Jaga Sikap

Aku bergeser tempat duduk sesuai perintah Mas Andre. Suamiku itu baru saja keluar dari toilet, dan sepertinya dia tidak suka aku duduk berdekatan dengan Haris. Aku hanya bisa menuruti perintahnya karena tidak mau membuat masalah. Justru yang aku pikirkan sekarang adalah bagaimana perasaan Haris saat melihat kami berdua, aku dan suamiku, yang terlihat begitu intim dan mesra.

Kalau hanya ditemani saja, mungkin itu wajar, tapi entah kenapa Mas Andre tiba-tiba bersikap sangat aneh. Dia seolah-olah menjadi suami yang sangat memerhatikan istrinya. Padahal di rumah, dia tidak pernah begitu. Bahkan sisa-sisa kekejamannya tadi malam, saat memaksaku melayaninya di kamar mandi, masih terasa perih. Namun, sekarang Mas Andre bersikap seperti laki-laki yang sangat ingin melindungi istrinya. Aku tidak bisa membantah dan hanya bisa menuruti apa maunya Mas Andre.

Aku melirik ke arah Haris. Pria itu hanya diam saja melihat Mas Andre memegang telapak tanganku, lalu membelainya lembut. Sungguh ini benar-benar akting yang sempurna dari suamiku. Dulu jangankan memegang atau menangkupkan tangan, bersentuhan dengan aku saja rasanya Mas Andre sudah enggan.

Kami cukup lama berada di situasi yang canggung, saling diam berempat, sampai kemudian Diana menyadari kehadiran Mas Andre, lalu memecahkan kebisuan di antara kami.

"Baru pertama kali antar istrinya, ya?" tanya Diana kepada Mas Andre.

Suamiku menganggukkan kepalanya. "Sebenarnya sudah dari dulu-dulu saya sering antar Keysha, hanya dia lebih senang pergi sendiri, dan saya juga sibuk kerja. Jadi kalau dia pergi sendiri, itu sudah berdasarkan kesepakatan kami," jawab Mas Andre.

Diana mengangguk-anggukkan kepalanya. "Saya sering melihat istri Anda periksa sendirian. Maaf, siapa namanya?"

"Keysha," ucapku kaku.

"Iya, saya sering melihat Mbak Keysha sendirian, dan berpikir kalau memang dia sendiri. Oh, ya, perkenalkan, saya Diana dan ini suami saya, Haris. Mas?" Diana menyenggol bahu suaminya.

Akhirnya Haris menyalami Mas Andre. "Haris," ucap suami Diana itu memperkenalkan diri.

Mas Andre pun membalas dengan menyebutkan namanya.

Aku melirik lagi ekspresi Haris saat menyalami Mas Andre. Kupikir, laki-laki itu akan ketakutan seperti seorang pria yang tertangkap basah mendekati istri orang. Ternyata, tidak, Haris menatap Mas Andre dengan tatapan yang penuh rasa percaya diri, membuatku diam-diam tersenyum di dalam hati.

"Iya, awalnya saya pikir, Mbak Keysha ini kasihan karena sering periksa sendirian. Tapi ternyata, dia punya suami. Eh, maksudnya, diantar oleh suaminya. Gimana, ya, kalau wanita yang sedang menjalani promil, lalu periksa ke dokter sendirian .... Saya sebagai sesama wanita suka merasa tidak tega." Diana berusaha menegaskan posisinya bahwa dia sangat beruntung ditemani oleh suaminya saat periksa sekaligus menyentil Mas Andre dengan sarkas halusnya.

"Oh, ya, memang akhir-akhir ini kesibukan saya di kantor cukup banyak, dan jam periksa kebetulan berbenturan dengan jam kantor. Saya tidak bisa izin sembarangan, dalam sebulan cuma bisa izin satu sampai dua kali. Jadi saat saya bisa, pasti saya temani, tapi kalau tidak bisa, terpaksa Keysha datang sendirian." Mas Andre lalu beralih kepadaku. Seraya mengelus rambutku, dia bertanya, "Kamu tidak apa-apa 'kan, Sayang, datang sendirian?"

