Pesta teh dadakan

"Astaga, kalau kecantikan sebagai tolak ukur menjadi putri mahkota, bukankah yang paling cocok adalah gadis berambut pirang ini. Nak, siapa nama mu, dan dari keluarga mana kamu?" Lanjut Nyonya Vivian dengan senyuman yang tak pudar dari wajahnya.

Eh? Aneh? Adel tidak ingat menulis karakter Vivian seperti ini. Karakter Vivian terinspirasi dari para sosok ibu yang lemah lembut, perhatian, dan khusus Vivian dia digambarkan bak Dewi, bahkan Adel sendiri menganggap Vivian sebagai peri penyelamat untuk Irana.

Kenapa karakter Vivian jadi seperti ini? Dia sedang bermain kata untuk menjatuhkan Putri Shenina kan?

Adel tidak menyangka bisa melihat sisi lain karakter ibu peri ini.

"Mana mungkin kecantikan adalah tolak ukur posisi putri mahkota nyonya. Jangankan kecantikan, bahkan cinta yang besar saja tidak bisa menjadi tolak ukur posisi putri mahkota. Posisi putri mahkota yang akan menjadi permaisuri selanjutnya harus diisi oleh perempuan cerdas dan berkelas dari keluarga berkasta tinggi, misalnya seperti permaisuri Helena sekarang, dan mungkin saya dimasa depan." Jawab Shenina dengan senyumannya.

Wah, mentang-mentang dibelakangnya ada Duke Clauyen dan permaisuri Helena, Shenina jadi agak terang-terangan pada Vivian?

"Jaga cara bicara mu Shenina! Kau hanya putri Duke! Lihat dengan siapa kau bicara saat ini Shenina De Clauyen!" Geram Feron, dia menatap benci ke arah Shenina, tatapan dingin yang sangat menusuk. Mungkin kalau itu Shenina yang ada di dalam novel dia akan kesal dan sakit hati, tapi responnya sangat berbeda dengan Shenina yang sekarang.

Adel mengerti kenapa Feron marah, yang dihina adalah ibu kandung tersayang nya, tapi kan Vivian juga yang mulanya mencari perkara lebih dulu dengan Shenina.

"Dengan Nyonya Vivian. Walau Kekaisaran ini mengizinkan kaisarnya memiliki selir, tapi posisi selir tidak setinggi itu pangeran. Anda tau kan? Karna anda putra mahkota pasti anda sudah belajar kasta sosial kekaisaran Archerian saat ini. Setelah yang mulia kaisar, baginda permaisuri adalah pemilik kekuatan terkuat setelahnya." Tekan Shenina lagi, tanpa ada takut-takutnya. Dia juga terlihat tidak peduli jika nanti Feron sangat membencinya dan tidak ingin menikah dengannya.

Padahal rumor sudah beredar kalau putri mahkota selanjutnya adalah Shenina. Bukankah akan menjadi masalah besar jika rumor tersebar bahwa hubungan Shenina dan pangeran Feron buruk?

Adel menatap Shenina yang tampak menanggapinya dengan santai, yah soalnya Shenina juga sudah kebal soal rumor sih. Jadi dia pasti tidak peduli jika ada rumor baru soal dirinya yang muncul, entah itu rumor baik atau rumor buruk sekalipun, Shenina sudah kenyang akan rumor, jadi itu tidak penting dan dia tidak peduli.

"Kau benar-benar ...! Aku tidak akan mau menikah dengan mu! Sampai mati pun aku tidak akan menikah dengan mu! Aku tidak Sudi memberikan posisi putri mahkota pada orang congkak dan sombong seperti mu! Tidak tau diri! Tidak punya sopan santun! Tidak menghargai ibu ku! Bagaimana mungkin orang yang seperti itu menjadi istri ku!" Pekik pangeran Feron lagi, dia geram sekali pada Shenina yang sudah menghina ibunya terang-terangan.

Padahal Feron saja sebelumnya memang sudah membenci Shenina karna dia putri Duke, dan dia juga boneka Baginda permaisuri Helena yang amat sangat dibenci oleh Ferion. Sekarang Shenina semakin menajdi-jadi karna berani menyindir selir Vivian bahkan di depan mata Feron sendiri.

Eh sebentar, ini juga bukan alur novel yang Adel tulis. Dalam kisahnya Adel ingat, Shenina berusaha keras untuk mendapatkan simpati dan kasih sayang Vivian yang merupakan selir tercinta raja, dan apalagi Vivian juga ibu kandung Feron, calon suaminya dan seorang putra mahkota.

Shenina dalam novel berpikir kehidupannya di istana sebagai putri mahkota akan membahagiakan jika selir Vivian ada di pihaknya, tapi sayang seribu sayang, usaha apapun yang Shenina lakukan, kasih sayang Vivian tetap hanya untuk Irana seorang. Karna Irana adalah calon menantu pilihan Vivian. Vivian melakukan banyak hal guna menjadikan Irana istri Feron.

"Maaf Nyonya Vivian, pangeran Feron, saya harus permisi karena tidak enak badan. Delilah, ayo pergi." Shenina segera melangkahkan kakinya keluar. Dia menunduk hormat dan memberi salam sebelum benar-benar pergi darisana.

Apa semua ini baik-baik saja? Memang sih sepertinya karna Putri Shenina terlihat tidak mencintai pangeran Feron, dia tidak perlu bersimpati pada Selir Vivian, atau mencoba bersaing dalam hal asmara dengan Irana. Jadi dengan begitu plot kematian putri Shenina menjauh dengan sendirinya.

Tapi masalahnya, apa ini baik-baik saja? Pasti baik kan? Selama tidak ada pertumpahan darah dan tidak ada yang mati, itu artinya cukup baik.

Tidak apa kan kalau aku membiarkannya begini saja? Shenina yang tidak peduli pada pangeran Feron bukanlah alur yang buruk.

Setelah puas mengamati sekitar, Adel mengikuti langkah Shenina pergi, dia akan memikirkan baik atau buruknya ini nanti di rumah saja, saat ini dia harus fokus menjaga putri Shenina, barang kali karena kejadian ini mood putri Shenina menjadi buruk.

......................

Saat ini Adel sedang berbaring di kamarnya, dengan kedua adik kembarnya yang tertidur pulas di sisi kanan dan kirinya. Adel memang harus di tengah dan menjadi penengah, kalau tidak kedua bocah itu akan terus ribut, dan akhirnya mereka tidak jadi tidur.

*Pasti baik-baik saja kan? Perubahan perilaku putri Shenina dari novel aslinya pasti akan membawa perubahan kan? Dengan begitu plot kematian antagonis ku jadi hilang?

Walaupun putri Shenina akan mati suatu hari nanti, aku harap itu bukan kematian yang seperti dijelaskan di novel, aku harap alasannya juga akan lebih logis jika dia mati suatu saat nanti*.

Hanya itu yang Adel harapkan, dia berusaha sekeras mungkin itu mempertanggungjawabkan sebuah alur kehidupan karakter antagonis dari kisah yang dia buat dengan iseng saat masih kecil dulu.

"Kakak, apa begitu berat menjadi dayang calon putri mahkota, sampai saat istirahat pun kakak tampak banyak pikiran." Tanya Rafen, dia menatap sang kakak dengan mata yang agak sayu karena mengantuk mungkin?

Adel cukup terkejut, walau memang tidak heran sih kalau Rafen bisa menebak isi pikirannya dengan situasi saat ini, selain sebagai calon kepala keluarga yang harus cerdas dan logis, sejak lahir Rafen sendiri memang memiliki bakat dengan kecerdasan luar biasa. Dia anak yang terlahir dengan bakat menarik, dia sangat cocok menjadi kepala keluarga Count Ghiandra berikutnya.

Tidak ada yang protes, baik itu Lylia maupun Adelilah, karna mereka berdua tau bahwa Rafen memang layak untuk menduduki posisi itu.

Tapi bukan itu yang penting sekarang, pikiran Adel jadi agak teralihkan karna mengingat bertapa cerdas dan menggemaskan adik laki-lakinya yang satu ini.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!