Kartu Karyawan

“Haris Bintara,” gumamku membaca nama yang tertera pada kartu karyawan itu. Ternyata pria itu seorang konsultan di sebuah Bank swasta. Aku melihat ke arah pintu ruang pemeriksaan.

“Apa sebaiknya aku menunggu mereka sampai ke luar?”

Melirik jam yang terdapat pada dinding ruangan, menunjukkan pukul 16.00 di mana Mas Andre akan segera pulang ke rumah.

Sementara, aku belum menyiapkan makan malam. Karena waktu yang mendesak, akhirnya aku memilih untuk pulang terlebih dulu. Mungkin, esok aku akan mengembalikannya.

***

“Kau bilang apa?! Samplenya hilang? Apa kamu bodoh?!” pekik Mas Andre saat aku bilang jika sample benihnya telah hilang. Padahal aku sengaja membuangnya.

Aku diam dengan terus mengunyah makanan yang ada di mulut. Mas Andre mengambil sekaleng softdrink dan membukanya.

“Kau benar-benar membuang waktuku yang berharga, semua sia-sia!”

Mas Andre menenggak minumannya dengan terus menggerutu. “Kenapa kamu selalu ceroboh? Tidak bisakah melakukan hal yang benar?”

“Maafkan aku,” jawabku pelan.

“Berapa banyak hari ini?”

“Hari ini tidak begitu banyak yang datang, jadi-“

“Tidak, maksudku berapa banyak uang yang kau keluarkan?”

Aku pikir dia menanyakan jumlah pasien yang datang. “500 ribu, konsultasi dan vitamin.”

Mas Andre menghela napas panjang. “Untuk sesuatu yang tidak setimpal, mereka meminta terlalu banyak. Ini namanya perampokan!”

Aku menelan makanan dengan serat. Di matanya hanya ada untung-rugi. Padahal ini untuk kebaikan bersama. Di mana-mana namanya memakai jasa spesialis tentu akan merogoh kocek yang cukup dalam.

Pembicaraan kami tidak terlalu bagus, tapi kalau tidak memulainya Mas Andre pasti akan langsung tidur cepat. Aku mengingat hal yang harus kami lakukan malam ini. Kegiatan suami istri.

“Uhm, dokter bilang hari ini adalah masa suburku … bisakah malam ini kita melakukannya?”

Aku mengumpulkan keberanian menahan malu mengungkapkan maksud, tapi apa yang kudapat? Sebuah ******* lelah Mas Andre berhasil membuat hatiku terhempas ke dasar jurang. Apa segitu melelahkan? Apa sangat membebani?

Aku tidak berbicara lagi setelah mendapatkan respon seperti itu. Kami meneruskan ritual makan yang terasa sangat lama dan membosankan. Saling diam hingga Mas Andre selesai lalu memasuki kamar. Aku merapikan bekas makan dan mencucinya. Secepat mungkin membereskan tugasku untuk menyusul Mas Andre.

“Mas, kamu sudah tidur?” tanyaku saat memasuki kamar lalu menaiki ranjang. Mas Andre sedang berbaring memunggungiku.

“Aku belum tidur. Cepatlah! Buka bajumu, karena aku harus bangun pagi-pagi besok!”

Aku tersentak mendengar perintah Mas Andre. “Maksudnya kita langsung? Itu akan menyakitkan, tidak bisakah Mas melakukan pemanasan terlebih dahulu?”

Mas Andre menoleh dengan wajah tanpa ekspresi. Entah pergi ke mana senyuman yang dulu selalu ia berikan padaku. Mungkinkah karena waktu yang telah terbuang? Penantian membuatnya bosan. Padahal bukan hanya dirinya, aku pun lelah.

Tanpa sadar aku mencontohnya. Sangat sulit untuk menarik setiap sudut bibir hingga terasa kaku.

“Kalau begitu pemanasan saja sendiri, bangunkan aku ketika kamu sudah basah.”

Aku memandangnya dengan tidak percaya, bisa-bisanya ia menyuruhku untuk merangsang diri sendiri? Memangnya aku gadis kemarin sore? Aku ini istri yang mempunyai suami.

“Aku sudah terlalu lelah dengan drama di kantor jadi, tolong berikan aku sedikit udara untuk bernapas!” tambahnya dan kembali memunggungi ku.

Aku mengepalkan tangan yang gemetaran, rasanya sangat sesak. Dia meminta udara untuk bernapas seolah tidak ada oksigen di rumah ini. Apa dia tau jika aku pun sangat sulit untuk melakukannya? Ibarat penyakit aku sudah dalam keadaan kronis.

***

Akhirnya aku melakukan hal yang diperintahkan Mas Andre, merangsang diri sendiri dengan menonton film melalui internet. Aku berusaha dengan sekuat tenaga agar bisa terpancing birahi, tapi percuma. Aku tidak kunjung basah. Menatap pasrah ponsel yang menayangkan berbagai adegan panas. Sama sekali tidak mempengaruhiku.