Aku jadi semakin gugup di hadapan Haris. "Iya, tidak apa-apa, kok, Mas, sudah biasa. Malah jadi tidak enak kalau diantarkan begini, dan Mas Andre sampai harus izin ke kantor," ucapku berterus terang.

Mas Andre menganggukkan kepala kepada Diana seolah-olah membenarkan omonganku. Dia hanya ingin menegaskan harga dirinya bahwa dia adalah laki-laki yang sangat melindungi dan menjaga istrinya. Tampak jelas, itu pesan yang ingin disampaikan oleh suamiku kepada Diana dan Haris.

"Memangnya Mas Andre kerja di mana?" tanya Diana.

"Oh, saya akuntan di sebuah perusahaan swasta."

"Wah, berarti satu bidang dengan suami saya, Haris juga konsultan Bank."

"Oh, ya? Kebetulan sekali, kita ada di bidang yang sama," ucap Mas Andre.

Haris tidak menjawab, pria itu hanya menganggukkan kepalanya sesekali. Tetapi dari sikapnya, aku bisa melihat bahwa Haris sama sekali tidak takut kepada Mas Andre. Dia menatap lawan bicaranya dengan tajam.

Diana dan Mas Andre mengobrol ringan, sementara aku hanya bisa terdiam sembari sesekali melirik ke arah Haris. Pria itu secara kebetulan juga melirik ke arahku. Kami sama-sama menundukkan kepala. Aku sangat tegang dan takut Mas Andre bisa mendengar jantungku yang berdebar lebih kencang. Situasi yang sangat tidak aku harapkan terjadi, tetapi sekarang tak bisa dihindari.

"Nomor dua puluh, atas nama Ibu Keysha, silakan masuk!" ucap perawat yang berjaga di ruang pendaftaran.

Aku bergegas berdiri diikuti oleh Mas Andre. "Mas, beneran mau ikut masuk?" tanyaku.

Dia tidak menjawab, hanya menggamit lenganku sambil meremasnya perlahan seolah-olah memberi perintah agar aku tidak banyak bicara.

Kami pun memasuki ruang dokter.

"Selamat pagi, Ibu Keysha! Rupanya kali ini diantar dengan suaminya, ya? Silakan, Pak!"

"Iya, Dok, perkenalkan suami saya,

Mas Andre."

"Baik, Pak Andre. Bapak Ibu ini masih sama-sama muda, ya? Memang, yang namanya pemeriksaan untuk program kehamilan seperti ini, lebih baik diikuti oleh suami-istri, tidak bisa jika hanya satu pihak saja."

"Iya, Dok, saya juga maunya begitu. Tapi biasalah, prosedur kerjaan 'kan, tidak bisa sering-sering izin," ujar Mas Andre beralasan.

"Ok, tidak apa-apa, yang penting saat pengambilan sample saja, kok. Pak Andre, berarti Anda siap melakukan pemeriksaan?" tanya Dokter.

Aku menunggu jawaban Mas Andre dengan hati yang berdebar-debar. Selama ini dia tidak pernah mau memeriksakan diri baik dipaksa ataupun sukarela. Dia lebih suka jika menyerahkan sampel ****** seperti yang aku minta.

"Siap, Dok! Saya akan melakukan pemeriksaan apa pun yang dibutuhkan supaya program kehamilan ini bisa berjalan lancar."

Jawaban Mas Andre betul-betul tidak aku sangka. Ini adalah hal yang aku tunggu selama bertahun-tahun, kesadaran darinya untuk melakukan program kehamilan ini bersama-sama. Meskipun kini rasanya berbeda, tetapi aku tetap tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagia ini, bahwa suamiku sudah mau pendukung program hamil yang aku lakukan.

