Sementara itu, kembali ke kota surgawi, kota Zagush. Seperti hari-hari biasanya, matahari yang ramah menyapa, langit dipenuhi kapas putih terbang laun mengukir langit biru, dan juga pilar cahaya yang tercipta akibat sihir kaum Ballari.
Siapa itu kaum Ballari? Daripada disebut kaum, lebih baik menyebut mereka sebagai bangsa kuno. Mereka adalah bangsa paling termashyur di dunia, dan juga bangsa paling misterius telah sirna seketika di dunia ini. Ramalan mengenai 'kegelapan dan tuan putri yang buta' , merekalah yang mewariskannya kepada kehidupan selanjutnya di dunia ini. Mereka jugalah yang pertama mengenalkan Magi, sebuah aliran Ether yang dapat diubah menjadi kekuatan. Dan ether ini, kekuatan alam ini harus seimbang, sedikit saja ketidaksetimbangan terjadi, dapat merusak dan mengancurkan sekitar.
Penjelasan pertama yang perlu diajarkan kepada magus muda adalah bagaimana menggunakan aliran alam tersebut tanpa mengganggu keseimbangan dunia. Sebagai Master Elemen Es, inilah ajaran pertama master Tuor pada murid-murid yang kelak menjadi anggota The Watcher.
"Ku ingin salah satu paling berani di antara kalian untuk maju kemari," terang Tuor pada murid-muridnya itu.
Keheningan kembali mengisi, semua murid saling tatap, berbisik satu sama lain. Berharap ada satu relawan yang ingin melangkah ke depan. Kelakuan mereka terus berlangsung beberapa saat, hingga alis Tuor naik sedikit, disaat itulah langsung seorang Breaton muda berdiri.
"Silahkan kemari mendekat," ucap Tuor padanya.
"Ba—baik,"
"Sekarang." Tuor menepuk bahu kiri pemuda itu, "Tutup matamu, dan mulai rasakan dirimu, semua jiwa dan ragamu menyatu dengan alam," terang Tuor.
Pemuda itu memejamkan mata, murid yang lain menatap lekat-lekat sang relawan. Di antara mereka ada yang menguap bosan, murid dari ras Qualanari, dia kelihatan sudah merasa paham. Tuor melemparkan kerikil es kecil pada dahi Qualanari kecil itu agar tetap fokus dia. Tuor kembali kepada pemuda relawan tadi.
"Teruslah rasakan aliran kehidupan di sekitarmu,"
"Ya,"
"Lebih menyatu, lalu salurkan kekuatan itu pada batu ini,"
Tuor memberikan batu berwarna putih susu, sebuah batu magi kepada tangan pemuda itu. Seketika batu magi berubah warna, menjadi biru, lalu merah, kemudian hijau, dan semua spektrum warna tergantung besar kekuatan yang dialirkan pemuda itu.
"Nah sekarang, bayangkan sebuah senjata favoritmu, minta bantuanlah dengan sopan pada aliran alam untuk menciptakan senjatamu," ucap Tuor. Perkataannya membuat banyak murid penasaran, kecuali si Qualanari kecil tadi.
Terdengar udara sekitar berdesing dan menciut mereka masuk dan memadat di batu magi yang berkerlap-kerlip warnanya. Pusaran bola-bola, sebut saja bola Ether, itu mengelilingi batu magi kemudian bergabung mereka menciptakan pedang pendek. Seketika ada sambaran listrik di sekitar pedang berwarna biru kelam itu.
"Bagus, kau boleh membuka matamu sekarang," kata Tuor terbangga-bangga.
Dari raut wajah murid relawan tadi ketika membuat pedang petir, terlihat bahwa baru kali ini dia dapat menggunakan aliran ether, pertama kalinya melakukan teknik Magi.
Tepuk tangan meriah diberikan oleh murid lain. Saat hening kembali, Tuor mulai melanjutkan.
"Seperti itu bagaimana kalian menggunakan aliran ether, kekuatan alam yang benar dan tak mengganggu keseimbangan. Kalian harus paham bahwa roh-roh leluhur dan jiwa mereka menerima kalian. Bahwa kekuatan ether menerima kalian." Tuor berhenti sejenak, dia menarik napas terlebih dahulu sebelum melanjutkan. "Bisa dibilang Ether adalah kekuatan roh-roh para leluhur yang mengumpul di dunia ini, dan kalian harus menghormati mereka, kalian harus mendengar permintaan mereka, jangan sampai membuat mereka marah."
Penjelasan Tuor membuat semua murid berpikir berulang kali untuk memahami arti dari ether sesungguhnya. Terutama si pemuda relawan tadi yang sedang mendemonstrasikan. Demikian bingung mereka semua, tapi disisi lain, Tuor malah bersemangat.
"Aku ingin kalian tahu bagaimana jadinya ketika menggunakan kekuatan alam ini dengan salah dan mengganggu keseimbangan." Tuor berjalan menuju pemuda di depan tadi. "Kau, teruslah alirkan kekuatanmu, alirkan kekuatan alam ini terus pada batu magi,"
Pemuda itu hanya mengangguk, dia masih tak mengerti sepenuhnya maksud dari Tuor. Tapi tetap dia melakukan perintahnya.
Lama berselang hening, tak terjadi apa-apa. Semua baik-baik saja, murid-murid makin heran apa yang sesungguhnya ingin guru mereka terangkan. Karena Tuor sedari tadi hanya berseru, "Terus!Lebih banyak lagi!! Buat roh-roh itu marah!"
Suasana masih lengang, hanya desing udara di sekitar pedang petir pemuda itu.
Seketika, pedang petir pemuda itu berubah warna, berubah warna menjadi lebih redup dan mulai berganti menjadi warna putih kembali. Berkerlap-kerlip lalu mulai pedang itu pecah, dan kembali ke bentuk batu.
Mulai detik inilah semua berubah menjadi menarik. Batu magi berkerlap-kerlip, laun berubahnya tapi terus sedikit demi sedikit batu magi mulai kehilangan warnanya. Semakin permuda itu mengalirkan kekuatan alam itu, dan Tuor berseru-seru, "Lebih banyak lagi!", batu magi mulai berkerlap-kerlip berwarna hitam dan putih sekarang. Tidak seperti semula yang berwarna-warni. Terus sampai berdesing lagi udara sekitar, dan memadat. Semakin memadat hingga akhirnya kabut gelap mengitari batu itu.
"Master?" teriak panik pemuda relawan.
"Terus, masih belum cukup!"
Lebih memadat lagi udara sekitar, seperti terasa menekan tubuh dan akhirnya batu magi terjatuh pecah. Sudah tak sanggup si pengguna menyalurkan kekuatan alam lagi pada batu itu.
Seketika hening dan udara sekitar batu mulai memudar. Tapi saat itulah tiba-tiba muncul sebuah tangan bercakar muncul dari dalam batu. Cakarnya menusuk hancur permukaan batu magi dari dalam.
Terbelalak semua isi ruangan melihat reptil kecil muncul keluar dari batu magi. Tubuhnya setengah belum beres memadat, setengah tengkorak dan setengah danging busuk yang hitam kelam. Menggerung dia lalu membuka mulut setengah jadinya lebar-lebar, dalam hitungan detiik pusaran bola hitam keluar dari mulutnya dan melesat cepat menyerang salah satu murid. Bola hitam itu pecah tepat di hadapan si Qualanari kecil tadi, tepat waktu kerikil es Tuor lemparkan untuk menghadang serangan hitam sang reptil.
Tuor menyambar reptil jadi-jadian di bawah sana dan menusuk dari dalam tubuh sang reptil menggunakan elemen es. Tuor meledakan sang reptil hingga menjadi serpihan es kecil.
"Dan inilah yang terjadi ketika keseimbangan kecil di batu magi terganggu, bermunculan lah Anak-anak Hera,"
Dalam kondisi masih terbelalak semua murid-murid, daun pintu terbuka lebar. Berderit memecah keheningan ruangan itu.
"Master Tuor, ada berita baik sekarang,"
"Moraine, tak bisakah kau mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk auditorium ini?"
"Ini sangat penting master, ada kabar dari penjaga daerah timur. Tur'gor memberi pesan mengenai." Moraine berdeham, pura-pura batuk.
Tuor seketika mengangguk setuju. Tapi sebelum dia keluar, Tuor memberikan pelajaran terakhir.
"Kuperingatkan pada kalian semua, keseimbangan ether ini sangat penting untuk keselamatan dunia. Dan kalian sebagai calon anggota The Watcher, sudah tugas kalian untuk menjaga keseimbangan aliran ether,"
Begitulah penjelasan terakhir Tuor pada lima murid itu. Ya, lima murid. Seluruh kelas tadi hanya berisikan lima murid. Alasannya sederhana, karena tidak semua orang dapat menjadi anggota The Watcher. Bahkan tidak semua magus terhebat di dunia ini dapat menjadi anggota penjaga dunia ini, karena bukan diukur dari kekuatan, melainkan dari diterima atau tidaknya magus tersebut oleh Ether.
Jumlah anggota penjaga dunia ini sangat tak sebanging dengan tugas sesungguhnya mereka. Semakin era berlalu, semakin sedikit magus yang dapat menjadi anggota The Watcher. Ditambah dengan hilangnya Buku Kematian, tinggal menunggu sesuatu besar tragedi terjadi dan menggoncang dunia.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
Tanata✨
"danging" -> "daging"
2023-06-17
1
Tanata✨
Buat Roh marah, nanti kalau kerasukan bagaimana? 🥲
2023-06-17
1