Chapter 2.2

Tepat ketika lelaki itu selesai berkata, sebuah pukulan mengenai wajahnya. Charlotte dengan sekuat tenaga melayangkan pukulan pada wajah laki-laki itu.

"Tarik kembali ucapanmu!"

"Kaulah yang harus menarik ucapanmu!"

Kemudian lelaki itu memberikan pukulan keras ke wajah Charlotte. Pukulan itu berhasil ditangkis Charlotte, tapi pukulan selanjutnya tepat mengenai perutnya dengan keras. Tak mampu menahan sakit, Charlotte terjatuh ke tanah, menelungkup miring ke arah samping.

"Ini semua gara-garamu!" teriak lelaki itu yang lalu diikuti tendangannya ke wajah Charlotte.

Hidung Charlotte mengeluarkan darah. Bukannya membantu, yang lain malah ikut mengeroyoki putri tanpa mahkota itu.

"Benar semua ini gara-garamu!"

"Kau hanyalah pembawa sial!"

Lelaki yang memulai pertama berteriak sekeras-kerasnya, "Gara-garamu ayahku mati!"

Kejadian itu terjadi di siang bolong, seharusnya ada yang menyaksikan ini semua dan berusaha melerai. Bukan itu yang sebenarnya terjadi. Penjaga yang kebetulan berada dekat di antara ladang itu hanya terdiam membisu. Begitu juga dengan saksi mata yang lain, tidak ada satu pun yang berusaha membantunya. Bahkan Bianka pun demikian, menjadi saksi bisu kejadian ini. Mereka semua hanya terdiam menyaksikan dengan mata yang penuh rasa takut. Takut akan petaka jika saja mereka berusaha melakukan kontak dengan putri tanpa mahkota itu.

Pandangan Charlotte semakin membuyar, rambut merah halusnya menjadi benang kusut.

"Bohong, ini semua pasti bohong," guman Charlotte dalam hati.

****************

Sudah lima tahun berlalu semenjak keruntuhan keluarga Rosewell. Senyuman orang-orang mulai terbentuk kembali, tak perlu lagi mereka mendapati berita pemakaman salah satu anggota keluarga. Kedamaian sudah kembali pada wilayah Kekaisaran. Meski peperangan masih membayangi wilayah utara Kekaisaran.

"Hey awas, ada magus kegelapan!" teriak seorang anak lelaki berambut pirang bergelombang, sambil berlari dia.

"Lari!" teriak salah seorang anak lain, teman anak lelaki pirang, sembari menunjuk-nunjuk ke arah bocah laki-laki dengan jubah hitam itu.

Tubuhnya yang kecil bulat nan tebal layaknya ikan buntal, bocah laki-laki itu berperan seperti magus jadi-jadian. Berlarian menghampiri anak-anak lainnya sambil memegang pedang kayu. Sedikit tersaruk-saruk tapi tetap bangkit lagi ia dan mengejar yang lain. Mereka semua saling mengumpat, juga saling bertukar tawa. Walaupun memiliki fisik yang selalu saja dicaci, anak lelaki itu tetap dapat tersenyum lebar. Ikut bermain meski hanya menjadi seorang penyihir. Sebuah kebahagiaan sederhana yang tak mampu dimiliki Estella.

Bocah laki-laki invalid tadi terguling jatuh, tubuhnya berputar di atas tanah. Menggelinding layaknya kayu gelondong yang menuruni bukit. Lalu—

"Bagaimana lanjutannya?" tanya Roebart girang, senyuman itu menyadarkan Estella dari lamunannya.

"Umm.... Sebentar," ucap Estella sembari membalikkan halaman buku. Estella memulai lagi pada bagian dongeng yang terputus,"Halmar berlari ketakutan menuju kegelapan hutan, di belakang serdadu kiriman Sang Raja sudah semakin mendekati. Semakin dekat dan dekat mereka mengejar. Sialnya Halmar tergelincir jatuh, dan tertangkap. beliau memohon dan memohon tapi sia-sia karena para serdadu tidak dibayar untuk mendengarkannya. Bilah pedang sudah menghunus di depan leher pria serba salah itu. Namun seketika Hutan kegelapan bersua padanya 'Memohonlah padaku maka akan aku kabulkan seluruh permintaanmu'. Di antara hidup dan mati, Halmar memilih meminta pada hutan kegelapan." Estella berhenti sejenak. "Lalu," ucap Estella menggoda disertai mata bak rubi miliknya yang bersinar terang.

Di kursi seberang, Roebart menatap wajah Estella penuh penasaran. Kedua tangannya dilipat di atas meja, mata anak lelaki itu berbinar penasaran.

"Lalu makanannya menjadi dingin." Estella menutup buku itu sambil arah matanya tertuju ke sepiring salmon bakar di atas meja.

Wajah Roebart memerah, lekuk senyumnya berubah jadi terbalik ke bawah. Roebart menyambar sepiring salmon itu, dilahapnya makan paginya yang sudah jadi dingin. Terlalu cepat dia, sampai membuat Estella di kursi seberang perlu mengingatkannya agar jangan terlalu cepat nanti tersedak. Roebart bersungut-sungut.

Ruang tengah itu terasa lengang. Rentetan barang pecah belah menghiasi sudut ujung ruangan, di atas rak kayu mahogani. Dari jauh terlihat seperti piala, berkilauan memantulkan cahaya api perapian. Estella menaruh buku dongeng itu di rak paling bawah, di antara buku-buku lainnya.

"Habiskan dulu," ucap Estella, menatap ke arah Roebart yang terlihat di wajahnya seakan mau mengatakan sesuatu namun tak jadi karena mulutnya masih penuh.

"Sudah mau pergi lagi?" tanya Roebart ketika mulutnya sudah kosong.

"Aku tak mau membuat masalah dengan Kunesh karena sudah berkali-kali terlambat." Estella meraih jubah cokelat yang tergantung di dinding. Tak lupa juga belati perak mengkilat dengan ukiran huruf kuno. Estella berbalik menatap Roebart sembari merapikan rambut merahnya, "Kalau tidak, bagaimana aku dapat membacakanmu dongeng dan memasakkan salmon bakar untukmu?" Estella melanjutkan setelah melihat wajah Roebart yang belum puas dengan jawabannya yang pertama.

"Janji tidak akan telat?" tanya Roebart kembali setelah dia selesai mengunyah salmon itu.

"Yang Mulia bisa pegang kata-kataku," Estella berkata sambil menunduk hormat.

Wajah Roebart yang murung menjadi bersinar kembali, memberikan senyuman lugu.

"Aku janji," ucap Estella dengan senyuman hangat balik. Dia mengelus kepala Roebart, memandang anak lelaki itu dengan penuh harap namun kembali menatap dengan mata hampa sejenak ketika pemandangan anak-anak tadi yang terlihat dari jendela belakang Roebart.

Anak yang menjadi magus kegelapan itu merengek, kakinya terkilir. Anak-anak lain bergerombol mereka satu persatu mengerubunginya. Berusaha satu-satu membantunya bangkit kembali.

Roebart menatap heran.

"Aku titip Ibu padamu ya, kesatria fajar," kata Estella segera, tidak memberikan kesempatan lawan bicaranya memulai.

Gemertak kayu perapian menggantikan kekosongan dari riuh suara anak-anak yang tengah bermain di luar sana. Pintu berdecit terdengar melanjutkan.

"Jangan lupa—"

"Beri Ibu obat saat tengah hari nanti,"

"Dan?"

"Kunci pintu dan jendela rapat-rapat," jawab Roebart lantang dari meja makan sambil menyaksikan sosok Estella hilang dari balik pintu.

Di luar, angin menerpa wajah Estella dengan lembut. Sang mentari pagi menyapa Estella dengan ramah dari kejauhan. Sinarnya merambat hangat di pagi ini, berbeda jauh dengan sambutan para penduduk desa. Anak-anak yang tadi riang bermain kini lengang. Dengan cepat mereka melesat bersembunyi di balik pohon, batu besar, atau bahkan kembali ke rumah asal mereka. Diintip oleh mereka dari balik persembunyian masing-masing, seorang wanita berambut merah diikat seperti bunga dan mata merahnya bak rubi yang menatap tajam semua pergerakan mereka.

