Bismillah.
"Au," ringis Zidan setelah dia selesai mengikat orang tadi.
Mukanya sudah penuh dengan banyaknya memar, banyak luka lembap Zidan dapatkan.
Saat Zidan berbalik tiba-tiba 2 orang perempuan sudah berada di depanya, menatap Zidan dengan tatapan iba dan terima kasih.
"Astagfirullah." kaget kedua perempuan berbeda usia itu.
"Terima kasih nak, ayo kita obatin dulu." ajak ibu panti.
"Tidak apa bu, saya baik-baik saja, saya sarankan lebih baik telepon polisi saja bu, untuk menangkap orang ini.
"Tapi sekarang masih malam." sahut seorang gadis.
Jelas Zidan mengenali salah satu perempuan yang kini berdiri di depannya, perempuan itu yang Zidan tolong di belakang sekolah adiknya dari dalam sumur.
"Maksud saya besok pagi, sekarang harus memastikan dulu agar orang ini tidak lolos, au." Zidan kembali merasakan sakit disudut bibirnya.
"Kamu serius tidak mau diobati dulu?" tanya Kanza memastikan.
"Tidak apa, tak perlu saya baik-baik saja."
Tanpa sepengetahuan Zidan, sistem rich sedang merasa cemas, tak tau apa sebabnya sebuah sistem bisa cemas juga seperti manusia saja.
"Kanza ambikan kota p3K dan bantu obatin dia," suruh ibu panti.
"Baik bu." patuh Kanza.
"Tidak perlu bu, saya baik-baik saja." tolak Zidan, tapi Kanza sudah melangkah masuk ke dalam panti.
Bukan Zidan tidak mau diobati, hanya saja posisinya saat ini sudah malam, Zidan tidak mau jadi fitnah, tapi dia juga sedang memutar otaknya agar bisa memastikan orang jahat itu tidak kabur.
Ada firasat buruk yang Zidan rasakan, akan menimpa orang-orang di rumahnya.
'Astagfirullah Zidan! Percaya pasti mereka baik-baik aja, Allah akan selalu melindungi bapak dan adik-adik.' doa Zidan.
Rasa khawatir benar-benar menjelajahi perasaan Zidan, dia terus saja beristighfar di dalam benaknya.
Sekuat apapun Zidan membuang jauh-jauh pikiran negatif itu, dia malah semakin merasa ada hal yang tidak beres akan tejadi di rumahnya.
Tak lama Kanza kembali, sambil membawa kotak P3k, ibu Nursih menyuruh Kanza untuk mengobati Zidan terlebih dahulu.
Kanza patuh saja, dia dengan telaten membersihkan darah yang ada diluka bagian wajah Zidan.
"Sistem katakan apa yang harus aku lakukan agar penjahat ini tidak kabur? Aku merasakan hal buruk akan terjadi di rumah, tapi aku tidak bisa pergi begitu saja meninggalkan penjahat ini, takut kawan-kawanya datang lagi dan kembali melancarkan aksi mereka Kembali."
"Aku tidak bisa menjaga panti ini samapi pagi, aku harus pulang dan memastikan bapak dan adik-adikku baik-baik saja, tidak terjadi apa-apa pada mereka."
Zidan sudah tidak sabar untuk segera pulang, dia tidak sadar jika Kanza hampir selesai mengobati lukanya.
(Sistem akan membantu Zidan)
Tiba-tiba sebuah cahaya hijau sangat berkilau menyilaukan mata semua orang, mereka yang melihat cahaya itu tak mampu menatapnya, padahal cahaya hijau tersebut begitu indah.
(Cahaya ini yang akan menjaga panti sampai besok sebelum polisi datang, tidak akan ada yang bisa menyakiti orang-orang panti lagi, Zidan tenanglah sistem sudah memastikan semuanya aman.)
"Aku percaya sistem, terima kasih sudah membantu."
"Sudah selesai!" ucap Kanza yang membuat Zidan kembali ke dunianya lagi, tidak sedang berkomunikasi dengan sistem.
"Terima kasih Kanza."
Setelahnya Zidan pamit pulang pada ibu panti dan Kanza, Zidan juga menjelaskan sampai besok orang itu tidak akan bisa lolos, Zidan juga sudah berpesan agar ibu panti menelepon polisi besok pagi.
Sementara itu di rumah Zidan, lebih tepatnya gubuk.
Ada sekitar 5 orang yang menuju ke arah rumah Zidan, mereka datang berombong-rombongaan, sambil membawa bensi dan obor, tujuan mereka datang ke tempat itu untuk membakar rumah Zidan.
Kini Zidan juga sedang berusaha secepat mungkin agar dia bisa segera sampai di rumah, rasa khawatirnya semakin merajalela di dalam diri Zidan.
Langkahnya begitu lebar, Zidan tak sedikitpun berhenti untuk istirahat sejenak, bagi Zidan keselamatan bapak dan adiknya adalah hal yang paling utama.
Sekarang baik Zidan maupun 5 orang tadi masih sama-sama berada di perjalanan menuju rumah Zidan.
Mereka berjalan dari arah yang berlawanan.
Rombongan itu memang berjalan kaki untuk masuk kewasan tempat Zidan tinggal, agar tidak ada yang mencurigai gerak-gerik mereka. Sedangkan kendaraan mereka dititipkan pada salah satu rumah mewah disana, sebelum masuk kebagian rumah Zidan yang masih sedikit jauh.
Diam-diam sistem terus memantau orang-orang itu, sistem sedang mencaritahu apa yang akan mereka lakukan, arahnya memang benar menuju rumah Zidan.
(Apa yang akan mereka lakukan di rumah Zidan) sistem belum bisa memberitahu Zidan, karena mereka berlima masih dalam pemantauan sistem.
(Gawat ternyata mereka ingin membakar rumah Zidan, sebenarnya siapa mereka ini?)
Lalu sistem memantau ke tempat lainnya, sistem terus memperjelas situasi saat ini apa yang sedang terjadi..
Ting!
Sampai sistem mengetahui apa yang sudah terjadi, dari awal Zidan didorong ke dalam sungai, sampai bisa bertemu dengan sistem, hingga Zidan membalas Saga dan kedua temannya.
Saga juga yang berada di rumah sakit, sampai pak Kasim yang marah besar dan berniat membalas Zidan, tapi yang mereka tahu Zidan sudah tiada.
Akhirnya pak Kasim memutuskan untuk membalaskan semua ini pada keluarga Zidan, pak Kasim yang tau jika rumah Zidan sangat jelek dan mudah dibakar, pak Kasim akhirnya menyewa orang untuk membakar rumah itu.
5 orang yang saat ini tengah menuju lokasi rumah Zidan adalah orang suruhan pak Kasim, agar 5 orang bayaran itu menghabisi semua orang yang berada di rumah Zidan.
(Gawat mereka sebentar lagi akan segera sampai.) sistem rich, ternyata dapat menditeksi langkah kelima orang itu.
(Zidan ayo lebih cepat, bahaya datang! Ada yang ingin membakar rumah kalian!) peringat sistem.
Baru saja apa yang diingatkan oleh sistem membuat Zidan mengambil 1000 langkah lebih cepat dari sebelumnya, Zidan benar-benar tidak ingin terjadi sesuatu pada mereka semua yang masih tidur di rumah.
Tanpa ada yang tahu saat ini bapak Hajir sedang melakukan dzikir di dalam rumah itu, beliau melakukan dzikir yang sangat khusyuk. Tidak ada sedikitpun kekhawatiran di dalam diri bapak Hajir, saat beliau terus menyebut nama Allah.
Waktu terus bergulir.
Tak terasa 5 orang itu sudah sampai di depan rumah Zidan.
Kala mereka akan melancarkan aksinya, tepat saat Zidan datang. Tidak tau bagaimana caranya Zidan bisa sampai cepat sekali.
Langsung saja Zidan melempar kayu besar pada seorang yang akan membakar rumahnya.
Duk!
Suara itu terdengar begitu kerasa, semua orang menoleh kearah Zidan, sementara orang yang terkena lemparan Zidan tadi sudah pingsan begitu saja, karena kayu cukup besar.
"Serang!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments