Batas Haris

Pov Haris

"Kali ini harus berhasil! Aku sudah bosan ditanya terus menerus oleh Mama dan Papa kapan punya anak, kapan mereka menimang cucu, termasuk orangtuamu."

Diana menggerutu di depan meja riasnya sementara aku sibuk berbalas pesan WhatsApp dengan Keysha, perempuan cantik yang aku temui beberapa hari lalu di rumah sakit saat mengantar Diana untuk memeriksakan diri ke dokter kandungan.

Sudah empat tahun ini kami memutuskan untuk melakukan program kehamilan karena aku dan Diana sudah mulai bosan, resah, serta putus asa menanggapi tuntutan dari keluarga besar kami masing-masing. Mereka mengira, kami sengaja menunda kehamilan, bahkan ada juga yang berpendapat kalau kami penganut paham child free. Padahal sebenarnya tidak begitu.

"Sebentar lagi ada acara keluarga besar, kita akan berkumpul, Sayang. Kalau masih aku lagi yang jadi bahan gunjingan, lebih baik aku tidak datang," rajuk Diana.

Dia memoleskan krim rutin yang selalu ia pakai sebelum tidur. Entah ada berapa banyak krim yang ia oleskan di wajahnya sebelum tidur. Terkadang aku sampai tidak bernafsu untuk menciumnya karena aroma krim yang menyengat dan kuat itu.

"Kamu dengar tidak, sih, Sayang, aku ajak bicara kayak gini?" Diana meninggikan suaranya.

"Dengar, dong! Aku cuma tidak mau menyela kalau kamu lagi bicara, nanti salah lagi," jawabku.

"Ya, tidak begitu. Harusnya, kamu itu memberikan masukan saran, atau paling tidak menanggapi apa yang aku bahas barusan. Nah, jadi gimana?" tanya Diana lagi.

"Apanya yang gimana?"

"Tuh, kan, berarti kamu tidak menyimak omonganku, Sayang?"

"Aku dengerin, kok. Dari tadi kamu bilang kalau sudah bosan jadi bahan gunjingan di keluarga besar kita. Aku sudah paham itu. Kamu ingin segera punya anak, aku juga tahu. Karena itulah kita sepakat untuk melakukan program kehamilan. Terus, aku disuruh apalagi Diana?" Nada bicaraku juga ikut meninggi menanggapi omongan Diana.

"Aku tidak mau tahu! Pokoknya malam ini, kamu harus bisa. Aku tidak mau ada penolakan, apalagi kalau kamu sampai loyo, Sayang!"

Kata-kata Diana mencederai harga diriku sebagai laki-laki. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Di awal-awal pernikahan, kami melakukan hubungan suami istri seperti pasangan yang lain, tidak ada masalah, tidak ada keluhan, bahkan aku bisa melakukannya hampir setiap hari.

Namun beberapa tahun belakangan ini, aku sendiri tidak tahu apa yang terjadi pada diriku. Setiap kali berdekatan dengan Diana, hasrat itu tak lagi meletup-letup seperti dulu. Bahkan yang sering terjadi adalah juniorku layu sebelum berkembang.

Aku masih terus memandangi pesan masuk dari Keisya.

[Oke, aku akan datang kalau memang itu tidak mengganggu kerjaan kamu.]

Pesan balasan dari Keysha itu membuat mataku mengerjap tak percaya. Aku akan bertemu dengan perempuan manis yang senyumnya membuat duniaku dipenuhi warna-warni indah lagi.

Keysha, perempuan sederhana yang tidak pernah mengenakan make up tebal, tetapi kecantikan alaminya tetap menonjol. Bibir tipisnya yang sering dikulum menandakan ia begitu pemalu. Di saat yang lain, saat aku menghujaninya dengan pujian, binar indah matanya benar-benar menawan, wajahnya yang polos tidak pernah membosankan untuk dilihat. Memperhatikan Keysha memberiku kesenangan tersendiri.

Dia juga yang menemukan kartu karyawanku yang terjatuh entah di mana. Saat itu aku benar-benar putus asa karena kecerobohanku itu, bisa-bisa aku mendapatkan sanksi atau surat peringatan dari bagian HRD. Tetapi Keysha datang sebagai penyelamatku, dan keluguannya mengalihkan duniaku.

Diana menyalakan lampu tidur. Itu artinya aku harus bersiap melakukan kewajibanku sebagai pejantan yang kini tak tangguh lagi. Diana mengenakan gaun tidur mini berbahan satin, berwarna merah muda yang menggoda, dengan potongan dada rendah, begitu rendahnya sehingga dua bukit kembarnya nyata menyembul indah.

Istriku itu tak bosan-bosan berusaha memancing hasrat kelelakianku. Dia merangkak di depanku, membuat tangan ini harus segera meletakkan ponsel yang sedang aku pegang. Padahal aku lagi asyik-asyiknya memandangi wajah Keysha yang terpampang di profil picture WhatsApp-nya.

