#Anggap aku hantu

Zidan dibawa oleh air sungai yang mengalir di bawah air terjun itu, tubuhnya sudah penuh dengan luka, memang sial sekali nasib Zidan, dia tak seberuntung orang-orang yang pernah Zidan jumpai.

Keajaiban benar-benar terjadi, tubuh Zidan terdampar di pinggir sungai kecil yang ternyata sungai itu berada tepat di belakang rumah Zidan.

Ternyata Zidan tak sesial yang dia bayangkan, perlahan sebelum Zidan membuka matanya, sebuah cahaya hijau bersinar terang dari tubuh Zidan.

Cayah itu yang menghampiri tubuh Zidan saat masih terombang-ambing oleh arus sungai.

"Uhuk…uhuk…uhuk…!" Zidan terbatuk.

Perlahan Zidan membuka kedua matanya, sayup-sayup dia melihat batang pohon dari atas kepalanya.

"Au…" Ringsi Zidan saat merasakan kepalanya terasa sakit.

"Astagfirullah, aku ada dimana ini?"

Zidan berusaha bangkit.

Lalu Zidan sadar apa yang sudah terjadi pada dirinya, dia mengingat semua apa yang sudah menyimpannya.

"Alhamdulillah aku masih selamat." Zidan sangat bersyukur.

Zidan merasakan sakit diseluruh tubuhnya, dia tidak tau kalau darah terus mengalir dari pelipis, kaki juga tanganya.

Semua itu akibat terbentur batu-batu besar di sungai dan juga kayu-kayu lancip. Zidan yang sudah tak sanggup berdiri memutuskan untuk merangkak ke tepi sungai yang tak terdapat air lagi.

Untungnya sungai disitu tak berarus dan juga tidak dalam, jadi lebih mudah bagi Zidan untuk menepi.

"Hampir malam." Ucap Zidan terdengar lemah kala melihat sekitar.

"Aku harus segera pulang, pasti bapak dan adik mengkhawatirkanku." Ucap Zidan lemah.

Zidan anak pertama dari 3 bersaudara, dia kini menjadi tulang punggung keluarga, bapaknya sudah tak mampu lagi bekerja, karena sakit-sakitan.

Kedua adiknya masih duduk dibangku sekolah, Adik perempuannya yang bernama Hana, masih duduk dibangku kelas 3 SMP sebentar lagi akan ujian dan Zidan membutuhkan uang banyak untuk biaya sekolah adiknya. Kalau tidak bisa-bisa Hana tak dapat mengikuti ujian nasional.

Sedangkan Rian adik Zidan yang paling kecil masih duduk dibangku SD kelas 5. Ibu Zidan 1 tahun lalu meninggal dunia, karena sering jatuh sakit.

Sungguh lengkap sekali penderitaan yang Zidan alami.

Zidan yang masih berada di bawah pohon tepi sungai berulang kali menghela nafas berat, nafasnya masih tersegal-segal, mungkin Zidan banyak meneguk air sungai.

Zidan merasa tenaganya sudah sedikit bertambah dari sebelumnya memutuskan untuk bangkit, dia harus pergi dari tempat itu sebelum hari semakin gelap.

"Aku harus segera sampai di rumah."

"Tapi tunggu sebentar, aku tidak bisa pulang jika tubuhku penuh luka seperti ini, yang ada aku akan mendapatkan pertanyaan beruntun dari kedua bocil itu dan pastinya bapak juga akan mengintrogasiku." 

"Aku harus menutupi semua luka di tubuhku terlebih dahulu baru aku bisa pulang dengan tenang. Tidak perlu membuat orang rumah mengkhawatirkan diriku." 

Zidan melangkah ke depan sedikit mencair dedaunan yang bisa menghentikan darahnya yang terus mengalir.

Tak lama Zidan melihat sebuah daun berbentuk segitiga. Zidan segera mengambil daun-daun itu, lalu dia gulung menjadi satu dan Zidan remet-remet menggunakan kedua tanganya.

Setelah daun itu hancur, Zidan meletakan tempat di tempat yang terluka.

"Au…" Rintih Zidan saat daun yang sudah dia hancurkan tadi Zidan tempelkan di lukanya.

Rasanya perih sekali, Zidan ingin berteriak sekencang mungkin, tapi dia urungkan. dia harus bisa menahan rasa sakit dan perih mencampur jadi satu, Zidan memberikan setiap lukanya dengan daun-daun yang sudah dia hancurkan tadi.

