Tuor berdiri di tengah reruntuhan desa. Hangus tak bersisa, setiap mata memandang selalu ada mayat bergeletak tak berdaya. Di langit-langit burung gagak menatap tajam setiap pergerakan Tuor, mengamati Briton itu dari tumpukan makanan mereka.
Dibalik kabut tebal, Moraine berjalan mendekati Tuor. Tongkat maginya bersinar memberikan kehidupan kepada tanah hangus yang dilewatinya.
"Hal ini sangat diluar dugaan." Moraine memecah keheningan.
"Begitukah kelihatannya bagimu, Ini kesalahan kita karena membiarkan ketidaksetimbangan Ether di tempat ini berlarut-larut."
"Siapa juga yang akan menyangka akan terjadi pergolakan Ether di daerah ini. Master, ledakan Ether kali ini tidak biasa."
Tuor tidak menghiraukan perkataan Moraine, dia berjalan menuju salah satu jiwa malang yang mati hangus terbakar.
"Jiwa jiwa malang, beristirahatlah dengan tenang. Biar ku tuntun kalian ke surgawi." Tuor meletakan tangannya di wajah mayat itu.
Sebuah serpihan cahaya putih kelabu dari tanah muncul seketika, bersinar terang melayang menuju langit-langit.
Tuor membalikkan tubuhnya, menyapu bersih tiap sudut desa. Kabut tebal menahan pandangannya hanya hingga tersisa beberapa kaki di depannya. Dia masih terjaga, hatinya masih belum tenang melihat kejadian ini.
Sunyi rasanya, suara hembusan angin terdengar mengisi suasana. Satu-dua terdengar burung gagak yang terbang melewat. Samar di kejauhan lolongan hewan.
Moraine menatap lamat-lamat menara penjaga yang tumbang. "Apa yang membakar hangus desa ini ? Seekor naga? "
"Seberapa jauh pemukiman terdekat dari tempat ini?" tanya Tuor.
"Tak jauh, hanya beberapa mil ke selatan."
"Kita akan ke sana, jangan buang waktumu." ucap Tuor berlari menuju gerbang desa.
Dengan cepat Tuor menaiki pelana, berkuda menuju desa di selatan. Moraine mengikutinya di belakang dengan kuda putihnya.
Dari kejauhan terdengar lagi lolongan itu. Samar-samar terasa.
Tuor dan Moraine bergerak cepat secepat angin berhembus. Mereka mengarungi hutan, pohon-pohon layu menyambut mereka sepanjang perjalanan. Berwarna hitam dan tanah abu. Tanah bergetar sedikit lantaran langkah kaki kuda tunggangan mereka.
Pemandangan pohon-pohon hitam yang tadi menyambut mereka semakin terganti dengan pohon hijau yang subur dan hijau. Tak jauh di depan terdapat suatu danau. Di tepi menyongsong berdiri rumah penduduk. Hanya beberapa bangunan saja yang terlihat.
Tuor tiba di pinggiran desa itu. Pintu-pintu tiap rumah tertutup rapat. Begitu juga dengan jendela-jendela rumah. Tak ada satu pun yang berkeliaran di luar. Tuor turun dari kuda tunggangan, berjalan menuju salah satu rumah di tepi danau.
"Selamat pagi." Tuor mengetuk pintu. Tak ada balasan, dia pun mengetuk lagi 3 kali. "Halo, ada orang di dalam? Kami Para Utusan Langit datang membantu, kalian aman sekarang," ucap Tuor, menambahkan.
Tuor melirik ke arah Moraine yang baru datang. Bertepatan dengan kedatangan Moraine, tiba-tiba terdengar decitan pintu, daun pintu terbuka. Akhirnya pintu itu terbuka meski hanya terbuka sebagian. Seorang kakek muncul dari celah yang terbuka. Keringat dingin bercucuran dari wajahnya. Dia menatap Tuor tak percaya.
"Apa yang kalian inginkan? kami tidak melakukan apa-apa,"
"Tenang saja, aku dan wanita di belakangku itu adalah Para Utusan Langit. Kami kemari membantu kalian,"
"Para Utusan Langit? Tidak, aku tak mau, pergilah dan jangan kemari lagi. Aku tak mau membuat masalah dengannya." Kakek itu menutup pintu keras.
lengang kembali sesaat, Tuor dan Moraine kembali ditemani kabut dan udara dingin sendirian. Beberapa pasang mata yang penasaran melirik ke arah mereka berdua dari balik jendela sebelum hilang lagi saat dilirik balik Tuor. Sebuah aura jahat terasa mencengkeram.
"Master Tuor, sebaiknya kita kembali. Lebih banyak membawa personil kemari." Moraine terdiam sambil memandang ke arah danau. "Anda merasakannya juga bukan, ketidaksetimbangan Ether yang cukup kuat disekitar sini?"
"Aku akan tetap di sini sebelum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi"
Moraine menggaruk kepalanya yang tidak gatal ,"baiklah, tapi kuharap Anda tidak membekukan hutan ini dengan nafas Es milikmu"
"Kucoba sebisa mungkin menghindari pertempuran, sebagai gantinya persiapkanlah buku sucimu"
Para Utusan Langit memiliki buku suci masing-masing. Buku mereka memiliki kekuatan tiada dua, sangat kuat. Isi dari buku mereka berupa tulisan kuno yang setiap bait memiliki kekuatan tersendiri.
Lolongan itu kembali terdengar samar dari kejauhan. Sebuah mata merah menatap tajam ke arah Tuor dan Moraine dari kedalaman kabut.
"Aku sudah siap merapal" Moraine menancapkan tongkatnya di tanah, seketika perisai Magi muncul di sekelilingnya.
"Saat kuberi sinyal, hilangkan kabut ini dari pandangan."
Disisi lain, Tuor menciptakan pedang es. Pusaran angin bergerak cepat di tangan kanan Tuor. Sangat cepat lalu memadat dan kemudian membentuk sebuah pedang. Aura pedang itu sama dinginnya dengan mata Tuor mengeluarkan cahaya putih kebiruan.
Tanah terasa bergetar, lolongan itu semakin mendekat. Mata merah dibalik kedalaman kabut muncul menatap mereka berdua.
"Sekarang!!!" Teriak Tuor yang kemudian diikuti dengan tembakan es ke arah mata makhluk itu.
Seketika sebuah cahaya emas menembus ke langit, meledak di ketinggian tertentu menciptakan sinar emas yang mampu menghilangkan kabut tebal itu. Sontak wujud makhluk di hadapan mereka terlihat jelas. Tinggi setinggi Troll, berbulu hitam, terdapat garis merah di setiap tubuhnya. Garis merah itu seakan berdenyut, memompa Ether di dalam tubuhnya atau seperti itulah kelihatannya oleh Tuor.
Sinar emas menyeka, meluluhkan mata makhluk itu membuatnya meraung marah. Jemarinya yang tajam menebas udara, dia berusaha menyerang Tuor namun berhasil dihindari. Tuor menyerang balik melukai kaki makhluk itu dengan pedang es miliknya. Dia berguling di antara kaki makhluk itu.
Belum cukup, tidak terlalu berefek serangan Tuor malahan yang ada hanya membuatnya semakin meraung marah. Dia menyemburkan api dari mulutnya.
"Moraine sekarang saatnya," teriak Tuor.
Tuor berbalik melawan semburan api dengan semburan es miliknya. Terdengar dentuman hebat di sana. Di saat makhluk itu beradu dengan Tuor, sebuah tombak menembus dada makhluk itu. Berwarna emas dan mengeluarkan serpihan cahaya putih seperti serbuk.
Makhluk itu merintih kesakitan, menebas-nebas udara dengan cakarnya sebelum kemudian terjatuh tak berdaya.
"Kerja bagus Moraine" ucap Tuor pada Moraine dari kejauhan.
Moraine di kejauhan mengangguk. Sekelilingnya yang diselimuti cahaya emas sekejap menghilang. Buku sucinya yang melayang kembali turun ke tangannya. Nafasnya terasa sedikit tersenggal.
Penduduk yang bersembunyi ketakutan satu persatu keluar dari persembunyian mereka, menatap penasaran apa yang terjadi.
"Anak-anak Hera," bisik Tuor sambil matanya menerawang mayat di hadapannya.
"Master, apa ini perasaanku saja atau---"
"Aku juga merasa demikian." Tuor membalikkan tubuhnya, menatap langit di timur. "Sepertinya Sang Kegelapan mulai beraksi,"
lengang kembali mengisi kekosongan. Para penduduk yang penasaran, berdatangan mereka mengerumuni mayat makhluk hitam itu. Di sisi lain, aura jahat yang mencengkeram kini memudar dan kesetimbangan Ether pada tempat itu kembali terjaga. Satu dua pasang mata menatap awas ke arah Tuor. Namun mata yang berada di atas danau terasa sedikit berbeda dari yang lain.
"Aku mendengar sedikit kehebohan," kata suara dari balik sisa kabut di belakang. "Ulah kalian kah ini semua?"
"Tak seharusnya kau datang terlambat, sudah tugasmu untuk menjaga keseimbangan Ether di sekitar tempat ini, sampai-sampai membiarkan bermunculan Anak-anak Hera di sini, apa aku salah Gilliad?"
"Jangan salah paham, aku sudah melakukan sebaik mungkin, tapi sesuatu besar terjadi di markas pusat."
"Jangan pula kau mencari alasan atas kelalaianmu," timpal Moraine di kejauhan sana.
"Aku tidak mengada-ngada, sesuatu besar memang terjadi di markas besar." Gilliad berjalan menuju salah satu rumah warga yang masih berdiri kuat. Warga-warga gemetaran ketakutan melihat Gilliad mendekati salah satu rumah mereka. Namun aura yang dikeluarkan Moraine, membuat suasana hati para warga menjadi tenang. Mereka mempersilahkan Gilliad melihat mayat makhluk hitam itu.
"Apa yang ingin kau sampaikan, wahai Gilliad?"
"Buku Kematian berhasil dicuri,"
Sesaat keheningan kembali mengisi. Moraine dan Tuor saling bertukar pandang beberapa saat. Setengah ingin tertawa mereka, setengah ketakutan juga mereka. Namun sorot mata mereka kembali kepada Gilliad di sana. Seakan meminta penjelasan lebih lanjut.
"Kalian sebaiknya kembali, portal menuju markas besar sudah kubukakan untuk tiket kalian menuju markas besar, biar aku yang urus kekacauan di tempat ini,"
"Well, kalau begitu aku percayakan semua masalahmu pada dirimu sendiri," sindir Moraine sambil menaiki pelana kuda.
Tertawa lepas Gilliad mendengar ucapan Moraine, "Kau harus menjaga ucapanmu Moraine, aku salah satu Master sekaligus penjaga daerah ini,"
Yang dikata-kata oleh Gilliad hanya diam tak membalas. Moraine menarik tali kekang kuda. "Master Tuor?"
"Baiklah, aku segera ke sana." Tuor membalikkan badan dari arah langit timur sana. Meskipun tempat ini jauh berada di utara, aura aneh dari daerah Teritorial Gelap entah mengapa terasa sedikit di sini. Lebih lembut tapi tetap mencengkeram. "Jaga baik-baik tempat ini Gilliad, kurasa ada sesuatu yang tidak beres,"
"Oh ya tentu saja, aku pasti menjaga tempat ini. Kalian tidak perlu khawatir," seru Gilliad pada perumahan yang lengang. Keberadaan Moraine dan Tuor sudah tak lagi di tempat itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
Dance Seaweed
make ether ya? bukan magic
2023-11-16
1
Tanata✨
"Eter" -> "Ether"
2023-06-25
1
Tanata✨
"di berjalan" -> "dia berjalan" mungkin ya maksudnya?
2023-06-25
1