Jalan-jalan

...***************...

"Aku ingin keluar rumah mencari udara segar, Delilah ayo."

Karna perintah Putri Shenina yang seperti itu, pada akhirnya Adel mengikuti langkah Shenina sampai disini, di jalanan ibu kota yang ramai.

Adel mengenakan pakaian sederhana, juga jubah coklat yang menutupi kepalanya, rambut merah mudanya agak mencolok kalau tidak ditutup.

Pun dengan putri Shenina yang mengenakan jubah hitam yang, dia menutupi rambut merah terangnya. keduanya berjalan beriringan tanpa pengawal.

Karna sudah begini Adel juga sekalian lihat-lihat barang saja, soalnya sudah cukup lama sejak dia terakhir kali keluar ke jalanan seperti ini.

"Kehidupan disini cukup menarik ya? Delilah ikuti aku." Shenina menarik tangan Adel, sang putri membawa Adel melewati gang-gang sempit yang sepi, hingga akhirnya mereka masuk di lorong yang isinya anak jalanan yang dekil dan kotor.

"Kenapa kita kesini Putri?" Adel mengedarkan pandangannya, dia tidak melihat ada hal yang menarik kecuali kumpulan anak-anak yang kelaparan.

"Putri? Sudah berapa kali aku bilang, panggil aku Shena, hanya Shena saja." Ulang Shenina, padahal dia ingat sudah memperingatkan dayangnya untuk memanggilnya begitu.

"Eittss iya, baiklah Shena. Jadi, apa yang anda lakukan disini?"

"Sudah ku bilang berapa kali, jangan formal Delilah."

Adel lagi-lagi lupa, soalnya sudah enam bulan dia selalu berbicara formal pada Shenina, rasanya agak aneh jika diminta mendadak bicara informal.

"Baiklah, apa yang ingin anda lakukan disini Shena?" Ulang Adel, kali ini dia berkata informal layaknya rekan pada Shenina.

"Memastikan banyak hal, aku harus tau apa yang harus aku lakukan kedepannya setelah menjadi putri mahkota. Cukup banyak tempat di sisi ibu kota ini, banyak tempat seperti ini, banyak anak haram yang terlantar dan kelaparan, dan mereka semua adalah tanggung jawab ku kelak." Shenina melihat anak-anak itu satu persatu dengan dirinya yang terus melangkah maju. Anak-anak itu sibuk berebut makanan, bahkan sepotong roti bisa dibagi kepada empat anak, sangat menyayat hati.

Adel menatap Shenina lekat-lekat, dia memang menulis bahwa karakter Shenina sangat mencintai kedudukan putri mahkota, makanya dia berambisi dan bertekad untuk memilikinya. Tapi Adel modern menulis begitu karena Shenina congkak dan sombong, dia ingin menjadi putri mahkota karna ingin menjadi orang yang sangat terhormat. Dia ingin menjadi permaisuri suatu saat nanti karna tidak ingin satu orang pun merendahkannya dan keluarganya.

Shenina dalam novel ingin mencapai posisi permaisuri, karna posisi itu adalah yang terkuat kedua setelah kaisar, dia yang gila kehormatan ingin memiliki itu. Tapi lihat sekarang? Apa yang terjadi pada Shenina sekarang?

Shenina yang sekarang memang ingin menjadi putri mahkota, bahkan dari matanya Adel bisa melihat tekad itu tertanam dalam dirinya, tapi Shenina yang sekarang melakukannya bukan demi hasrat kekuasaan sesaat. Dia ingin menjadi putri mahkota untuk mensejahterakan rakyatnya? Shenina ingin gelar putri mahkota untuk memperbaiki tatanan ibu kota?

Adel kembali tersadar, entah apapun alasannya tapi Shenina yang di novel dan Shenina yang sekarang memiliki kesamaan, keduanya sama-sama menginginkan takhta putri mahkota itu. Keduanya bertekad untuk menduduki takhta permaisuri walau dengan alasan yang berbeda.

Lantas bagaimana jika akhirnya tidak berubah karena yang Shenina lakukan tidak berbeda? Shenina masih berusaha untuk Takhta putri mahkota itu.

Apa pada akhirnya takdir Putri Shenina memang mati untuk kisah cinta Chairana dan Feron?

Tidak mungkin! Sebagai penulis nya aku tidak izinkan!