Ini tidak bisa dibiarkan, hanya membuang waktu saja. Aku membalik badan dan menggoyang bahu Mas Andre.

“Mas, aku tidak bisa. Ya sudah, tidak masalah jika harus kesakitan. Yang penting kita harus tetap melakukannya, karena sekarang adalah masa suburku.”

Mas Andre tidak menjawab. Ia memilih mendengkur menuju ke dunia mimpi. Aku melepaskan pakaian dengan kesal. Turun dari ranjang dan meniti diri di depan cermin.

“Apa Mas Andre sudah tidak tertarik dengan tubuhku lagi?” gumamku mengoyak hati.

Tanpa sadar air mataku menetes, padahal aku tidak ingin menangis. Aku mengusap jejak tangis itu sambil tersenyum kemudian terkikik geli.

“Apa yang aku tangisi? Aku sama sekali tidak sedih karena, sudah biasa seperti ini.”

Anehnya, air mata malah terus mengalir membuatku terisak, tubuh pun gemetaran.

‘Aku berusaha kuat, tapi sampai kapan?’ Aku luruh ke lantai dan memeluk diri dalam kedinginan.

***

Keesokan harinya aku terbangun dengan wajah sembab, apa Mas Andre menyadari atau sekedar menanyakannya? Jawabannya adalah tidak. Ia sarapan sambil menatap layar ponsel. Seolah kami berada di dunia berbeda, dunia yang tidak bisa aku gapai.

Setelah selesai sarapan pun dia sama sekali tidak melihat padaku. Tidak ada rasa bersalah telah meninggalkanku tidur semalam dan tidak mengungkit masa ovulasiku. Ia segera bersiap-siap untuk pergi bekerja.

“Aku akan pulang agak malam,” ucapnya mengambil tas kantor lalu menghilang dari balik pintu tanpa menunggu aku mengucapkan sepatah kata pun.

Aku menarik nafas berusaha mengendalikan diri. “Mungkin Mas Andre memang sedang terburu-buru,” batinku.

Masih banyak yang harus aku lakukan dibandingkan memikirkan sikapnya. Mencoba berpikir positif untuk mengembalikan moodku pagi ini.

Aku membersihkan diri lalu berpakaian, saat ingin berdadan tanpa sengaja menyenggol tasku yang ada di meja rias. Dari dalam tas itu terdapat sebuah kartu karyawan. Aku pun memekik karena sempat melupakannya.

“Ya ampun, aku harus mengembalikannya!”

Secepat mungkin aku menyelesaikan ritual dandan yang sempat tertunda kemudian pergi menuju alamat yang tertera di kartu tersebut.

Selang beberapa saat aku sampai di depan sebuah gedung bertingkat yang menjulang layaknya mercusuar. Sangat tinggi, aku sampai tidak bisa menghitung banyaknya lantai yang ada di gedung itu.

Bangunan tersebut memiliki banyak perusahaan di dalamnya. Karena memang disewakan di setiap lantainya. Dan, aku tidak tahu lantai berapa perusahaan pemilik kartu tersebut.

Tidak mau tersasar tidak jelas, aku berinisiatif untuk bertanya pada bagian recepsionist.

“Ehm, permisi ….”

“Itu kartuku!”

Aku menoleh pada asal suara, pria tampan yang pernah aku temui berbinar ketika aku menyerahkan kartunya.

“Terima kasih banyak! Aku hampir dinyatakan bolos karena kartu itu.”

Aku melebarkan mata karena merasa bersalah. “Maaf, seharusnya saya mengembalikannya kemarin, tapi-“

“Tidak apa-apa, yang penting kartu ini sudah kembali,” selanya maklum.

Aku mengangguk dengan senyum lega.

“Ngomong-ngomong Anda menemukannya di mana?”

“Di rumah sakit, di poli kandungan,” ucapku membuat pipi pria itu merah.

Terpopuler

Comments

Ria Vtria

Ria Vtria

kalo aku udah ngabur aja lah,,, cari yg laen yg lebih perduli... capek kalo gak di pedulikan kayak gitu...😁😁😁

2023-03-29

1

Gitaemutz

Gitaemutz

gimana mau hamil ,, punya pikiran dan laki nya gak mau .. yang sabarr..

