Chapter 2.5

"Kenapa lama?" tanya Roebart pada Estella, suaranya memecahkan hening panjang sebelumnya.

"Aku datang sekarang," jawab Estella singkat.

Panas perapian menyeruak keluar, menghangatkan ruang tengah. Di samping sana, telah menunggu anak laki-laki duduk di kursi panjang.

Si penyihir duduk di kursi kecil sebrang yang lain. Membawakan buku bersampul cokelat yang diberikan oleh Leclerc yang tengah membereskan rak sana.

"Kita sampai mana terakhir kali?" Estella menyandarkan Nyonya Cathrine di kusi dekat perapian. Dia lalu mulai menyuapi bubuk kentang pada Nyonya Cathrine.

"Halmar memohon pada hutan kegelapan," ucap Roebart berseru-seru, senyumnya lugu terlihat.

Halaman demi halaman dibuka Estella, menuju halaman terakhir yang dia bacakan. "Lalu, Halmar pun meminta, "Bunuhlah semua yang terikat dengan rancana itu!

Genderang drum terdengar menyelimuti hutan. Bergema saling berirama dengan pergerakan ranting-ranting pohon mati di sekitar para serdadu Sang Raja. Membelit, melingkari sekujur tubuh para prajurit malang yang kini tinggal bersisa nama saja." Estella berhenti sejenak, di sebrang sana mata Roebart terlihat berbinar-binar, menantikan lanjutan ceritanya.

"Penuh darah mewarnai sekujur tubuh pria serba salah itu, matanya bergetar ketakutan, tak menyangka apa yang dia lihat di depannya. Tivr, dewa kegelapan tepat berdiri dihadapannya. 'Nah, sekarang apa yang ingin kau bayarkan?' tanya si dewa kegelapan,"

Roebart di kursi sebrang mengacungkan tangannya, hendak bertanya "Ada yang aneh, kenapa si Tivr sebelumnya bisa berbicara pada Halmar, padahal dia tidak ada dimana-mana,"

"Pertanyaan bagus," ucap Estella cepat. Dia berhenti sejenak karena harus sembari menyuapi Nyonya Cathrine bubur kentang. "Dia adalah dewa kegelapan, tempatnya adalah di kegelapan, dan tau dimana dia sebenarnya berada?"

Roebart bersungut-sungut, berpikir sejenak, beberapa kali dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sementara Estella sibuk menikmati wajah adiknya itu kebingungan, sembari lagi dia menyuapi Nyonya Cathrine bubur kentang. Dan Leclerc mendengarkan cerita ini sambil menyapu sudut lain ruangan.

"Perlu bantuan?" tanya Estella menggoda.

"Tunggu, aku masih bisa,"

"Aku menunggu,"

Lama berselang di ruang tengah itu, terdengar sedikit kelontak roda kereta kuda yang melewat jalan setapak dekat rumah itu.

"Di sela-sela pepohonan yang tak tersinari matahari?"

Estella menggeleng, dia lalu menyuapi satu sendok terakhir bubur kentang itu.

"Urghh ..." Roebart geram jawabannya salah, dia berpikir lagi dan lagi hingga akhirnya menjawab lantang, "Di hati Halmar, ada kegelapan mendalam di hatinya, Tivr berada disana selama ini!"

"Benar sekali,"

Tepuk tangan meriah menghiasi ruangan itu, hilir mudik kemudian hilang waktu Estella menyuapi satu sendok terakhir bubur kentang itu pada Nyonya Cathrine.

Di sisi lain, Nyonya Cathrine hanya terdiam membisu, mengunyah makan siangnya, dan menatap hampa lantai kayu reot lusuh ruang tengah.

Kelotak roda terdengar lagi dari luar sana, berirama lalu hilang lagi tak lama kemudian. Membuat lengang kembali suasana di ruang tengah. Bertepatan pula Leclerc selesai membersikan ruang tengah.