Merasa tak enak, Estella menarik tudung jubahnya, menutup sebagian kepalanya. Tak ada yang perlu dipikirkannya, teruslah berjalan santai menuju pusat desa. Itulah yang biasa Estella lakukan di hari-hari sebelumnya hingga kini.

Bisa dibilang Estella sudah kebal akan perlakuan "ramah" penduduk desa ini. Bahkan menurutnya lebih baik seperti ini. Dari pada terjadi hal seperti waktu itu, Estella disalahkan orang-orang karena kehadirannya di Menara Pak Ketua menyebabkan menara keramat pusat Riverrun itu terbakar. Selalu Estella yang disalahkan baik hal sekecil apa pun karena bagi orang-orang, gadis rambut merah itu hanyalah pembawa petaka, seorang penyihir. Setidaknya dengan menghindari penduduk desa, semua menjadi damai, pikir Estella.

Setiap hari Estella berjalan di atas jalan setapak, orang-orang yang di kejauhan sudah mulai berlarian sembunyi di balik papan lusuh rumah-rumah mereka seketika mereka melihatnya berjalan di bawah langit desa Riverrun. Yang tak beruntung berpas-pasan dengannya di jalan, langsunglah menyingkir menuju tembok terdekat, merapatkan tubuhnya ke dinding sambil berjinjit. "Penyihir," bisik mereka dari kejauhan.

Jiwa-jiwa yang berani berkumpullah mereka, berbondong-bondong menghadapi Estella.

"Halo," ucap laki-laki paling tinggi besar.

Yang dipanggilnya hanya melewatinya begitu saja, menganggap orang itu patung ribut.

"Kau tidak bisa lari dari takdirmu, tempatmu bukan di sini," kata lelaki itu lagi sambil melipat tangannya di atas pagar kayu. "Penyihir," tambahnya yang mana tetap dihiraukan oleh Estella si 'Penyihir' ini.

Di persimpangan, Estella berbalik. Wajahnya setengah terlihat dan matanya memancar merah. "Pergilah jika tak ingin malapetaka datang padamu," ungkap Estella dengan wajah menyeringai jahat yang terbenam tudung jubah itu.

"Lucas, Lucas di mana kau? Lihat ada orang yang merusak tanaman kita sayang!" teriak Mrs. Adeline, wanita tua gemuk algojo di ladang timur desa. Lucu terlihat di wajahnya yang sebelah belum beres didandan. Mata dara gemuk itu membelalak melihat jejak si perusak tanamannya berakhir di samping pagar kayu, di komplotan pemberani yang menghadapi Estella. "Hey, sini kalian anak nakal!" teriaknya lagi berusaha menegaskan daerah kekuasaannya.

Saling tatap tak percaya, bingung siapa di antara mereka yang melakukan kesalahan itu. Komplotan tadi kocar-kacir berlari menuju timur sana. Sementara sang pengejar melepaskan anjing penjaga untuk mengejar mereka. Disisi lain, Estella kembali berjalan santai melewati gerbang timur palisade, meninggalkan kekacauan ini. "Inilah yang terbaik," batin Estella. Tak menghiraukan penduduk desa bahkan berinteraksi dengan mereka sebagai gantinya keluarganya menjadi aman.

Pusat desa terasa lengang, mungkin para penduduk sudah lebih dahulu bersembunyi atau memang hari ini tak banyak orang yang lalu-lalang. Estella berhenti di bangunan lantai dua dengan lambang cangkir yang terukir di papan atas pintu.

Bel pintu berdering risih, seseorang memasuki.

"Akhirnya kau datang juga "Jahe"." Kunesh menyambut kedatangan Estella dengan menaruh cangkir bersih yang habis dilapnya di atas meja.

