...****************...
Adel diam di dalam kereta kuda, dia hanya menatap keluar jendela saja.
"Lady, maaf. Saya ingin mengantar anda sendiri, tapi ada beberapa hal yang harus segera saya selesaikan. Apa tidak masalah anda kembali sendiri?" Ujar Aiden, dengan wajah sedikit murung.
Mungkin dia baru saja teringat suatu hal, kan?
"Tidak masalah Tuan Duke, saya orangnya pemberani dan mandiri. Saya bisa kembali sendiri asal ada kereta kudanya." Jawab Adel dengan penuh senyuman manis.
"Tapi anda tenang saja, setelah semuanya beres saya akan 'bertanggungjawab' lagi untuk ketidaksopanan membatalkan janji." Aiden tersenyum amat sangat manis, dengan tatapan matanya yang seperti sudah merencanakan segalanya.
"Hah? Apa?!"
...****************...
"Ini penipuan kan? Dia sengaja berhenti di tengah jalan saat mengantar ku pulang karna agar bisa terlihat tidak sopan dan coba bertanggungjawab lagi kan?"
Adel kini duduk di dekat jendela, dengan menatap beberapa tanaman hias yang harum bunganya menjadi favoritnya, bunga Grisha namanya, bunga berwarna ungu yang begitu harum, sangat banyak ada di taman keluarga Count Ghiandra.
Saat dia melihat keluar, taman yang sudah dipenuhi dengan bunga warna merah mekar di sepenghujung taman itu.
"Kakak!!! Karna kakak ada di rumah! Ayo main dengan ku!"
Teriak gadis kecil dari belakang, Adel langsung menoleh karna dia sadar siapa gadis kecil yang memanggilnya.
Adel ingat, bahwa di keluarga Count Ghiandra ini ada empat anggota keluarga, ada Adelilah Ghiandra, ayahnya Count Aron Ghiandra, juga ada adik kembarnya Lylia Ghiandra, dan yang paling kecil Rafen Ghiandra. Lylia dan Rafen itu anak kembar. Istri Count sekaligus ibu dari Adel sudah meninggal sejak melahirkan anak kembar itu.
Gadis kecil yang bar-bar dan baru berteriak itu adalah Lylia, dia sudah membawa sebuah papan permainan untuk dimainkan bersama Adel. Disebelah Lylia juga ada Rafen.
Lylia, gadis kecil berambut coklat bermata merah muda, dengan Rafen berambut coklat bermata seperti emerald, warna rambut yang sama membuat keduanya benar-benar terlihat serupa, hanya berbeda warna mata saja. Warna rambut mereka mengikuti warna rambut ayah mereka, Count Aron. Sedangkan warna rambut dan warna mata Adel semuanya persis seperti ibu mereka, Diana Ghiandra. Perempuan cantik berambut merah muda, dan bermata merah muda pula.
"Oke, ayo duduk di tempat tidur ku." Adel menarik tangan Lylia dan Rafen bersamaan.
"Aku tidak pernah bilang aku ingin main dengan kalian." Celetuk Rafen menahan langkahnya.
Adel jadi ingat, selain wajah mereka yang sama, kepribadian mereka sangat jauh berbeda, kalau Lylia adalah gadis bar-bar, kalau Rafen adalah pemuda pendiam yang cerdas, sifat dinginnya benar-benar menurun dari sang ayah.
"Sungguh kau tak ingin main?" Ulang Adel, adiknya yang satu ini memang tsundere.
"Ya baiklah kalau kakak memaksa."
Terserah.
Mereka bertiga akhirnya bermain permainan papan yang ada di dunia itu, mirip seperti Ludo di dunia modern, cukup menarik bila dimainkan bersama.
"Kak, kenapa hari ini kakak tidak bekerja sebagai dayang? Biasanya kan kakak hanya libur dua hari di akhir pekan." Tanya Lylia.
"Karna kakak terluka, tidak lihat ya? Dasar bodoh. Bagaimana bisa aku punya kembaran yang bodoh." Balas Rafen dengan santainya, gaya bicaranya yang dingin benar-benar menguji kesabaran Lylia.
"Diamlah Rafen! Aku tidak bertanya pada mu, tapi Kak, kenapa kakak harus bekerja sebagai dayang? Kita kan juga bangsawan, keluarga Count lagi." Lylia memang anaknya selalu ingin tau dalam banyak hal.