"Ayah kemana? Kenapa dia meninggalkan kita disini, meninggalkan ibu dalam kondisi sakit-sakitan ini?"

"Sebentar lagi, sebentar lagi dia pulang,"

"Benarkah? Tidak bohong?"

"Tentu saja,"

"Aku sudah dengar berulang kali? Bernakah?"

Estella mengangguk sebagai jawabannya, namun murung terlihat wajah Roebart. Estella memeluknya lalu menambahkan, "Benar, lagi pula dia sangat menyayangi kita," ucap Estella sambil tersenyum hangat. "Kecuali aku," ucap Estella dalam hati.

Semua yang terjadi menimpa Nyonya Cathrine adalah salah Estella. Ini salah dia, karena seperti inilah jadinya jika bersama si penyihir kegelapan, hidup tanpa jiwa. Tidak ada yang mampu menyembuhkan penyakit aneh ini. Segala cara sudah Estella lakukan, membuat ramuan, membeli ramuan paling manjur di Kekaisaran, pergi ke tabib berobat dan semua tidak membuahkan hasil. Yang ada malah memperparah keadaan Nyonya Cathrine dan menghabiskan banyak uang.

Mungkin ada satu cara bagaimana memutuskan kutukan bahwa Estella adalah penyihir pembawa sial dan malapetaka. Buku kematian, ya itulah yang Estella butuhkan seperti apa yang Eru katakan selalu. Buku yang mampu mengubah takdir jika benar apa yang dikatakan Eru pada Estella saat di Malam Bulan Merah. Tinggal menunggu waktu si penyihir merah membuka kembali buku bersampul hijau tua tersebut. Esok mungkin waktunya si jahe menggunakan buku terkutuk itu, dan awal mula kehancuran mulai didengungkan.

Di sudut terpencil ruang tengah, di rak kayu mahogany paling bawah, sebuah cahaya merah kelabu muncul remang-remang dari sebuah buku paling terkutuk disana. Cahaya itu lalu hilang ketika semua penghuni rumah sudah tertidur. Sudah lama menanti dirinya akan pengguna baru Buku Kematian.

*****

Di bawah langit yang sama, di tempat nun jauh di belahan benua lain dararan ini, Tuor menatap lekat-lekat peta dataran ini. Mulai dari daerah paling barat, kepulauan Mariner seberang benua utama, dan daerah utara sana di mana semua peperangan masih terjadi, semua tersinari remang oleh cahaya lilin yang berada di tengah meja. Mata Tuor berhenti di daerah timur sana di peta. Teritorial Gelap, tulisan itu terus berputar dalam pikiran Tuor. Di saat yang tepat, berderit terdengar pintu terbuka lebar.

"Apa yang membawa Anda kemari Yang Mulia?" Tuor menunduk hormat.

"Ku lihat kekalutan selalu dalam hatimu Master Tuor,"

"lima tahun lalu, hilang sudah tujuh saudara seperjuangan kita," kata Tuor pelan. "Bagaimana bisa aku diam tanpa menderita?"

"Pengorbanan mereka tidak sia-sia, aku bisa jamin itu,"

Yang Mulia berjalan menuju tengah ruangan, berdiri di sebrang meja yang di atasnya terdapat peta dataran ini. Postur tubuhnya seperti biasa, tegap sambil beristirahat menyimpan tangan di belakang. Matanya tidak pernah salah menilai.

"Untuk apa mereka mengorbankan diri pada kekaisaran, semua perang ini hanyalah masalah internal mereka, banyak yang harus dilakukan dari pada menolong Kekaisaran, dan sekarang mulai lagi masalah baru yaitu hilangnya buku kematian,"

"Kau belum mengerti, dunia harus seimbang, dan kita tidak mampu melakukannya tanpa bantuan Kekaisaran. Masalah utama dunia sekarang bukan lah pada hilangnya buku paling terkutuk,"

"Ya," tangkas Tuor setengah tak acuh, berusaha sependapat dengan Yang Mulia. "Lalu apa tujuan kedatangan Anda kemari Yang Mulia? Masalah apa yang sebenarnya kita hadapi?"

"Suara genderang perang sudah didengungkan, para penempa mulai memukul dan menempa senjata besi dan para kesatria mulai mengenakan zirah besi mereka. Pada dentang berikutnya, para wanita dan anak-anak mulai menjerit ketakutan mereka, dan kobar api mulai mengisi langit-langit dataran ini, tidak ada yang mampu mengalahkannya," tutur Yang Mulia.

Perkataan serba rumit Yang Mulia tak sanggup dicerna oleh Tuor, salah satu magus terbaik di dataran ini, terlalu rumit sampai-sampai Tuor menurunkan harga dirinya sendiri agar lebih dijelaskan maksud dari perkataan pemimpin The Watcher itu, "Saya tidak mengerti maksud Anda Yang Mulia,"

"Aku tidak memintamu memahami apa perkataanku tadi," jelasnya yang semakin membuat bingung Tuor akan kata-kata tadi. "Sederhananya, dunia akan dilanda kehancuran, dan semua sudah dimulai, genderang pertama sudah didengungkan. Aku sudah mendengarnya, walau terlambat,"

Sebelum Yang Mulia melanjutkan perkataannya, Tuor sedikit memahami arti kalimat rumit itu. Tuor memutar bola matanya, lalu berkata tepat ketika sang pemimpin mengambil salah satu miniatur istana di atas peta, "Genderang pertama?"

"Perang saudara yang melanda di Kekaisaran, menghancurkan hampir setengah dari otoritas keluarga Kekaisaran dan meruntuhkan salah satu Keluarga Pendiri, Keluarga Rosewell, itulah saat pertama dunia mulai runtuh, dan sekarang gendrang kedua akan segera didengungkan,"

"Memang sangat tidak diduga," jawab Tuor singkat. "Tapi Yang Mulia, apa yang membuatmu meramalkan semua kehancuran ini? Sejak dulu dunia memang sudah kacau dan tugas kita lah yang memperbaikinya,"

"Aku sendiri tidak tahu, tapi aku yakin jauh di dalam kegelapan dunia, Sang Kelam mulai bangkit,"

"Sang Kelam." Tuor menghela napas sejenak, "Nama paling menakutkan di dunia ini,"

"Dan dia mulai kembali, aku bisa merasakan keganjilan aliran kehidupan di dunia mulai bergejolak, aliran Ether mulai terganggu,"

"Seperti yang sebelumnya terjadi di utara sana kah Yang Mulia--"

"Master Tuor, kau berbincang dengan siapa?" tanya Moraine di mulut pintu. Wajahnya setengah berbayang oleh karena cahaya yang datang hanya dari satu sisi.

"Moraine,"

Tuor menyaksikan perlahan siluet sang pemimpin the Watcher memudar dan seketika hilang. Pesan Yang Mulia waktu itu masih belum dapat dipahami dengan jelas oleh Tuor. Pesan sederhana mengenai kegelapan yang akan kembali melanda dataran, dan Tuor menyadari ini terlambat. Bahwa sanya kehancuran dunia adalah karena ramalan kuno bukan karena Buku Kematian. Ya, ramalan itu memang terjadi, 'Sang Kegelapan dan Tuan Putri yang Buta'.

Terpopuler

Comments

Ayano

Ayano

Gaya penulisan Ripley mirip kayak author yang karyanya juga aku ikutin
The Last Elementis
Mirip hampir beberapa part

Menakjubkan

2023-08-24

1

Ayano

Ayano

Kayak begini maksudku
Berasa kayak baca narasi manga atau novel juga

2023-08-24

1

Dr. Rin

Dr. Rin

Masih belum tau tentang alasan terjadinya civil war ini. mungkin bakal ada flashback atw penjelasannya lbih nanti yak?

2023-05-28

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!