Kunjungan lagi

...****************...

"Apa kamu memang menyukai Duke Aiden?"

Pertanyaan putri Shenina itu kembali mengingatkan Adel akan kejadian yang terjadi tadi siang, ketika dirinya dan Shenina terlibat masalah yang melelahkan.

Saat ini mereka sudah kembali ke kediaman Clauyen dengan aman, selamat tanpa luka karna diantar langsung oleh Aiden dan Raikel, yah walau diantar secara diam-diam memang.

Adel kini sedang membasuh rambut merah terang yang indah milik Shenina. Shenina tengah berendam di bak yang berisi air hangat dan kelopak bunga yang membuat tubuhnya bisa harum.

"Delilah, aku bertanya pada mu, apa kau menyukai Duke Aiden?" Ulang Shenina lagi, walau biasanya Shenina tidak suka mengulang perkataannya.

"Sepertinya tidak." Jawab Adel dengan menahan rasa malu setengah mati, pipinya agak memerah menahan malu setengah mati, bukan karna dia berdebar karna nama Aiden disebutkan, dia malu karna kejadian tadi siang.

Padahal Adel sudah memberikan saran agar Sir Raikel diizinkan bekerja melayani Putri Shenina sementara, tapi jawaban Aiden malah seperti itu, membuat Adel malu sendiri dan akhirnya merengek minta pulang hingga keduanya tidak jadi makan tadi siang.

"Begitu? Yah, itu sih keputusan mu, tapi sayang sekali ya aku tidak bisa mendapatkan ksatria itu. Padahal dia hebat, aku merasa keselamatan ku bisa terjamin kalau dia ada di sisi ku." Shenina menyandarkan tubuhnya agar lebih rileks.

"Saya sudah berusaha membantu, tapi hasilnya bukan saya yang menentukan."

Shenina berbalik menatap Adel.

"Mungkin kalau kau coba membujuk Duke Aiden, dia mungkin mau meminjamkan Ksatrianya. Ah itu benar, sekarang aku sedang memanfaatkan mu." Celetuk Shenina dengan mudahnya.

"Wah saya sangat sakit hati sampai sulit berkata-kata." Adel menatap datar putri antagonisnya, entah kenapa beberapa jam bergaul dengan Aiden, sedikit sifat menjengkelkan Aidan menular pada Shenina.

......................

Aku melakukan ini hanya karna aku merasa bersalah, tidak lebih dan tidak kurang dari itu.

Benar!

Karna disinilah Adelilah sekarang, berdiri seorang diri di gerbang mansion Duke Fletting yang ada di ibu kota kekaisaran.

Adel akhirnya melangkahkan kakinya menuju mansion ini lagi di akhir pekannya, disaat dia sedang cuti dari tugas sebagai dayang Shenina.

Padahal mansion ini yang paling Adel hindari, tapi akhirnya dia sendiri yang datang kemari. Memangnya, kita tidak boleh membenci sesuatu secara berlebihan, kalau tidak kita akan terus terlibat dalam hal itu.

Gerbang tiba-tiba saja terbuka, bahkan sebelum Adel sempat memperkenalkan diri.

Seorang pria yang sudah berumur dengan pakaian formal menghampiri Adel. Ah Adel ingat siapa pria tua kharismatik ini.

Dia adalah kepala pelayan mansion ini, kumis, dan janggut yang panjang namun sedikit memutih itu masih Adel ingat.

Tapi, Adel tidak tau kalau dia sepenting itu sampai kepala pelayan sendiri yang menyambut nya? Padahal dia kesini untuk membujuk Aiden agar mau meminjamkan Raikel setidaknya untuk sementara.

"Silahkan masuk Nona."

"Baik."

Ini memang bukan yang pertama kalinya Adel masuk ke mansion Duke Fletting yang ada di ibu kota, tapi ini pertama kalinya dia melewati gerbang dan aula dengan kakinya sendiri yang melangkah dan mata terbuka, sebelumnya kan dia hanya pasien yang pingsan saja.

Adel memperhatikan sekeliling rumah itu, di dinding kanan dan kirinya tampak replika kepala hewan dan beberapa lukisan yang tampaknya cukup mahal.

