Chapter 5.1

Bumi terasa bergetar hebat, kumpulan hewan-hewan itu menerjang dari timur. Beberapa elk yang bertubuh besar mampu merobohkan pepohonan, pagar pembatas, dan juga pondok penambang. Hewan yang lebih kecil darinya tak mampu menyebabkan kerusakan seperti elk ini, namun mereka lebih banyak dan lebih gila dalam berlari menerjang penduduk desa yang tak beruntung.

Hendak berlari ke mana, pondok penambang saja tak mampu membendung amukan hewan-hewan ini. Apa yang harus dilakukan sekarang. Leclerc menghunuskan pisau kecil, Pak Tua Hugh berpose siap melayangkan pukulan menggunakan tongkat kayu itu. Meskipun begitu, mereka berdua terlihat bergetar, takut jika kalau jatuh terinjak-injak amukan itu. Sementara Roebart terjatuh terbelalak menyaksikan amukan semakin mendekat.

"Deloi sharjalvii!"

Berderak-derak suara tumbukan hewan-hewan itu. Seketika langit terlihat menghitam di pandangan Roebart. Terganti semua itu dengan ribuan suluh akar tanaman rambat yang membentuk kubah pelindung. Seseorang kesatria ibu kota mengulurkan bantuan tangan kepada Roebart.

"Aku datang tepat waktu," ucapnya pada Roebart. "Bangkitlah." Suaranya masih tertutupi oleh tumbukan dari amukan hewan-hewan di luar kubah pelindung.

"Ser Arlyn?" Pak Tua Hugh membuka mata lebar.

"Kau kesatria tadi pagi di kedai?" timpal Leclerc

"Senang bertemu kalian, meski keadaan sangat tidak mendukung."

Sementara Roebart terbingung-bingung menyaksikan keanehan ini. Muncul kesatria entah dari mana asalnya membantu Roebart bangkit. Dan dia datang menciptakan kubah pelindung. Bukan dia sesungguhnya, tapi Tur'gor yang ada di pusat kubah. Si faun melambaikan tangan kepada Roebart.

"Halo Roebart, kita berjumpa lagi,"

"Kalian baik-baik saja?" tanya Ser Arlyn menyela.

"Baik-baik saja, semua berkat bantuanmu tuan faun," ucap Pak Tua Hugh.

"Aku tak pernah sebaik ini," tambah Leclerc

"Kakak!" benar, tujuan Roebart sesungguhnya adalah meminta bantuan untuk menyelamatkan Estella. "Kakak dalam bahaya!" teriaknya lagi membuat semua perhatian tertuju padanya.

*****

Lari lagi dan lagi, tiada waktu untuk berhenti. Di belakang, di samping kiri dan kanan, Makhluk Hitam itu masih mengejar. Salah satu yang di samping kanan melakukan Tindakan tak terduga. Dia melompat ke depan Estella. Si Jahe mengerem, yang ada malah dia tergelincir jatuh menelungkup miring ke arah samping.

Bercucuran jatuh air liur dari makhluk hitam ini. Wajah-wajah tengkorak di balik aura hitam ini menatap lekat-lekat Estella. Estella hanya dapat pasrah mendapati takdirnya di depan mata. Mujur sekali si Jahe, tepat ketika Makhluk Hitam yang depannya hendak melayangkan serangan, dari arah belakang muncul bantuan tak terduga.

"Merah, kemari!"

Tur'gor datang dengan lincahnya. Berlari secepat angin menumbuk makhluk hitam depan Estella ini, saat itu si Faun tengah dalam bentuk kambing, oleh karenanya efek tumbukannya luar biasa kuat.

Kejadian selanjutnya berlalu sekejap mata, Tur'gor kemudian bertransformasi lagi menjadi faun ketika selesai melempar makhluk hitam yang depan. Tongkat rotan miliknya berputar cepat di udara, memukul bagian kepala dan dada makhluk hitam itu. Mereka menggerung marah dan siap melayangkan serangan balasan, tapi Estella dengan cepat menusuk kaki makhluk hitam yang di samping kanan. Sementara Tur'gor menendang terbang yang lainnya.

Sudah lagi sang Faun bertransformasi menjadi kambing, menendang makhluk hitam yang masih bisa berdiri. Dengan elegannya kambing ini berdiri di depan Estella. Wajah lucu sang faun seakan ingin berkata, "cepat naik!". Syukurnya Estella paham arti wajah si faun. Estella melompat naik ke punggung sang faun.

