Antagonis juga?

...**************...

Pemuda itu tersenyum manis di depan Adel, saat ini dia sedang duduk di kursi yang ada di kamar tamu yang Adel gunakan.

Kenapa baru sadar sekarang coba?!

Adel harap dia bisa menepuk kepalanya lebih kuat karna dia benar-benar melupakan detail penting. Adel ingat, karna biasanya monster itu identik dengan warna hitam dan merah, Adel membuat tokoh antagonis pria nya bermata merah. Warna merah Semerah darah, sangat menakutkan, dan membuat siapa saja yang melihatnya merasa takut dan dikutuk.

"Nama saya adalah Aiden Vyn Fletting."

Adel masih ingat bagaimana pemuda itu memperkenalkan dirinya dengan ramah. Seingat Adel, karakter Aiden memang seperti itu, dia dibuat seperti ular, dia ramah di depan menusuk di belakang, dia mahir dalam memanipulasi kata dan keadaan sampai lawan-lawannya tertekan.

Karna karakternya itu, jadi ada beberapa orang yang memberanikan diri menatap mata merah Aiden walau setelah Adel modern tulis itu menyeramkan.

Tapi imajinasi ku buruk dulu, padahal jelas-jelas rambut hitam bermata warna merah itu adalah incarakan ku yang utama!

Dan celakalah Adel! Dia berada di dalam rumah ular yang mengerikan itu!

Eh tapi sebentar!

Memangnya salah siapa sampai Aiden menjadi jahat seperti itu? Siapa yang membuat Aiden bermata merah sampai-sampai sosialisasinya sangat buruk hingga dia tidak memiliki teman, tidak pula percaya pada siapapun.

Benar! Itu aku, Maafkan aku Aiden, hiks aku menyesal membuat tokoh jahat hidup menderita dengan akhir yang tersiksa!

Tok!

Pintu diketuk, pria dengan suara yang berat di luar pintu meminta izin untuk masuk, setelah Aiden mengizinkannya masuk, dia berjalan perlahan.

Adel bisa melihat, pria tua yang mungkin berusia hampir lima puluh tahun, dengan rambut yang berdominan putih, juga kacamata yang tebal.

"Maaf, permisi Tuan muda, ada surat datang dari istana kekaisaran." Dia memberikan sebuah surat dengan segel Serigala putih, lambang kekaisaran Archerian ini.

"Ya, pergilah." Aiden menerima suratnya, lalu dia mengibaskan tangannya, sebagai sebuah isyarat bahwa dia harus segera pergi.

Adel berusaha celingkan mengintip isi surat itu, tapi tidak bisa, jaraknya cukup jauh.

"Pffftt." Tanpa Adek sadari, Aiden tersenyum tipis, dia berjalan menuju Adel dengan surat yang belum dibuka di genggamannya.

"Anda penasaran dengan isinya kan Lady?" Aiden duduk di sebuah kursi yang ada di dekat kasur dimana Adel berbaring.

Adel mengangguk. "Iya, saya penasaran kalau itu berkaitan soal Putri Shenina, tapi kalau tidak, saya tidak akan penasaran."

"Wah, beruntungnya Lady karna ini adalah surat dari Putri Clauyen untuk saya. Beliau bilang akan menginap di istana permaisuri untuk pengobatan, jadi Putri Clauyen menitipkan anda dayang yang disayanginya pada saya." Aiden tersenyum, sialnya karna Adel yang menulisnya dia jadi tau bahwa senyuman itu tidaklah tulus.

Karna karakter Aiden yang ditulisnya adalah sosok karakter yang penuh senyuman manipulasi seperti ular, yang bisa banyak orang tertipu. Aiden ahlinya jika soal tersenyum tapi tidak tulus.

"Terimakasih atas tawaran Tuan Muda barusan, hanya saja, saya merasa lebih nyaman kalau kembali ke rumah saya. Jika anda mengizinkan, saya akan menulis surat untuk keluarga saya, agar mereka menjemput saya." Adel berusaha menolaknya dengan senyuman, bukan karna dia benci atau takut pada antagonis khayalannya. Hanya saja dia butuh jeda waktu dan sebagainya untuk memikirkan sikap apa yang harus diambil pada antagonis utama pria ini.

Ngomong-ngomong soal surat, kenapa Putri Shenina tidak memberikan ku sebuah surat ya? Memangnya tidak ada yang ingin beliau sampaikan?

