Kejadian itu terjadi saat musim panas 5 tahun lalu. Pada jam-jam terik matahari sangat menyengat terasa.
"Aku mohon, hanya Anda harapanku satu-satunya," Charlotte semakin menundukkan kepalanya. Terlihat bersujud hampir bisa mencium lututnya sendiri.
Tidak ada yang mampu berkata, baik Sang Kondektur maupun orang-orang yang berkebetulan berada di tempat kejadian.
Pakaian berbalut sutra, lambang untaian bunga, kalung peraknya itu, dan rambut merahnya diikat, semua berasa tak berguna untuk gadis rambut merah itu kalau nyatanya dia melakukan hal yang tak pantas golongannya lakukan, memohon dan bersujud kepada rakyat jelata.
"Aku tak mau ikut campur, apa yang engkau minta bukanlah sesuatu yang mungkin," ucap salah satu rekan Sang Kondektur. Dia menaiki pelana kuda, "Mintalah pada yang lain, kita tidak ada waktu untukmu. Ayo," seru laki-laki itu pada Sang Kondektur supaya lekas pergi dari tempat kejadian.
"Ini tidak akan memakan waktu lama,"
Sang Kondektur berjalan menghampiri Charlotte, semua akan terus seperti ini jika dia tidak mengatakan yang sebenarnya. Tentang apa yang sesungguhnya tuan putri tanpa mahkota itu inginkan. Buku paling terkutuk di dunia Thyr'das, Buku Kematian. Sebuah buku yang mampu mengubah dunia hanya dengan bait-bait yang dilantunkan pemilik buku.
"Bangkitlah tuan putri." Sang Kondektur mengulurkan tangan pada Charlotte.
Charlotte mengangkat kepalanya, wajah yang penuh air mata membasahi pipi. Raut wajah cantik tuan putri High Garden itu ternodai berkat kotornya wajah itu dengan noda tanah. Semua memang tak pantas bagi seorang tuan putri keluarga Rosewell, satu dari tiga belas keluarga tertinggi di Kekaisaran.
"Aku akan usahakan, tapi aku tidak janji mampu mendapatkannya. Buku kematian itu," ucap Sang Kondektur kembali. Suaranya berasa sangat berbeda dengan sebelumnya, lebih berat dan lembut namun juga tegas berhias juga dengan wajah yang penuh akan karisma dan wibawa. Rekan-rekan pria itu memandangnya terpesona.
"Benarkah?"
"Anda bisa pegang kata-kataku. Tapi kenapa Buku Kematian, Apakah Anda yakin ini benar-benar yang Anda inginkan?"
Charlotte menyeka pipinya yang basah. Dia lalu mengangguk setuju,
"Anda yakin akan kehancuran yang dibawakan buku itu padamu?"
"Ya,"
"Anda yakin akan malapetaka yang akan dibawakan buki itu padamu?"
"Ya,"
Lengang mengisi suasana siang ini. Baik Sang Kondektur dan rekan-rekannya itu maupun Charlotte, tidak ada yang bisa berkata beberapa saat itu.
"Kalau begitu jangan tunjukkan wajah itu lagi, dan bersiaplah akan masa depanmu yang akan berakhir buruk." Sang Kondektur membantu Charlotte berdiri, "Karena tidak ada akhir bahagia bagi seseorang yang menggunakan Buku Kematian," ucapnya.
*************
Di kegelapan malam, di dalam kanal kota Rattay, dua sosok berjubah muncul dari kegelapan. Satu memiliki mata dengan warna merah, dia yang memimpin di depan. Sosok yang satunya lagi memiliki warna mata hijau dan biru, dia yang mengikuti si mata merah dari belakang. Suasana lengang dan gelap malam itu mempermudah Estella dan Leclerc menyelinap masuk lewat ruang bawah tanah kota terbesar di Provinsi Ujung Timur Kekaisaran tanpa ketahuan.
Kala mulai dari kejauhan cahaya remang melintas, Estella melesat bersembunyi di balik pilar kanal terdekat. Begitu juga dengan Leclerc. Saat sudah kosong, mereka waspada berjalan dari pilar ke pilar hingga sampailah mereka di mulut kanal, di depan mereka terlihat sungai kecil yang membelah kota menjadi dua bagian. Lokasi tujuan mereka seharusnya tidak jauh dari mulut kanal sisi ini. Sayang terdapat dua penjaga yang menghalangi jalan satu-satunya mereka naik.
"Hey siapa kau?" seorang penjaga memergoki bayangan mereka bergerak di bawah jembatan dekat kanal.
"Apa yang terjadi kawan? Apa sekte itu mulai berulah lagi?" ucap salah seorang penjaga lain.
Di bawah jembatan, Estella sudah dengan erat memegang belati perak miliknya, siap sewaktu-waktu penjaga menghampirinya. Tangannya terasa sedikit gemetar tapi Estella sudah siap menerkam penjaga itu.
Udara terdengar berdesing seketika, penjaga-penjaga itu berguling jatuh dari tangga dan berakhir terkapar tak berdaya di depan Estella dan Leclerc. Sebuah anak panah mengenai leher kedua penjaga. Beberapa saat kemudian seorang pria muncul dari arah langit, mendarat di tangga.
"Lama tak jumpa," ucap Sang Kondektur pada Estella. "Aku tak menyangka kau akan datang terlambat,"
"Seharusnya itu kata-kataku, lama sekali waktu yang kau butuhkan hanya untuk melakukan satu tugas saja," kata Estella kecut. Mata merah rubinya terlihat terbenam oleh tudung.
"Ada sedikit masalah internal, lagi pula The Watcher membuat kami kesulitan bergerak bebas, setidaknya kami memilikinya, Buku Kematian yang kau inginkan,"
Di belakang, Leclerc memastikan apakah kedua penjaga itu masih sadar. Ternyata sudah aman, Sang Kondektur menembakkan anak panah beracun pada mereka. Namun dari kejauhan terdengar derap langkah kaki yang berirama. "Bisakah kita pergi sekarang?" tanya Leclerc pada Estella.
Semua mengangguk setuju pada Leclerc si mata belang itu. Lebih baik mereka segera bersembunyi di tempat aman. Karena bagaimanapun, Estella merupakan seorang bangsawan terasing, dia tidak boleh meninggalkan tempat pengasingan. Kalau ketahuan berkeliaran di luar tempat pengasingan, di tempat seperti ini hukumannya adalah mati di tempat.
Mereka menaiki tangga ke atas, bergerak cepat dan senyap ke pusat kota, mengendap-endap seketika di kejauhan cahaya remang melayang melintas. Beberapa menit telah lewat dan akhirnya mereka sampai di distrik kumuh kota Rattay.
"Bagaimana kau meninggalkan Riverrun, tempat itu cukup dijaga ketat,"
"Cara kuno, mengendap-endap saat yang lain masih tertidur." Erang Estella tak peduli. Dia lebih peduli apa yang berada di sekitar pemukiman kumuh itu, mengerling tempat penuh lumpur dan rumah tua nan rapuh.
Mereka bertiga sampai di sudut terpencil pemukiman paling padat di Kota Rattay, sebuah gubuk kecil berlantai dua menyambut mereka di sana. Gubuk tua nyentrik di sudut terpencil kota. Jika dibandingkan dengan rumah Estella di Riverrun, rumah pengasingan itu berasa seperti istana jika dibandingkan gubuk ini.
Terasa hangat di dalam gubuk tua itu. Perapian sudah dinyalakan sedari tadi, bergemeretakkan menyambut hangat di ruang kecil yang hanya bisa diisi maksimal enam orang
Estella menyaksikan sedari tadi Sang Kondektur mengobrak-abrik lemari dekat meja di samping perapian. Berbagai barang rongsok berjatuhan di depannya.
"Apa yang kau lakukan?"
"Membukakan jalan masuk," ucap Sang Kondektur yang mana masih sibuk menggeser lemari itu. "Silahkan masuk nona-nona sekalian," tambah Sang Kondektur kemudian sejenak ketika sebuah jalan sempit menuju ruang bawah tanah terlihat di balik lemari tadi.
Lorong sempit yang hanya mampu dilewati satu orang. Para gadis itu saling tatap sejenak. Seakan menentukan siapa yang masuk lebih dahulu. Kemudianlah Leclerc masuk lebih dahulu, menjadi sukarelawan kalau-kalau terdapat hal tak diinginkan yang akan membahayakan Estella di depan sana.
Api remang lilin menjadi satu-satunya penerangan di ruangan bawah tanah itu. Tempat seperti untuk melakukan interogasi.
"Kalian boleh beristirahat sejenak di sini,"
"Boleh kita mulai sekarang?" tanya Estella dingin.
"Oke," jawab Sang Kondektur singkat. "Kau sudah banyak berubah," lanjutnya sambil mencari sesuatu dari rak buku ujung dekat meja tengah tempat cahaya satu-satunya di sini.
"Cepatlah, aku tidak punya waktu banyak,"
Sang Kondektur berbalik dari salah satu rak-rak buku itu. Kembali ke meja tengah dengan membawakan buku bersampul warna hijau tua yang bergambar pentagram.
"Ini dia yang kau inginkan, buku kematian,"
"Kau yakin buku ini asli? Bukan tipu muslihatmu?"
"Seratus persen yakin,"
Estella bukanlah orang bodoh, dia cukup jeli untuk dapat ditipu. Tidak ingin lagi dirinya mengorbankan banyak pada jika pada akhirnya itu hanyalah tipu-tipu. Bahkan sampai berdebat jika perlu memastikan sesuatu itu. Tapi kali ini, waktu tidak berteman dengannya, tak ada cukup waktu untuk berdebat panjang lebar.
Mata merah Estella berputar antara Sang Kondektur dan Buku Kematian. "Bagaimana kau mendapatkannya?" tanya Estella kembali.
"Sederhana, kami hanya menyalin buku itu dan menukar yang asli dengan yang palsu,"
"Menerobos masuk untuk menyimpan penyusup maksudmu, apa berhasil?"
"Tidak perlu, aku punya kawan yang memiliki orang dalam di sana." Sang Kondektur berhenti sejenak, dia lalu menambahkan tepat saat dia mengeluarkan liontin emas ke atas meja, "Setidaknya cara kuno ini berhasil tapi kita tidak tahu sampai kapan mereka akan menyadari itu,"
Sejenak dari suara mereka berdua yang saling saut-menyaut, jawab menjawab dengan cepat. Akhirnya ruangan itu lengang kembali.
"Ada lagi?"
"Sudah cukup," ucap Estella sembari mengambil Buku Kematian. "Berapa harganya yang harus kubayar untuk jasamu?"
"Semua bebas biaya, karena kalau tidak kau tak mungkin membayarnya dengan keadaanmu sekarang."
Estella masih menatap lamat-lamat wajah nyentrik pria itu, masih terdapat keraguan dalam dirinya.
"Kalau begitu aku pergi,"
"Sebaiknya begitu, terlebih belakangan ini di kota Rattay banyak kekacauan." Sang Kondektur berhenti sejenak. Dia menambahkan persis sebelum Estella dan Leclerc pergi, "Jangan lupakan apa yang pernah aku kata, tidak ada akhir bahagia bagi seseorang yang menggunakan buku kematian dan berhati-hatilah karena bukan kau saja yang menginginkan Buku Kematian itu,"
Sejak awal memang kehidupan Estella tidak berakhir Bahagia. Apalagi setelah keruntuhan keluarga Rosewell lima tahun lalu. Tidak ada salahnya mencoba menggunakan Buku Kematian, karena bagaimanapun akhirnya pasti sama menggunakan atau tidak. Dunia sudah terlalu kejam padanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
Tanata✨
maaf lama gk mampir, kak, hehe. tapi jujur setelah revisi, penulisannya menjadi lebih seru dan natural. Makin suka pokoknya.
2023-07-18
1
Tanata✨
menurut saya, "6" akan lebih rapih jika ditulis "enam", tapi ini faktor kenyamanan pribadi sih, soalnya selain umur atau hitungan yang banyak😅 saya lebih terbiasa menulisnya ke dalam teks.
2023-07-18
1
Firenia
jd Estella ini Charlotte kah? dari kemarin saya agak bingung
2023-06-06
1