Sebuah pesan

(Pov Andre)

Melihat Keysha yang diam tanpa kata sambil terus menyendokkan nasi dan lauk ke mulutnya, menjadi satu ketenangan bagiku. Istri yang patuh tidak melawan tentu membuat para suami tidak khawatir, begitu pun yang aku mau dari Keysha.

Aku mencari-cari, apakah masih ada pekerjaan rumah yang kurang rapi, tetapi tidak menemukannya. Rumah dalam keadaan bersih dan rapi. Baju-baju sudah di setrika dan dimasukkan ke dalam lemari. Dapur juga kinclong, seolah-oleh hanya seperti dapur pajangan, tidak pernah dipakai memasak. Bunga-bunga dalam pot tumbuh subur dan segar karena tiap hari Keisya selalu menyiramnya.

Semakin aku rajin mencari kekurangan istriku, semakin aku tidak menemukannya. Sebagai istri yang bertugas mengurus rumah, Keysha melakukannya dengan sangat baik. Baguslah, setidaknya ada hal yang bisa aku banggakan darinya.

Eh, tapi tunggu dulu, kenapa sekarang Keysha ke mana-mana selalu menenteng hp-nya?

Sudah aku perhatikan beberapa hari ini, dia seperti tidak ingin lepas dari ponselnya. Tidak seperti biasanya, Keysha sering meletakkan ponselnya sembarangan. Terkadang di meja makan, sering ketinggalan di dekat wastafel cuci piring, bahkan Keysha pernah juga kehilangan ponselnya yang rupanya tertinggal di kursi teras depan. Dia meninggalkannya begitu saja usai menyirami tanaman.

“Mas, bajunya sudah aku siapkan semua. Tinggal dipilih saja seperti biasanya. Tolong yang tidak dipakai langsung dimasukkan ke dalam lemari,” ucap Keysha sambil berlalu dari kamar.

“Kamu mau ke mana?” tanyaku sedikit khawatir. Jangan sampai dia pergi lagi hari ini, aku tidak akan kasih izin.

“Ke mana lagi? Mau nyiramin tanaman di depan,” jawab Keysha sambil berlalu dari hadapanku.

Lagi-lagi ponsel itu ditenteng di tangan kirinya. Aku jadi penasaran, apa yang ia sembunyikan di dalam ponselnya? Tidak biasanya Keysha bersikap seperti ini.

Dulu, dia sering menegurku ketika kami makan dan aku sibuk dengan ponsel.

“Mas, bisa tidak ponselnya disimpan dulu? Nanti bisa dilanjutkan, sekarang kita makan dulu.” Atau “Mas, kenapa, sih, di rumah masih asyik sama HP? Padahal di kantor juga udah dipegang seharian. Kamu pulang tapi pikiranmu selalu di HP terus,” omelnya.

Kini pemandangan itu justru sering aku lihat. Keysha lebih sering memegang ponsel sebelum aku membentaknya kemarin.

Pernah juga aku ketinggalan ponsel saat mau berangkat kerja. Baru setengah perjalanan, aku sadar ponselku ketinggalan lalu memutar balik mengambilnya di rumah. Keysha keheranan melihat aku yang baru saja keluar rumah, tiba-tiba sudah kembali ke rumah lagi.

“Kenapa, Mas? Ada yang ketinggalan?” tanyanya.

“Kamu ini jadi istri berguna dikit bisa? Kalau suami ketinggalan barang itu jangan diam aja, kasih tahu. Kayak gini aku harus balik lagi, bisa-bisa telat sampai kantor. Kalau telat ada sanksi absensi, bisa dipotong gaji,” jawabku membuat Keisya bungkam. Dia memang pantas disalahkan untuk semua kekacauan di rumah ini.

Baginya, dulu benda itu tidak bernilai, bahkan hanya menjadi pengganggu. Namun, kini benda pipih itu selalu ia bawa seolah-olah bagian dari nyawanya, yang harus ia lindungi setengah mati.

“Aku berangkat dulu.”

Keysha tersentak kaget mendengar suaraku. Sepertinya dia sangat asyik memegang ponselnya, hingga tidak sadar saat aku mendekatinya.

