#Kayu bakar

Bismillah.

Angin berembus pelan, menyapa hari yang semakin sore, di atas sana matahari masih bersinar begitu cerah, walaupun waktu sudah menunjukan sore hari, tidak membuat matahari pergi begitu saja.

Sore ini, matahari yang begitu cerah menani Zidan dan sang adik perempuannya, yang baru saja pulang dari bazzar.

Banyak barang-barang yang keduanya bawa, Hana begitu senang. Abangnya membelikan dia tas baru.

Tidak tahu abangnya mendapatkan uang dari mana, tapi bagi Hana asalkan didapat dengan cara yang halal dia masih bisa menerima, lagiipula Hana percaya abangnya tidak mungkin mencuri.

Jika iya, abangnya mau mencuri, kenapa sudah tidak dari dulu saja dilakukan, Hana yakin 100% abangnya tidak akan mungkin melakukan hal tersebut.

"Assalamualaikum." salam Hana dan Zidan bersama.

Kedunya membawa barang-barang yang habis dibeli tadi.

Di dalam rumah Zidan.

"Itu pasti abang sama mbak." ucap Rian.

Anak laki-laki itu langsung berlari keluar rumah, untuk menemui abang dan mbaknya, apalagi Rian mengingat janji abangnya yang akan membelikan dirinya sepatu baru.

"Waalaikumsalam." jawab Rian sambil membuka pintu rumah mereka.

"Mbak Hana, abang Zidan." sapanya sambil tersenyum.

Zidan dan Hana pun menyungging senyum pada adik bungsu mereka, "Ayo masuk." ajak Zidan.

Ketiganya segera masuk ke dalam rumah, lalu Zidan kembali menutup pintu rumah mereka..

Zidan meletakkan semua barang-barang yang mereka beli, di atas meja kayu yang ada di dalam rumah.

Meja kayu itu dibuat sendiri oleh orang tua mereka, setelah itu Zidan masuk ke kamar sebentar, lalu mencari keberadaan bapaknya.

Sayangnya Zidan tidak menemukan dimana bapaknya berada, "Rian, bapak kemana?"

Hanya Rian lah pasti yang tau dimana keberadaan bapak Hajir, karena sedari tadi yang berada di rumah hanya Rian.

Rina yang masih asyik melihat semua barang-barang yang berhasil dibeli oleh mbak dan abangnya, segera menghentikan aktivitasnya, kala mendengar abangnya bertanya.

Rian bangkit, dia melangkah ke arah abangnya yang masih berdiri di ambang pintu menuju dapur.

"Bapak lagi cari kayu bakar bang." jawab Rian.

Dia sudah berdiri di sebalah Zidan, sambil kepalanya menoleh ke dapur, seperti mencari sesuatu, tapi dia hanya melihat sebentar lalu menatap kakaknya yang terlihat kaget.

"Astagfirullah." Zidan memang benar-benar kaget.

Pasalnya bapak mereka baru sajaa sembuh, dari sakit tapi sudah mencari kayu bakar saja. Muka Zidan jadi pucat pasai, dia takut terjadi sesuatu pada bapaknya.

"Kenapa tidak dilarang bapak pergi Rian?"

"Maaf bang, tadi bapak mau bakar singkong, tapi malah kayu bakarnya sudah habis, terus bapak bilang sama Rian mau cari kayu bakar, tadinya Rian halang bang. Tapi kata bapak pergi sebentar nggak akan lama kok." jelas Rian.

Zidan meremas rambutnya kasar, rasa khawatir menyelimuti dirinya, dia takut terjadi apa-apa pada bapaknya.

"Kalina tunggu disini, di rumah aja jangan kemana-mana, ngerti! Abang mau nyusul bapak dulu."

"Iya bang!" jawab keduanya kompak.

"Hana, jaga adik kamu, ingat jangan kemana-mana." pesan Zidan sekali lagi.

"Iya bang!"

Setelah itu Zidan benar-benar pergi menyusul bapaknya yang sedang mencari kayu bakar.

"Ya Allah, semoga tidak terjadi apa-apa pada bapak." doa Zidan.

Kakinya terus melangkah untuk mencari keberadaan bapak di hutan.

Tanpa sepengetahuan Zidan, sistem rich terus memperhatikan Zidan, (Tuan Zidan begitu menyayangi bapak dan adik-adiknya, sistem jadi bangga dan terharu pada tuan Zidan.)