2023-03-26

1

lina

lina

mungkin udah ada cewe laen d luar sana,

2023-03-25

1

lihat semua
Episodes
1 Penantian
2 Kartu Karyawan
3 Dewi Penolong
4 Kembali ke realita
5 Rasa Kasihan
6 Pertikaian
7 Jari yang terpaut
8 Nomor telepon
9 Gosip
10 Andre Curiga
11 Sebuah pesan
12 Debaran Baru
13 Batas Haris
14 Mimpi Indah
15 Sakit tak terperi
16 Tingkah aneh Andre
17 Sandiwara Andre
18 Jaga Sikap
19 Pergolakan batin Haris
20 Ketakutan Keysha
21 Setelan Pabrik
22 Melepas Rindu
23 Keluhan Diana
24 Pelukan Hangat
25 Diana datang?
26 Ketahuan!
27 Semakin Sakit
28 Luapan Amarah
29 Diana Nekat
30 Ingin Pisah
31 Percuma!
32 Jalan Baru
33 Ide Gila
34 Paksaan
35 Gelap Gulita
36 Dilema
37 Tidak Rela
38 Batin Keysha
39 Diana tidak menyerah
40 Tetangga Keysha
41 Mengungsi
42 Foto Haris
43 Memulai hari baru
44 Siapa dia?
45 Rindu menggebu
46 Korban Lain
47 Diana Mabuk
48 Telepon Ayu
49 Pembalasan Setimpal
50 Menginap dengan Haris
51 Hampir Terjadi
52 Hanya alat
53 Andre sadar?
54 Berhak Bahagia
55 Bujukan Haris
56 Tinggal bersama
57 Mencari Kontrakan
58 Melunasi Hutang
59 Tetangga
60 Nasi Goreng
61 Dimana Haris?
62 Penumpang Misterius
63 Kenangan tertinggal
64 Membawa koper
65 Harapan Diana
66 Keysha Pergi
67 Dipecat?
68 Petir di siang bolong
69 Putus asa
70 Bantuan tidak terduga
71 Berita Buruk atau Baik?
72 Kabar Keysha
73 Kemenangan Diana
74 Keputusan yang tidak berubah
75 Perang Dingin
76 Wajah yang fimiliar
77 Sikap Ibu
78 Bantuan Keysha
79 Patah untuk kesekian kali
80 Baby Shower
81 Salah paham
82 Amarah Haris
83 Pertemuan tidak terduga
84 Tertangkap juga
85 Sebuah rahasia
86 Tipu daya Diana
87 Tidak ada yang salah!
88 Ibu Syok
89 Diana diusir
90 Sudah tidak mempan
91 Status Baru
92 Surat panggilan
93 Masuk Rumah Sakit
94 Karpet merah
95 Bukan kebetulan
96 Benang merah
97 Ingin terus tapi takut
98 Mendapat jawaban
99 Harapan Keysha
100 Akhir Kisah?
101 Bonchap 1
102 Bonchap 2
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Penantian
2
Kartu Karyawan
3
Dewi Penolong
4
Kembali ke realita
5
Rasa Kasihan
6
Pertikaian
7
Jari yang terpaut
8
Nomor telepon
9
Gosip
10
Andre Curiga
11
Sebuah pesan
12
Debaran Baru
13
Batas Haris
14
Mimpi Indah
15
Sakit tak terperi
16
Tingkah aneh Andre
17
Sandiwara Andre
18
Jaga Sikap
19
Pergolakan batin Haris
20
Ketakutan Keysha
21
Setelan Pabrik
22
Melepas Rindu
23
Keluhan Diana
24
Pelukan Hangat
25
Diana datang?
26
Ketahuan!
27
Semakin Sakit
28
Luapan Amarah
29
Diana Nekat
30
Ingin Pisah
31
Percuma!
32
Jalan Baru
33
Ide Gila
34
Paksaan
35
Gelap Gulita
36
Dilema
37
Tidak Rela
38
Batin Keysha
39
Diana tidak menyerah
40
Tetangga Keysha
41
Mengungsi
42
Foto Haris
43
Memulai hari baru
44
Siapa dia?
45
Rindu menggebu
46
Korban Lain
47
Diana Mabuk
48
Telepon Ayu
49
Pembalasan Setimpal
50
Menginap dengan Haris
51
Hampir Terjadi
52
Hanya alat
53
Andre sadar?
54
Berhak Bahagia
55
Bujukan Haris
56
Tinggal bersama
57
Mencari Kontrakan
58
Melunasi Hutang
59
Tetangga
60
Nasi Goreng
61
Dimana Haris?
62
Penumpang Misterius
63
Kenangan tertinggal
64
Membawa koper
65
Harapan Diana
66
Keysha Pergi
67
Dipecat?
68
Petir di siang bolong
69
Putus asa
70
Bantuan tidak terduga
71
Berita Buruk atau Baik?
72
Kabar Keysha
73
Kemenangan Diana
74
Keputusan yang tidak berubah
75
Perang Dingin
76
Wajah yang fimiliar
77
Sikap Ibu
78
Bantuan Keysha
79
Patah untuk kesekian kali
80
Baby Shower
81
Salah paham
82
Amarah Haris
83
Pertemuan tidak terduga
84
Tertangkap juga
85
Sebuah rahasia
86
Tipu daya Diana
87
Tidak ada yang salah!
88
Ibu Syok
89
Diana diusir
90
Sudah tidak mempan
91
Status Baru
92
Surat panggilan
93
Masuk Rumah Sakit
94
Karpet merah
95
Bukan kebetulan
96
Benang merah
97
Ingin terus tapi takut
98
Mendapat jawaban
99
Harapan Keysha
100
Akhir Kisah?
101
Bonchap 1
102
Bonchap 2

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!