Chapter 4.2

"Menurut laporan darinya, Buku Kematian kemungkinan berada di desa paling ujung timur di kekaisaran. Di sekitar sana Tur'gor merasakan keganjilan aliran Ether,"

"Di desa Riverrun maksudmu Moraine?"

"Itu hanya kemungkinan, dia belum mengatakan siapa di sana yang memiliki buku itu saat ini,"

Di dalam lorong utama markas, lengang mengisi di antara perjalanan mereka menuju halaman depan markas. Sesampai di mulut pintu, disambutlah Tuor dan Moraine oleh kelas kecil yang diadakan oleh Master Joancen.

Tuor menunggu sebentar rekannya menyelesaikan kelasnya.

"Sudah dapat berita?" tanya Master Joancen pada Tuor, selagi murid-muridnya bubar kelas.

"Dapat secara jelas dan gamblang," jawab Moraine. "Tur'gor menemukannya,"

"Kita ke provinsi Ujung Timur Kekaisaran sekarang," timpal Tuor. Suaranya terasa sedikit laun agar para murid tidak dapat menguping percakapan ini mengenai hilangnya Buku Kematian.

"Aku segera bersiap, mohon tunggu."

Hanya melambai yang Tuor lakukan. Seketika Tuor pergi keluar markas utama. Berjalan cepat menyeberangi jembatan gantung, gerbang utama markas The Watcher.

"Di mana Tudor?"

"Sudah lebih dahulu dia ke provinsi Ujung Timur Kekaisaran, beberapa hari yang lalu lebih tepatnya,"

Tuor melirik ke arah Moraine. Wajahnya seakan tak percaya apa yang barusan dikatakan Moraine. Tapi cepat dia mengubah raut wajah lemas itu, kembali menjadi dingin dan kaku.

"Biarlah," ucap Tuor menenangi diri sendiri.

"Kau tidak mencemaskannya?"

"Tidak dan justru dia malah membantu kita, karena kalau memang Buku Kematian berada di perbatasan dunia fana." Tuor menghela napas dalam, tangannya membetulkan lengan jubahnya yang menghalangi. "Kemungkinan terburuk adalah terjadi ledakan ether yang lebih besar lagi,"

"Sebaiknya kita bergerak cepat." Moraine mengangguk setuju.

Riverrun, sebuah desa paling ujung di timur Kekaisaran. Desa dekat perbatasan dunia fana, atau seperti itulah yang dikatakan oleh dongeng-dongeng maupun legenda. Daerah Teritorial Gelap, di sebelah timur sungai Rhinè. Daerah itu merupakan tempat ledakan Ether paling besar terjadi, Malapetaka nomor 1 dunia yang konon hampir menghancurkan seluruh dataran. Malapetaka itu dinamakan Kabut Mimpi Buruk.

Sangat berbahaya jika Buku Kematian berada di dekat sana. Pemikiran ini terus berputar dalam kepala Tuor. Apa yang sebenarnya terjadi, apa semua ini ulah Sang Kelam yang kebenarannya saja masih diragukan. Benarkah apa yang dikatakan Yang Mulia padanya waktu itu, bahwa kegelapan mulai kembali.

"Maaf sedikit lama," kata Master Joancen sambil terengah-engah. Menarik napas dalam dulu dia sebelum mulai lagi berkata. "Aku bawa Naerith dan Bourneswrath dalam perjalanan ini, siapa tahu ada kejadian tak terduga menunggu kita di sana," tambahnya sambil menunjukkan dua magus di belakangnya.

"Master Tuor, dan kau juga Moraine." Suara menjengkelkan Bourneswrath menyapa master elemen es. "Kita bertemu kembali," ucapnya kemudian.

"Halo kembali." Moraine menyapa balik magus itu dengan suara kecut seperti biasa.

Sementara kedua magus saling bermusuhan itu menyapa salam, di depan Tuor dan Joancen sudah lebih dahulu berjalan. Mereka sempat harus berhenti karena sifat kekanak-kanakan dua magus itu.

"Persiapkan diri kalian, kita akan melintasi Lorong Ruang," kata Tuor berusaha mengingatkan kembali tujuan sesungguhnya mereka kemari.

*****

Selagi anggota The Watcher bergegas datang ke Riverrun, di desa penghujung timur Kekaisaran ini sendiri tengah panas-panasnya. Bukan karena sinar matahari tengah membara panas di tempat paling timur itu, melainkan karena ketegangan yang tercipta oleh karena teriak histeris Mrs. Adeline pada si 'penyihir'.

"Apa yang telah kau lakukan pada keluargaku? Kau apakan anakku Jill?"

"Hey apa yang terjadi? Ribut-ribut apa ini?" Kunesh segera dia keluar dari kedai ketika mendengar keributan di luar kedainya itu. Pandangannya silih berganti antara Mrs.Adeline, warga yang ikut di belakangnya, dan terakhir Estella. "Apa yang terjadi?" tanyanya lagi tapi kini kepada Estella.

"Penyihir ini mengutuk anakku, aku sangat yakin dia melakukannya!" teriak kembali Mrs. Adeline.

"Mengutuk anakmu? Aku sendiri bahkan tak tahu apa yang tengah kau bicarakan!" bentak Estella balik.

"Kau menggunakan anakku untuk sihirmu, mengutuknya dan lalu membunuhnya!"

"Aku tak paham apa yang kau maksudkan,"

"Jangan bohong, itu pasti dirimu, itu pasti karena dirimu datang waktu kemarin dan mengutuk Jill saat kau hendak pulang!"

"Apa?"

Tuduhan sangat tak berdasar, itulah yang terlintas dalam benak Estella. Sangat tidak masuk akal, tapi entah mengapa para warga malah berpikiran sebaliknya. Semua setuju pada Mrs.Adeline. Oh ya, dengan pengecualian Pak Tua Hugh dan Leclerc. Mereka berdua lebih setuju dengan apa yang ada pada pikiran Estella.

"Penyihir! Pergilah engkau dari desa ini!" teriak Mrs Adeline kembali. Dengan menggeliat risau sambil menunjuk-nunjuk kepada Estella. Menggeliat terlalu heboh dia sampai Mr Adeline harus dibuat kesulitan mengekangnya.

"Nyonya, sebaiknya Anda mendinginkan kepala terlebih dahulu. Setelah itu berkatalah baik-baik. Sungguh aku tak percaya Anda menyimpulkan masalah ini langsung tanpa ada bukti," Pak Tua Hugh akhirnya turun tangan. Walau sebenarnya Pak Tua Hugh berpihak pada Estella, tetap dia berusaha objektif dan sedikit pun tak berpihak.

"Pak Tua Hugh benar, sebaiknya Anda tenangkan diri terlebih dahulu, kita bisa buat regu penyidik. Terlebih ada ksatria dari ibu kota kemari, kita bisa minta bantuan mereka," ucap Leclerc seketika membuat pandangan ksatria yang kebetulan lewat jadi tertuju padanya.

"Tidak itu percuma, karena masalahnya bukan itu." Mrs Adeline terus berontak ingin melepaskan diri dari tangan-tangan yang berusaha menahannya. "Ini semua karena kehadiranmu di desa ini hanya membawa petaka! Banyak kemalangan dan pertanda buruk oleh karena kau ada di sini penyihir!" telunjuk Mrs. Adeline tertuju ke Estella.

Tak salah perkataan Mrs Adeline tersebut, memang semenjak Estella di Riverrun, banyak keburukan terjadi. Gagal panen, hewan ternak mendadak hilang, kebakaran mendadak di Menara Pak Ketua, dan masih banyak lagi. Bukti tak langsung bahwa Estella memang seorang pembawa petaka dan kutukan, semua penduduk paham akan hal ini.

Di sisi lain, Estella semakin memerah wajahnya, dahinya semakin juga mengerut terlihat. Tinggal menunggu waktu kemarahannya meledak. Mata merah rubinya sudah melotot garang. Terlihat jelas sudah siap dia menggorok leher Mrs. Adeline. Kalau saja dia sedang tidak dikekang oleh Leclerc, pasti sudah lepas kepala dara penguasa timur ladang ini.

"Kau tuan putri yang buta, kembalilah sana ke tempatmu bersama Sang Kelam di kegelapan dunia terdalam!" erang Mrs Adeline dengan tatapan kemarahan, ketakutan, dan kebencian yang tercampur aduk.

Pandangan penduduk desa juga selalu seperti itu, persis seperti apa yang terlihat di mata Mrs Adeline. Segala keburukan selalu dilimpahkan oleh mereka kepada Estella.

"Sangat keterlaluan dirimu Nyonya, sudah aku katakan sebelumnya untuk mengubur ramalan itu dalam-dalam." Pak Tua Hugh menambahkan. Perkataannya menyejukkan seperti biasa dan terasa sangat bijaksana.

"Dan Anda kepala desa, tak bisa kah dirimu menendang keluar saja si pembawa sial itu dari desa? Anda sama saja dengan dia, sebaiknya kalian semua jatuh bersamaan dengan runtuhnya Keluarga Rosewell!"

Tak mempan perkataan bijaksana Pak Tua Hugh, yang ada malah menambah panas kepala Mrs Adeline. Dan tak mempan juga perkataan Leclerc pada Estella.

"Estella jangan dengarkan perkataannya," ucap Leclerc sambil menahan Estella.

"Kau tahu." Estella berhasil melepaskan diri dari kekang Leclerc. Dan kini semua mata tertuju pada Estella. "Aku sangat berharap suatu ketika ada malapetaka besar datang ke desa ini lalu membunuh orang-orang sepertimu! Orang-orang busuk seperti kalian!" kutuk Estella pada orang-orang yang memberikan tatapan-tatapan itu. Seperti biasa, suaranya menusuk dan kecut. Sangat cocok untuk mengakhiri sesi ini.

Sudah sepantasnya orang-orang yang selalu menyalahkan masalah mereka kepada orang lain diberi hukuman yang setimpal. Malapetaka luar biasa dahsyat bagi mereka adalah hal yang pantas diterima. Itulah yang berada dalam benak Estella sambil lekas pergi dari tempat kejadian.

"Tunggu, Estella!"

"Sudah biarkan saja dia sendiri." Pak Tua Hugh menghela napas dalam, "Nah sekarang, teruntuk kalian terutama dirimu Mrs Adeline." Dahi Mrs Adeline mengerut. "Kuharap kalian paham apa yang telah kalian lakukan selama ini," ucap Pak Tua Hugh lembut seraya mengetuk tongkat kayunya ke tanah dan menyipitkan mata.

Seperti biasa, pandangan kepala desa pada orang-orang selalu demikian. Terasa lembut tapi juga terasa bijak. Tidak pernah Pak Tua Hugh membeda-bedakan, semua ia anggap seperti anaknya sendiri. Baik warga desa 'itu' maupun sang penyihir.

"Sekarang, siapa di antara kalian yang ingin menjadi sukarelawan untuk membantuku mengurus semua masalah ini, dan membantu buah hati Nyonya Adeline?" tanya Pak Tua Hugh sambil memberi senyum khasnya.

Seketika hening kembali suasana di depan kedai Kunesh. Angin berdesis, menghembus kencang ke arah barat. Sebuah angin pertanda malapetaka.

Terpopuler

Comments

Tanata✨

Tanata✨

Nama yang simple tapi efeknya menakutkan

2023-09-04

1

Dr. Rin

Dr. Rin

Dia ga salah sih, klw Estella tetep ngotot tinggal di situ, musuh2nya bakal kesana dan penduduk juga akan terkena dampaknya

2023-06-04

2

Dr. Rin

Dr. Rin

oke jadi penduduk desa berbuat buruk ke estella trus estella nyelametin penduduk desanya mungkin? 🤔

2023-06-04

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!