"Apa anda mencintai pangeran Feron, Shena?" Adel sudah mengumpulkan keberanian untuk menanyakan pertanyaan yang sensitif ini. Ketika jalan sudah sepi dan hanya tersisa mereka berdua. Di ujung lorong sana sudah tampak lagi pasar yang lumayan ramai.

"Tidak tuh, aku menikahinya karna dia putra mahkota, bahkan jika itu bukan dia atau siapapun yang menjadi pangeran mahkota, aku akan tetap menikahinya. Yang aku inginkan bukan orangnya, tapi takhtanya. Posisi sebagai putri mahkota dan calon permaisuri berikutnya." Shenina jujur, dia memejamkan matanya perlahan, menghentikan langkahnya sementara.

Jika setelah ini kau ingin menjauh juga tidak masalah, meski berat aku akan tetap mengizinkan mu untuk berhenti bekerja sebagai dayang. Yah, setidaknya aku harap kau tidak berhenti.

Tapi memangnya kau yang seperti itu mau melayani putri gila takhta seperti ku?

Shenina sudah tersenyum kecut, dia padahal sudah siap dengan akhir terburuk dari skenario yang terancang di kepalanya, dia sudah berpikir jauh bahwa Adel akan langsung minta berhenti menjadi dayang karna masalah ini.

Dia diam saja ya?

Yang tidak Shenina ketahui adalah, Adel mematung di belakang sana karna dia terlalu senang. Dia amat sangat senang mengetahui karakter antagonis dalam novelnya, Shenina yang terjebak cinta sepihak yang dalam sangat berbeda dengan Shenina yang sekarang ada di depannya.

Shenina yang Sekarang tampak logis, anti bucin, dan selalu mengedepankan logika dibanding hati. Adel menahan air mata harunya saat ini.

"Baiklah saya mengerti ayo ja--Khkkk!!!"

"Delilah! Ka--khh!!"

Dalam sekejap, keduanya dibekap dengan kain yang sudah diberi ramuan khusus, hingga Adel dan Shenina pingsan di tempat. Padahal semuanya baik-baik saja, lalu siapa orang-orang ini? Dan apa yang mereka inginkan?

Harusnya aku tidak menuruti permintaan putri Shenina, harusnya aku memaksanya untuk tetap di rumah, atau setidaknya membawa pengawal. Ini salah ku, ini salah ku sebagai dayang yang tidak becus. Aku dayang yang buruk. Aku bahkan membiarkan putri yang ku layani diculik orang lain.

Setengah sadar, Adel menggumam saat pandangannya yang buram melihat pria serba hitam menggendong Shenina pergi.

......................

"Adelilah?"

"Adelilah?"

"Lady?"

"Adel?"

Adel perlahan membuka matanya saat dia merasa ada seseorang yang sedari tadi menggoyangkan bahunya sembari memanggil namanya.

Tapi tangan yang menggoyang ya di pundak tampaknya berpindah menuju pipi. Adel merasa pipinya di usap lembut dengan namanya yang terus dipanggil dengan lembut.

Adel membuka matanya secara perlahan-lahan, dia mengerjapkan pandangannya beberapa kali. Seiring dia membuka mata, ingatan soal penculikan itu langsung menembus kepalanya!

Adel langsung sadar bahwa hal terakhir yang dia ingat adalah, dirinya dan Putri Shenina diculik orang asing!

Apa orang asing ini yang menculik ku? Terus bagaimana dia tau nama ku? Kalaupun tau kenapa penculik itu harus memanggil nama ku dengan penuh kelembutan begitu?

Saat mata Adel sudah terbuka sempurna, dia jadi bisa melihat dengan jelas, siapa pria yang sedari tadi mengusap wajahnya dan memanggil namanya dengan lembut.

Semakin dua orang bertemu secara kebetulan, semakin erat keyakinan bahwa itu adalah takdir yang ditentukan. Tampaknya itu romantis untuk sebagian orang, tapi tidak dengan Adel.

Bagaimana bisa disaat dia dan Putri Shenina sedang menyamar, malah terjebak di tempat ini bersama dengan Duke Aiden dan juga pengawalnya.

Adel tidak tau ini kebetulan takdir atau kebetulan yang disengaja? Atau malah Adel sempat berpikiran yang menculik mereka adalah Duke Aiden dan pengawalnya?!

"Saya benci terjebak dengan perempuan di satu ruangan, tapi kalau itu Lady Adelilah, tidak keluar selamanya juga tidak masalah." Duke Aiden tersenyum manis tanpa tau malu. Bisa-bisanya dia berkata begitu di situasi saat ini.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!