“Oh, iya, Mas. Hati-hati di jalan,” jawabnya gugup.

“Kenapa kamu gugup gitu?”

“Eh, tidak apa-apa, kok.” Keisya menyembunyikan ponsel itu di balik badannya.

“Kamu tidak ke mana-mana, kan, hari ini?”

“Tidak, kok, aku di rumah aja. Masih nunggu kabar tentang lowongan guru les itu. Kalau nanti ada panggilan untuk wawancara, aku pasti bilang sama Mas Andre.”

“Maksudnya? Wawancara sama siapa?”

“Ya ini, kan, lembaga, Mas. Jadi aku melamar ke lembaga kursus, baru dari situ nanti akan diarahkan dapat area mana. Aku, sih, kemarin saat isi formulir minta ditempatkan di area yang tidak terlalu jauh dari rumah kita.”

“Oh.” Aku hanya menjawab pendek.

“Ingat, ya. Jangan keluar rumah tanpa seizinku karena aku enggak akan memaafkan kamu kalau berani begitu.”

“Iya, Mas. Aku paham, kok.”

“Tentang lamaran jadi guru les atau apa pun itu, sebaiknya kamu tidak perlu memaksakan diri. Aku masih bisa kasih kamu makan,” ucapku tanpa memandang ke arahnya.

Sekarang aku yakin, Keysha sedang memandangku untuk mencari jawaban kenapa aku berkata begitu.

Entah kenapa, saat dia benar-benar mewujudkan perintahku untuk mencari pekerjaan, justru hal itu membuat aku tidak tenang di kantor. Apalagi ketika mendengar obrolan Rista dan Rendy, juga Siska yang selalu membahas tentang perselingkuhan.

Aku bisa gila kalau Keysha yang berselingkuh seperti yang mereka katakan. Keysya hanya milikku, tidak boleh ada satu orang pun yang ingin mengganggu apalagi memilikinya.

“Kalau cuma guru les tidak makan banyak waktu, Mas. Paling juga tiga sampai empat jam. Aku bisa melakukannya saat kamu kerja untuk mengisi waktu luang. Lagian ke depannya, mungkin kita akan lebih banyak mengeluarkan biaya untuk dokter kandungan,” ucap Keysha lirih.

Hanya itu yang ada di dalam otaknya. Dokter kandungan lagi, periksa kesuburan lagi, lalu pulang dengan raut wajah kecewa lagi, memang hanya itu yang bisa ia lakukan.

Aku hanya mentertawakannya dalam hati. Tidak mungkin mencari pekerjaan meskipun hanya sebagai guru les bisa semudah itu. Syukurlah kalau dia masih sebodoh itu.

Namun, aku tidak ingin berdebat lebih panjang karena jam sudah menunjukkan jam 08.00 lebih, sedangkan aku harus masuk jam 09.00 pagi.

Hari berikutnya, aku masih mengamati aktivitas Keysha dan tidak ada yang mencurigakan kecuali satu hal, dia terlihat tidak mau terpisah dari ponselnya.

Hal itu semakin memantik rasa penasaran dalam diriku. Saat dia masuk ke kamar mandi, aku memanfaatkan kesempatan. Aku meraih ponselnya yang tergeletak di dekat pintu kamar mandi.

Aku menyalakan ponsel milik Keysha dan sangat kaget karena ponselnya dikunci. Sejak kapan dia mulai mengunci ponsel? Biasanya dia enggak pernah mengunci ponselnya. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan.

Detak jantungku semakin berpacu cepat menahan emosi. Memang ponsel adalah area privasi seseorang, tetapi aku tetap enggak rela Keysha mengunci ponselnya, seolah-olah sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Kali ini rasa waswas itu berubah mengarah kepada kecurigaan.

Apa benar Keysha berselingkuh? Tapi bagaimana bisa? Dan dengan siapa?

Aku masih tidak habis pikir, dan merasa sudah mulai terpengaruh dengan omongan Riska dan kawan-kawannya. Karena yakin hal itu tidak akan mungkin, sampai akhirnya sebuah notifikasi pesan muncul di layar.

‘Selamat beristirahat.’

Hanya itu bunyi pesan yang melintas, tetapi sanggup memukul jantungku hingga terkapar.

Aku harus menahan napas karena detak jantung ini semakin tidak beraturan. Bagaimana tidak? Pengirim pesan itu bernama Haris. Jelas- jelas itu nama seorang pria. Ada seorang pria yang dengan santainya mengirimkan pesan kepada istriku dan selama ini aku enggak tahu.

Perlahan-lahan otakku mulai berputar. Jadi benar Keysha berselingkuh dengan pria bernama Haris ini? Siapa sebenarnya dia? Bagaimana mereka bisa bertemu? Sejak kapan mereka berselingkuh? Pertanyaan demi pertanyaan itu tiba-tiba melintas liar di kepalaku, hingga tanpa sadar tanganku memukul dinding.

Jadi selama ini Keysha sedang berkirim pesan dengan seorang pria? Semua hal yang pernah dikatakan Riska seolah-olah sekarang sedang dibentangkan lebar-lebar di hadapanku.

Istriku mulai asyik dengan dunianya sendiri, bahkan sering tidak mengacuhkanku saat aku pulang kerja.

Sekarang dia tidak pernah mendebat omonganku, seperti tidak peduli aku marah atau jengkel. Keysha juga seolah-olah sedang membangun tembok yang tinggi di antara kami. Diamnya itu bukan diam kepatuhan. Diamnya istriku seperti sedang menyusun kekuatan untuk melawan.

Berani sekali dia melakukan hal ini. Apakah dia tidak menganggapku? Apakah dia sudah siap menerima risikonya? Keysha seolah-olah sedang menantangku.

Tidak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka. Aku sudah lebih dulu bersembunyi dari balik lemari buku yang tidak jauh dari kamar mandi.

Keysha melihat ke kiri dan ke kanan memastikan keadaan. Ia keluar dengan berbalut handuk lalu dengan sigap meraih ponsel bersamanya.

Terpopuler

Comments

list_tyo

list_tyo

nah kaann Ndre! Makanya, jadi laki jangan kebanyakan egois! Giliran Keysha mulai lelah dengan semua, baru tahu rasa kamu.

2023-04-22

1

Fifinovia Willyantari

Fifinovia Willyantari

jangan aman kalo wanitamu diam...
karna itu akan menjadi bom waktu

2023-03-31

1

Vera TV

Vera TV

hahahaha... kuapok kon andre... lanjut kak ismi...gaz keun

2023-03-23

1

lihat semua
Episodes
1 Penantian
2 Kartu Karyawan
3 Dewi Penolong
4 Kembali ke realita
5 Rasa Kasihan
6 Pertikaian
7 Jari yang terpaut
8 Nomor telepon
9 Gosip
10 Andre Curiga
11 Sebuah pesan
12 Debaran Baru
13 Batas Haris
14 Mimpi Indah
15 Sakit tak terperi
16 Tingkah aneh Andre
17 Sandiwara Andre
18 Jaga Sikap
19 Pergolakan batin Haris
20 Ketakutan Keysha
21 Setelan Pabrik
22 Melepas Rindu
23 Keluhan Diana
24 Pelukan Hangat
25 Diana datang?
26 Ketahuan!
27 Semakin Sakit
28 Luapan Amarah
29 Diana Nekat
30 Ingin Pisah
31 Percuma!
32 Jalan Baru
33 Ide Gila
34 Paksaan
35 Gelap Gulita
36 Dilema
37 Tidak Rela
38 Batin Keysha
39 Diana tidak menyerah
40 Tetangga Keysha
41 Mengungsi
42 Foto Haris
43 Memulai hari baru
44 Siapa dia?
45 Rindu menggebu
46 Korban Lain
47 Diana Mabuk
48 Telepon Ayu
49 Pembalasan Setimpal
50 Menginap dengan Haris
51 Hampir Terjadi
52 Hanya alat
53 Andre sadar?
54 Berhak Bahagia
55 Bujukan Haris
56 Tinggal bersama
57 Mencari Kontrakan
58 Melunasi Hutang
59 Tetangga
60 Nasi Goreng
61 Dimana Haris?
62 Penumpang Misterius
63 Kenangan tertinggal
64 Membawa koper
65 Harapan Diana
66 Keysha Pergi
67 Dipecat?
68 Petir di siang bolong
69 Putus asa
70 Bantuan tidak terduga
71 Berita Buruk atau Baik?
72 Kabar Keysha
73 Kemenangan Diana
74 Keputusan yang tidak berubah
75 Perang Dingin
76 Wajah yang fimiliar
77 Sikap Ibu
78 Bantuan Keysha
79 Patah untuk kesekian kali
80 Baby Shower
81 Salah paham
82 Amarah Haris
83 Pertemuan tidak terduga
84 Tertangkap juga
85 Sebuah rahasia
86 Tipu daya Diana
87 Tidak ada yang salah!
88 Ibu Syok
89 Diana diusir
90 Sudah tidak mempan
91 Status Baru
92 Surat panggilan
93 Masuk Rumah Sakit
94 Karpet merah
95 Bukan kebetulan
96 Benang merah
97 Ingin terus tapi takut
98 Mendapat jawaban
99 Harapan Keysha
100 Akhir Kisah?
101 Bonchap 1
102 Bonchap 2
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Penantian
2
Kartu Karyawan
3
Dewi Penolong
4
Kembali ke realita
5
Rasa Kasihan
6
Pertikaian
7
Jari yang terpaut
8
Nomor telepon
9
Gosip
10
Andre Curiga
11
Sebuah pesan
12
Debaran Baru
13
Batas Haris
14
Mimpi Indah
15
Sakit tak terperi
16
Tingkah aneh Andre
17
Sandiwara Andre
18
Jaga Sikap
19
Pergolakan batin Haris
20
Ketakutan Keysha
21
Setelan Pabrik
22
Melepas Rindu
23
Keluhan Diana
24
Pelukan Hangat
25
Diana datang?
26
Ketahuan!
27
Semakin Sakit
28
Luapan Amarah
29
Diana Nekat
30
Ingin Pisah
31
Percuma!
32
Jalan Baru
33
Ide Gila
34
Paksaan
35
Gelap Gulita
36
Dilema
37
Tidak Rela
38
Batin Keysha
39
Diana tidak menyerah
40
Tetangga Keysha
41
Mengungsi
42
Foto Haris
43
Memulai hari baru
44
Siapa dia?
45
Rindu menggebu
46
Korban Lain
47
Diana Mabuk
48
Telepon Ayu
49
Pembalasan Setimpal
50
Menginap dengan Haris
51
Hampir Terjadi
52
Hanya alat
53
Andre sadar?
54
Berhak Bahagia
55
Bujukan Haris
56
Tinggal bersama
57
Mencari Kontrakan
58
Melunasi Hutang
59
Tetangga
60
Nasi Goreng
61
Dimana Haris?
62
Penumpang Misterius
63
Kenangan tertinggal
64
Membawa koper
65
Harapan Diana
66
Keysha Pergi
67
Dipecat?
68
Petir di siang bolong
69
Putus asa
70
Bantuan tidak terduga
71
Berita Buruk atau Baik?
72
Kabar Keysha
73
Kemenangan Diana
74
Keputusan yang tidak berubah
75
Perang Dingin
76
Wajah yang fimiliar
77
Sikap Ibu
78
Bantuan Keysha
79
Patah untuk kesekian kali
80
Baby Shower
81
Salah paham
82
Amarah Haris
83
Pertemuan tidak terduga
84
Tertangkap juga
85
Sebuah rahasia
86
Tipu daya Diana
87
Tidak ada yang salah!
88
Ibu Syok
89
Diana diusir
90
Sudah tidak mempan
91
Status Baru
92
Surat panggilan
93
Masuk Rumah Sakit
94
Karpet merah
95
Bukan kebetulan
96
Benang merah
97
Ingin terus tapi takut
98
Mendapat jawaban
99
Harapan Keysha
100
Akhir Kisah?
101
Bonchap 1
102
Bonchap 2

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!