Dengan gerakan sedikit kasar, Diana memelorotkan celana boxer yang aku pakai. Wajahnya tampak kecewa begitu tak mendapati sesuatu yang ia harapkan di sana.

Aku sendiri juga heran. Sesaat lalu, saat memandangi foto Keysha, aku merasakan hasrat itu bangkit, bahkan mulai mengeras. Tetapi saat Diana mendekat, dia malah kembali layu.

Tanpa putus asa, Diana berusaha membangkitkan sesuatu yang layu itu dengan kemahirannya mengulum milikku. Berkali-kali, bertubi-tubi, dengan gerakan teratur Diana melakukan tugasnya membangkitkan pusaka ini. Aku berusaha menikmati, meskipun tak sepenuhnya. Semakin lama Diana seperti putus asa, gerakannya kini seperti ingin menguliti milikku.

"Ah, sakit!" pekikku.

"Selalu begini!" keluh Diana sambil kembali menarik celana boxer-ku, mengembalikan ke tempat semula seolah-olah benda ini tak berguna.

Memang begitulah kenyataannya. Aku sendiri putus asa mendapati pusaka yang kini hanya berfungsi untuk mengeluarkan urine.

Diana bergegas pergi keluar kamar sambil mengomel tak jelas.

Keysha pasti tidak pernah melakukan ini kepada suaminya. Aku yakin, dia bukan perempuan yang dengan mudah mengomeli suaminya. Dia terlihat lemah, tak berdaya, bahkan saat periksa ke dokter pun tidak pernah ditemani oleh suaminya. Laki-laki macam apa yang membiarkan istrinya menjalani program kehamilan sendirian?

Padahal program kehamilan itu harus dilakukan oleh pasangan suami istri. Sesibuk apa dia sampai tak punya waktu? Atau jangan-jangan dia memang tak mau meluangkan waktu untuk mendampingi saat-saat penting program kehamilan istrinya?

Namun yang aku lihat, Keysha tidak pernah mengeluh. Dia selalu datang ke dokter sesuai jadwal yang diberikan. Keysha yang sudah menanti selama tujuh tahun itu tidak menyerah hingga hari itu, aku melihat Keysha menangisi kelemahannya.

Aku berusaha memompa semangatnya, dan mengembalikan rasa percaya diri Keysha. Melihat ia rapuh dan disia-siakan suami sendiri, mengusik jiwa kelelakianku yang ingin melindungi.

Diana tidak butuh dilindungi, dia hanya butuh dihamili. Sedangkan Keysha dengan segala sisi kewanitaannya yang lembut, justru mampu memicu sesuatu dalam diriku.

"Minum ini, Sayang, mau tidak mau kamu harus minum ini. Cuma ini yang bisa menyelamatkan pernikahan kita," ujar Diana sembari memberikan satu pil biru untuk aku minum.

Diana terlihat sangat marah saat memberikan pil itu, dan tak sabar karena aku masih mengamati pil itu. Dia pun langsung menjejalkan pil itu masuk ke mulutku.

"Minum, cepat, jangan menolak! Ini untuk kebaikanmu juga, biar mereka tidak mengira kamu lelaki mandul."

Tanpa menunggu persetujuanku, dia juga langsung meminumkan air putih dalam gelas yang ia pegang sehingga nyaris membuatku tersedak.

Aku terbatuk-batuk menerima perlakuan kasar Diana sehingga tak sengaja, air mineral itu tumpah membasahi kaos yang aku pakai.

Tanpa banyak bicara, aku segera melompat dari atas ranjang, lalu melangkah cepat ke kamar mandi. Ingin sekali aku muntahkan pil yang baru saja diminumkan Diana secara paksa ke dalam mulut ini. Napasku memburu, perut rasanya mual, dan detak jantung ini terasa memompa lebih cepat.

Terpopuler

Comments

Astri Tri

Astri Tri

tukeran suami lah klau kya gni

2023-05-11

0

list_tyo

list_tyo

kalimat pertamamu membuatku ngakak, Kak Othor 🤣

2023-04-22

1

Vera TV

Vera TV

hadehhh obat perangsang ato obat opo toh... btw ini pernikahan suami istrine agama opo tho... ntar salah komen bisa2 amsiong... hahaha... semangat kak ismi...