Tiada waktu menunggu, di belakang, tepatnya di langit timur, fenomena langit terbelah terlihat semakin mendekat. Benar, Kabut Mimpi Buruk yang menutupi tempat ini berjuta-juta tahun lalu itu tengah bergerak cepat ke barat. Laksana tsunami bermil-mil tingginya siap memakan semua kehidupan di bawah. Yang terlintas pertama dalam benak Estella adalah keluarganya.

"Roebart dan yang lain bagaimana keadaannya?"

"Aman, mereka berada di desa," jawab Tur'gor, suaranya sangat lucu karena dia berkata dalam wujud kambing gunung. Agak terdengar menggerung suaranya meski sebenarnya tidak.

Estella dapat melepaskan napas lega. Si jahe rupanya lebih lega mendengar keluarganya aman dari pada dia sendiri yang masih dalam keadaan diambang maut. Malapetaka Nomor 1 Dunia tengah bergerak cepat ke barat.

Tentunya tak seru kalau hanya bahaya dari Kabut Mimpi Buruk, maka di belakang sana, entah ulah makhluk hitam itu lagi atau yang lain, beterbangan melesat bola-bola api biru.

Tangan berbalut perban baju itu menarik tanduk Tur'gor. "Awas, di samping!" teriak Estella. Sementara sang pemilik tanduk mengikuti saja arahan Estella.

Dentuman saling mengikuti terdengar di samping kiri dan kanan Estella pengendara kambing. Bola-bola biru terbang membakar apa pun yang disentuhnya, pohon-pohon mati maupun tanah yang sudah hangus. Estella berusaha menunduk, menghindari serangan beruntun itu.

"Magi, mereka bisa melakukan teknik Magi?" tanya Tur'gor pada diri sendiri.

"Persetan dengan mereka," lirih Estella. Dia mengangkat kepalanya. "Tak bisa kah lebih cepat? Kabutnya, kabut itu semakin dekat"

Estella melirik ke balik bahunya, dia baru menyadari kecepatan kabut itu lebih cepat dari yang diduganya. Bagaimana tidak, pemandangan langit terbelah yang jauh bermil-mil di belakang sudah terlihat di depan mata, menutup pemandangan hutan mati di belakang dan para makhluk hitam kelam itu.

"Pegang yang erat!" seru Tur'gor

Cepat sekali gerakannya, Tur'gor menukik di depan, berbelok ke samping dan setengah memutari pohon besar yang layu. Tanah pijak sudah perlahan kembali hidup dan udara menekan itu perlahan berasa lebih ringan. Tanda-tanda mereka sudah hampir sampai di tepi timur sungai Rhinè.

Tur'gor berlari menuju batu besar dekat bibir timur sungai. Terbang melompatlah ia dari sana dan kedua kaki depannya kemudian mendarat pertama di tepi barat sungai. Sreet! Tur'gor mengerem, kakinya bergesek dengan tanah berbatu. Percikan api kecil seperti muncul dari kakinya yang depan kemudian hilang lagi tatkala dia kembali berlari cepat.

Bertepatan dengan itu semua, bola api biru meledak di depan. Bara apinya membakar rerumputan hijau. Tur'gor berlari menukik menghindari ledakannya. Sementara Estella di atas punggung sang faun segera menunduk kembali. Gawatnya, mentari sore mulai pudar, sinar matahari ini sudah tertutup oleh bayangan dari dinding hitam di belakang—Kabut Mimpi Buruk.

Estella sudah sampai di pondok para penambang. Pondok rusak yang menyongsong di antara pepohonan ek. Lebih tepatnya pondok rusak bak diterpa angin topan dan kemudian diinjak-injak oleh rombongan bison yang mengamuk.

Belum selesai, kengerian ini belum selesai sampai di sini. Tepat setelah melewati batas awal Hutan Ujung Timur, disambutlah di depan oleh puluhan atau bahkan ratusan mayat hewan-hewan liar Hutan Ujung Timur yang mengamuk menyerang desa Riverrun. Mereka terbaring tak berdaya, di atas hancurnya kehidupan di sebelah timur dinding palisade desa yang luluh lantak oleh kekacauan mereka sendiri.

"Kejadian apa lagi sekarang?" gerutu Estella memandangi kekacauan yang tengah dia lewati ini.

"Hewan-hewan penghuni hutan menerjang dengan panik ke arah barat, mereka merobohkan dan menghancurkan bagian timur desa," jelas Tur'gor cepat.

Walau si Faun tidak menjelaskan, Estella sudah dapat sedikit membayangkan apa yang sebenarnya terjadi. Masih yang lebih dikhawatirkan Estella adalah Kabut Mimpi Buruk yang berada di belakang sana dan makhluk aneh lagi yang terbang keluar dari kabut hitam itu. Mereka menggerung marah sama marahnya dengan makhluk hitam pekat sebelumnya.