"Berhentilah memanggilku jahe, aku tak segan menggorok lehermu,"

"Kau memanglah Jahe, itu faktanya," ucap Kunesh sembari menunjuk anak rambut berwarna merah keemasan yang terlihat melambai lolos keluar dari tudung jubah si pemilik.

"Sekalian saja panggil aku wortel,"

"Boleh saja, asalkan kau tidak keberatan dipanggil seperti itu," ucap Kunesh, membuat mata merah Estella melotot garang ke arah Kunesh. Dan saat itulah Kunesh tahu apa yang akan terjadi jika dia melanjutkan. "Kesampingkan itu, aku tadi malam mendengar sedikit keributan, ulahmu bukan itu?"

"Ribut antara Mrs. Adeline dengan petani sebelah timur sana? Itu sudah hal yang lumrah bagi Riverrun," ucap Estella tak acuh seperti biasa. Nadanya menusuk seperti pisau dan berbisa seperti ular.

"Maksudku, keributan di dekat penginapan ini, kau tidak melakukan sesuatu yang tak masuk akal bukan? Atau ya?"

"Aku tidak tahu menahu hal itu," jawab Estella asal. Wajahnya berusaha menunjukkan ketidak-bersalahan yang lugu, Setidaknya sedikit dia bisa meyakinkan Kunesh.

"Baiklah 'jahe'," lanjut Kunesh yang mana semakin membuat Estella menatap garang dia.

Orang-orang berambut merah sebenarnya tidak memiliki rambut merah. Lebih tepatnya rambut mereka berwarna merah kekuningan menyerupai oranye. Dahulu, tidak ada yang namanya warna oranye. Yang ada adalah merah kuning. Oleh karena itu mengapa orang-orang rambut merah tidak sepenuhnya memiliki rambut merah. Julukan jahe adalah julukan yang orang tempo dulu beri pada mereka karena warnanya mirip jahe. Kasus khusus untuk Estella, dia memang memiliki rambut merah keemasan tapi orang-orang masih lebih senang memanggilnya jahe.

Estella melirik arah Kunesh, sorot matanya menelisik pria pemilik kedai. Sementara sang pemilik kedai melemparkan cangkir yang sudah dilapnya hingga ke dasar-dasarnya ke arah Estella. Si jahe sudah dengan cepat menyambar cangkir itu di udara.

"Silahkan dibersihkan." Kunesh menunjuk kepada cangkir yang baru saja ditangkap Estella di udara tadi.

"Apa maksudnya?"

"Pekerjaanmu tidak banyak hari ini, tidak ada yang menginap tadi malam jadi kau bebas dari pekerjaan lumbung. Tapi," kata Kunesh pada Estella yang terlihat sudah siap menuju belakang kedai namun tertahan karena kata "tapi" yang Kunesh tekankan di akhir kalimatnya. "Sebagai gantinya, ada pekerjaan baru untukmu. Bianka tidak datang hari ini, maka dari itu aku ingin kau menggantikan kekosongannya."

Tak berkata apa pun selama beberapa saat, hanya terdiam hampa menyaksikan Kunesh pergi ke lantai atas lewat tangga samping aula makan. Itu yang Estella lakukan ketika mendengar kata-kata "gantikan kekosongannya,".

Salah satu hal yang sangat dibenci Estella, menjadi pelayan di sebuah kedai karena dengan begitu dia harus menghadapi orang-orang itu. Berusaha sekecil mungkin tidak membuat masalah, menerima kata "penyihir" setiap saat juga cacian-cacian itu dan tetap berkepala dingin. "Kuharap para tamu hilang nafsu makan mereka ketika melihatku," sindir Estella dari kejauhan. Tak ada balasan dari Kunesh

Terpopuler

Comments

Ayano

Ayano

Aku suka kalimat ini ya 😅😅
Efek sering bikin penggal memenggal sih

2023-06-30

1

Ayano

Ayano

Aduh.... bocil propokator 😓

2023-06-30

1

Ayano

Ayano

Agak sebel ya memorinya ampe begini
Gak ada bagus bagusnya

2023-06-30

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!