"Apa anda tidak suka desain ini? Kalau anda mau anda boleh merubahnya." Ujar kepala pelayan tiba-tiba saja, Adel bahkan perlu waktu untuk mengerti maksud pria tua itu.

Apa maksudnya? Apa hubungan selera ku sama gaya rumah ini?

"Saya tidak akan melakukan apa-apa." Adel menjawab saja dengan tersenyum.

"Padahal anda boleh merubah segalanya, sesuai selera anda saja."

"Kenapa saya harus melakukannya? Apa tamu asing memang selalu boleh merubah isi rumah Duke begini?"

"Bukan tamu asing, tapi calon nyonya rumah. Sebagai Nyonya rumah ini nantinya tentu saja anda boleh merubah apapun yang anda inginkan."

Jawaban dari kepala pelayan ini diluar ekspektasi Adel. Memang ada pepatah yang bilang bahwa pelayan mencerminkan sikap tuannya.

Tapi kan tidak seperti ini juga!

Karna Aiden bercanda soal itu, apa pelayannya juga harus bercanda soal itu? Harusnya kan tidak! Soal calon Duchess dan nyonya rumah kan tidak perlu dibercandakan seperti itu!

"Kenapa saya yang harus menjadi Nyonya rumah ini? Jangan bercanda kepala pelayan." Adel mencoba memasang senyum ramah, seramah yang dia bisa.

"Tapi tuan Duke sudah menyebarkan berita ke setiap orang yang bekerja di mansion ini, bahwa jika anda datang harus diperlakukan seperti nyonya rumah, karna anda adalah calon Duchess masa depan."

Cukup Adel lelah.

......................

Akhirnya Adel bisa duduk dengan tenang di sebuah kamar, entah kenapa Adel malah di minta menunggu di sebuah kamar oleh kepala pelayan.

Adel tidak begitu memusingkannya, mungkin saja ruang tamu sedang dipakai atau diperbaiki.

Toh kamar ini juga sangat besar.

Adel bangkit berdiri, menuju sebuah jendela, dimana pemandangan jendela itu langsung menuju ke arah taman. pemandangan yang sangat indah, apalagi bunga-bunga di taman sedang bermekaran indah.

"Jadi bagaimana menurut Lady? Apa kamar ini sempurna untuk kamar kita nanti?"

Suara familiar itu terdengar dari arah belakang, Adel membalikkan badannya. Dari suaranya saja Adel sudah tau siapa pria yang datang tanpa mengetuk pintu itu.

Cukup sering berinteraksi dengan Aiden, membuat Adel hapal suara dan intonasinya, apalagi dengan berbagai macam ekspresi palsu yang ia tampilkan.

"Anda pasti bercanda."

"Mana mungkin. Jadi, apa anda datang untuk menerima lamaran saya? Para pelayan disini butuh seorang Nyonya rumah kan?"

Adel ingin marah-marah sih sebenarnya, tapi dia datang kesini kan karna dia butuh.

"Tuan Duke, saya akan langsung ke intinya saja. Boleh tidak Sir Raikel menjadi ksatria pribadi Putri Shenina sementara, setidaknya sampai putri Shenina menjadi putri mahkota." Pinta Adel, dia menatap retina Aiden serius. Permintaan ini sungguh-sungguh tulus dari hati Adel.

"Boleh saja, asal Lady mau menjadi tunangan ku." Aiden menarik senyuman lebarnya, tentu saja Aiden sudah menduga bahwa Adel pasti akan menolaknya, jadi dia tidak perlu mempertimbangkan Sir Raikel untuk menjadi ksatria pribadi sementara putri Shenina.

"Iya baiklah." Jawab Adel dengan tegas dan tenang, dia meminum seteguk teh nya setelah memberi jawaban itu.

Apa?!

Aiden tersentak halus, matanya agak terbuka, dia menatap Adel lekat.

"Coba ulang apa yang anda katakan Lady? Kalau saya tidak salah dengar, anda bersedia menjadi tunangan saya dengan syarat saya harus memerintahkan Sir Raikel menjadi ksatria pribadi Putri Shenin untuk sementara waktu?" Sang Duke itu memperjelas pernyataannya kalau-kalau dia dan Adel memiliki kesalahpahaman.

"Iya." Adel mengangguk dengan mudahnya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!