"Apa yang terjadi di belakang sana?" tanya Tur'gor balik.

"Buruk, sangat buruk," ucap Estella laun. Terbelalak Estella melihat yang terjadi di belakang.

Tak perlu Estella menjelaskan keadaan genting di belakang karena makhluk bersayap itu terbang melenting di atas langit-langit yang mulai gelap di depan sana. Gargoyle, ya berjibun gargoyle terbang memenuhi langit di atas sana seperti burung-burung yang hendak migrasi.

Gargoyle, itulah sebutan untuk mereka. Sedikit berbeda Gargoyle ini, dengan di dunia kita, karena di sini mereka memiliki garis merah di sekujur tubuh. Garis merah ini berdenyut hidup. Lebih baik menyebutnya Anak-anak Hera karena ciri mereka mirip seperti putra-putri dewi Avya yang terkontaminasi terlalu banyak aether.

Estella menunduk menghindar, seekor gargoyle terbang melintas di atas kepalanya. Kali ini hampir mencengkeram bahu Estella, mujurnya lagi Tur'gor berbelok menyebabkan gargoyle tadi hanya mencengkeram udara kosong.

"Tidak bisa kah lebih cepat?"

"Ini sudah cepat," seru Tur'gor balik.

Ada satu gargoyle cerdas di sini. Ia terbang melenting dari langit yang jauh di atas sana dan mendaratkan dirinya dengan heboh di depan jalan setapak. Wajahnya yang serba retak dan bergaris-garis merah itu menganga mengeluarkan dengung suara yang menusuk telinga. Estella hampir terjatuh dibuatnya karena harus menutup telinga selagi Tur'gor berbelok cepat dan melompat ke sana kemari menghindari mayat-mayat hewan.

Tur'gor terpaksa memutar jalan. Dia mengubah jalur dari jalan setapak itu ke samping kiri, melompati pagar pembatas jalan. Terbang melompat dari jalan setapak, mendarat di punggung salah satu gargoyle lalu ke punggung gargoyle lain dan terakhir baru mendarat di tanah. Jantung Estella terasa mau lepas tatkala semua itu terjadi.

Gargoyle itu marah tak terbendung oleh karena makan sore mereka diganggu. Mereka mengalihkan pandangannya dari mayat-mayat hewan yang bertebaran itu ke arah Estella yang tengah menunggangi kambing—Tur'gor dalam bentuk kambing.

Sialnya di saat seperti ini malah muncul gargoyle yang lebih besar dan ganas lagi. Terbang dari langit gelap kabut di belakang sana, dan mendarat cepat di depan Tur'gor. Siluetnya muncul dari asap tanah yang diremukkan. Wajahnya yang bertanduk terlihat jelas setelah bongkahan-bongkahan tanah mendarat kembali dan menciptakan debam suara yang bersahutan. Dia sepertinya gargoyle pemimpin.

Terlalu cepat, Tur'gor tak sempat menghindar. Ia berguling jatuh sedikit dramatis, tubuhnya berputar cepat sembari cepat juga berubah wujud ke faun lagi. Kakinya yang ditekuk itu mendarat pertama di tanah dan kemudian tongkat rotannya. Yang keadaannya mengkhawatirkan adalah Estella.

Si jahe berguling jatuh, tubuhnya mendarat pertama, menggesek ke tanah berulang kali sebelum akhirnya berhenti berputar. Lebih sialnya lagi, pendaratannya berhenti persis di depan gargoyle pemimpin. Tampang Estella yang berantakan menjadi lebih berantakan lagi.

"Deloi sharjalvii!!"

Semburat Cahaya keemasan muncul dari pangkal tongkat Tur'gor, dan selanjutnya berkelebat muncul dari tanah sebuah tanaman rambat berduri, berputar cepat mengikat kaki tangan dan juga sayap para gargoyle di depan sana. Butuh lebih banyak tanaman rambat untuk mengikat gargoyle pemimpin. Tatkala demikian, udara berdesing, anak panah terbang menembus udara dan mengenai sayap para gargoyle juga beberapa bagian tubuh lain. Gargoyle pemimpin menggerung marah.

"Merah kau baik-baik saja?" Tur'gor menarik Estella mundur.

Terpopuler

Comments

Tanata✨

Tanata✨

Ngeri sih,😰

2023-09-10

1

Tanata✨

Tanata✨

makin ke sini makin detail, keren kak

2023-09-10

1

Tanata✨

Tanata✨

Ingat, utamakan diri sendiri nona

2023-09-10

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!