Setengah jam berlalu barulah Zidan merasa lebih baik dari sebelumnya. Bajunya yang tadi basah kuyup kini sudah kembali kering.

"Selesai." Ucap Zidan.

"Lebih baik sekarang aku pulang, pasti bapak dan adik-adik sangat mengkhawatirkanku." Ujar Zidan.

Zidan kembali melanjutkan perjalanannya. Hari akhirnya sudah gelap, untung Zidan tau daerah disekitar sungai.

Seingat Zidan dia hanya perlu menyusuri sungai agar bisa sampai ke rumahnya, tapi Zidan harus ke hilir bukan ke hulu.

"Susah juga kalau tidak ada penerangan." 

Tiba-tiba Zidan merasa merinding berada di tengah-tengah hutan sendiri. Zidan segera mempercepat langkahnya, agar bisa segera keluar dari hutan yang berdekatan dengan sungai.

Zidan merasa masih susah untuk berjalan, tapi dia sama sekali tidak mengeluh. Saat Zidan menemukan jalan setapak dia kembali bertemu dengan Saga, Anton dan Lion.

Ketiga orang itu memang sengaja pulang lebih akhir, karena ingin meracuni air sungai di tempat itu.

"Apa yang akan mereka lakukan?" tanya Zidan entah pada siapa.

Zidan tak sengaja melihat Saga mengeluarkan sebuah botol yang di dalamnya berisi cairan yang tidak Zidan tau apa itu, Zidan memiliki firasat buruk jika cairan itu berbahaya..

"Aku harus mengambil botol itu sebelum cairan yang di dalam botol tersebut jatuh ke dalam sungai." Ujar Zidan.

Zidan sudah mulai memasang ancang-ancang untuk segera merebut botol dari tangan Saga.

"Satu, dua, tiga, sekarang!" ucap Zidan pada diri sendiri.

Pas sekali aba-aba yang Zidan lakukan, botol yang tadinya berada ditangan Saga, kini sudah berpindah tangan ke tangan Zidan.

"Apa yang kalian lakukan!" sentak Zidan.

Kali ini dia harus berusaha terlihat kuat lebih dulu, walaupun sebenarnya badan Zidan sudah sempoyongan.

"Kau bagaimana bisa selamat!" ucap ketiganya bersama.

"Hahahah, anggap saja aku hantu yang akan mencabut nyawa kalian." Ucap Zidan.

Zidan harus bisa menakut-nakuti ketiganya agar mereka percaya jika dia benar-benar hantu.

"Saga, Lion dia benar-benar hantu Zidan, lihat kakinya tidak nampak di tahan." Ucap Anton sudah mulai ketakutan.

Nyatanya bukan Anton saja yang takut, Saga dan Lion pun sama.

"Lari!" teriak Anton.

Sayangnya Lion dan Saga sudah lari terlebih dahulu.

"Hahaha, aku akan membunuh kalian satu persatu, lalu aku akan memasak kalian untuk makanan para hantu hahah!" teriak Zidan.

Teriakan Zidan itu membuat ketiganya merinding sendiri, apalagi Zidan masih terus menyusul mereka bertiga.

"Jangan lari kalian." Teriak Zidan.

Secepat kilat Zidan sudah ada di depan Saga, Zidan benar-benar seperti hantu, Zidan tidak tau jika tenaganya bertambah dari cahaya yang sempat masuk ke dalam tubuhnya.

"Hantu!" teriak Saga.

Bruk!

Saking kagetnya Saga sampai menabrak Lion yang ada di belakangnya, keduanya pun jatuh secara bersama, disusul Anton yang terpeleset menindihi Lion dan Saga.

"Aduh, badanku remuk semua." Keluh Anton.

"Tapi sebentar kok empuk jatuhnya." bingung Anton.

"Woi, anton kampret! cepat bangun badan gue remuk nih gara-gara lo." Maki Lion.

Saga bahkan mendorong kuat badan Anton.

Bruk!

"Au, sakit." Keluh Anton, saat tubuhnya didorong sangat kuat oleh Saga.

Zidan sudah pergi meninggalkan ketiganya, dia tidak mau penyamarannya diketahui oleh Saga the team.

"Setannya sudah pergi." Ujar Saga.

"Arkh!" teriak Saga saat kepalanya mengeluarkan darah, sementara gigi Lion patah dan hidung Anton sudah berdarah, karena dia jatuh telungkup saat Saga mendoronya tadi.

Terpopuler

Comments

Red Ant

Red Ant

👍☕👍☕👍

2023-05-18

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!