Chapter 3.4

Tempat yang Estella gunakan untuk introgasi si faun padanya tak lain adalah rumah pengasingan di Riverrun. Sedikit menjengkelkan rasanya harus menjamu seseorang tak dikenal yang menyerang secara mendadak.

Sudah lama waktu berlalu tapi sepatah pertanyaan pun belum dilayangkan oleh Tur'gor. Dia sedari tadi bermain bersama Roebart, terkekeh mendengar dongeng buatan anak lelaki itu. Rupanya Roebart gembira dengan kehadiran Tur'gor si faun di ruang tengah.

"Tuan Tur'gor, apa di dunia asalmu semua orang disana berpenampilan sama sepertimu?" tanya Roebart girang sambil melipat tangannya di atas meja dengan matanya berbinar terkesima.

"Tentu, di kerajaanku semua hidup bersama alam, bulu-bulu ini sudah menjadi warisan leluhur dan tanduk ini sudah seperti prasasti setiap orang."

"Lalu bagaimana dengan kerajaannya, apa ada istana megah seperti Zandri?"

"Megah semegah kota bangsa Ballari dahulu, namun lebih natural oleh karena bersatu dengan alam, semua bangunan dan segala yang kami buat semua masih asri,"

Roebart memberi tepuk tangan meriah dan senyuman lebar yang lugunya sesaat mendengar jawaban Tur'gor. "Hey tuan faun, boleh aku pegang tandukmu?" tanya Roebart kembali yang rupanya sedari tadi penasaran dengan tanduk cantik milik Tur'gor yang hampir melingkar.

"Mengagumkan bukan?" Tur'gor menurunkan kepalanya agar bisa disentuh tanduknya itu oleh Roebart.

Di tengah suasana menyenangkan ini, di lain sisi ruang tengah, Estella menatap lamat-lamat sang faun pendatang. Mata merah rubinya masih tak henti-hentinya mengikuti setiap pergerakan kecil sang faun. Estella menyeka keningnya yang berkeringat, menyaksikan bagaimana Roebart duduk di melingkar leher kepala sang faun.

"Lihat aku! Aku bisa menyentuh langit-langit!" seru Roebart girang.

"Hahaha... terus gapai langit-langit wahai anak muda,"

Estella diam tak bersuara, untungnya Leclerc datang tepat waktu menjawab Roebart dengan secangkir air madu.

"Silahkan tuan-tuan," ucap Leclerc. "Apa?" tanyanya seketika sorot mata Estella mengarah padanya.

"Bisakah kita mulai tuan berbulu?" sindir Estella kecut sembari memutar bola matanya lalu menyandarkan punggungnya sambil menyilangkan kaki. "Aku percaya kau datang membuat kehebohan bukan karena ingin bermain dengan Roebart,"

Perkataan itu membuat senyum Roebart menjadi berbalik ke bawah. Anak laki-laki itu masih ingin bermain di atas kepala sang faun. Roebart dengan sedih hati harus turun dari kepala sang faun.

"Iya benar, tentu saja, benar sekali," si faun berdeham sambil memainkan rambut bulu yang berada di dadanya.

"Jadi, apa pertanyaanmu tuan berbulu?"

"Dia Tur'gor sang faun!" Roebart tak setuju Estella terus memanggil sang faun dengan julukan tuan berbulu.

Mulut Estella berdecak sambil sorot matanya memandang Roebart dengan garang. Roebart tertunduk murung.

"Rasanya sedikit tidak nyaman aku dianggap sebagi pendatang asing, maka dari itu perkenankan aku mengenalkan diriku sekali lagi." Tur'gor berdiri lalu menunduk hormat, dia mengangkat wajahnya seraya berkata, "Tur'gor, itulah namaku, sang penjaga di utara dataran, seorang magus ternama dan salah satu anggota The Watcher. Sebagai mana sumpahku ketika di depan Pohon Kehidupan, aku diamanatkan untuk menjaga keseimbangan ether dunia, terutama di daerah timur kekaisaran, dan aku kemari untuk menjalankan tugasku dengan damai. Mohon kerjasamanya,"

"Baik," erang Estella tak acuh. Wajahnya dia palingkan menuju ke arah perapian. "Pertanyaanmu, tolong tuan berbulu?" tambahnya sambil memainkan jari-jari.

"Apa kalian sudah mendengar berita dari desa pelisir dekat Rattay? Ada ledakan cahaya dan beberapa saat selanjutnya banyak warga mati seketika di desa tersebut."

Estella sudah paham arah pertanyaan dari Tur'gor.

"Belakangan ini terlalu sibuk orang-orang pada pekerjaan masing-masing, tidak ada waktu untuk memikirkan urusan di desa lain. Jadi, tidak, kami tidak tahu apa-apa,"

"Adakah sosok misterius kemari atau sedikit pun sesuatu aneh terjadi di desa ini, adakah?"

"Jika maksudmu kejadian gagal panen tahun lalu, maka ya." Estella melipat tangannya. "Lebih dari itu, tidak,"

"Bagaimana mengenai kedatangan pendatang asing kemari beberapa hari, atau mungkin minggu?"

"Tidak ada,"

"Benar kah, taka da seorang pun bangsa Breaton, Elf, Dryad, dan lainnya kemari?"

"Sudah kukatakan tidak ada," jawab Estella kecut.

Tur'gor berdeham, bola matanya berputar, dia terlihat berpikir keras. "Aneh sekali, aku merasakan sedikit keganjillan aliran ether di sekitar desa ini,"

"Maksudmu?" tanya Leclerc seketika menambahkan.

"Aku mengira akan ada yang melakukan sihir tabu di sekitar tempat ini, atau kehadiran Anak-anak Hera,"

Suasana kembali lengang di sana. Bergemeretak suara api perapian mengisi sejenak. Di tengah keheningan ini, Estella menjentikkan jari.

"Mungkin ada satu," timpal Estella, seketika semua mata memandang ke arahnya. Tak terkecuali Roebart yang tengah bermain di sana dan Leclerc yang tengah membersihkan jendela.

"Bagus! Bisa kau jelaskan lebih rinci?"

"Satu orang mencurigakan tepat di hadapanku,"

Si faun bangkit dari duduk, matanya menatap garang Estella si jahe. Berjalan dia mendekat si penyihir ini. Saat Estella hendak Bersiap mempertahankan diri, Tur'gor menundukkan kepalanya, menunduk hormat terdalam. "Berkah dewi Avya untukmu kuberi," kata sang faun sopan.

"Berkah kembali sang dewi untukmu juga," balas Estella sopan.

"Saya pamit," Tur'gor mengangkat kepalanya, dia bebalik dan beranjak pergi. Sebelum keluar ruangan, dia memberi senyum terakhir untuk Roebart yang terlihat murung,

Sementara, Leclerc membukakan pintu untuk si faun paling bijaksana yang satu ini. Kembalilah hening suasana ketika Tur'gor pergi.

Tak terduga dan sangat cepat, itulah ciri khas dari pengabdian mereka Para Utusan Langit untuk dunia. Dengan jangka waktu singkat mereka sudah dapat mencium pengguna Buku Kematian ada di sekitar desa ini.

Entah sampai kapan kebohongan Estella dapat mengelabui si faun itu. Harus cepat-cepat Estella membuat ramuan "Obat Segala Penyakit" itu dan mulai mencari catatan mengenai Eru sebelum sang faun mengetahui Estella lah yang dia cari.

Terpopuler

Comments

Dr. Rin

Dr. Rin

kukira orang2 udh tahu yg menggunakan buku kematian dlu itu si Salot, lalu bagaimana mereka mendapatkan buku itu jika awalnya si Eru ngasihin ke Salot? 🤔 kurasa masih bnyak yg hrus di jelasin pas time skip 6 tahun itu klw ga salah ya?

2023-05-29

0

Dr. Rin

Dr. Rin

oalah kerjaannya mu ini salot

2023-05-29

0

Dr. Rin

Dr. Rin

adiknya lbih jago jinakin kambing dripda kakaknya 😅

2023-05-29

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!