Rasa Kasihan

“Mas, aku mau ada acara reuni kecil-kecilan dengan teman-teman SMA. Boleh, kan?”

Aku memulai obrolan saat hari berganti. Pagi-pagi biasanya mood Mas Andre masih bagus, waktu yang tepat untuk meminta izin keluar dari rumah hari ini.

“Ada-ada saja alasanmu untuk keluar rumah. Mau reunian di mana?” tanya Mas Andre datar.

“Di rumah Ratih. Cuma bertiga, kok. Aku, Ratih sama Ayu. Boleh 'kan, Mas?”

Raut wajah Mas Andre masih datar. Dia hanya menganggukkan kepalanya.

“Yang penting bukan di tempat umum. Aku tidak suka kalau kamu keluyuran ke tempat umum, nge-mall, ke restoran, ke cafe, jangan habiskan uang di sana!” Dengan tegas Mas Andre kembali menyinggung perkara uang.

“Jadi boleh 'kan, Mas?”

Aku perlu mendapat penegasan lagi supaya tidak dicurigai. Laki-laki itu hanya menganggukkan kepalanya.

“Makasih, ya, Mas.”

“Jangan lupa waktu, kalau sudah selesai langsung pulang,” imbuhnya.

Ganti aku yang menganggukkan kepala.

“Iya, Mas. Tidak akan lama, kok.”

Aku bersiap-siap untuk bertemu Ayu dan Ratih. Sudah lama kami tidak melepas rindu, hanya sesekali berbalas pesan di WAG. Ratih sengaja mengundang aku dan Ayu. Dia bilang kangen dengan kami berdua. Tentu saja aku juga merasakan kangen, sekaligus ingin melupakan sejenak beban berat yang selama ini mengimpit dada.

Aku butuh berbicara kepada manusia, bukan hanya menatap tembok di rumah ini.

Akhirnya aku sampai di rumah Ratih. Ayu sudah lebih dulu tiba. Kami pun mengobrol melepas kerinduan.

“Keisya, tuh, yang waktu itu naksir berat sama Lutfi. Apa kabar dia sekarang, ya, Key?” tanya Ayu.

Aku mengedikkan bahu.

“Sudah lama aku tidak dengar kabar tentang dia. Kayaknya, sih, sudah nikah. Lucu juga, ya, kalau diingat-ingat. Waktu itu kalau ketemu dengan Lutfi, dadaku rasanya berdegup sangat kencang. Kalau ingat aku jadi malu sendiri.”

“Itulah yang dinamakan first love. Cinta pertama memang tidak akan terlupa. Wah, ngomong-ngomong asinan buah ini segar sekali. Ratih, kamu bikin sendiri?” tanya Ayu sambil menuang kuah asinan ke dalam mangkuk kecil.

Ratih menganggukkan kepalanya.

“Aku coba resep baru, sepertinya terlalu asam, ya?”

“Tidak juga. Segar, kok, gulanya juga pas,” jawab Ayu.

“Iya, benar. Cocok dimakan siang-siang dalam cuaca panas begini,” imbuhku.

Kami kembali larut dalam obrolan yang seru. Ayu lalu menuangkan minuman bersoda yang ia bawa.

“Ayo, Ratih. Ini gelasmu,” ucap Ayu.

Ratih menggelengkan kepalanya. “Kalian saja, aku lagi tidak minum soda,” jawab Ratih pelan.

“Kenapa? Kok tumben? Biasanya kalau kita beli pizza, kamu yang nomor satu ngabisin minuman bersoda,” sahut Ayu.

“Tidak apa-apa, lagi kurang enak badan saja. Masuk angin kayaknya,” elak Ratih.

Aku perhatikan Ratih yang sedikit berbeda. Wajahnya agak pucat, pipinya juga tirus, tetapi ada pemandangan berbeda. Dadanya terlihat kencang, begitu juga bagian belakang pinggul Ratih yang sedikit melebar. Sejenak hatiku menebak-nebak, apakah Ratih sedang hamil?

“Kenapa kamu malah tidak mau makan asinan bikinanmu sendiri, Ratih?” tanyaku sambil mengunyah bengkuang.

“Sebelum kalian datang, aku sudah makan banyak. Jadi sekarang aku sudah kenyang. Pokoknya dinikmati saja, ya, hidangan ala kadarnya ini,” ucap Ratih lagi.

Tiba-tiba wanita itu menutup mulutnya lalu berlari ke kamar mandi.

Cukup lama dia berada di kamar mandi lalu keluar dengan wajah yang sedikit memucat, sepertinya Ratih habis muntah.

Kali ini aku merasa instingku tidak salah. Sepertinya Ratih memang sedang hamil. Kenapa dia tidak memberitahukan kabar gembira ini kepada kami?

Ratih baru dua tahun menikah, sedangkan Ayu hampir sama denganku. Kami menikah di tahun yang sama, hanya bulannya yang berbeda dan saat ini Ayu sudah memiliki anak perempuan berusia enam tahun.