"Apa kamu senang sekarang, Key?" bisik Mas Andre.

Aku hanya tersenyum dan menganggukkan kepala. "Iya, Mas, terima kasih."

"Oke! Kalau sudah siap, bisa diambil sampelnya sekarang, nanti hasilnya bisa ditunggu. Dari hasil pemeriksaan kesuburan Mas Andre itulah baru kita bicarakan lagi tentang kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Prosesnya butuh waktu sekitar tiga puluh menit."

"Oke, Dok, terima kasih. Kami akan menunggu di luar."

"Baik, nanti akan kami panggil."

Kami berjalan keluar ruangan. Mas Andre mengikuti perawat yang membawanya ke ruangan khusus. Sekitar lima belas menit kemudian, dia keluar ruangan dengan wajah kesal.

"Sudah puas kamu sekarang?" tanya Mas Andre.

Aku tidak bisa menjawab, hanya bisa menganggukkan kepala. "Seperti yang dokter bilang tadi, kalau proses ini memang tidak bisa dilakukan seorang diri, Mas. Jadi, Mas Andre memang harus terlibat. Makasih banyak karena hari ini Mas Andre sudah mau ikut periksa dan mau diambil sampel lagi."

"Sebetulnya ini pekerjaan bodoh. Cuma demi kamu aku mau melakukannya. Keysha, jangan lupa, aku cuma melakukan ini demi kamu." Mas Andre sengaja menekankan kata-kata itu seolah-olah ingin mengklaim kalau sudah melakukan segalanya demi pernikahan kami.

Lagi-lagi aku hanya bisa terdiam tanpa bisa membantah kata-katanya.

Kalau bicara tentang pengorbanan, aku merasa selama ini pun sudah cukup banyak berkorban. Tetapi tak apa, biar saja dia merasa menjadi yang paling berkorban di antara kami. Yang penting, proses ini sudah kami lalui, dan aku hanya bisa menunggu hasilnya sebentar lagi.

Terpopuler

Comments

Devii Arga

Devii Arga

semangat kak

2023-04-02

1

Erni Handayani

Erni Handayani

Gw sumpahin mandul lo ndre biar gak sombong jadi suami😅

2023-03-30

2

lihat semua
Episodes
1 Penantian
2 Kartu Karyawan
3 Dewi Penolong
4 Kembali ke realita
5 Rasa Kasihan
6 Pertikaian
7 Jari yang terpaut
8 Nomor telepon
9 Gosip
10 Andre Curiga
11 Sebuah pesan
12 Debaran Baru
13 Batas Haris
14 Mimpi Indah
15 Sakit tak terperi
16 Tingkah aneh Andre
17 Sandiwara Andre
18 Jaga Sikap
19 Pergolakan batin Haris
20 Ketakutan Keysha
21 Setelan Pabrik
22 Melepas Rindu
23 Keluhan Diana
24 Pelukan Hangat
25 Diana datang?
26 Ketahuan!
27 Semakin Sakit
28 Luapan Amarah
29 Diana Nekat
30 Ingin Pisah
31 Percuma!
32 Jalan Baru
33 Ide Gila
34 Paksaan
35 Gelap Gulita
36 Dilema
37 Tidak Rela
38 Batin Keysha
39 Diana tidak menyerah
40 Tetangga Keysha
41 Mengungsi
42 Foto Haris
43 Memulai hari baru
44 Siapa dia?
45 Rindu menggebu
46 Korban Lain
47 Diana Mabuk
48 Telepon Ayu
49 Pembalasan Setimpal
50 Menginap dengan Haris
51 Hampir Terjadi
52 Hanya alat
53 Andre sadar?
54 Berhak Bahagia
55 Bujukan Haris
56 Tinggal bersama
57 Mencari Kontrakan
58 Melunasi Hutang
59 Tetangga
60 Nasi Goreng
61 Dimana Haris?
62 Penumpang Misterius
63 Kenangan tertinggal
64 Membawa koper
65 Harapan Diana
66 Keysha Pergi
67 Dipecat?
68 Petir di siang bolong
69 Putus asa
70 Bantuan tidak terduga
71 Berita Buruk atau Baik?
72 Kabar Keysha
73 Kemenangan Diana
74 Keputusan yang tidak berubah
75 Perang Dingin
76 Wajah yang fimiliar
77 Sikap Ibu
78 Bantuan Keysha
79 Patah untuk kesekian kali
80 Baby Shower
81 Salah paham
82 Amarah Haris
83 Pertemuan tidak terduga
84 Tertangkap juga
85 Sebuah rahasia
86 Tipu daya Diana
87 Tidak ada yang salah!
88 Ibu Syok
89 Diana diusir
90 Sudah tidak mempan
91 Status Baru
92 Surat panggilan
93 Masuk Rumah Sakit
94 Karpet merah
95 Bukan kebetulan
96 Benang merah
97 Ingin terus tapi takut
98 Mendapat jawaban
99 Harapan Keysha
100 Akhir Kisah?
101 Bonchap 1
102 Bonchap 2
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Penantian
2
Kartu Karyawan
3
Dewi Penolong
4
Kembali ke realita
5
Rasa Kasihan
6
Pertikaian
7
Jari yang terpaut
8
Nomor telepon
9
Gosip
10
Andre Curiga
11
Sebuah pesan
12
Debaran Baru
13
Batas Haris
14
Mimpi Indah
15
Sakit tak terperi
16
Tingkah aneh Andre
17
Sandiwara Andre
18
Jaga Sikap
19
Pergolakan batin Haris
20
Ketakutan Keysha
21
Setelan Pabrik
22
Melepas Rindu
23
Keluhan Diana
24
Pelukan Hangat
25
Diana datang?
26
Ketahuan!
27
Semakin Sakit
28
Luapan Amarah
29
Diana Nekat
30
Ingin Pisah
31
Percuma!
32
Jalan Baru
33
Ide Gila
34
Paksaan
35
Gelap Gulita
36
Dilema
37
Tidak Rela
38
Batin Keysha
39
Diana tidak menyerah
40
Tetangga Keysha
41
Mengungsi
42
Foto Haris
43
Memulai hari baru
44
Siapa dia?
45
Rindu menggebu
46
Korban Lain
47
Diana Mabuk
48
Telepon Ayu
49
Pembalasan Setimpal
50
Menginap dengan Haris
51
Hampir Terjadi
52
Hanya alat
53
Andre sadar?
54
Berhak Bahagia
55
Bujukan Haris
56
Tinggal bersama
57
Mencari Kontrakan
58
Melunasi Hutang
59
Tetangga
60
Nasi Goreng
61
Dimana Haris?
62
Penumpang Misterius
63
Kenangan tertinggal
64
Membawa koper
65
Harapan Diana
66
Keysha Pergi
67
Dipecat?
68
Petir di siang bolong
69
Putus asa
70
Bantuan tidak terduga
71
Berita Buruk atau Baik?
72
Kabar Keysha
73
Kemenangan Diana
74
Keputusan yang tidak berubah
75
Perang Dingin
76
Wajah yang fimiliar
77
Sikap Ibu
78
Bantuan Keysha
79
Patah untuk kesekian kali
80
Baby Shower
81
Salah paham
82
Amarah Haris
83
Pertemuan tidak terduga
84
Tertangkap juga
85
Sebuah rahasia
86
Tipu daya Diana
87
Tidak ada yang salah!
88
Ibu Syok
89
Diana diusir
90
Sudah tidak mempan
91
Status Baru
92
Surat panggilan
93
Masuk Rumah Sakit
94
Karpet merah
95
Bukan kebetulan
96
Benang merah
97
Ingin terus tapi takut
98
Mendapat jawaban
99
Harapan Keysha
100
Akhir Kisah?
101
Bonchap 1
102
Bonchap 2

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!