2023-03-25

1

lihat semua
Episodes
1 Penantian
2 Kartu Karyawan
3 Dewi Penolong
4 Kembali ke realita
5 Rasa Kasihan
6 Pertikaian
7 Jari yang terpaut
8 Nomor telepon
9 Gosip
10 Andre Curiga
11 Sebuah pesan
12 Debaran Baru
13 Batas Haris
14 Mimpi Indah
15 Sakit tak terperi
16 Tingkah aneh Andre
17 Sandiwara Andre
18 Jaga Sikap
19 Pergolakan batin Haris
20 Ketakutan Keysha
21 Setelan Pabrik
22 Melepas Rindu
23 Keluhan Diana
24 Pelukan Hangat
25 Diana datang?
26 Ketahuan!
27 Semakin Sakit
28 Luapan Amarah
29 Diana Nekat
30 Ingin Pisah
31 Percuma!
32 Jalan Baru
33 Ide Gila
34 Paksaan
35 Gelap Gulita
36 Dilema
37 Tidak Rela
38 Batin Keysha
39 Diana tidak menyerah
40 Tetangga Keysha
41 Mengungsi
42 Foto Haris
43 Memulai hari baru
44 Siapa dia?
45 Rindu menggebu
46 Korban Lain
47 Diana Mabuk
48 Telepon Ayu
49 Pembalasan Setimpal
50 Menginap dengan Haris
51 Hampir Terjadi
52 Hanya alat
53 Andre sadar?
54 Berhak Bahagia
55 Bujukan Haris
56 Tinggal bersama
57 Mencari Kontrakan
58 Melunasi Hutang
59 Tetangga
60 Nasi Goreng
61 Dimana Haris?
62 Penumpang Misterius
63 Kenangan tertinggal
64 Membawa koper
65 Harapan Diana
66 Keysha Pergi
67 Dipecat?
68 Petir di siang bolong
69 Putus asa
70 Bantuan tidak terduga
71 Berita Buruk atau Baik?
72 Kabar Keysha
73 Kemenangan Diana
74 Keputusan yang tidak berubah
75 Perang Dingin
76 Wajah yang fimiliar
77 Sikap Ibu
78 Bantuan Keysha
79 Patah untuk kesekian kali
80 Baby Shower
81 Salah paham
82 Amarah Haris
83 Pertemuan tidak terduga
84 Tertangkap juga
85 Sebuah rahasia
86 Tipu daya Diana
87 Tidak ada yang salah!
88 Ibu Syok
89 Diana diusir
90 Sudah tidak mempan
91 Status Baru
92 Surat panggilan
93 Masuk Rumah Sakit
94 Karpet merah
95 Bukan kebetulan
96 Benang merah
97 Ingin terus tapi takut
98 Mendapat jawaban
99 Harapan Keysha
100 Akhir Kisah?
101 Bonchap 1
102 Bonchap 2
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Penantian
2
Kartu Karyawan
3
Dewi Penolong
4
Kembali ke realita
5
Rasa Kasihan
6
Pertikaian
7
Jari yang terpaut
8
Nomor telepon
9
Gosip
10
Andre Curiga
11
Sebuah pesan
12
Debaran Baru
13
Batas Haris
14
Mimpi Indah
15
Sakit tak terperi
16
Tingkah aneh Andre
17
Sandiwara Andre
18
Jaga Sikap
19
Pergolakan batin Haris
20
Ketakutan Keysha
21
Setelan Pabrik
22
Melepas Rindu
23
Keluhan Diana
24
Pelukan Hangat
25
Diana datang?
26
Ketahuan!
27
Semakin Sakit
28
Luapan Amarah
29
Diana Nekat
30
Ingin Pisah
31
Percuma!
32
Jalan Baru
33
Ide Gila
34
Paksaan
35
Gelap Gulita
36
Dilema
37
Tidak Rela
38
Batin Keysha
39
Diana tidak menyerah
40
Tetangga Keysha
41
Mengungsi
42
Foto Haris
43
Memulai hari baru
44
Siapa dia?
45
Rindu menggebu
46
Korban Lain
47
Diana Mabuk
48
Telepon Ayu
49
Pembalasan Setimpal
50
Menginap dengan Haris
51
Hampir Terjadi
52
Hanya alat
53
Andre sadar?
54
Berhak Bahagia
55
Bujukan Haris
56
Tinggal bersama
57
Mencari Kontrakan
58
Melunasi Hutang
59
Tetangga
60
Nasi Goreng
61
Dimana Haris?
62
Penumpang Misterius
63
Kenangan tertinggal
64
Membawa koper
65
Harapan Diana
66
Keysha Pergi
67
Dipecat?
68
Petir di siang bolong
69
Putus asa
70
Bantuan tidak terduga
71
Berita Buruk atau Baik?
72
Kabar Keysha
73
Kemenangan Diana
74
Keputusan yang tidak berubah
75
Perang Dingin
76
Wajah yang fimiliar
77
Sikap Ibu
78
Bantuan Keysha
79
Patah untuk kesekian kali
80
Baby Shower
81
Salah paham
82
Amarah Haris
83
Pertemuan tidak terduga
84
Tertangkap juga
85
Sebuah rahasia
86
Tipu daya Diana
87
Tidak ada yang salah!
88
Ibu Syok
89
Diana diusir
90
Sudah tidak mempan
91
Status Baru
92
Surat panggilan
93
Masuk Rumah Sakit
94
Karpet merah
95
Bukan kebetulan
96
Benang merah
97
Ingin terus tapi takut
98
Mendapat jawaban
99
Harapan Keysha
100
Akhir Kisah?
101
Bonchap 1
102
Bonchap 2

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!