#Keluarga Zidan

Bismillah.

Setelah makan malam dengan lauk seadanya, Zidan menghampiri bapaknya. Sampai sekarang bapak Zidan masih saja terus terbatuk.

Kira-kira hampir 1 tahun lebih bapak Zidan sakit batuk-batuk seperti sekarang ini.

"Uhuk….uhuk…uhuk…" batuk bapak Hajir.

"Bapak coba Zidan periksa dulu sakit bapak, siapa tau Zidan bisa obati." ucap Zidan.

"Memangnya kamu bisa Zidan?"

"Insya Allah pak, dicoba dulu, kalau tidak dicoba bukan kita tidak akan tau hasilnya." 

Hanya ada Zidan dan bapaknya yang sedang duduk di ruang sempit rumah mereka, kedua adiknya sudah masuk kamar masing-masing.

Sebenarnya hanya ada 1 kamar di gubuk Zidan. Benar rumah yang Zidan dan keluarnya tempati lebih pas dibilang gubuk ketimbang rumah.

Rumah yang terlihat sangat memperhatikan, atapnya saja terbuat dari pohon bambu yang sudah dikeringkan lebih dulu, jika hujan datang gubuk itu sudah pasti akan bocor, lalu alas dibawahnya tidak menggunakan semen, jangankan untuk lantai, menggunakan semen saja tidak.

Alas rumah Zidan langsung transparan dengan tanah. Pondasinya menggunakan pohon yang sudah sangat tua. Rumah itu sudah berpuluh-puluh tahun tidak pernah direnovasi.

Jangankan merenovasi rumah uang untuk makan sehari-hari saja sangat sulit untuk keluarga Zidan. Ibunya meninggal karena sakit, dibawa ke rumah sakit tidak ada biaya.

Walaupun ada solusi bpjs dari pemerintah di desanya, tapi tetap saja Zidan harus mengeluarkan uang untuk pengobatan ibunya.

Zidan sudah pernah meminjam uang pada tenangnya satu kali, setelah itu tak pernah lagi, tapi belum genap 1 bulan uang itu ditagih, Zidan mau mencari uang dari mana? bahkan sampai ibunya meninggal pun, utang untuk membawa ibunya ke rumah sakit bukan diikhlaskan saja oleh tetangganya, malah semakin berbunga.

Sampai sekarang utang Zidan terus bertambah, mungkin saja sudah berjuta-juta. Setiap minggunya Zidan hanya mampu membayar 100.000 saja.

Membayar 100.000 bukanya membuat utang Zidan semakin berkurang yang ada terus saja bertambah, percumah saja Zidan terus membayar hutang, tapi jika setiap minggu utang itu tidak Zidan bayar akan lebih banyak lagi tagihan dirinya. 

Keluarga Zidan lebih miskin dari yang dipikirkan, walaupun begitu sulit dalam ekonomi, bapak Hajir tidak pernah mengajarkan putra putrinya untuk meminta belas kasihan dari orang lain. Lebih baik banting tulang walaupun gaji tak seberapa daripada harus meminta-minta, bersyukur selama bapak Hajir tanamkan pada anak-anaknya.

Kembali pada Zidan dan bapaknya.

Ting!

(Misi baru dimulai, sembuhkan bapak Zidan, sistem akan memberikan reward yang cukup besar, jika Zidan berhasil menyembuhkan bapak akan mendapatkan reward sebesar 5.000.000.)

Mata Zidan langsung berbinar, tidak dia sangka menyembuhkan bapaknya adalah salah satu misi dari sistem yang sudah terprogram.

"Aku akan menyelesaikan misi ini dengan baik sistem." bisik Zidan dalam benaknya.

(Tapi maaf Zidan ada konsekuensinya jika Zidan gagal dalam misi ini, walaupun Zidan sudah berhasil melewati 2 misi dengan baik, tapi belum tentu misi selanjutnya bisa Zidan selesaikan.)

"Aku yakin sekali sistem insya Allah aku bisa menyembuhkan bapak, dari sakitnya yang sudah lama sekali ini, bapak harus sembuh, jangan beritahu aku konsekuensinya jika aku gagal, karena jika aku tau apa konsekuensinya maka aku malah jadi tidak fokus, nanti yang ada aku hanya memikirkan konsekuensinya saja."

(Sistem begitu salut dengan Zidan)

"Terima kasih sistem, lalu apa yang harus aku lakukan agar bisa menyembuhkan bapak?" tanya Zidan memastikan.

