Bismillah.
Malam hari, langit begitu cerah banyak bintang-bintang bertebaran di atas sana. Bintang yang mengisi malam sepi untuk bulan dan langit, juga para penghuni bumi.
Di luar rumahnya, Zidan tak kunjung tidur, dia tengah menatap bintang-bintang di atas sana, entah apa yang Zidan pikirkan.
Terlalu banyak beban hidup membuat Zidan bingung harus menata semua dari mana, dia harus menata dirinya dari mana dulu.
Alhamdulillah nya, Zidan sejak kecil sudah diajarkan untuk terus bersyukur kepada Ilahi Robbi.
Hidup dari golongan orang miskin membuat Zidan tau betapa susahnya berjalan di atas muka bumi ini, sejak kecil Zidan selalu mendapatkan bullyan dari teman-temannya, bahkan sampai dia dewasa.
Zidan tidak pernah tau apa alasan orang-orang membullynya. Jika alasan mereka miskin sungguh tidak masuk akal bagi Zidan.
Miskin, tapi Zidan tidak pernah sama sekali mengusik hidup orang lain, yang ada dirinyalah yang selalu diusik oleh banyak orang.
Sebenarnya Zidan jadi berpikir, apakah orang kaya itu semuanya seperti mereka? orang-orang yang suka menindas orang lain? karen mereka memiliki uang. Di dunia ini banyak sekali orang yang mengnomor satukan uang..
Tidak semua hal bisa dibeli dengan uang buka? Walaupun banyak hal yang bisa dibeli dengan uang. Entah itu sesuatu yang nyata ataupun tidak nyata, tapi selalu ada.
Zidan masih temenung di luar rumahnya, sesekali Zidan menghela nafas berat, "Ibu, Zidan janji akan berusaha sebisa Zidan agar bisa membahagiakan, bapak dan adik-adik Zidan."
Kepala Zidan terangkat menatap langit malam yang begitu indah, dia sekaan melihat ibunya diantara beribu bintang yang bertebaran di atas langit sana.
Zidan tidak tau apakah kehidupanya akan terus seperti ini sampai kedepannya nanti, tapi dia sudah berjanji pada diri sendiri, akan berusaha kerasa untuk bisa mengubah nasibnya, agar bisa lebih seberuntung orang-orang yang pernah Zidan jumpai.
"Huft!"
(Zidan, apakah Zidan ada masalah?)
Semua yang ada di dalam otak Zidan seketika buyar, "Astagfirullah, sistem mengagetkanku saja!" kesal Zidan.
(Maaf, tapi bukankah Zidan sudah biasa mendengar sistem.)
Zidan mendengus kesal, "Iya memang betul, hanya saja jika tengah malam begini, tiba-tiba sistem mengeluarkan suara seperti manusia, sama saja seperti hantu!"
(Sistem adalah sistem, bukan hantu!)
"Serah!"
Tiba-tiba Zidan kembali temenung, sambil kembali menatap langit, "Sistem." panggil Zidan.
(Ada apa Zidan?)
Zidan belum menjawab pertanyaan sistem, dia malah menoleh kana, kiri dan belakang juga melihat ke depan, "Kok serem juga ya, kalau ngomong tengah malam begini sama sistem, rasanya kayak ngomong sama hantu." ucap Zidan pelan.
(Zidan!)
"Astagfirullah, ada apa sih sistem rich! mengagetkan saja, tau tidak!"
(Tidak tau Zidan.)
Cek!
"Sistem aku do-"
Ting! Ting! Ting!
Belum sempat Zidan selesai bicara, dia malah mendengar suara yang begitu nyaring terdengar dari sistem, tiba-tiba layar berwarna hijau transparan keluar begitu saja, Zidan sampai memejamkan matanya karena begitu silau.
"Ada apa sistem?" tanya Zidan.
Entah kenapa Zidan merasa ada bahaya besar yang akan terjadi, tapi Zidan kurang tau bahaya itu akan terjadi pada siapa, yang pasti bahaya itu bukan terjadi pada dirinya.
(Bahaya datang Zidan, misi tingkat tinggi di sistem telah aktif, misi tingkat tinggi sudah terpacu.)
"Apa yang terjadi sistem! Cepat katakan!"
(Mohon maaf Zidan, semua sedang dalam proses, sebaiknya tunggu dengan sabar dan tenangkan diri Zidan lebih dulu, jika misinya sudah selesai diproses, sistem akan segera memberitahu Zidan.)
Zidan hanya bisa menuruti perintah dari sistem, Zidan membenarkan usulan sistem, jika terjadi bahaya tidak boleh langsung panik begitu saja.
Kalau langsung panik, otak tidak bisa berpikir positif yang ada pikiran negatif muncul dan menerakan kemungkinan yang ada, padahal jika tidak panik, masih bisa mendapatkan peluang untuk berpikir hal yang positif.
(Misi tingkat tinggi dan membahayakan dimulai! Apakah Zidan akan menjalankan misi sulit ini?)
"Iya sistem! cepat beritahu aku apa yang sudah terjadi!"
Sudah begitu penasaran Zidan apa yang terjadi, ditambah lagi misi tingkat tinggi sudah aktif, bahkan sampai melompati misi tingkat menengah.
(Zidan di kota yang jaraknya tidak jauh dari sini, ada banyak anak-anak panti dalam bahaya besar, mereka semua akan terjabak di dalam api, rumah panti mereka ada yang mau membakarnya!) jelas sistem.
"Dimana letak posisinya sistem! Cepat beritahu aku." suruh Zidan, rasa khawatir mulai menyelimuti dirinya.
(Ada di kota depan, kota D!)
"Aku akan segera kesana dan menolong mereka semua, semoga tidak terjadi apa-apa pada mereka semua."
Zidan sudah bersiap melakukan misi beratnya ini, sayang sekali Zidan belum mendengar penjelasan dari sistem.
"Bismillah." ucap Zidan.
Tanpa pikir panjang lagi, Zidan langsung berlari sekencang mungkin, untuk sampai di kota D.
Jarak kota D menang tidak terlalu jauh dari rumah Zidan, mungkin memakan waktu 2 jam lebih untuk sampai disana, jika menggunakan motor tapi.
Kalau jalan kaki, tidak dapat dipastikan kapan bisa sampai kesana.
Tapi Zidan melakukan banyak cara agar dia bisa sampai di depan panti asuhan di kota D itu.
Bukan masalah misinya yang Zidan pikirkan, tapi masalah puluhan nyawa yang akan melayang sia-sia, jika dirinya tidak bertindak cepat.
Entah bagaimana ceritanya Zidan sudah berada di depan panti asuhan yang dikatakan oleh sistem tadi, sampai disana Zidan melihat benar-benar ada orang yang ingin membakar panti tersebut.
"Woi! Teriak Zidan." dia meleset menghampiri semua ketiga orang yang berada didekat panti asuhan itu.
"Woi! Apa yang mau kalian lakukan!" maki Zidan.
Tiga orang itu yang merasa Zidan sudah mengganggu kerja mereka, ketiganya segera menyerbu Zidan, akhrinya terjadi perkeliahan diantara tiga orang itu dan juga Zidan.
Zidan bisa menghindari setiap serangan yang dilakukan oleh ketiga orang yang mengenakan penutup wajah seperti ninja itu.
Merasa ada keributan di depan panti, pengasuh panti itupun yang mendengar ribut-ribut segera mengecek apa yang terjadi.
Pengasuh panti, perempuan paruh baya itu membekap mulutnya kala melihat ada orang yang ingin membakar panti, dan dia juga melihat Zidan yang bertarung mati-matian melawan ketiga orang itu.
"Ya Allah, aku tidak tau siapa anak muda itu, selamatkan dia Ya Rabb, seperti dia yang berusaha menyelatkan orang-orang panti." doa ibu panti.
Buk!
Buk!
Ibu panti kembali kaget kala mendengar baku hantam yang amat nyaring.
Buk!
1 jam sudah berlalu, Zidan mendapatkan luka lembap di wajahnya, tapi Alhamdulillah Zidan berhasil mengusir orang-orang itu dan satu orang lagi sudah tumbang tidak berdaya.
Zidan segera mengikat orang itu, bersamaan dengan itu ibu panti bersama seorang gadis membuka pintu utama panti.
Klek!
Suara knop pintu dibuka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments