Kakak harus bahagia!

Tapi bukan itu yang penting sekarang, pikiran Adel jadi agak teralihkan karna mengingat bertapa cerdas dan menggemaskan adik laki-lakinya yang satu ini.

"Menjadi dayang putri Shenina tidak seberat itu. Jauh dari rumor yang beredar, putri Shenina itu benar-benar seperti seorang putri kekaisaran, beliau cerdas, logis, pemberani dan jugaa tegas. Dia tegas dengan segala sikap kejahatan orang lain padanya, karena itu yang membuat putri Shenina mengagumkan." Jawab Adel jujur, selain tidak ingin membuat Rafen khawatir, tapi itu juga jawaban jujur dari Adel.

"Kak, jangan berusaha terlalu keras. Kakak tau kan bahwa yang menjadi count selanjutnya adalah aku?" Rafen bahkan menatap Adel tanpa berkedip.

Adel mengernyitkan dahinya, dia menaikkan sebelah alisnya, sepertinya dia tau kemana arah pembicaraan ini tertuju.

"Jangan bilang kamu takut posisi penerus itu kakak ambil begitu? Kau curiga kakak berusaha terlalu keras untuk menyenangkan putri Shenina, dan membanggakan ayah juga nama keluarga demi mendapatkan posisi Count begitu? Hey, Rafen dengarkan kakak! Kakak tidak pernah berpikiran begitu! Ka--"

"Aku tau kak! Kakak juga sama sekali tidak berniat pada posisi calon penerus Count ini. Kak, aku mengatakannya agar kakak bahagia."

"Apa?" Adel sedikit kebingungan, bocah 12 tahun itu berbicara seperti orang dewasa, seperti Rafen sudah tumbuh dewasa melebihi umurnya. Pengertiannya akan dunia luar dan sistem penerus tampaknya sudah lebih dari yang Adel perkirakan. Adiknya tumbuh menjadi sangat dewasa diluar pengawasan Adelilah.

"Karna itu kak, kakak harus hidup bahagia, hidup bebas sesuai kemauan kakak, jangan pikirkan apapun soal nama baik dan masa depan keluarga. Karna itu tanggung jawab ku sebagai penerus, aku yang akan memastikan keluarga ini berjalan dengan baik dimasa depan."

" Kakak dan Lylia tidak perlu terkekang dalam peraturan keluarga, hiduplah dengan bebas Kak. Jadi jangan khawatirkan apapun, jika kakak lelah menjadi dayang, maka mundurlah, jadilah putri yang dilayani di rumah ini."

"Kakak tidak perlu mengorbankan diri kakak untuk keluarga ini, kakak cukup hidup dan bahagia saja, mengerti?"

Kedua tangan kecil Rafen memegang pipi Adel, tatapan mata bocah itu tulus menembus retina Delilah. Perkataan rumit yang diucapkan anak 12 tahun itu mampu menembus hati nurani Adel.

Adel tersentuh, jauh dari perkiraan nya, adiknya bukan khawatir posisinya direbut, Adiknya hanya khawatir kalau kakaknya tidak bahagia. Rafen khawatir jika Adel mengorbankan kebebasannya demi nama baik keluarga, Rafen tidak mau hal seperti itu terjadi pada Adel.

Bagaimana bisa anak 12 tahun sudah memikirkan semua ini? Dia mengemban banyak hal yang harusnya tidak dibebankan padanya, padahal dia masih anak-anak berusia 12 tahun.

Ah, tidak heran, disini saja anak-anak seusia Rafen sering dikirim untuk berperang, atau bahkan sudah bekerja pekerjaan yang berat. Pertumbuhan mereka sangat cepat.

Terkhusus Rafen, dia jenius, jadi pemikirannya jauh lebih dewasa dari usianya, apakah ini akan baik-baik saja? Apa ini hal yang baik atau buruk*?

"Rafen, dengarkan kakak. Kakak menjadi dayang karna kakak menginginkannya, jangan khawatir mengerti? Kakak tidak hidup dalam tekanan, kakak hidup bebas, dan kakak bahagia. Malah sebaliknya Rafen, kita ini saudara, beban yang kamu tanggung sebagai penerus, boleh kamu berikan pada kakak. Pundak kakak sekuat baja, juga selembut sutra, pundak kakak bisa menjadi tempat bersandar disaat kamu lelah, mengerti?"