Sedikit kecewa, tapi Adel tetap menghargainya, bagaimanapun juga derita dan akhir tragis Shenina semua karna ulah Adel.

"Tidak bisa Lady, mohon jangan seperti itu, saya ingin bertanggungjawab atas segala yang terjadi pada anda. Semua kan juga salah saya, jadi biarkan saya yang bertanggungjawab. Saya tidak ingin berutangbudi."

"..." Adel diam, dia menimbang-nimbang kembali keputusannya. Ini memang bukan hal yang mudah untuk dia putuskan sendiri. Terdapat nama baik dua bangsawan tinggi yang diembannya sekarang. Apalagi Adel tidak ingin rumor buruk atau apapun tersebar soal Shenina, bisa-bisa Shenina dalam masalah nanti.

"Tolong jangan tolak pertanggungjawaban saya. Kalau anda pergi dari rumah saya dalam keadaan terluka karna ulah saya, saya benar-benar merasa bersalah, dan tidak enak hati. Saya tidak bisa menghadap wajah para bangsawan lain di pesta-pesta yang akan datang nantinya."

"Itu benar sih, rumor memang cepat menyebar, bahkan api juga kalah cepatnya. Apa kalau saya kembali, ada rumor yang akan keluar soal Putri Shenina?" Adel mengangguk mengerti.

"Tentu saja."

"Baiklah, saya akan tetap disini untuk malam ini, besok saya akan kembali. Kalau begitu, bolehkah saya mengirim surat untuk keluarga saya?"

"Tentu saja! Keputusan yang baik Lady!" Aiden tersenyum sempurna.

Entah kenapa firasat Adel jadi tidak enak. Apalagi saat ini dia benar-benar berada di dalam kandang ular licik yang Adel tau dengan benar, betapa kejam dan kejinya sosok antagonis yang sudah ditulisnya kala itu.

Kok kayaknya salah ambil keputusan ya?

Adel menelan salivanya payah, walau dia merasa iba dan bersalah kepada kisah pilu masa lalu Aiden yang dia tulis, tapi tetap saja sekarang Aiden sudah tumbuh menjadi antagonis yang licik.

Tatapan mata, senyum yang menawan, suara ramah yang memikat, susunan kata yang mampu menjebak lawan agar masuk ke dalam perangkapnya, semuanya sesuai deskripsi yang Adel tulis dulu.

Apa aku salah ya percaya sama nih orang? Tapi kan ini juga salah ku yang egois!

"Bagaimana ini?"

Suara sedikit nakal, wajah sedikit cemberut, dia menghela napas kesal, menatap wajah Adel lekat-lekat.

"Apanya yang bagaimana? Apa saya berbuat salah sampai anda kesal tuan?"

Wah jangan tanya, syukurlah kaki Adel tertutupi selimut, sejujurnya dia agak gemetar saat ini. Untungnya Adel bisa mengatur suaranya agar terdengar biasa saja walau bahkan tangannya sudah digenggam erat karna gugup.

"Mana mungkin anda salah, saya yang salah disini. Bagaimana jika luka ini tidak bisa hilang ya bekasnya?"

"Hah? Mana mungkin! Ini pasti bisa hilang! Obat-obatan keluarga Duke Clauyen sangat bagus! Dulu saya pernah jatuh dan terluka di lutut tetap tidak ada bekasnya." Adel memang tidak tau arah pembicaraannya ini kemana, tapi yang jelas firasatnya sudah tidak enak.

"Benarkah? Tapi bagaimana jika itu tidak hilang? Hmm mau dengar pertanggungjawaban yang ada di kepala saya?"

"Apa itu?"

Adel sudah bersiap-siap dengan jawabannya Aiden, jaga-jaga kalau dia mengeluarkan jawaban tidak masuk akal lainnya.

"Tentu saja dengan menikah!"

"Hah? Apa maksud anda? Menikah? Siapa dengan siapa?"

"Tentu saja saya dengan Lady! Sebagai pertanggungjawaban membuat tubuh indah Lady terluka, saya rasa saya harus menikahi Lady secepatnya, benar kan? Bagaimana ide saya?" celetuk Aiden dengan gampangnya menampilkan senyuman polos ala dirinya.

"Ti-dak!"

Geli geli geli

Apa yang baru saja antagonis ku ini katakan? Menikah? Aku dengan dia? TIDAK MAU!!!!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!