matanya bertatapan langsung dengan mata merah Aiden.

Shenina pernah dengar, siapapun yang melihat mata Aiden akan menjadi pengikutnya dan melakukan apapun yang dia mau, semacam hipnotis. Karna itu Shenina berusaha sebaik mungkin agar tidak bertatapan dengan Duke ular yang licik ini.

"Benar, saya mendapat panggilan dari yang mulia permaisuri. Tapi jika saya menundanya itu tidak masalah, karna alasan saya masuk akal. Yang mulia permaisuri pasti akan memaklumi jika saya tidak hadir karna baru saja mengalami kecelakaan kereta kuda."

"Tapi anda tidak terluka, hanya sayang anda yang terluka."

"Meskipun begitu, karna dia adalah dayang saya, saya berkewajiban menjaga dan bertanggungjawab atas dirinya."

Duke Aiden tampak menghela napasnya. Ia memberikan sebuah surat yang ada di kantung jasnya tadi.

"Dari yang mulia permaisuri, kata beliau anda harus datang secepatnya apapun yang terjadi karna alasannya sangat penting."

Sedikit tidak nyaman, Shenina membuka suratnya.

Entah apa isinya tapi wajahnya mendadak tegang, matanya sedikit membesar, sepertinya isinya memang sepenting itu.

"Apa jaminan kalau anda benar-benar akan menjaga dayang saya?"

"Kecelakaan ini terjadi karna kecerobohan saya, dan saya ingin bertanggungjawab."

Shenina merasa tidak nyaman, tapi tidak mungkin juga Duke Aiden melakukan hal-hal yang aneh, karna ini bisa merusak nama baiknya. Tidak bertanggungjawab atas kesalahannya juga akan mencoreng namanya.

Karna itu Duke Aiden melakukan nya? Dia hanya ingin bertanggungjawab sebatas menebus kesalahan?

-

Putri Shenina De Clauyen, diam termenung sembari menggigit kukunya sendiri, sedikit rasa sakit di punggungnya tidak mempengaruhi kekhawatirannya pada sang dayang.

Delilah? Bagaimana keadaannya sekarang? Apa keputusan yang tepat menitipkan Delilah padanya?

Aku harus meminta ayah mencari dokter terbaik nanti, Delilah juga terluka karna melindungi ku.

Ekspresinya tadi?

Shenina mengingat bagaimana ekspresi dan tatapan tulus dari Adel yang mencoba menyelamatkannya, gerak tubuh itu tampak refleks ketika melihat orang yang disayangi terluka.

Sepertinya dia benar-benar tulus.

Bibir Shenina sedikit bergetar, tangannya dia genggam erat. Dia ingin segera sampai ke istana kekaisaran dan menyelesaikan segalanya, lalu kembali agar bisa memastikan sendiri bagaimana keadaan Delilah.

......................

Kereta kuda berhenti, Shenina bersiap untuk turun.

"Silahkan putri." Sebuah tangan terulur untuk menuntunnya turun.

Shenina melihatnya, pemuda tampan yang tegap dengan kulit sedikit gelap, memiliki rambut berwarna merah gelap, juga jubah ksatria dengan lambang ular putih, lambangnya keluarga Duke Aiden.

Entahlah, Shenina tidak peduli, dia tidak tertarik pada ksatria manapun termasuk ksatria yang kata Duke sangat hebat itu. Ksatria itu dikirim Duke untuk menjadi pendamping Shenina sebagai bentuk pertanggungjawabannya.

Shenina berjalan, dia terus menatap ke depan dengan pundaknya yang tegap, dagu sedikit mendongak, tatapan yang lumayan tajam.

Dia terlihat begitu berkelas dan tegas.

Mungkin karna itulah Shenina tidak begitu akrab dengan para pelayan di istana kekaisaran, meskipun satu tahun terakhir Shenina cukup sering keluar masuk istana ini.

Bruk!!

Drama klasik! Harus Adel akui juga scane ini sangat pasaran dan terlalu di dramatisir. Tidak jauh dari Shenina berdiri, tampak seorang pelayan berambut pirang bertabrakan dengan pangeran mahkota Feron.

Yang agak menyebalkan, Feron menangkap pelayan pirang itu, memeluknya cukup lama, keduanya bertatapan penuh makna, tatapan yang dalam seolah sama-sama saling terpesona.

Jika Adel ada disini, dia pasti malu sendiri karna membuat scane pasaran itu! Apalagi semua ini terjadi di depan sang antagonis dan para pelayan lainnya.

Shenina berjalan mendekat ke arah keduanya.

"Saya Shenina De Clauyen memberi salam pada pangeran mahkota Feron Fez Archerian." Shenina tunduk, dengan satu tangan di dada, satu tangan lagi memegang gaun dengan ujung jarinya.

Detik itu juga, kedua tatapan dalam penuh makna itu buyar! Pangeran maupun sang pelayan sama-sama tersadar dari pesona masing-masing, hingga berdiri tegap sedikit berjauhan.

"Ada apa Kau kesini? Kau belum menjadi putri mahkota, tapi sudah keluar masuk istana begitu mudahnya." Sinis Feron.

Bukan hal baru bagi Shenina jika Feron menatapnya begitu, atau jika Feron berbicara sekasar dan sedingin ini dengan tatapan setajam itu.

Karna Feron memang tidak menyukai Shenina sejak awal, bahkan Feron termasuk membenci Shenina, karna Feron memiliki dendam kesumat kepada keluarga Clauyen.

Dan Shenina sudah tau itu.

"Saya mendapat panggilan dari Baginda permaisuri, kalau begitu saya permisi dulu." Shenina berjalan meninggalkan pangeran dan pelayan itu.

Dia berjalan tegap, tatapan kembali ia tajamkan, pundaknya harus tegak agar tidak ada orang di istana ini yang menganggapnya sebelah mata.

Shenina bisa mengerti alasan kebencian Feron padanya yang begitu berapi-api, seolah Shenina adalah musuh terbesarnya.

Baginda permaisuri sekarang adalah Helena Tarentis, dari keluarga Marques Tarentis yang termasuk kerabat dekat keluarga Clauyen. Karna itu Baginda permaisuri ingin aku menikah dengan Feron sang putra mahkota dan menjadi putri mahkota, agar keluarga kami tetap memiliki pengaruh besar dalam kekaisaran Archerian ini.

Agar setelah Baginda permaisuri Helena, yang meneruskan posisinya sebagai permaisuri adalah aku, dan takhta permaisuri masih digenggam oleh keluarga kami.

Sayangnya Feron itu bukan anak permaisuri Helena, Feron hanyalah anak dari seorang selir yang dicintai Baginda kaisar. Sedangkan permaisuri Helena tidak memiliki anak, rumor yang beredar beliau mandul. Tapi aku tau apa yang sebenarnya terjadi.

Meski ibunya Feron adalah selir kesayangan Baginda kaisar, tetap pengaruh Permaisuri Helena cukup besar hingga bisa menentukan putri mahkota dan calon permaisuri kedepannya.

"Kau tunggulah disini, atau kembali saja ke kediaman Duke." Shenina menghentikan langkahnya saat dia sudah ada di depan istana permaisuri.

"Tugas saya menjaga anda, saya tidak akan kembali sebelum anda kembali, karna itu saya akan menunggu anda disini." Tegas ksatria itu, yang bahkan Shenina tidak tau siapa namanya.

"Terserah kau saja." Shenina masuk sendiri tanpa ksatria itu. Dia juga disambut oleh kepala pelayan yang bekerja di istana permaisuri.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!