Adel mengusap wajah adiknya, ia meletakkan satu tangannya, mengusap rambut coklat sang adik, matanya tak lepas menatap bola mata hijau cerah itu.

"Selama kakak masih hidup, kamu masih punya tempat bersandar. Kakak selalu memikirkan dan mengkhawatirkan mu, jadi Rafen selalu ingatlah, bahwa kamu bisa pulang ke pelukan kakak kapan pun yang kamu mau, seperti sekarang ini." Adel memeluk Rafen erat, dia mengacak rambut sang adik, mendekapnya dalam pelukan hangat, tampaknya ada beban yang cukup berat yang sedang ditahan anak 12 tahun itu.

"Rafen selalu ingatlah, kita adalah saudara, dan kakak akan melakukan segalanya untuk melindungi mu. Dan tolong jangan terlalu cepat dewasa, kakak kan jadi tidak ikhlas. Kakak masih ingin terus mencari dan melihat sisi menggemaskan mu. Dasar anak nakal yang cepat dewasa." Adel tertawa pelan, dia menarik hidung Rafen perlahan.

Bruk!

Seketika Rafen diam, tapi pelukannya sangat erat, Rafen menenggelamkan wajahnya dalam pelukan hangat sang kakak.

Adel tidak tau apa yang Rafen pikirkan sekarang, tapi dia percaya bahwa bocah itu perlu dukungan sebuah pelukan sekarang. Adel memeluknya dengan erat dan hangat sesekali dia juga mengusap rambut sang adik lagi, perlahan-lahan hingga akhirnya Rafen tertidur tanpa mengatakan apa-apa lagi.

......................

Hari ini akhir pekan, jadi Adel tidak perlu menuju ke kediaman Duke untuk menjadi dayang, hari ini hari liburnya, dan masalahnya Adel bingung harus melakukan apa hari ini.

Padahal jadwalnya untuk mengawasi Shenina sangat padat, Adel sudah memaksa untuk masuk sebagai dayang hari ini, tapi Shenina menolaknya dengan keras, bahwa Adel harus menikmati liburannya dua hari ini.

"Kak, ayo temani aku, aku mau dessert yang baru dijual di toko baru! Ayo Kak!" Lylia menyeret Adel dengan paksa.

-

-

Dan ya, hingga akhirnya Adel sampai disini! Dia kini berdiri mengantre untuk membeli dessert itu. Karna cuacanya lumayan panas, dan antrean ini masih lama, Adel meminta Lylia untuk menunggu di kereta kuda, agar dirinya saja yang mengantre. Yah walau awalnya Lylia menolak, tapi Adel tetap memaksanya agar adik kecilnya yang bar-bar itu tidak demam nantinya.

Yah, lagipula Adel sudah menganggap ini tugasnya sebagai kakak, dia juga akan membelikannya untuk Rafen. Sudah satu Minggu sejak Rafen memeluknya erat, tapi diam tanpa suara, pelukan yang hangat. Sampai sekarang Rafen tidak mengatakan apapun soal perasaannya malam itu, yah Adel juga tidak mau memaksa Rafen menceritakannya.

Panjang banget antriannya, sampai kapan aku antre ya?

Adel menghela napasnya, demi kedua adiknya yang sangat menginginkan dessert ini, dia rela mengantre panjang sekalipun.

Adel ingat cerita lylia, bahwa toko ini baru buka satu Minggu yang lalu, mereka menjual berbagai macam kue dan roti, juga ada dessert, semuanya enak-enak, tapi mereka hanya buka pada saat akhir pekan saja, itupun jumlahnya terbatas, makanya orang-orang harus mengantre dengan cepat sebelum kehabisan rotinya, pun termasuk dengan Adel yang sudah berjuang mati-matian disini.

"Kesini ayo!"

Tiba-tiba ada seseorang berjubah hitam yang menarik paksa Adel hingga dia harus menjauh dari antrean itu.

Coba bayangkan betapa kesalnya Adel sekarang, rasanya dia ingin menghantam orang asing ini. Dia sudah mengantre begitu lama, panas-panasan, menahan lelah demi dessert yang adiknya inginkan. Tapi tiba-tiba ada orang aneh yang menariknya hingga akhirnya penantian antreannya sia-sia.

Wah, kepala Adel sudah mendidih tampaknya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!