"Leclerc kemarilah," seru Estella.
"Tenang sedikit, aku masih sibuk di sini,"
"Kalau begitu aku tinggalkan semua pesanan di sini, ini untuk meja di ujung," seru Estella lagi sambil menaruh nampan penuh berisi muffin dan air minum madu di atas meja pelayan.
"Ya," teriak Leclerc dari meja sana, suara itu sedikit tertutupi oleh bising suara para tamu yang heboh mengisi aula makan.
Tentu saja saat esoknya Estella sibuk karena pekerjaan sebagai barmaid di kendai Kunesh oleh sebab menggantikan Bianka yang masih hilang. Semenjak bertemu sang faun, Estella belum sempat membuka buku terlarang itu lagi. Mulai dari harus mengurus Nyonya Cathrine dan membacakan dongeng kepada Roebart, tidak ada waktu kosong hari itu. Dan sekarang hari ini juga tidak bisa, banyak yang harus dia urus di aula makan kedai yang beberapa hari lengang sekarang menjadi penuh ini.
"Hey nona, cepatlah!"
"Sini manis!"
"Satu puding plum tolong!"
Banyak yang memanggil si jahe, hingga kewalahan dia berusaha menjamu para tamu dan hampir semua pasang mata mereka menyorot ganas ke arah Estella. Seakan seperti mata penuh keingin tahuan apa yang berada dibalik blouse yang dikenakan Estella.
Estella terpaksa dibuat mengumpat berkali-kali, dan berusaha untuk bersembunyi di ruang belakang. Sorot mata ganas para tamu, tak sanggup Estella merasakan sorot itu lagi. Ingin rasa dia membanjur wajah-wajah itu dengan air merah rum agar mereka sadar bahwa kesatria seperti mereka adalah orang yang Estella benci. Tergolong pada daftar orang-orang yang sangat Estella benci mereka itu setelah para bangsawan ibu kota.
"Aku baru tahu di tempat seperi ini ada gadis secantik dirimu,"
"Hey sudah cukup," kata bangsawan lain di meja itu agar rekannya berhenti menggoda si jahe.
"Sebaiknya kalian berhenti, atau malapetaka akan datang menjemputmu," ucap Estella kecut.
"Kalau malapetakanya adalah dirimu aku akan menyambut!"
Jijik Estella melihat wajah-wajah orang itu.
Seperti itu kira-kira bagaimana Estella harus bekerja di kedai Kunesh. Ini sedikit berbeda dengan hari-hari yang lalu karena rupanya banyak bangsawan serta kesatria mesum yang memenuhi meja-meja di kedai lusuh nan rapuh milik Kunesh di desa pengujung Kekaisaran, seakan ada seseorang di desa yang meminta bala tentara untuk menjaga dari serangan Anak-anak Hera. Tapi setidaknya Estella tidak diperlakukan bagai seorang penyihir, orang-orang ini tidak tahu menahu bahwa mereka sedang berurusan dengan anak dalam ramalan kuno, si tuan putri terkutuk.
Bel berdering laun, seseorang memasuki aula makan. Saat itu Estella telah siaga siapa lagi yang datang kemari, berdeham dan menghela napas dalam menanti wajah yang masuk.
"Ah, senang bisa melihatmu tersenyum lagi," ucap Pak Tua Hugh yang baru memasuki aula.
"Tuan Hugh selamat datang," sapa Estella setelah menghela napas lega. Akhirnya dapat juga datang wajah familiar kemari.
"Apa aku mengganggumu, kelihatannya kau sedang sangat sibut,"
"Leclerc, bisa tolong tangani ini sebentar?" seru Estella yang mana suaranya kembali hidup, tak seperti awal-awal yang kaku dan kecut. "Aku ada urusan dengan Tuan Hugh," tambahnya seketika Leclerc memalingkan wajah kepadanya.
Lama menunggu Estella suasana lengang seperti ruangan ini, sudah tak tahan ia dengan keadaan bising aula makan. Sesampainya di ruang belakang, Estella langsung menyajikan teh hangat untuk Pak Tua Hugh yang sedikit terbatuk-batuk karena sudah terlalu tua.
"Silahkan,"
"Terima kasih."
Pak Tua Hugh menjawab dengan caranya selalu, dengan senyum lebar yang hangat terasa menenangkan hati.
"Aku tak menyangka kedatanganmu pagi ini,"
"Tak apa, aku hanya merasa sedikit tidak nyaman tidak mengetahui kabarmu,"
"Anda selalu tiap hari ngecek keadaanku jika aku tak salah," ucap Estella sopan. Sekecil mungkin dia berusaha menutupi ketidaknyamanannya bersama Pak Tua Hugh.
Mata Pak Tua Hugh menyipit, berusaha memastikan apa yang dilihat karena matanya yang sudah tua kurang mampu melihat jelas. "Kau baik-baik saja?" tanya pak tua itu pada Estella, menyaksikan bagaimana Estella memegang kepala bagian kanannya.
"Aku sehat sepenuhnya, Anda tidak perlu khawatir ser," ucap Estella yang lalu beranjak bangkit dari tempat duduk. Terlihat jelas di wajahnya bahwa ia tak ingin lebih lama di ruangan itu bersama Pak Tua Hugh, rasa takut akan petaka menimpa pak tua paling murah hati itu yang dibawakan Estella jika terlalu lama di sana.
"Melihatmu seperti ini mengingatkanku dulu ketika ayahmu berada di utara, dia bertemu ibumu dengan sangat tidak terduga," kata Pak Tua Hugh santai sambil menghisap pipa. Membuat Langkah Estella terhenti, memaksa dengan halus agar Estella tetap di sini.
"Anda tahu mengenai ibuku? Ku dengar ibu bukan dari daerah Kekaisaran, dia juga bukan bangsawan,"
"Sedikit benar, Cathrine, sebagaimana yang kau tahu, dia memang bukanlah orang mulia, dia bukanlah seorang bangsawan, dia hanyalah gadis desa biasa." Pak Tua Hugh berhenti sejenak, membuat lingkaran asap putih kelabu. "Sangat dermawannya dia, sangat elegannya dia, sangat hangatnya hati dia dalam meluluhkan hati beku Lord Jeremiah."
Estella sudah dengar selalu dari kecil ketika di High Garden, Lord Jeremiah adalah seorang yang keras kepala, bengis dan seorang yang sangat pintar dalam membuat strategi. Dialah yang memperluas kekuasaan Kekaisaran di utara sana. Tapi saat mulai Kekaisaran hampir menguasai utara sepenuhnya, Lord Jeremiah menarik seluruh kesatrianya, kembali semua ke High Garden. Benar, dia kembali membawa wanita cantik berambut merah, warna rambut yang sangat tak umum di kekaisaran. Mendengar langsung dari teman ayahnya, Estella bisa merasakan bagaimana kehangatan sifat ibunya. Berbeda sekali dengan Estella sekarang.
"Jika aku perhatikan seksama, sifatmu lebih mirip dengan Lord Jeremiah," ucap Pak Tua Hugh sambil diiringi tawa kecil.
"Mungkin," jawab Estella singkat. Terasa sekali dia ingin segera lekas pergi dari sini.
"Membuat Kunesh marah karena menghilangkan kuda miliknya, sangat garang ketika penduduk desa mendekatimu malah siap seakan mau membunuh mereka," ucap Pak Tua Hugh terkekeh, terdengar seperti batuk-batuk ia bukan tertawa. "Dan juga keras kepala, ketika ingin menggapai satu tujuan, persis seperti Lord Jeremy,"
"Aku tak tahu apakah yang Anda ucapkan adalah sebuah pujian atau malah sebaliknya,"
"Sifatmu mirip sekali dengan ayahmu, tapi wajahmu mirip sekali dengan ibumu, terlebih rambutmu itu, sangat cantik tapi sayang orang-orang di sini tidak mengapresiasi keindahan itu,"
"Terima kasih," ucap Estella dingin. Kini dia membungkuk hormat lalu beranjak pergi.
"Kau ingin dengar berita dari desa pelisir dekat Rattay?" Akhirnya Pak Tua Hugh mengatakan maksudnya kemari. Pertanyaan yang sama yang ditanyakan si faun Tur'gor kemarin.
