Bismillah.
"Huft! Tau kalau anak itu jago bela diri nggak akan aku mau jadi bayaran pak Kasim." dengus Herman.
Herman salah satu dari 5 orang yang berusahan membakar rumah Zidan.
Mereka berliman bernama, Herman, Aceng, Bagus, Rizal dan Paul.
"Aku juga sama, sekarang kita harus menuruti apa yang anak itu mau." sahut Aceng.
"Tapi, bagaimana kita bisa menjadi anak buah dari bocah."
"Bagaimanapun kita tidak boleh melanggar janji, janji anggota Kilat tidak boleh dilanggar Bagus." sambung Rizal.
"Benar kita harus tetap menepati janji!" sahut Paul pula.
"Sudah terima nasib kita malam ini tidur bawah pohon dalam keadaan terikat seperti ini." ucap Herman lagi.
Herman merupakan ketua dari keempat orang yang saat ini berada disisinya.
Zidan masuk ke dalam rumahnya, "Assalamualaikum." salam Zidan.
Ada atau tidak ada orang di dalam rumahnya, Zidan tetap anak mengucapkan salam, jika dia baru saja masuk rumah.
"Waalaikumsalam." jawab bapak Hajir.
"Astagfirullah." kaget Zidan, sambil mengelus dadanya
Tidak tahu kalau bapaknya bangun, "Bapak kok belum tidur."
Bapak Hajir tidak menjawab, beliau menatap putrnya merasa khawatir, "Kamu tidak papa Zidan? Lihat muka kamu lembab semua."
"Bapak tau kalau Zidan abis." Zidan tak jadi meneruskan perkataannya.
"Sudah obati dulu luka mu."
"Baik pak, bapak juga harus kembali istirahat." bapak Hajir mengangguk.
Lalu bapak Hajir kembali masuk ke dalam kamarnya beliau, sementara Zidan mengobati lukanya.
Tak terasa kantuk pun menyerang Zidan, akhirnya Zidan memutuskan untuk tidur setelah mbersihkan diri.
Saat menjelang subuh, tiba-tiba cahaya hijau menyelimuti diri Zidan, (Kasihan sekali Zidan, sebagai tanda sistem merasa bangga pada Zidan, maka sistem akan mengobati seluruh tubuh Zidan yang lembab)
Setelah itu, cahaya hijau terang kembali menyelimuti tubuh Zidan, 20 menit berlalu akhirnya cahaya hijau terang itu kemudian menghilang masuk ke dalam tubuh Zidan, tepat saat adzan subuh berkumandang.
Zidan terbangun, "Loh, kok enteng badan aku?" bingung Zidan.
Lalu dia meraba wajahnya luka lembab itu sudah tidak ada lagi, "Hilang juga." ucap Zidan pelan.
Dia memeriksa wajahnya ternyata luka lembab itu sudah tidak ada lagi diwajahya, lalu badan Zidan juga lebih segar dari sebelumnya.
"Lebih baik aku mengambil air wudhu saja." Zidan akhirnya segera bangkit untuk mengambil air wudhu.
Tak lupa Zidan juga mengajak keempat orang itu untuk melaksanakan shalat subuh jamaah, "Ayo sholat." ajak Zidan pada mereka semua.
Sambil Zidan membukan tali untuk mereka, setelah tali itu terbuka semua orang saling tatap heran.
"Kalian kenapa? Ayo sholat." ajak Zidan sekali lagi.
Mereka kembali saling melempar pandang satu sama lain, "Sholat?" ucap Herman ragu.
"Iya sholat." kini gantian Zidan yang menatap mereka berlima satu persatu.
"Ah, aku tahu, kalian bukan beragam islam ya?" tanya Zidan untuk memastikan.
"Islam!" jawab mereka kompak sekali.
Zidan menaikan sebelah alisnya, tak lupa dahinya juga yang berkerut tanda bingung.
"Sudahlah, ayo sholat." ajak Zidan lagi.
Anehnya saat Zidan berlalu mereka berlima mengikuti Zidan dari belakang, sambil dorong-dorongan satu sama lain.
"Kapan lo terakhir sholat Ceng?" tanya Bagus.
"Tidak tau lupa."
"Kalau kalian bertiga?" tanya Bagus pada Herman, Rizal dan paul.
Herman dan Rizal memgangakat bahu mereka tanda tidak tau, "Kalau kamu gimana Paul?"
"Mungkin semalam saat kita mau bakar rumah." jawab Paul.
Semua orang melongo tidak percaya, bagaimana bisa Paul bertingkah aneh seperti itu.
Waktu bergulir
Pagi sudah tiba.
Ting!
(Selamat Zidan, Zidan telah menyelesaikan misi tingkat tinggi dengan baik dan Zidan juga sudah berhasil menyelesakikan misi bonus tingkat tinggi. hadiah, reward, kejutan dan kekuatan fisik sudah dimasukan ke dalam data diri Zidan.)
(Zidan telah mendapatkan reward sebesar 5.000.000 karena berhasil menyelesaikan misi tingkat tinggi dari sistem, Zidan juga berhasil mendapatkan reward sebesar 8.000.000 karena berhasil menyelesaikan misi bonus tingkat tinggi.)
"Alhamdulillah." ucap Zidan.
"Aku ingin mengecek data diri, jika seperti itu sistem."
(Baik! Permintaan diproses.)
Ting!
(Permintaan sudah dapat dilihat, silakan cek data diri, sistem harap Zidan tidak keberatan dengan peraturan dari sistem)
"Hah! Maksudnya?"
(Zidan bisa mengecek saja data diri Zidan secara langsung.)
Layar hijau transparan sudah muncul di depan Zidan.
(Huft! Kapan Zidan bisa membeli hp agar bisa lebih mudah berkomunkasi dengan sistem dan mengecek apa saja yang ada di dalam sistem) sayang Zidan tidak dapat mendengar informasi terakhir dari sistem ini.
Zidan mulai fokus membaca data dirinya yang tertera di dalam layar hijau transparan.
Umur : 21 tahun
Pekerjaan : D..........
Kekuatan fisik : 80%
Reward : 25.000.000.
Sistem : rich! 00
Level sistem : 0
Point : 5.500 dilevel 0 sistem.
Misi :Misi tingkat tinggi sudah terpacu 2 kali, misi sederhana 6 misi dari banyaknya misi.
Keuntungan : Sistem dan rekening. Misi pelunasan hutang. misi tingkat tinggi.
kejutan : ahli pengobatan tingkat 1, 2, 3, 10. bela dirisederhan.
Keahlian : Pengobat tingakat rendah 8, ahli bela diri sesederhana.
"Hah! Maskudnya kenapa tingkat pengobatanku bisa menjadi menurun?" heran Zidan.
(Maaf Zidan, karena semalam Zidan mengalami banyak luka, sehingga menyebabkan, keahlian Zidan jadi menurut 2 kali dari sebelumnya.)
Zidan mendengus, padahal dia begitu susah untuk mendapatkan keahalian pengobatan, mendapatkan misi tingkat tinggi bukanya ahli pengobatannya bertambah malah jadi berkurang.
"Lalu, kenapa ada keahalian sekarang? Bukankah sebelumnya tidak ada."
(Benar Zidan, itu karena misi tingkat tinggi sudah terpacu, akhirnya keahlian bisa muncul.)
"Sebentar lalu, kenapa statu pekerjaanku masih samar?"
(Itu karena Zidan belum bekerja!)
"Abang!" teriak Hana dan Rian bersama.
Tentu saja membuat Zidan terlonjak kaget, apalagi Zidan sedang berkomunikasi dengan sistem rich!
"Astagfirullah, apa sih pagi-pagi udah main teriak-teriak aja."
Zidan menemui kedua adiknya, "Ada apa?"
Lalu Hana dan Rian secara bersama menunjuk pada Herman dan teman-temannya, "Mereka siapa?" tanya Hana.
"Teman-teman abang."
"Hah! Sejak kapan abang punya teman." saking bingungnya Hana dan Rian sampai menatap intens abangnya itu.
Bukankah semala ini Zidan tidak memiliki teman seorangpun, "Sejak?"
"Sejak semalam."
Kota D.
"Terima kasih banyak sudah membantu kami pak." ucap ibu panti.
Orang-orang yang berusaha membakar panti asuhan di kota D, akhirnya sudah berhasil ditangkap semuanya.
"Maaf ibu, kalau boleh tau siapa yang menangkap mereka ya? Mereka juga sebenarnya termasuk orang-orang yang kami cari." ucap polisi.
"Ibu panti dan Kanza saling pandang."
"Dia abang dari murdi saya di sekolah pak." jawab Kanza akhirnya.
"Boleh ibu menemukan kami dengan orang yang sudah menangkap mereka, ada beberapa hal yang ingin kami bahas."
Kanza berpikir sejenak, "Saya akan tanya adiknya dulu di sekolah nanti bagaimana pak."
"Baik, ditunggu kabar baiknya ya mbak."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments