Chapter 3.1

Malam itu terasa hening mengisi, sesekali dentuman terdengar memecah lengang lantaran angin malam berhembus kencang mengetuk jendela istana.

"Apa aku nanti akan memerintah di istana ini?"

"Tentu, kau adalah Putri dari High Garden (Princess of High Garden), sudah takdirmu menjadi pemimpin Keluarga Rosewell suatu saat nanti." Lord Jeremiah tersenyum sambil menggendong Putri Charlotte menikmati hembusan angin malam di High Garden.

"Yeay!" Charlotte mengangkat kedua tangan Bahagia. "Aku akan membuat rakyat High Garden Makmur,"

Lord Jeremiah berjalan-jalan di teras istana. Di bawah teras, di kejauhan bawah sana terlihat Bunga Tulip Abadi mulai sedikit bercahaya ungu. "Kau harus," ucap Lord Jeremiah. "Kau harus," ucapnya lagi sambil mengelus kepala Charlotte. Charlotte tersenyum sebagai balasan.

Di langit nun jauh sana, bulan sabit sempurna terlihat menyinari malam ini. Bersinar indah di kegelapan malam, berwarna merah darah.

"Kau harus kuat, kau harus tabah, tetap tunjukkan keberanian jangan tunjukkan kelemahan. Jangan pernah termakan perasaanmu, jangan biarkan ketamakan memakanmu. Karena kau contoh bagi semua pengikutmu, seorang pemimpin." Langkah Lord Jeremiah terhenti di ujung teras istana, dia berdiri di depan langit malam High Garden.

"Tenang, Charlotte akan selalu mendengarkan suara rakyat," ucap Charlotte girang.

Tiba-tiba suara Lord Jeremiah berubah. Lebih kasar dan keras suaranya itu, "Ini semua salahmu," kata Lord Jeremiah.

"A—ayah?"

"Ini salahmu,"

"Ayah ada apa?"

"Ini semua salahmu tuan putri terkutuk,"

Seketika langit berubah menjadi merah. Bulan sabit tadi berubah menjadi bulan purnama merah darah. Lantai-lantai pualam teras istana bergetar hebat, bergaung terdengar hingga retak. Menara-menara istana High Garden roboh satu persatu diterpa badai.

"Ayah apa yang terjadi?"

"Aku seharusnya membunuhmu sejak awal,"

Lord Jeremiah menjatuhkan Charlotte dari teras istana, wajahnya terlihat perlahan memudar.

Charlotte terjun bebas dari ketinggian ribuan kaki dari atas tanah. "Tidak!" teriak Charlotte.

*****

Estella terlonjak bangun dari tidur, ribuan pedang kecil terasa menusuk tangan kirinya. "Urgh..." erang Estella kesakitan, tangan kanannya memegang erat pergelangan tangan kirinya.

"Hey awas, dia terus mengejarmu!"

"Aku magus kegelapan, dunia milikku dan hanya untukku, matilah kalian semua!"

"Lari!l lari!"

Terdengar suara-suara bising yang tak asing di telinga Estella. Suara riang anak-anak yang tengah bermain di ladang. Kicauan burung kenari yang terbang terdengar samar-samar melintas di langit sana. Kelotak roda gerobak kereta pengangkut batu bara para penambang. Dan pemandangan Menara Pak Ketua yang menjulang tinggi terlihat di tengah-tengah dinding palisade yang melingkari sekitar bangunan keramat itu. Sudah pasti ini di desa Riverrun.

Estella mengerling berwarna putih susu itu, lusuh nan rapuh dinding kamarnya. Bukan kamar lebih tepatnya, melainkan gudang yang terpaksa dijadikan kamar ini. Seperti biasa, lemari kecil di samping depan jendela.

"Mimpi buruk itu lagi," gumam Estella dalam hati.

Meski hanya mimpi buruk, tapi perasaan Estella selalu tidak nyaman. Entah mungkin dia terlalu menyalahkan dirinya karena keruntuhan keluarga Rosewell, pemikiran bahwa dirinya hanya pembawa petaka sudah mengakar erat pada benaknya. Sudah waktnya untuk dia menggunakan Buku Kematian agar mengubah takdirnya sebagai seseorang yang membawa kutukan, sekaligus mengembalikan semua yang telah direnggut dan menguak kebenaran di Malam Bulan Merah.

"Leclerc?" teriak Estella memanggil, dan hening tak ada jawaban, hanya berupa lantai kayu berdecit. "Kemana dia?"

Estella merapihkan wajahnya terlebih dahulu sebelum keluar menuju lorong hubung. Lengang terasa sepanjang lorong dan yang menyambut Estella di ruang tengah hanya gemeretak perapian. Lamat-lamat juga terdengar suara orang bercakap-cakap. Tapi sorot mata berwarna merah rubi itu tertuju pada sudut ujung ruang tengah, pada rak kayu mahogany, di rak paling bawah. Sebuah bisikan-bisikan menyaut nama Estella dari sana, dari Buku Kematian.

Perlahan namun pasti langkah Estella menyambut bisikan yang menyebut-nyebut namanya. Terasa berdegup kencang jantung Estella, tangannya terasa berkeringat dan sedikit gemetaran, ditambah sorot matanya yang penasaran setengah mati .

Si 'jahe' ini mengerling seantero ruangan, memastikan tidak ada satu pun jiwa di sana. Buku yang selama ini dia inginkan, buku yang mampu mengubah takdir, buku yang mampu nantinya membawa Estella kepada Eru—lelaki yang mengetahui segalanya yang terjadi di malam bulan merah dan lelaki yang memberinya penglihatan.

Dan ternyata buku tersebut kosong, tidak ada satu pun tulisan pada lembar-lembar perkamen tua di sana. Benar, kosong tidak ada isinya. Tapi ketika Estella menyentuh salah satu halaman buku, secara ajaib tulisan biru bercahaya muncul satu persatu di lembar-lembar yang dia sentuh.

Mata merah rubi Estella tak henti-hentinya bersinar menatap setiap halaman buku. Mengikuti sederetan tulisan-tulisan huruf kuno yang secara ajaib muncul satu persatu mengikuti arah ke mana tangan kiri Estella mengusap halaman buku. Terus dibalik oleh Estella halaman buku ajaib ini. Jiwa Estella terasa menyatu dengan buku ini. Dan seketika tibalah halaman yang begitu menarik perhatiannya.

"Obat Segala Penyakit," itu judul halaman yang terus Estella pandang sedari tadi. Jari telunjuk Estella mengikuti kalimat pembuka, "Obat ini sangat manjur, paling manjur di seluruh dunia. Penyakit kutukan, penyakit lahiriah, penyakit batin. Semua mampu disembuhkan hanya dengan satu seruput cairan hijau kuning keemasan ramuan ini."

Sangat tidak diduga, segala pengetahuan dunia, segala ilmu yang ada di dunia tertulis lengkap di buku ini. Tidak Estella sangka Buku Kematian berisikan hal seperti ini. Apa yang terpikirkan oleh Estella adalah semua yang berbau pembunuhan. Jika kalau Estella tahu hal ini dari awal, dia pasti akan menggunakan buku ini sejak awal mendapatkannya. Bisa menyembuhkan ibunya, Nyonya Cathrine, yang terkena sakit misterius, dan yang paling penting mengambil kembali semua yang telah direnggut darinya pada malam bulan merah. Tapi ada satu yang perlu Estella ketahui, bahwa meskipun demikian Buku Kematian digunakan olehnya, tetap ada bayaran yang harus Estella beri. Tapi—

"Estella," ucap Leclerc diiringi suara pintu yang berderit terbuka.

"um.... Ya...., apa?

"Kau—"

"Apa?" tegas Estella kembali sambil cepat dia menyimpan buku itu kembali ke tempatnya. Seperti hampir kepergok saja wajah si jahe ini, wajahnya sedikit berubah merah merona meski tidak semerah warna rambutnya.

"Berita buruk lagi untukmu," ucap Leclerc dengan memasang wajah datar. "Mengenai Kunesh," tambahnya kemudian membuat Estella semakin bertanya-tanya.

"Memang ada perlu apa lagi orang itu denganku?"

"Pergilah ke kedai miliknya, dan kau akan tahu sendiri," ucap Leclerc kecut.

Tanpa menatap wajah menyebalkan Kunesh pun, Estella tahu bahwa sesungguhnya apa yang si pemilik kedai itu ingin katakan padanya. Sepertinya Estella harus mengurungkan niatnya menggunakan Buku Kematian, ya bahkan saat ingin membaca isinya saja selalu ada yang mengganggunya. Tidak ada yang mudah baginya.

Terpopuler

Comments

Dr. Rin

Dr. Rin

aku lupa, nama kekaisarannya belum di kasih nama ya klw ga salah? 🤔

2023-05-28

1

Tanata✨

Tanata✨

"tapat" itu apa ya kak? 😅

2023-05-04

0

Tanata✨

Tanata✨

"suasanan" -> "suasana"
"pedangang" -> "pedagang"

2023-05-04

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!