Zidan tau pasti sistem ada solusi untuk masalah ini, sudah misi ketiga berarti sistem akan memberikan dirinya sedikit petunjuk dari misi yang akan dijalani, begitulah informasi yang diberikan sistem pada dirinya beberapa jam lalu. 

(Zidan hanya perlu mencari tanaman yang bisa meredakan panas dalam, dicampur dengan madu murni dan air kelapa muda) jelas sistem pada Zidan.

"Sepertinya memang akan sedikit sulit, aku harus mencari madu murni dimana? Dan rumput alang-alang adanya di tengah-tengah sawah, tidak memungkinkan untuk mencari rumput alang-alang di malam hari begini." pikir Zidan.

"Nak, kamu jadi tidak mau mengobati bapak?" tanya pak Hajir.

Sedari tadi beliau sudah menunggu anaknya itu untuk memeriksa dirinya, tapi yang pak Hajir dapat si Zidan malah sedang melamun.

Sebenarnya Zidan tidak melamun, dia sedang berkomunikasi dengan sistem.

"Jadi bapak, tapi Zidan harus cari rumput alang-alang dulu untuk obatnya." ucap Zidan.

"Yaudah cari besok saja, sekarang sudah malam lebih baik istirahat dulu, uhuk….uhuk…uhuk…." Zidan hanya bisa pasrah..

"Bagaimana ini sistem apakah artinya aku sudah gagal dalam misi ketiga ini?" tanya Zidan memastikan.

(Tidak Zidan kamu masih punya waktu sehari semalam untuk mengobati bapak.)

"Ayo bapak biar Zidan antar ke kamar dulu." ucap Zidan.

1 kamar dibagi menjadi dua bagian di rumah Zidan, 1 kamar untuk adik perempuan dan 1 kamar lagi untuk bapak dan adik laki-lakinya.

Sementara Zidan hanya tidur beralas tikar di luar kamar, kadang adik laki-laki Zidan juga tidur diluar bersama dirinya. Untuk selimut saja Zidan tak mungkin mengenakan selimut tebal, hanya satu sarunglah yang Zidan gunkan, walaupun tak dapat mengusir dingin seluruhnya, setidaknya sudah sedikit menghangatkan dirinya.

Waktu bergulir

Tak terasa subuh sudah datang, Zidan segera melaksanakan shalat lebih dulu, saat Zidan tengah sholat bapak dan adiknya bangun masing-masing.

Selesai melaksanakan shalat subuh Zidan langsung pergi ke sawah untuk mencarikan alang-alang salah satu syarat obat agar bisa menyembuhkan penyakit bapaknya.

Sebelum ke sawah pagi buta sekali tentu Zidan sudah meminta izin lebih dulu pada bapaknya.

Kalau sudah mendapat izin barulah Zidan segera pergi menuju sawah yang lokasinya sedikit jauh dari rumah mereka.

Hanya 1 petak sawahlah harta milik keluarga Zidan yang ada, tapi kadang sawah itu tidak menghasilkan apa-apa, karena tidak cukup uang untuk mengelolanya.

(Zidan semangat sekali) sapan sistem pagi-pagi.

"Tentu saja sistem, demi kesembuhan bapak aku harus semangat tidak boleh malas-malasan." jawab Zidan.

"Bismillah." ucap Zidan sebelum melangkah pergi.

Zidan tak bisa lama-lama berada di sawah, dia juga harus mencari uang untuk makan keluarganya, tidak tau Zidan akan kembali lagi ke tempat kerjanya dulu atau tidak, mengingat anak bosnya yang hampir membuat nyawanya melayang akhirnya Zidan harus berpikir banyak untuk kembali bekerja disana.

Zidan sudah sampai di sawah dia segera turun ke dalam sawah, benar banyak sekali alang-alang di sawah Zidan.

(Zidan ambilan akar alang-alang itu, akarnya yang dapat menyembuhkan sakit bapak)

"Baik sistem terima kasih atas arahan yang sudah sistem berikan, semuanya sangat bermanfaat, aku juga insya Allah bisa menggunakan keahlianku ini untuk membantu mengobati orang lain."

(Jujur aku sangat terharu pada Zidan, sungguh Zidan memiliki hati yang mulia.)

"Terima kasih pujiannya sistem, tapi tolong jangan sering-sering memujiku, aku takut takabur jadinya."

(sistem tidak akan memuji Zidan lagi) 

Terpopuler

Comments

Red Ant

Red Ant

👍☕👍

2023-05-19

0

Hiu Kali

Hiu Kali

sistemnyaa sedikit ..aah sudahlah.. terserah dirimuuh laah thoor... gassss

2023-03-22

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!