Bismillah.
Masih di tempat yang sama, di belakang sekolah SMP 30.
(Permintaan di proses)
Kala itu Zidan melihat Wira dan teman-temannya sudah mulai akan kabur.
"Woi! Jangan kabur." teriak Zidan.
Duk!
Satu tinjuan kerasa mendarat sempuran di pipi Zidan, tijuan itu dari tangan Wira.
Uhuk....uhuk...uhuk...
Darah segar mengalir dari sudut bibir Zidan, tapi Zidan tak putus asa sampai disitu saja, tali yang Zidan beli dari tokoh sistem sudah ada digengamannya.
Zidan melempar tali itu sampai mengenai mereka semua, hebatnya para siswa dan siswi itu langsung teringkus oleh tali yang tadi Zidan lemparkan.
"Wow! Hebat sekali." takjub Zidan, sambil menyunggingkan senyum keberhasilan dibibirnya.
"Akhirnya kalian kena tangkap juga." ucap Zidan.
"Huh! Lelah sekali rasanya. Kalian semua tunggu disini oke." ujar Zidan.
Zidan melangkah menuju sumur yang berada tidak jauh darinya, Zidan tidak tahu bagaimana nasib guru yang berada di dalam sumur tersebut.
Sesekali Zidan menoleh kebelakang untuk memastikan para siswa dan siswi itu tidak kabur. Bagaimana mereka bisa kabur, tali yang Zidan beli dari tokoh sistem itu sangatlah kuat, bahkan bisa mengikat 10 orang lebih dalam satu tali saja, sungguh luar biasa.
Zidan mulai membuak perlahan seng yang digunakan siswa dan siswi itu untuk menutup sumur.
Ketika Zidan tengah melakukan aktivitasnya Hana dan Melia mendekati Zidan untuk membantu Zidan menolong guru mereka.
"Abang!" teriak Hana.
Sontak Zidan langsung menoleh, ternyata benar itu adiknya yang dia khawatirkan sendiri tadi.
"Ya Allah, Hana, kamu dari mana saja dek?"
"Sudah bang jangan tanya Hana dulu, lebih baik kita tolong ibu Kanza lebih dulu." ucap Hana yang sudah sangat khawatir dengan keadaan gurunya di dalam sana.
"Ah, baiklah ayo bantu abang." suruh Zidan.
Benar kata adiknya, Zidan membenarkan apa yang Hana katakan, keselamatan orang yang berada di dalam sumur itu lebih utama.
Semua seng sudah dibuang, sekarang lubuang sumur itu sudah nampak jelas.
"Apa ada orang di dalam?" tanya Zidan.
Zidan mengarahkan kepalanya ke dalam sumur sambil berteriak. Sumur itu terlihat gelap sekali.
"Coba ada senter tidak?" tanya Zidan pada adiknya dan Melia.
Melia memberikan hpnya pada Zidan, "Hati-hati bang, yang kenceng megang hpnya." peringat Melia.
Zidan berdecak, "Iya!" balas Zidan singkat saja.
Jadilah sumur itu terang kala Zidan mengarahkan hp Melia ke dalam sumur, dibawah sumur itu terlihat seorang perempuan berseragam guru meringkuk di bawah sana, untung sumur itu kering.
Zidan memutar otaknya, agar dia bisa masuk ke dalam dan menyelamatkan guru yang bernama Kanza kata adiknya tadi.
"Sepertinya hanya bertanya pada sistem saja, baru aku akan mendapatkan solusi yang tepat." ucap Zidan pelan.
"Sistem apakah tokohmu menjual tangga?"
Terpaksa Zidan harus menggukan pointnya lagi, jika seperti ini mungkin point Zidan tidak akan pernah bertambah yang ada terus saja berkurang.
(Tentu ada Zidan.)
"Belikanlah untukku." putus Zidan tanpa ragu.
(Apa Zidan yakin dengan keputusan Zidan? Ponit Zidan sekarang hanya tinggal, sebentar sistem hitung dulu. 350 - 150 \= 200, apakah Zidan yakin akan menggunakannya?)
"Beli saja sistem jika masih cukup! tidak usah banyak tanya, jangan banyak berpikir ini masalah nyawa orang."
Hana dan Melia mentapa heran Zidan, mereka berdua tidak tahu apa yang Zidan lakukan.
(Baiklah permintaan di proses, aku tidak salah pilih tuan ternyata, hati anda begitu baik Zidan.) kata sistem yang tidak seberapa jelas di kuping Zidan.
Karena sistem ingat Zidan telah berpesan jangan banyak memuji dirinya.
Zidan mengembalikan hp milik Melia, "Huh! Deg, degan aku, takut hpku jatoh ke dalam sumur juga." ucap Melia.
Hana dan Zidan memutar kedua bola mata mereka malas.
"Bang gimana cara kita bawa ibu Kanza sampai ke atas?"
"Kamu tengan saja Han, abang akan berusaha, untuk kamu cepat panggil pihak sekolah yang bertanggung jawab." suruh Zidan pada teman adiknya.
"Siap bang! Laksanakan perintah." buru-buru Melia pergi dari hadapan Zidan dan Hana.
Saat Milea pergi, tangga yang Zidan pesan sudah datang, "Han ayo bantu abang."
Hana hanya bisa mengikuti apa yang abangnya suruh.
'Sejak kapan disini ada tangga.' bingung Hana.
Yah, walaupun bingung dia tidak bertanya apapun pada abangnya. Setelah tangga itu berhasil di masukan ke dalam sumur Zidan segera masuk ke sumur itu menggunakan tangga yang tadi.
Tepat saat Zidan masuk ke dalam sumur tak lama Melia kembali bersama 2 orang guru, satu kepala sekolah satu bapak olahraga, kedunya sudah paruh banya semua.
Melia sudah menjelaskan semua apa yang terjadi, bukti juga sudah ditujukan pada kepala sekolah.
"Itu mereka pak!" ucap Milea sambil menunjuk Wira dan yang lainnya.
Setelah itu satu guru lagi menyusul mereka, "Bawa anak-anak ke ruang bk pak." suruh kepala sekolah pada mereka.
Hanya tinggal menunggu Zidan keluar dari sumur.
Ting!
(Sistem akan menyembuhkan luka Zidan terlebih dahulu dan akan memulihkan tenaga Zidan seperti semula.)
"Apa ini sistem tidak biasanya?"
(Semua ini sistem lakukan karena sistem terharu dengan kebaikan Zidan.)
Ting!
Ting!
Ting!
Tidak butuh waktu lama tubuh Zidan sudah kembali seperti sedia kala, tenaganya terasa bertambah, lukanya juga sudah pulih.
"Terima kasih sistem."
(Sama-sama Zidan, teruslah berbuat baik pada orang lain)
"Pasti!"
Zidan segera menggendong guru yang ada di dalam sumur itu, ternyata samar-samar guru bernama Kanza itu masih bisa membuka kedua matanya.
"Terima kasih." ucapnya pada Zidan diambang kesadarannya.
Zidan mengangguk saat sudah berhasil membawa guru itu ke dalam gendongannya, akhirnya guru muda itu tidak sadarkan diri.
Benar, guru Kanza masih begitu muda, bahkan tadi Zidan sempat terpesona, tapi dia cepat menepis semua pemikiran yang ada diotaknya.
Zidan segera naik menggunakan tangga milkinya, ternyata di atas Hana dan kepala sekolah sudah menunggu kedatangan Zidan.
"Kenapa lama sekali Hana?" tanya kepala sekolah khawatir.
Pasalnya Kanza adalah keponakan kepala sekolah dari kota, dia memutuskan untuk membantu sekolah pamanya di desa, maka dari itu Kanza berada di SMA 30.
"Sabar pak, mungkin sebentar lagi abang saya akan naik."
Benar akhirnya Zidan muncul juga bersama Hana di dalam gendongannya, "Tolong bawa keponakan saya ke uks sekolah." ucap kepala sekolah pada Zidan.
"Baiklah, dek tunjukkan jalanya." ujar Zidan sopan.
Ketiga orang itu segera pergi meninggalkan belakang sekolah mereka segera menuju uks.
Ting!
(Selamat Zidan dua misi dobel sudah dikerjakan, hanya tinggal menyelesaikan satu misi lagi. Mungkin saja Zidan akan mendapatkan hadiah tak terduga.)
Zidan tersenyum mendapatkan informasi dari sistem.
"Alhamdulillah." syukur Zidan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments