Rasa nyeri kembali menyerang kepala bagian kanan Estella. Terasa pusing tujuh keliling, ingin rasa Estella memuntahkan seluruh isi perutnya untuk melegakan rasa pusingnya itu. Dalam keadaan terpakunya Estella menatap bilah-bilah rerumputan di bawah, kata-kata Kunesh yang berbisa semakin membuatnya ingin muntah.
"Aku tak habis pikir, tak bisakah sehari saja dirimu tidak membuat masalah?" bentak Kunesh pada Estella.
Estella mengangkat wajahnya. Masih pucat terlihat wajahnya itu. "Ada sedikit masalah tak terduga di perjalanan pulang," ucap Estella laun.
"Jadi benar kau mencuri kuda milikku dan salah satu kuda milik tamu agar bisa melakukan petualangan kecilmu? Menghirup udara segar di Rattay?"
"Meminjam lebih tepatnya," timpal Estella dengan nada lirih tepat setelah rasa pusing itu memudar perlahan dan perutnya tak lagi bergejolak.
"Meminjam tanpa izin dan tidak mengembalikannya lagi, apa bedanya hal itu dengan mencuri?"
"Setidaknya ada niat untuk mengembalikan, meski tidak dalam bentuk semula," jawab Estella asal.
"Tamu tadi marah sekali padaku, dia bilang kuda miliknya tak seperti sedia kala, terdapat beberapa luka!"
"Bukan aku yang melakukannya,"
Kunesh berputar-putar, bola matanya juga ikut berputar-putar. Tak habis pikir ia akan kejadian ini, masalah yang selalu dibawakan oleh Estella. Memang benar kata orang-orang, gadis rambut merah yang satu ini adalah penyihir, pembawa kesialan dan keburukan lainnya.
"Apa ada hal lain yang kau kacaukan?" tanya Kunesh kembali tepat ketika dia berhenti berputar-putar, berada tepat di hadapan Estella. "Jangan bilang ada,"
Diam saja yang Estella lakukan, menatap lamat-lamat padang rumput pijakan.
"Apakah ada?"
Estella menggeleng sebagai jawabannya. Sebaiknya Estella tidak banyak berkata lagi, sudah jelas terlihat muka murka dan geram Kunesh di hadapannya itu. Masam terlihat juga sedikit berwarna merah wajahnya dan urat lehernya menonjol terlihat.
"Aku tak paham cara berpikir Pak Tua Hugh, mengapa dia begitu ingin membiarkan seorang pembawa sial sepertimu dibiarkan berkeliaran bebas di Riverrun."
Serasa melepaskan beban begitu berat di wajahnya Kunesh, begitu leganya ia menyampaikan segala kekesalan juga kemarahannya pada Estella. Kunesh menghela napas panjang. Sesaat suasana belakang lumbung kedai Kunesh kembali lengang.
Dirasa tak ada lagi yang ingin disampaikan oleh sang pemilik kedai, Estella membungkuk hormat terpaksa kemudian lekas meninggalkan tempat itu. Namun terhenti seketika Kunesh kembali bersuara.
"Tunggu dulu, aku belum selesai,"
"Apa? Ceramahmu masih kurang kah?"
"Kau tahu di mana Bianka?" Kunesh melipat tangannya. Bola matanya berputar-putar. "Dia tidak datang lagi hari ini di kedai, tidak ada kabar apa pun darinya semala ini, aku bingung harus bagaimana mencarikan pengganti untuk menjadi barmaid kedaiku. Sialnya belakangan penuh sekali bangsawan lokal kemari."
Estella menyipitkan mata, sembari melipat kedua tangannya Estella berkata, "Jadi maksudmu aku harus menggantikan kekosongan Bianka lagi?"
"Justru aku malah menghindarimu menjadi pengganti Bianka, kau terlalu kasar untuk bangsawan yang datang kemari. Aku tak ingin lebih banyak masalah terjadi karenamu."
Aneh rasanya, tidak biasa Bianka tak mengabari apa pun kepada Kunesh. Dia selalu rajin datang dengan muka beragam, sedih, senang, muram, masam, semua pernah terjadi. Bianka selalu memaksakan datang bekerja di kedai Kunesh walau selalu berada dalam kondisi hati yang tak menentu.
"Jadi kau memintaku mencarikan Bianka?"
"Benar, dan kuharap kau menemukannya segera. Aku khawatir jika mantan pelayanmu atau dirimu yang nantinya akan terus menggantikan kekosongan Bianka."
Pantas saja Estella sejak tadi tidak menemukan di mana Leclerc berada, ternyata orang itu sedang dikerja paksakan menjadi barmaid di kedai milik Kunesh. Ya setidaknya lebih baik Leclerc daripada dirinya si penyihir ini. Pasti lebih banyak masalah terjadi dan kesialan yang dibawakan si penyihir Estella.
Semenjak keruntuhan Keluarga Rosewell, Pak Tua Hugh membuat peraturan baru di Riverrun. Barang siapa yang membocorkan keberadaan Keluarga Rosewell ini akan di keluarkan dari desa. Semua perbincangan mengenai rumor tuan putri yang terkutuk, dan gosip apa pun yang menyertainya, tak boleh ada di Riverrun. Berhasil peraturan tak tertulis ini menjaga rahasia bahwa sisa-sisa Keluarga Rosewell berada di Riverrun, namun tidak menghentikan cacian dan perilaku semena-mena penduduk desa kepada Estella dan keluarganya. Banyak malah yang menyalahkan hal sekecil apa pun kepada Estella padahal Estella diam saja tak melakukan kesalahan apa pun.
"Penyihir," Mr Adeline meludah di depan Estella. Dia lalu melemparkan tomat ke rambut merah Estella. Kalau pria paruh baya itu membawa satu keranjang tomat penuh, pasti dalam hitungan detik sudah semua ia lemparkan ke Estella.
"Sayang sudahlah!" ketus Mrs. Adeline pada suaminya. Wajah gemuknya Mrs Adeline lebih terlihat rupawan. Terima kasih berkat bedak yang baru dia beli di toko kelontong yang baru di buka depan gerbang depan palisade desa. Mata dara si penguasa ladang sebelah timur palisade desa itu kini teralihkan ke Estella. "Apa yang membawamu ke tempat ini, tuan putri? Umm maaf maksudku nona? Atau Miss?"
"Estella panggil saja aku Estella," ucap Estella kecut.
"Baik Estella apa yang membawamu kemari?" tanya Mrs Adeline sambil mengenakan celemek dan mulailah dia memotong kubis.
"Belakangan ini apakah Anda melihat Bianka? Aku sedang mencarinya," ucap Estella sedikit sopan meski mata merahnya teralih menatap Mr Adeline di belakang sana yang sendang memegang erat pisau dapur.
Pria paruh baya itu terlihat berpose siap menerkam sewaktu Estella melakukan kesalahan kecil.
"Dia seminggu yang lalu terlihat berada di Hutan Ujung Timur,"
"Apa yang dilakukannya di hutan timur?"
"Aku tidak tahu, saat itu sudah menjelang petang jadi aku bergegas pergi pulang," jawab Mrs Adeline, kembali ia memotong kubis di atas talenan. "Ada lagi yang ingin kau tanyakan?" tanya Mrs Adeline. Wajahnya terlihat sopan namun entah mengapa gerak geriknya seakan merasa tidak nyaman berada di depan Estella.
"Terima kasih." Estella menunduk hormat. "Aku pergi," ucapnya kemudian dengan nada sedikit terpaksa.
Daun pintu terbuka lebar, terasa sejuk angin pagi kampung pengujung timur ini. Seorang gadis kecil di halaman berdiri terpesona melihat Estella keluar halaman. Matanya terus mengikuti Estella.
"Merah, cantiknya rambutmu—"
"Jill, cepat kemari!" sahut Mrs Adeline di jendela pintu. Suara yang bergetar itu membuat perhatian gadis kecil tadi tertuju ke Mrs Adeline.
Tanpa perlu berbalik pun Estella sudah tau bagaimana raut wajah Mrs Adeline, juga kata-kata yang sebenarnya ingin diucapkan Mrs Adeline si dara penguasa ladang sebelah timur desa ini pada anaknya gadisnya Jill. "Jangan dekat-dekat dengan si penyihir" pasti itulah yang ingin Mrs Adeline katakana pada buah hatinya itu.
Memang Mrs Adeline sedikit berbeda dari pada penduduk desa yang lain dalam menghadapi Estella. Ketika yang lain berusaha semampu mungkin mereka menghindari si penyihir dan mencaci si penyihir, Mrs Adeline tidak demikian. Dia tetap menyapa Estella bila berpas-pasan, bercakap bila perlu. Walau sebenarnya di pikirannya ingin sekali dia cepat pergi menjauhi Estella, pulang langsung mandi kembang 7 rupa. Seperti itulah pengorbanan Mrs Adeline untuk keluarganya. Lebih baik hanya dialah yang berhadapan dengan Estella si terkutuk si penyihir karena dengan begitu keluarganya lebih aman dari kesialan.
Sudah terlalu erat melekat kepercayaan mengenai orang terlahir buta adalah pembawa sial dan rambut merah yang berupa penyihir di dataran benua utama. Terutama di daerah selatan dan timur benua. Stigma bahwa orang yang terlahir buta adalah pembawa kesialan.
Stigma itu melekat di setiap jiwa penduduk desa Riverrun terkecuali Pak Tua Hugh.
Di pondok para penambang, sudah mulai saja orang-orang berhenti dari pekerjaan mereka. Semua aktivitas menyepuh bijih tambang dan penggalian dihentikan. Semua mata menyorot tajam ke arah Estella. "Penyihir," ucap mereka dalam hati ketika melihat Estella berhenti di depan pondok penambang.
Hening beberapa saat di antara mereka, para penambang saling tukar pandang. Sesekali mereka melirik ke sosok berjubah coklat yang berdiri di jalan setapak. Wajah sosok itu terbenam terlihat oleh mereka. Hanya mata merah rubi yang memancar terlihat jelas.
"Apakah kalian melihat Bianka?" teriak Estella pada mereka semua karena hingga beberapa saat hening akan terus berlangsung jika Estella tidak mulai berkata.
Para penambang pun mulai bersuara.
"Kami tidak melihat orang yang kau cari itu, penyihir,"
"Aku melihat orang itu menunggumu sedari tadi,"
"Di mana?" Tanya Estella kembali.
"Di neraka terdalam," jawab penambang paling pendek di antara yang lain sambil terkekeh. Lepas tertawa semua orang di sana mendengar jawaban si pendek.
Estella beranjak pergi meninggalkan tempat heboh itu. Dia berjalan terus masuk ke kedalaman Hutan Ujung Timur, mencoba keberuntungan siapa tahu berhasil menemukan Bianka. Hasilnya didapatkan sebagaimana julukan untuknya, kesialan. Estella berjalan menelusuri Hutan Ujung Timur, berusaha meminta bantuan anak-anak Idrill namun sial sedari tadi Estella tidak menemukan satu pun para Fey. Di pohon mistik di antara pepohonan ek, di bunga Edelweiss Ungu tidak ada juga. Estella sempat hampir terjatuh karena menginjak akar yang licin.
Berputar-putar Estella menyusuri Hutan Ujung Timur dan tetap tidak membuahkan hasil. Hanya lengang Hutan Ujung Timur yang berhasil didapatkannya. Lebih sialnya lagi rasa sakit di kepalanya kembali kambuh. Namun kesialan itu belum berakhir sampai disitu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
Dr. Rin
emmm kukira adegan nyuri kudanya di hapus? 🤔 ripley juga mengiyakan di komen ku klw ga salah?
2023-05-28
1
Tanata✨
"bertika" -> "bertiga"
2023-05-16
1
Tanata✨
"komat-kamit" jadi teringet lagu bah dukun🤣🤣
2023-05-16
0