Zidan tidak dapat mendengar apa yang baru saja dikatakan sistem, karena sistem sudah memfilter suaranya, jika sistem tidak ingin Zidan mendengar hal yang seharusnya tidak Zidan dengar..

Entah bagaimana ceritnya sebuah sistem juga sekaan memiliki privasi sendiri, seperti manusia saja.

Zidan terus menyusuri hutan, rasa cemas telihat jelas sekali di wajahnya, sudah masuk lebih dalam lagi ke hutan, tapi Zidan belum menemukan keberadaan bapaknya.

Melihat itu sistem merasa jadi iba sendiri pada Zidan, untungnya Zidan sangat pantang menyerah.

(Tenanglah Zidan, bapak tidak apa-apa, berjalanlah ke barat, bapak sedang mengambil kayu bakar disana.)

Sistem yang tidak bisa melihat Zidan cemas, akhirnya memberitahu keberadaan bapaknya. Langkah Zidan terhenti sejenak mendengar informasi dari sistem.

"Terima kasih sudah memberitahuku sistem." ucap Zidan.

Rasa cemas itu berangsur-angsur menghilang saat mendengar jika bapaknya baik-baik saja.

(Sama-sama Zidan, sistem memang sudah seharusnya menolong Zidan bukan, memang sudah menjadi tugas sistem untuk menolong tuannya.)

Hanya tersenyum yang Zidan lakukan, yah, walaupun dia tidak tahu apakah sistem rich dapat melihat senyumnya atau tidak.

Mengikuti arahan sistem, akhirnya Zidan bertemu dengan bapaknya, terlihat bapak Hajir yang sedang menyusun kayu menjadi satu untuk dibawa pulang ke rumah.

"Bapak, sini Zidan yang bawa kayunya." ucap Zidan segera menghampiri bapaknya.

"Loh, Zidan sudah pulang, bagaimana sudah dapat kerjanya, Nak?"

"Alhamdulillah pak."

"Alhamdullah."

Akhirnya Zidan dan bapaknya segera pulang ke rumah, dengan Zidan yang membawa kayu bakar, hasil carian bapaknya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Brak!

Dilain tempat

Seorang laki-laki paruh baya yang bertubuh gemuk dan wajahnya penuh dengan berewok sendang marah besar.

Anaknya dinyatakan mengalami gagar otak!

"Siapa pelakunya!" teriak pak Kasim.

Sejak pulang dari kemping itu, Saga dilarikan ke rumah sakit, sampai hari ini, Saga masih dirawat di rumah sakit.

"Kalian berdua tau bukan siapa pelakunya? yang sudah membuat Saga jadi seperti ini." tanya pak Kasim dengan tatapan tajam pada kedua teman anaknya.

"Semua ini ulah si miskin itu om!" jawab Lion mengebu-ngebu.

"Benar om! Kita berdua juga baru sembuh, semua ini ulah Zidan!" tambah Anton.

Anton masih ingat betul, jika waktu itu Zidan yang menakuti dirinya.

"Kurang ajar!"

Brak!

"Tidak tau diri memang! Sudah miskin tapi masih saja berualah, awas kau Zidan! Akan ku balas!" maki pak Kasim.

Dia begitu marah besar.

Lion dan Anton mengaruk kepala mereka sendiri, mereka baru saja melupakan satu hal, bukan Zidan sudah mati? belum mereka mengatakan hal itu pada pak Kasim. Pak Kasim malah sudah lebih dulu kembali marah-marah lagi.

"Ada apa?" pak Kasim yang melihat gelagat aneh Lion dan Anton akhirnya bertanya.

Keduanya saling pandang sejenak, "Hanya saja Zidan sudah mati om, dia hanyut di kali, waktu kita naik gunung." jelas Lion walaupun ragu untuk mengatakan hal itu.

Hah!

"Lalu, siapa yang sudah membuat Saga seperti ini? Jika si miskin itu sudah mati?" marah Kasim.

Bahkan kemarahannya semakin besar, "Hantu Zidan om!" jawab Lion dan Anton kompak.

"Sudah! Tidak bisa balas pada Zidan, maka aku bisa membalaskan pada keluarga si miskin itu, tunggu saja Zidan! Keluarga kalian akan sangat menderita!"

Terpopuler

Comments

Yoni Hartati

Yoni Hartati

udah jahat sm zidan masih aja mau berbuat jahat. semoga kena karma

2023-05-03

0

nda bae nda

nda bae nda

lnjut donk thor

2023-03-27

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!