Patroli kota Rattay lebih sibuk terlihat. Berlarian keluar para penjaga malam dari pos masing-masing, mulai berjalan menelusuri sudut kota tergelap Rattay sekalipun. Estella harus ekstra hati-hati, berlari senyap dari bayang-banyang ke banyang-banyang lain. Bersembunyi di balik gentong air, kotak kargo pedagang keliling, stan dagang, hingga ke bawah jembatan. Banyak cahaya remang dari obor para penjaga menghiasi setiap jalan keluar.
Ketika Estella hendak keluar dari persembunyian, Leclerc menarik tangannya.
"Ide buruk," bisik Leclerc. "Terlalu banyak dan tak ada tempat untuk sembunyi,"
"Kau ada ide lebih baik? Kita harus segera kembali ke Riverrun sebelum matahari terbit,"
"Sepertinya kita harus lewat gerbang barat," bisik Leclerc sambil menunjuk ke arah sebrang jembatan.
Bagian barat kecil kota Rattay, lebih aman karena para penjaga lebih sedikit disana dan sialnya cukup jauh jaraknya ditambah dengan mereka harus melewati pengawasan penjaga gerbang.
Untunglah Sang Kondektur sudah memprediksi akan hal ini. Penjagaan ketat kota Rattay. Di bawah bayang-bayang langit malam menuju pagi, di kejauhan pusat kota Rattay, sebuah ledakan terdengar berdentuman saling saut menyaut. Pandangan semua penjaga tertuju ke sumber suara. Di detik-detik setelahnya, teriakan terdengar melanjutkan.
"Lihat! Ini lah yang terjadi jika kita membiarkan tuan putri kegelapan hidup! Dunia akan hancur!"
Tepat saat itu, di atap bangunan depan, tempat sebrang Estella dan Leclerc bersembunyi, seorang bawahan Sang Kondektur melambai. Diam memberi sinyal tepat ketika para penjaga mulai berlari menuju asal suara ledakan dan orang gila tadi.
Dua siluet bergerak cepat memasuki kanal, berdecak-decak air ketika Estella dan Leclerc memasuki mulut lorong yang gelap dan berbau tak sedap.
"Menurutmu, apa kita bisa mempercayai Sang Kondektur?"
"Dia telah memberimu yang kau inginkan, Buku Kematian." Leclerc melangkahi genangan air.
"Aku rasa ada sesuatu yang dia sembunyikan dariku," timpal Estella.
Estella masih ingat saat pertama dia bertemu Sang Kondektur lima tahun lalu. Begitu merendahnya Estella sampai dia berani bersujud dan memohon pada lelaki dari selatan benua itu. Apa yang Estella minta hanyalah satu, Buku Kematian, sebuah buku yang mampu mengubah takdir dan memberikan kekuatan besar. Dan itu semua diberikan dengan mudahnya oleh Sang Kondektur, tidak dipungut biaya sedikitpun dan tak diketahui Para Utusan langit sekalipun, setidaknya saat ini. "Semua pasti ada bayarannya," itulah yang terdapat dalam benak Estella.
Pada perempatan di depan, mereka mengambil lorong sebelah kanan. Gorong-gorong ini lebih kecil terasa dari lorong utama.
"Tidak kah itu hanya pikiranmu saja?"
"Aku tau apa yang aku lakukan, di balik layar pasti Sang Kondektur merencanakan sesuatu," jawab Estella kecut ketika Leclerc tidak satu kapal dengannya bahwa Sang Kondektur tidak dapat dipercaya.
"Baiklah, jika begitu kita tak perlu lagi bergantung padanya kemudian hari," balas Leclerc lebih kecut ketika mereka mulai melewati cabang lorong lagi.
Suasana kembali lengang, suara decak air ditinjak mengisi lorong gelap nan bau itu. Banyak pula cabang lorong-lorong di depan sana. Sangat cocok untuk sergapan.
Langkah Estella terhenti, di kejauhan, muncul cahaya remang lalu menghilang dengan cepat. Siluet terlihat mendekat. Masih siaga Estella, kepalanya masih memproses siapa siluet itu.
"Estella awas!" teriak Leclerc.
Tapi tak sempat. Dari lorong sebelah, muncul dari balik bayang-bayang kegelapan mulut lorong, seorang laki-laki berjubah. Dengan cepat sosok misterius itu menumbuk Estella dengan tubuhnya. Estella terhempas ke dinding. Syukurlah refleks Estella cukup tinggi, sepersekian detik sebelum laki-laki misterius itu menabraknya, belati kecil sudah Estella keluarkan dan melukai bahu kiri sang penyerang. Dengan demikian sang penyerang langsung mundur dan melepaskan pisau itu dari bahunya.
Leclerc menyerang berturut-turut dengan pedang pendek kepada sosok misterius itu. Bagian samping kiri dan kanan, lalu ke tebasan cepat ke arah kepala kemudian. Leclerc memberikan serangan berturut turut, dan berturut turut juga sosok misterius tadi menangkis dan menghindari serangan si mata belang.
Saat hendak Leclerc menyerang kembali, berusaha memberikan tikaman mematikan pada sosok misterius itu, lawannya memutar tubuh dan kemudian memberikan tendangan maut ke arah perut bagian kanan Leclerc, membuat si mata belang mendarat jatuh ke genangan air. Terkapar tak berdaya dia, dengan tubuh menelungkup miring terbasahi air yang sudah bercampur darah.
"Sialan," guman Estella tepat saat mendengar suara debam tubuh Leclerc si mata belang itu jatuh terhempas ke genangan air.
Tidak ada waktu bernapas lega, sosok misterius itu sudah menyambar pisau Leclerc yang terjatuh. Dengan cepat dia berlari mendekati Estella. Terdengar suara decak air seirama dengan Langkah lelaki itu Suara dentang dan desing bergema di lorong itu. Sosok misterius tadi sudah saja menyerang lagi, bersusah payah Estella menangkis serangan tebasan sosok misterius itu menggunakan belati perak yang selalu Estella bawa.
Mujurnya Estella berhasil menangkis dan menghindari serangan, semua berkat refleks bertahan hidupnya yang tinggi. Tapi tidak mulus semua itu, Estella harus kehilangan jubah coklaknya dan tangan kiri Estella berdarah.
"Menyerahlah, kau tidak bisa mengalahkanku, berikan aku benda itu,"
"Benda itu—"
Belum beres Estella menyelesaikan kalimatnya, sosok misterius tadi sudah mulai lagi mendorong dan melempar Estella ke dinding seperti awal pertarungan kecil ini. Estella terjatuh ke air yang sudah tercampur darahnya, darah Leclerc, dan sosok misterius itu.
Estella berguling menghindari tendangan pria itu. Dengan napas terengah-engah, Estella berusaha bangkit.
"Kau memiliki sesuatu yang aku mau," ucap si penyerang. Bukannya terjawab, Estella malah semakin bingung. "Buku Kematian, aku tau benda terkutuk itu ada padamu, Sang Kondektur memberikannya padamu,"
"Maaf, tapi aku sungguh dengan sangat hormat menolak memberikan buku itu pada sesorang yang tiba-tiba datang menyerang," sindir Estella.
"Tidak berhak kau berkata demikian, lebih baik Buku Kematian aku bakar daripada membiarkan orang sepertimu menggunakannya,"
Saat hendak sosok misterius itu mulai menyerang, langkahnya terhenti. Di belakang beberapa kaki jauhnya, Leclerc sudah bangkit dan siap menyerang dari arah belakang. Sementara Buku Kematian berada di tengah jarak Estella dan Pria misterius itu.
Memandang Leclerc yang mengangguk mantap, Estella paham keadaan ini akan berakhir seperti apa.
"Aku lawanmu!" teriak Leclerc yang mulai berlari cepat menghunuskan pisau cadangan yang dia bawa. Sosok misterius berbalik dan tepat satu detik kemudian, Estella berlari menggapai Buku Kematian.
Tangan kiri Estella yang berlumur darah berhasil menyentuh sampul berwarna hijau tua itu. Semua terjadi tepat ketika si pria misterius memalingkan pandangnya ke arah Estella ketika menyadari apa yang terjadi. Tapi saat inilah semua bertambah kalut.
Sebuah cahaya keemasan muncul dari Buku Kematian tepat ketika tetesan darah Estella mendarat di sampul Buku Kematian. Dalam hitungan sepersekian detik, lingkaran cahaya emas muncul dan melebar, menciut kemudian kembali melebar lagi namun dengan diiringi pusaran angin yang luar biasa dahsyat. Dentuman keras terdengar melanjutkan. Estella terhempas menumbuk dinding lorong.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
Tanata✨
"dindin" -> "dinding"
2023-07-18
1
Tanata✨
"mulau" -> "mulai"
2023-07-18
1
Tanata✨
"layer" -> "layar"
2023-07-18
1