“Aduh, maaf, ya. Aku bolak-balik ke belakang, sepertinya aku masuk angin, deh. Jadi agak mual, gitu,” ucap Ratih sambil memijat-mijat pundaknya

“Sudah minum obat?” tanya Ayu.

Ratih mengangguk.

“Sudah, kok, tadi aku sudah minum obat cair. Sedikit kecapean juga, sih, akhir-akhir ini,” jawab Ratih.

“Sejak kapan kamu mual-mual, Ratih?” tanyaku ingin tahu.

“Entahlah. Sepertinya, sih, beberapa hari ini, tapi yang parah, tuh, hari ini memang. Maaf, loh, bukan mau merusak suasana. Memang gini badanku, dikit-dikit masuk angin. Ayo, dong, dimakan lagi. Masih banyak ini makanan lainnya. Empek-empeknya masih utuh, ada juga risol mayo belum kalian sentuh. Keisya, biasanya kamu suka banget risol mayo buatanku. Kenapa dianggurin?”

“Oh, iya, pasti nanti aku habiskan. Tenang saja.”

Aku menjawab sambil terus berpikir. Ratih memang sepertinya sedang hamil, kenapa dia tidak jujur saja?

“Sudah sore kayaknya, aku harus segera pulang, deh. Keburu suamiku yang pulang duluan, bisa panjang urusannya. Meskipun tadi udah izin, tapi tetap saja tidak enak kalau suami yang pulang duluan. Iya 'kan?”

Ayu bangkit dari sofa. Lalu setelah cipika-cipika denganku dan Ratih dia berlalu. Begitu pun aku yang segera menyusul Ayu. Setelah berpamitan dengan Ratih, kami berpisah.

Di sepanjang perjalanan, aku terus berpikir kenapa Ratih tidak memberitahukan tentang kehamilannya itu kepada kami? Bahkan sampai kami pulang pun dia masih tetap bungkam.

Ratih pasti sedang menjaga perasaanku. Dia baru dua tahun menikah dan sekarang telah hamil, sedangkan aku sudah tujuh tahun menunggu, tetapi tidak juga mendapati dua garis merah di tespek yang hampir setiap pagi setia aku tunggu.

Mengapa mereka harus mengasihani aku yang belum mempunyai keturunan? Aku benar-benar kecewa. Sesampainya di rumah, aku menumpahkan rasa kecewaku dengan menangis sekeras-kerasnya di atas kasur.

Aku juga tidak menginginkan berada di posisi ini, jadi harusnya mereka tidak usah mengasihani aku. Aku terus berjuang dan tidak akan menyerah untuk mendapatkan keturunan, jadi jangan menganggap kehamilan mereka akan menyakitiku.

'Keisya kamu wanita yang kuat.' Lagi-lagi aku membayangkan Haris yang menguatkan aku.

Di luar hujan turun begitu deras, tetapi rasanya lebih deras air mataku yang terus saja mengalir tanpa bisa aku kendalikan. Air mata ini tidak pernah kering dan habis saat aku merasa putus asa, hanya dia yang setia menjadi teman.

Tidak lama kemudian Mas Andre pulang. Ah, sialnya aku lupa keadaan rumah masih berantakan.

“Kenapa rumah seperti kapal pecah? Belum juga kamu bersihkan cucian piring menumpuk, jemuran tidak diangkat padahal hujan, terus meja makan juga kosong tidak ada makanan. Keisya, kamu ngapain aja seharian ini? Aku sudah bilang 'kan kamu boleh keluar, tapi jangan pulang telat. Sekarang malah begini, nih, kalau dikasih izin. Pasti kamu baru pulang 'kan? Belum sempat beres-beres sudah pergi, suami pulang rumah berantakan seperti kapal pecah.” Mas Andre terus saja mengomel tanpa tahu hatiku sedang berdarah-darah.

Aku segera bangkit dari kasur, lalu mulai memasak untuk makan malam suamiku.

“Kalau seperti ini terus, aku tidak akan mengizinkan kamu keluar lagi, Key. Sudah cukup, hari ini terakhir. Terlalu banyak alasan kamu ini. Kamu tahu, tidak? Penyesalan terbesarku adalah menikahi kamu, Keisya! Wanita yang tidak berguna.”

Terpopuler

Comments

Vera TV

Vera TV

wow.. istri rasa pembokat, rasa satpam... lama2 rasain deh loe suami ditinggal istri...

