"Kalau tempat seperti itu ada, maukah kamu pergi ke sana denganku?" tanya Haris sembari menatap wajahku. Laki-laki ini dari tadi terus saja mengirimkan tatapan yang mengobrak-abrik degub jantungku.
Lelaki itu tiba-tiba menyentuh rambut yang menutupi wajahku karena tertiup angin sepoi-sepoi. Haris menyelipkan rambut tak beraturan ini ke belakang telingaku. Sentuhan tak sengaja tangan Haris di leherku membuat desiran-desiran halus di dada. Halus tapi getarnya terasa indah.
"Aku ingin pergi ke tempat yang menyenangkan, tempat di mana tak ada orang yang mengenal kita. Jadi kita tidak perlu berpura-pura untuk menjadi orang lain," ucapku perlahan-lahan.
Semakin intens tatapan Haris seolah menghujam jantungku. Haris mendekatkan wajahnya hingga aku bisa melihat bayanganku sendiri pada dua bola mata cokelatnya. Ah tatapan Haris membuatku makin gugup.
"Aku akan mengatur waktu supaya kita bisa menemukan tempat itu," ucap Haris. Pria itu terus tersenyum, dan tanpa kusadari senyum itu seperti menular. Berulang kali aku menepuk pipi pelan saat kami berjalan di tepi pantai, tepukan kecil untuk memastikan aku tidak sedang bermimpi.
Kami berjalan bersisian, sekarang batinku mendadak resah. Bagaimana bisa aku pergi ke suatu tempat tanpa sepengetahuan suamiku? Sepertinya itu suatu hal yang mustahil karena setiap kali Mas Andre akan pergi kerja, dia selalu bertanya, "Akan ke mana kamu hari ini? Kamu di rumah saja, kan? Kamu enggak ada acara hari ini?" Tidak ada kepergianku dari rumah yang tidak diketahui oleh Mas Andre.
Mungkin Haris bisa melihat raut wajahku yang tiba-tiba berubah muram, Haris segera menenangkan. "Jangan terlalu dipikirkan, Key, pasti semesta akan mengaturnya untuk kita jika waktunya tiba nanti. Aku akan menunggu sampai kamu benar-benar siap. Dan, tentu saja saat kamu sudah punya waktu."
Ya Tuhan!
Aku tidak bisa menjawab apa-apa karena ini terlalu gila untukku. Sampai detik ini bahkan aku masih tak percaya bahwa aku sedang berjalan-jalan bersama Haris tanpa sepengetahuan Mas Andre. Aku tidak pernah membayangkan sedikit pun kalau bisa bernapas lega di luar rumah. Haris adalah satu-satunya pria yang bisa memunculkan keberanian dalam diri ini untuk sedikit menikmati waktu bersenang-senang.
Hari beranjak sore, saatnya Cinderella harus berubah menjadi upik abu. Meskipun sedikit berat aku pun segera meminta Haris untuk mengantar ke stasiun kereta. Kami akhirnya berpisah di stasiun kereta.
Di ujung perpisahan aku tersenyum lembut kepada Haris. Tiba-tiba pria itu berbalik lalu memelukku.
"Key, aku harap hari ini bisa lebih panjang dari hari-hari sebelumnya karena bersamamu rasanya waktu berjalan begitu cepat. Aku belum puas memandang wajahmu yang teduh dan lembut ini, aku tidak mau pisah sama kamu," bisik Haris di telingaku.
Antara percaya tak percaya aku mengerjapkan mata mendengar perkataan Haris.
Sebetulnya aku malu mendapat pelukan hangat dari pria itu, tetapi kini aku lebih memilih untuk menuruti kata hati, bahwa aku juga merindukan pelukan itu. Aku tidak menjawab perkataan Haris, tetapi hanya dengan mengeratkan pelukan. Kurasa ini sudah menjadi jawaban yang cukup untuk Haris.
"Haris, makasih, ya? Aku senang hari ini kita bisa pergi jalan-jalan berdua. Aku pulang dulu."
"Keysha, aku menyukaimu," bisik Haris lagi sebelum ia melepaskan pelukan. Aku menggigit bibir, menguatkan hati, menahan debaran indah yang kian membuat napas ini terasa sesak. Dadaku penuh. Haris memenuhinya dengan kehangatan yang sulit aku jelaskan.
Tentu saja kejujuran Haris itu membuat hati ini mekar sekaligus mendatangkan gemuruh yang gaduh. Senang, malu, bahagia semua bercampur aduk jadi satu hingga membuatku ingin melompat.
"Tenang, Key. Tenangkan dirimu," bisikku pada hati yang berbunga-bunga.
Aku hanya tersenyum sambil melambaikan tangan kepada Haris.
Sesampainya di rumah, aku terus memegang dada ini, merasakan degup itu tidak berubah. Aku berlari ke kamar lalu menatap diriku di depan cermin. Ah ada rona merah di pipiku. Aku menangkupkan tangan di kedua pipi. Lagi-lagi, aku tak tahan untuk tidak senyum. Aku sudah lupa kapan terakhir tersenyum saat memandang diriku di depan cermin seperti ini.
"Jangan bercermin lama-lama," bentak Mas Andre setiap aku berganti baju.
"Untuk apa berlama-lama di depan cermin?! Tidak ada yang berubah, tubuhmu sekarang makin gemuk."
Ucapan Mas Andre selalu merendahkan dan mengikis rasa percaya diriku. Sejak hari itu, sejak Mas Andre selalu mencela fisikku, aku merasa malas bercermin, apalagi memakai riasan di wajah. Tadi siang adalah pertama kali aku memoles sedikit make up ke wajah, lalu berlama-lama bercermin.
Saking merasa tidak percaya dirinya, berkali-kali aku harus mengganti baju. Aku selalu teringat kata-kata Mas Andre ketika diri ini meminta pendapat untuk memakai gaun-gaun lama. Mas Andre selalu mengatakan tidak ada baju yang pas untukku, semua terlihat sama saja.
Bertahun-tahun aku menerima perlakuan merendahkan dari suaminya sendiri, hingga akhirnya aku benar-benar meyakini bahwa memang sudah tidak memiliki pesona apa pun lagi sebagai seorang wanita. Aku telan semua kata-kata Mas Andre seolah-olah itu benar.
Hari ini aku merasa Haris sudah mengembalikan semuanya. Rasa percaya dirin yang sempat terbuang, perasaan hangat dicintai, juga debaran-debaran indah yang sudah tidak pernah aku rasakan lagi bersama Mas Andre.
Lamunanku tersadar saat mendengar suara pintu dibuka. Mas Andre sudah pulang.
"Kenapa dengan wajahmu?" tanya Mas Andre.
"Wajahku? Kenapa memangnya Mas?" Aku balik bertanya. Oh, sial! Apakah Mas Andre melihat make-up ini? Aku belum sempat menghapusnya.
"Kamu dari tadi senyum-senyum sendiri, sudah gila, ya?" tanyanya ketus.
Aku lega dia tak sempat memerhatikan riasan wajahku. Sejenak aku melihat ke cermin dan memang riasan ini sudah luntur. Bibir merahku sudah kembali memucat, mungkin saat kami makan tadi, lipstik itu juga memudar.
"Sebentar aku hangatkan dulu masakannya, Mas."
Aku segera ke dapur menghindari tatapan Mas Andre.
Entahlah apa mungkin ini cuma perasaanku saja? Akhir-akhir ini sepertinya Mas Andre sedang memperhatikan aku lebih intens dari biasanya.
Beberapa kali ia menegurku saat aku memandang layar ponsel saat kami makan. Tak sengaja aku melakukan itu, karena asik membaca pesan-pesan Haris, sebelum buru-buru menghapus histori chatnya.
"Aku mau mandi dulu, Mas," ucapku sambil melewati Mas Andre.
Kami baru saja menikmati makan malam dalam keheningan seperti biasanya.
"Kenapa mandi malam-malam?" tanya Mas Andre.
"Gerah banget soalnya," jawabku mencari alasan. Bukan itu alasan sebenarnya. Aku ingin segera membalas chat Haris, dan kamar mandi adalah tempat yang paling aman.
[Makasih untuk hari ini, Key]
Pesan singkat dari Haris membuatku melayang. Aku hampir membalasnya saat mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. Duh, mana aku lupa menguncinya tadi saking terburu-buru.
"Mas, kenapa masuk ke sini?" tanyaku gugup.
"Memangnya kenapa? Aku 'kan, suamimu," jawab Mas Andre. Pria itu segera melepas baju dan celananya, membuatku bertambah panik.
"Kenapa kamu ketakutan? Ini bukan pertama kalinya kita mandi bersama, bukan?" Mas Andre memandangku dengan tatapan berbeda.
Aku hanya terdiam. Ini memang bukan pertama kalinya kami mandi bersama, tetapi itu sudah sangat lama berlalu. Mas Andre tidak lagi berselera untuk mandi bersamaku. Terakhir saat kami mandi bersama, Mas Andre bahkan mengusirnya untuk segera keluar dari kamar mandi. Mungkin kejadian itu sudah satu tahun yang lalu. Kenapa tiba-tiba sekarang Mas Andre ingin mandi bersama?
Belum hilang rasa terkejut ini, Mas Andre itu segera menarik tubuhku, lalu menarik bra yang masih menutup dada ini dengan paksa.
"Mas, apa-apaan, sih?" teriakku.
Tanpa memedulikan perkataan ucapanku, Mas Andre segera mendorong tubuh ini untuk memasuki bathtub.
Mendapat serangan yang tiba-tiba, aku tidak siap. Tanpa melakukan pemanasan terlebih dahulu, Mas Andre memaksa untuk berhubungan badan.
"Mas, sakit!" teriakku tersentak kaget saat Mas Andre memasukiku tanpa melakukan pemanasan.
Mas Andre tidak memedulikan teriakan-teriakan yang keluar dari mulutku. Dengan brutal Mas Andre berusaha mendapatkan apa yang ia mau. Ini sangat menyakitkan!
Mas Andre terus menggeram di belakangku, gerakannya semakin cepat tak terkendali. Ia tak berhenti memacu, membuat aku semakin menjerit menahan sakit.
Untuk pertama kalinya selama berhubungan dengan Mas Andre, air mata ini menetes. Rasa sakit di bawah sana tak terperi, tapi lebih sakit lagi hatiku, karena Mas Andre sama sekali tak mau tahu dan tak peduli mendengar jeritan kesakitan ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Astri Tri
egoiss laki2 ny
2023-05-11
1
Vera TV
mmm... bukan mendukung suatu perceraian... jika mmg 1 pihak sudah tidak merasa nyaman, dan kondisi tidak dapat diperbaiki baik secara komunikasi maupun perlakuan... lebih baik ya cerai... membahagiakan diri sendiri juga perlu... bunuh diri karena depresi itu bukan jalannya.. free your self... semangat kak ismi...
2023-03-28
1
Gitaemutz
kaya nya suami mu marah Key..
2023-03-27
1