Lingkaran asap kelabu terbang tetap utuh keluar dari mulut pak tua itu, meletus ketika menumbuk tembok. Berancang-ancang dulu Pak Tua Hugh sebelum memulai mengatakan sesuatu yang penting.
"Sebuah ledakan cahaya terjadi saat fajar lalu. Seberkas cahaya emas terbang melambung tinggi ke langit kemudian meledak di ketinggian langit sana. Kau tahu apa yang terjadi selanjutnya?" Pak Tua Hugh menghisap Kembali pipa, kini lingkaran asap kelabu yang dikeluarkan mulutnya berbentuk lebih kecil dari yang tadi. Lebih laun terbangnya lingkaran itu dibanding yang pertama di buat Pak Tua Hugh sebelumnya.
"Ledakan Ether, itulah yang dikatakan warga desa dekat sana. Ada seragam kejadian aneh mengikuti hari selanjutnya. Satu desa hancur, banyak orang hilang dan mati misterius," ucap Pak Tua Hugh sedikit serius terasa nada bicaranya.
Estella diam tak menanggapi, menciptakan hening yang cukup lama berlangsung di ruangan. Di sisi lain Pak Tua Hugh mengambil tongkat kayunya yang berdiri menyandar kaki kursi tempat duduk. Estella tak tahu apa yang dikatakan Pak Tua Hugh mengenai kondisi desa di pelisir Rattay, tapi dia paham bahwa kemungkinan ini adalah karena ulahnya waktu membuka Buku Kematian.
"Dengar, aku sudah bersumpah kepada ibumu untuk menjagamu dan adikmu. Aku sudah lakukan semua yang aku bisa demi menjaga kalian, bahkan aku menggunakan kekuasaanku sebagai ketua di desa ini untuk menjaga kalian. Menyembunyikan kehadiranmu dari yang lain."
"Tuan Hugh,"
"Aku tidak peduli apa yang sebenarnya kau lakukan, aku percaya apa yang kau lakukan itu benar. Aku percaya kau melakukan semua yang kau bisa demi Roebart dan juga ibumu, semua demi Keluarga Rosewell. Aku percaya itu." Pak Tua Hugh menghisap pipa terakhir kalinya sebelum akhirnya beranjak bangkit. "Aku tak tahu apa yang kau lakukan waktu itu, namun ingatlah dunia ini memiliki aturan yang tak boleh dilanggar, ada sebuah tatanan yang harus diikuti semua orang," jelas Pak Tua Hugh, suaranya serak terasa dan bergetar di setiap patah katanya. Sudah terlalu tua bagi Pak Tua Hugh untuk berceramah panjang lebar.
Bingung Estella hendak menjawab apa. Kemungkinan itu karena dia menggunakan Buku Kematian, tapi dia tak tahu menahu apa yang terjadi setelahnya. Dan kebaikan Pak Tua Hugh yang sangat mempercayai Estella.
Hening Kembali berlanjut sejenak. Suara heboh tamu yang berada di aula makan menjadi pemecah keheningan ini. Estella menyandarkan tubuhnya ke tembok ruangan. Mata merah rubi miliknya masih tak sanggup menatap wajah pak tua yang berada di depannya.
"Kalau kau mengerti, aku pamit pergi dulu, oh iya jangan lupa." Pak Tua Hugh berhenti sesaat. "Mrs. Adeline ingin bertemu denganmu, aku tak ingin ada masalah lagi di desa ini jadi temuilah dia,"
"Mrs. Adeline?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
Tanata✨
"ser" itu maksudnya apa ya? 🤔 apakah mungkin seharusnya "sir"? 😅
2023-06-16
1
Tanata✨
"the hangat" -> "teh hangat"
2023-06-16
1
Tanata✨
"membanjur" agak terlalu kocak sih🤣, sekedar saran, mungkin supaya nuansanya lebih serius, mungkin bisa dicoba dengan kata "menyiram"
Tapi jika ini sebuah kesengajaan, not bad sih, hehe.. agak lucu aja sih..
2023-06-16
1