2023-03-20

1

lihat semua
Episodes
1 Penantian
2 Kartu Karyawan
3 Dewi Penolong
4 Kembali ke realita
5 Rasa Kasihan
6 Pertikaian
7 Jari yang terpaut
8 Nomor telepon
9 Gosip
10 Andre Curiga
11 Sebuah pesan
12 Debaran Baru
13 Batas Haris
14 Mimpi Indah
15 Sakit tak terperi
16 Tingkah aneh Andre
17 Sandiwara Andre
18 Jaga Sikap
19 Pergolakan batin Haris
20 Ketakutan Keysha
21 Setelan Pabrik
22 Melepas Rindu
23 Keluhan Diana
24 Pelukan Hangat
25 Diana datang?
26 Ketahuan!
27 Semakin Sakit
28 Luapan Amarah
29 Diana Nekat
30 Ingin Pisah
31 Percuma!
32 Jalan Baru
33 Ide Gila
34 Paksaan
35 Gelap Gulita
36 Dilema
37 Tidak Rela
38 Batin Keysha
39 Diana tidak menyerah
40 Tetangga Keysha
41 Mengungsi
42 Foto Haris
43 Memulai hari baru
44 Siapa dia?
45 Rindu menggebu
46 Korban Lain
47 Diana Mabuk
48 Telepon Ayu
49 Pembalasan Setimpal
50 Menginap dengan Haris
51 Hampir Terjadi
52 Hanya alat
53 Andre sadar?
54 Berhak Bahagia
55 Bujukan Haris
56 Tinggal bersama
57 Mencari Kontrakan
58 Melunasi Hutang
59 Tetangga
60 Nasi Goreng
61 Dimana Haris?
62 Penumpang Misterius
63 Kenangan tertinggal
64 Membawa koper
65 Harapan Diana
66 Keysha Pergi
67 Dipecat?
68 Petir di siang bolong
69 Putus asa
70 Bantuan tidak terduga
71 Berita Buruk atau Baik?
72 Kabar Keysha
73 Kemenangan Diana
74 Keputusan yang tidak berubah
75 Perang Dingin
76 Wajah yang fimiliar
77 Sikap Ibu
78 Bantuan Keysha
79 Patah untuk kesekian kali
80 Baby Shower
81 Salah paham
82 Amarah Haris
83 Pertemuan tidak terduga
84 Tertangkap juga
85 Sebuah rahasia
86 Tipu daya Diana
87 Tidak ada yang salah!
88 Ibu Syok
89 Diana diusir
90 Sudah tidak mempan
91 Status Baru
92 Surat panggilan
93 Masuk Rumah Sakit
94 Karpet merah
95 Bukan kebetulan
96 Benang merah
97 Ingin terus tapi takut
98 Mendapat jawaban
99 Harapan Keysha
100 Akhir Kisah?
101 Bonchap 1
102 Bonchap 2
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Penantian
2
Kartu Karyawan
3
Dewi Penolong
4
Kembali ke realita
5
Rasa Kasihan
6
Pertikaian
7
Jari yang terpaut
8
Nomor telepon
9
Gosip
10
Andre Curiga
11
Sebuah pesan
12
Debaran Baru
13
Batas Haris
14
Mimpi Indah
15
Sakit tak terperi
16
Tingkah aneh Andre
17
Sandiwara Andre
18
Jaga Sikap
19
Pergolakan batin Haris
20
Ketakutan Keysha
21
Setelan Pabrik
22
Melepas Rindu
23
Keluhan Diana
24
Pelukan Hangat
25
Diana datang?
26
Ketahuan!
27
Semakin Sakit
28
Luapan Amarah
29
Diana Nekat
30
Ingin Pisah
31
Percuma!
32
Jalan Baru
33
Ide Gila
34
Paksaan
35
Gelap Gulita
36
Dilema
37
Tidak Rela
38
Batin Keysha
39
Diana tidak menyerah
40
Tetangga Keysha
41
Mengungsi
42
Foto Haris
43
Memulai hari baru
44
Siapa dia?
45
Rindu menggebu
46
Korban Lain
47
Diana Mabuk
48
Telepon Ayu
49
Pembalasan Setimpal
50
Menginap dengan Haris
51
Hampir Terjadi
52
Hanya alat
53
Andre sadar?
54
Berhak Bahagia
55
Bujukan Haris
56
Tinggal bersama
57
Mencari Kontrakan
58
Melunasi Hutang
59
Tetangga
60
Nasi Goreng
61
Dimana Haris?
62
Penumpang Misterius
63
Kenangan tertinggal
64
Membawa koper
65
Harapan Diana
66
Keysha Pergi
67
Dipecat?
68
Petir di siang bolong
69
Putus asa
70
Bantuan tidak terduga
71
Berita Buruk atau Baik?
72
Kabar Keysha
73
Kemenangan Diana
74
Keputusan yang tidak berubah
75
Perang Dingin
76
Wajah yang fimiliar
77
Sikap Ibu
78
Bantuan Keysha
79
Patah untuk kesekian kali
80
Baby Shower
81
Salah paham
82
Amarah Haris
83
Pertemuan tidak terduga
84
Tertangkap juga
85
Sebuah rahasia
86
Tipu daya Diana
87
Tidak ada yang salah!
88
Ibu Syok
89
Diana diusir
90
Sudah tidak mempan
91
Status Baru
92
Surat panggilan
93
Masuk Rumah Sakit
94
Karpet merah
95
Bukan kebetulan
96
Benang merah
97
Ingin terus tapi takut
98
Mendapat jawaban
99
Harapan Keysha
100
Akhir Kisah?
101
Bonchap 1
102
Bonchap 2

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!