"Karna demi masa depan, usia kakak sudah 17 tahun bukan? Tahun depan upacara kedewasaan kakak, setelah itu kakak akan benar-benar resmi debut di pergaulan sosialita, dengan menjadi dayang dari Putri Shenina, itu menjadi bantuan besar untuk kakak kedepannya." Jawab Adel secara logis dan masuk akal, tidak akan dia bilang dia menjadi dayang untuk membantu Shenina keluar dari plot kematian yang mengerikan.
"Selain putri kesayangan Duke Clauyen, Putri Shenina juga kandidat kuat sebagai putri mahkota. Karna itu kalau kakak menjadi dayang dan orang terdekat kepercayaan putri Shenina, pengaruh kakak dan pengaruh keluarga kita akan semakin kuat di masa depan. Dengan begitu, tidak sembarang orang bisa meremehkan keluarga Count Ghiandra lagi." Timpal Rafen dengan wajah tertunduk.
Walau usia mereka masih 11 tahun, Adel tidak menyangka bahwa pemikiran adiknya Rafen sudah seperti ini, dia sudah berpikiran sangat jauh ke depan, memang ya calon kepala keluarga sudut pandangnya selalu berbeda, selalu logis dan masuk akal, mudah sekali dicerna.
"Tapi bukannya katanya Putri Clauyen itu kejam ya kak? Dulu sebelum kakak masuk, hampir setiap bulan dia selalu berganti dayang, tidak ada dayangnya yang bertahan lebih dari satu bulan, karna rumor yang beredar Putri Clauyen kejam." Tambah Lylia.
"Itu benar, sejak Putri Clauyen mengadakan upacara kedewasaan, beliau selalu berganti dayang, hanya kakak satu-satunya dayang yang sampai bertahan enam bulan, apakah kakak bertahan karena terpaksa?"
Hah?
Kenapa pikiran adik-adikku jadi begini?
"Tidak tuh, kakak bertahan tidak karna terpaksa, pekerjaan kakak juga tidak sulit, hanya membantu memulihkan parfum, pakaian, perhiasan, dan menemani beliau ke acara pesta teh. Hanya itu, kakak sama sekali tidak bekerja berat."
"Baguslah kalau begitu."
"Yah semoga itu benar dan kakak tidak berbohong."
......................
"Putri Shenina!!!"
Adel langsung berlari memeluk putri ketika melihat tuan putrinya baru bangun.
Hari ini Adel sudah kembali menjadi dayang putri Shenina di kediaman Duke Clauyen, seperti pagi hari sebelumnya, Adel yang membantu Shenina memilih gaun, atau pemilihan model rambut, perhiasan juga parfum.
"Astaga! Ada apa ini? Apa Duke Aiden mengganggu mu? Kenapa kau sampai seperti ini?" Wajah Shenina sudah kesal, bukan pada Adel melainkan Duke Aiden.
Sudah dia duga keputusan menitipkan Adel padanya adalah keputusan yang salah besar, Shenina jadi menyesalinya.
"Eh tidak, beliau mengurus saya dengan baik." Jawab Adel dengan wajah lugu dan polosnya.
"Lalu kenapa kau berteriak seperti itu?"
"Saya sangat merindukan putri! saya juga mengkhawatirkan anda! Apa Putri baik-baik saja? Apa ada kejadian yang buruk di istana?"
"Tidak sama sekali, jangan bahas soal itu. Tapi bagaimana luka mu? Aku akan panggilkan dokter keluarga Clauyen dulu."
"Tidak perlu putri, semuanya sudah lebih baik. Entah pengobatan jenis apa yang di lakukan Duke Aiden, saya merasa jauh lebih baik."
"Begitukah? Kalau begitu bantu aku bersiap Delilah, hari ini kita harus menemui seseorang."
Ya saat itu aku membantu Putri Shenina bersiap dengan begitu semangat, tanpa aku tau siapa yang akan ditemuinya. Harusnya saat itu aku bertanya siapa yang akan ditemuinya sampai menggebu-gebu seperti itu, setidaknya agar aku bisa mencegahnya.
Aku benar-benar tidak tau bahwa Putri Shenina akan pergi ke mansion Duke Aiden untuk meminta pertanggungjawaban nya. Harusnya aku mencegahnya! Walau aku memang ingin menolong Duke Aiden karna rasa bersalah, tapi Sekarang bukan saatnya! Aku belum memikirkan rencana apapun putri!!!!
"Kita bertemu lagi ya Lady Adelilah.*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments