"Memangnya siapa yang menyatakan perasaannya pada mu?"
Suara familier itu terdengar dari arah belakang, Adel langsung melihatnya seketika.
"A-ayah?"
Dia adalah Count Aron Ghiandra, ayah Adel.
Sejak kapan ayah berdiri disana? Apa ayah mendengar semuanya?!
"Adel, apa kau punya masalah? Kalau memang ada katakan pada ayah. Ayah akan menyelesaikan nya? Apa tugas menjadi dayang sangat berat?" Count Aron berjalan mendekat, dia duduk di sebelah putrinya.
"Tidak ada ayah, semuanya baik-baik saja." Adel tersenyum manis, mencoba menepis kekhawatiran sang ayah.
"Katakan saja Nak, kalau kau ada masalah? Apakah kau ingin berhenti menjadi dayang? Akan ayah sampaikan pada Duke."
"Tidak ayah! Tidak seperti itu!" Adel membantahnya dengan keras.
"Lantas kenapa?" Tatapan Aron lekat menatap retina sang putri, dia tidak ingin mengalihkan pandangan, bahwa dia yakin ada yang tidak beres dari anaknya, putri kecilnya tampak memiliki masalah.
Apa aku bilang saja ya? Bahwa Duke mengganggu ku? Toh kalau bilang ayah juga tidak bisa berbuat apa-apa kan? Karna ayah count, dan Aiden itu Duke.
"Katakan saja Adel." Ulang Count meyakinkan putrinya untuk membagi semua masalahnya.
"Tidak ada a--"
Tok tok!
Ketukan pintu itu menyelamatkan Adel, karna itu adalah kedatangan Fedrik, kepala pelayan di rumah mereka.
"Ada apa? Kenapa kau mengganggu waktu berharga antara ayah dan putrinya?" Count menatap tajam kepala pelayannya. Sudah Adel bilang kan, Count ayahnya adalah orang yang dingin, makanya sifat Rafen menurun dari ayahnya. Karna Adel putrinya makanya sang ayah bersikap lembut padanya.
"Maaf Tuan, karna ini sangat penting, surat yang anda tunggu sudah tiba." Kata Fedrik.
Saat itu juga Adel bisa melihat perubahan ekspresi sang ayah, dari kesal menjadi tatapan penuh harap.
Surat apa sebenernya itu?
Adel ingin bertanya lebih jauh, tapi tampaknya sekarang bukanlah waktunya.
"Ayah punya hal yang lebih mendesak kan? Tidak apa-apa, Adel akan cerita setelah ayah tidak sibuk. Masalah Adel bukan hal besar." Adel tersenyum manis, dia mengusap pundak sang ayah.
"Tidak apa-apa. Adel cerita saja sekarang, hal itu tidak begitu penting, dibanding cerita Adel, masalah itu tidak ada apa-apanya. Karna sebagai seorang ayah, ayah akan mendengarkan masalah mu apapun itu, lalu ayah akan melindungi mu jika itu berbahaya, karna itu tugas seorang ayah." Count Aron masih tetap memaksa, dia kembali menatap putrinya erat.
"Seorang ayah juga harus bisa membiarkan putrinya tumbuh dengan berani. Ayah, Adel sebentar lagi 18 tahun dan akan mengadakan upacara kedewasaan, setidaknya Adel ingin mandiri dengan menyelesaikan masalah Adel sendiri. Ini Tidak begitu besar, tidak pula berbahaya."
"Adel ..."
"Ayah ... Ini benar-benar bukan masalah yang harus dikhawatirkan, percaya pada Adel bahwa Adel bisa menyelesaikannya, saat ini sudah selesai Adel janji akan menceritakannya dari awal sampai akhir!" Sungguh, wajah Adel benar-benar serius sekarang. Entah bagaimana cara meyakinkan sang ayah ini sekarang.
Melihat wajah putrinya yang serius, Aron sedikit gundah. Benar pula apa yang Adel katakan, sejak dulu Aron terlalu memanjakan Adel, Aron jarang membiarkan Adel menyelesaikan masalahnya sendiri. Seorang ayah itu selalu turun tangan, pasang badan paling depan ketikan putrinya tertimpa masalah, entah itu masalah kecil atau masalah besar sekalipun.
"Baiklah, Ayah akan dengarkan ketika Adel siap menceritakannya. Tapi berjanjilah bahwa kau akan melibatkan ayah jika masalahnya bertambah besar." Aron menyerah, putrinya bersikeras ingin mandiri, dia harus melepasnya kan?
"Sebelum ayah meminta terlibat, Adel pasti sudah merengek minta bantuan jika masalah itu diluar kendali ku."
"Pffftt, memang putri ayah."
Aron mengecup kening putrinya, mengusap kepala Adel lembut, sebelum akhirnya dia berpamitan pergi untuk mengurus surat yang tampak mendesak itu.
Usapan hangat itu mengingatkan Adel lagi bahwa dia hidup di dunia yang dimana setidaknya ada cukup banyak orang yang berpihak padanya.
Ayah sejak dulu selalu begitu kan? Sangat peduli pada ku. Aku bersyukur berada di keluarga ini, meski tidak ada ibu, selalu ada ayah, Rafen dan Lylia, juga para pelayan di rumah ini. Semuanya baik.
Adel menatap pintu dimana sang ayah baru saja melangkah keluar. Usapan dikepalanya masih terasa hangat. Perkataan Count yang seperti itu selalu membuat Adel yakin untuk mengambil suatu keputusan dengan berani.
Tapi bagaimana caranya aku memberitahunya kalau sekarang aku malah terlibat dengan Duke Aiden yang licik itu.
...**************...
Semakin dua orang bertemu secara kebetulan, semakin erat keyakinan bahwa itu adalah takdir yang ditentukan. Tampaknya itu romantis untuk sebagian orang, tapi tidak dengan Adel.
Bagaimana bisa disaat dia dan Putri Shenina sedang menyamar, malah terjebak di tempat ini bersama dengan Duke Aiden dan juga pengawalnya.
Adel tidak tau ini kebetulan takdir atau kebetulan yang disengaja?
"Saya benci terjebak dengan perempuan di satu ruangan, tapi kalau itu Lady Adelilah, tidak keluar selamanya juga tidak masalah." Duke Aiden tersenyum manis tanpa tau malu. Bisa-bisanya dia berkata begitu di situasi saat ini.
Dan lagi ...
Aku yang bermasalah jika terjebak bersama mu disini selamanya!!!
Adel tidak pernah menulis bahwa dirinya akan terjebak dengan Duke Aiden di novelnya!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments